This Is New Life

1151 Words
Damian mengetuk-ngetuk ujung penanya ke dagunya, matanya sibuk membaca dari ujung ke ujung deretan tulisan di atas berkas yang dipegang sebelah tangannya. Ia melirik jam, sudah jam tujuh malam, ia bahkan tak tahu Dasha sudah bangun atau belum. Satu yang Damian tahu, ia memang benar-benar tertarik dengan Dasha, ketika ia menggendong lalu memangku perempuan itu, ia merasa semuanya sempurna, hatinya tenang dan senang. Bahkan ia sudah merindukan perempuan itu sekarang. Cinta pandangan pertama memang cukup menakutkan. Damian mengakuinya. Ketika Damian memperhatikan wajah Dasha dengan cermat, ia sadar jika perempuan itu begitu cantik, dan juga manis, hal itu yang membuat Damian tak mampu untuk tidak mencium pipinya. "Argh." Damian menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya secepatnya agar ia bisa pulang. Tapi sepertinya, ia takkan bisa pulang kurang dari jam sepuluh malam. Hal yang membuatnya frutasi. *** Semuanya sudah di persiapkan. Begitu yang Dasha pikirkan ketika matanya berkeliling menjelajah isi kamar tersebut. Dasha hanya merasa kamar ini seperti sudah di persiapkan sebelumnya, karena ini begitu lengkap, bahkan ada beberapa barang yang ia tak tahu namanya. Dasha kemudian membuka lemari, mencari sebuah mini frame