Welcome

1245 Words
Dasha turun di iringi Damian di belakang, sedangkan koper tetap di bawa oleh Dasha walaupun berat. Damian sudah menawari bantuannya namun Dasha memaksa ia bisa sendiri dan Damian tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyutujuinya. Di bawah, Adrian berdiri bersandar pada mobil. Beberapa perempuan yang melewatinya tampak terpesona lalu tertawa bersama temannya, dan Adrian membalasnya dengan menyapa mereka, entah ia ramah atau suka menggoda. "Ah, Dasha, 'kan?" Adrian berdiri tegap begitu Dasha dan Damian sudah dekat dengannya. "Oh, mungkin aku harus memperkenalkan diriku dahulu?" Adrian menatap Dasha dan Damian bergantian. "Aku Adrian Safronov, asisten dan juga ... mungkin teman bagi Damian." Dasha mengangguk kaku. "Dasha ...  Aku Dasha Milkova," ujar Dasha tersenyum kecil yang tidak sampai ke mata. Sejujurnya, Dasha punya nama asli. Hanya saja, ia merahasiakannya karena alasan tertentu. Dan orang-orang yang tahu tentang nama aslinya ini hanyalah Laura dan ibu panti yang sudah berada di Surga. "Baiklah, Dasha Milkova. Silahkan masuk." Adrian tersenyum lucu. Ia mencoba dekat dengan Dasha dengan cara yang santai. "O--oh terima kasih, Adrian." Dasha masuk ke dalam mobil cukup kaku. Kopernya sendiri di masukkan ke dalam bagasi. Dasha bisa melihat Adrian dengan Damian seolah membicarakan sesuatu sebelum dua pria itu ikut masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju membelah jalanan. *** Pesawat adalah salah satu alat transportasi yang belum pernah Dasha rasakan, ini yang pertama kalinya dan sepertinya tak akan berlangsung baik karena ia merasa mual di perutnya dan juga pusing di kepalanya. Damian melirik Dasha yang dari tadi diam dan tampak memalingkan wajah. Damian paham jika Dasha membutuhkan waktunya sendiri untuk menormalkan seluruh perasaan kacaunya, hanya saja ia terlalu diam dari tadi. Masalah perasaan, jangan di tanya bagaimana perasaan Damian sekarang, ia sungguh senang! Hanya saja tetap ada yang mengganjal, ini karena Dasha yang tak balas tertarik padanya. Tapi tidak apa, Dasha akan satu atap dengannya, yang mana akan setiap hari bertemu dengannya, ia yakin tak lama lagi perempuan itu akan tertarik padanya. "Damian ...." Suara lirih itu membuyarkan bayangan Damian tentang ia dan Dasha yang mungkin nantinya akan menjadi sepasang kekasih. Pria itu segera menolehkan kepalanya dan tekejut ketika melihat wajah Dasha yang pucat pasi. "Dasha?!" seru Damian panik, kepalanya tidak bekerja dalam sesaat. Namun, ia kemudian sadar kalau Dasha mengalami mabuk udara. Damian cukup lega, ia pikir Dasha sakit. Ternyata mabuk udara, hal yang umum terjadi. Damian mengambil buah apel hijau dan pisang lalu ia arahkan ke wajah Dasha. "Ini bisa membantu," ujarnya memberi beberapa buah. Tapi Dasha menggeleng, ia tak ingin apapun, yang ia inginkan sekarang hanya tidur. Namun, ia tak bisa! Rasa mual benar-benar menyiksanya. Bahkan ia amat sangat terpaksa meminta bantuan Damian. "Obat tidur, please?" Damian ingin menolak sebenarnya karena ia rasa apel juga bisa meredakan mual itu. Namun, melihat Dasha yang terlihat sangat sengsara membuatnya tak tega. Tapi, ia tak memberi Dasha obat tidur begitu saja, melainkan ia memberi Dasha satu obat yang mampu mengatasi mabuk udaranya dan memiliki efek samping mengantuk. 2 in 1 yang sangat menguntungkan. *** Dua kelopak mata itu perlahan terbuka, lalu menutup kembali ketika cahaya yang menerpa terlalu terang, mengerjap-ngerjap sesaat sebelum mata dengan pupil cokelat itu terlihat jelas. Kesadaran Dasha masih belum seratus persen pulih, ia masih bingung ia ada di mana karena tempat itu begitu luas dan tampak classy. Ingatan tiap ingatan menyatu kembali ke kepalanya dan ia langsung bangun terduduk ketika sadar kalau ia mungkin berada di rumah Damian sekarang. Karena terlalu cepat bergerak, kepala Dasha jadi semakin pusing, ia perlu beberapa saat hingga pusing itu mereda. Dasha kemudian mengedarkan pandangannya, kamar ini seperti di desain khusus untuk perempuan, ia tak menemukan satu pun benda yang berciri khas pria. Koper?! Dasha teringat akan satu benda yang ia bawa dari apartemennya, ia pun turun dari tempat tidur dan mencarinya kesana-sini namun tak ketemu. Dasha sempat frustasi karena tak menemukan barang berharganya itu. Tapi, itu tak berlangsung lama karena ia teringat kalau ada satu tempat lagi yang ia belum buka. Lemari! Dengan perlahan Dasha mendekatinya sembari berdoa di dalam hati semoga barang-barangnya tidak ada di sana juga. Ia lebih lega dan bersyukur kalau kopernya berada di tempat lain, tapi jangan di lemari, karena ia tahu, barang-barangnya akan tersusun rapi di dalam sana. Pertanyaan menakutkannya ialah siapa yang menaruh dan merapikannya? Namun sepertinya Dasha memang harus merasa panik, karena ternyata barang-barangnya memang sudah tersusun cantik di dalam lemari yang cantik juga. "My God," lirih Dasha lalu menutup pintu lemari. Di sana ada underwear miliknya, rasa-rasanya tidak sopan jika seorang pria memegangnya. Mungkin ada perempuan yang akan senang dan tersipu jika berada di posisinya, namun Dasha bukanlah termasuk perempuan seperti itu, tidak sama sekali! Ia malah malu setengah mati sekarang. Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Dasha menoleh dan ternyata ada Adrian yang sedang berdiri di sana. "Oh, sudah bangun ternyata," gumam Adrian, ia kemudian melirik lemari yang ada di dekat Dasha dan langsung teringat sesuatu. "Dan maaf tentang kopermu, tadi aku mengangkatnya, namun sepertinya ada sesuatu yang salah di gagangnya hingga ia terjatuh dan retak, aku sangat minta maaf." Dasha shock! Koper yang ia beli dengan susah payah, sekarang sudah tak bisa di pakai, lalu dengan apa ia nanti menyusun barang-barangnya jika ia pulang nanti? "Tapi, siapa yang membereskan barang-barangku?" tanya Dasha penasaran, amat sangat berharap dalam hati semoga tidak Adrian yang merapikannya. "Ah yang menyusunnya di lemarimu adalah Anna," jawab Adrian. "Anna?" "Salah satu pelayan di rumah ini." Dasha lega, dadanya terasa ringan sekarang. "Oh satu lagi, aku ingat aku tertidur di pesawat, lalu aku bangun dan sudah berada di kamar ini, siapa yang ... ?" Dasha sengaja tidak mengucap kata terakhirnya karena ia tak tahu bagaimana cara ia di bawa ke rumah ini, mungkinkah di seret? Atau ia di masukkan ke dalam bagasi mobil yang pengap? Negative thinking juga salah satu kekurangan Dasha yang sangat tidak disukai oleh Laura. "Damian yang membawamu," jawab Adrian mematahkan pemikiran buruk Dasha. "Ia bahkan memangkumu di dalam mobil, mengecupi pipimu dan berkata bahwa kau adalah his baby girl." "Ap-apa?" Entah kenapa Dasha merasa hatinya menghangat, tapi tidak, ia takkan mudah tertipu, bisa saja Adrian berbohong. Adrian terkekeh, ia tak bisa berbohong jika Dasha sekarang sedang merona. Namun, perkataannya tadi bukanlah mengada-ada, Damian memang benar melakukan semua yang ia ucapkan. "Dia memang setertarik itu padamu, Dasha. Dia pernah mencintai perempuan lain. Namun, ia tak pernah mengajak perempuan itu tinggal di rumahnya, kau lah yang pertama," ujar Adrian. "Benarkah?" Tapi Dasha tidak terlalu percaya. "Dengan kau membicarakan Damian seperti ini, apa ia takkan marah?" Adrian tertawa pelan. "Tidak, dia tidak akan bisa marah padaku." Bukankah Damian adalah bosnya Adrian? Kenapa sekarang malah tampak Adrian lah yang posisinya lebih tinggi?, Dasha bertanya-tanya di dalam hatinya. "Lalu, di mana Damian?" tanya Dasha selanjutnya. "Dia berada di kantornya, ada beberapa hal yang ia harus kerjakan sekarang, mungkin sebentar lagi akan pulang." Dasha melirik jam yang tergantung di dinding, sudah jam tujuh malam. "Damian menyuruhku menyiapkan makanan untukmu, dan sekarang semuanya sudah siap. Kau ingin makan sekarang, Dasha?" "Hah?" Dasha merasa tak enak sekarang, kenapa ia diperlakukan seolah ia seorang putri? Ia hanya menumpang di sini, jadi menurutnya ialah yang semestinya melayani Adrian maupun Damian. "Jangan berpikiran yang terlalu jauh, Dasha. Kau di sini sebagai perempuan yang mampu memikat hati Damian, dan bersiaplah karena kau akan merasakan hal yang sama," ujar Adrian yang bisa menebak apa yang di pikirkan Dasha hanya dari mimik wajahnya. "Dan sama sekali bukan tamu." Dasha menghela nafas pelan. "Aku akan turun nanti, terimakasih." Adrian tersenyum kecil. "Baiklah," sahutnya lalu menutup pintu kamar dengan pelan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD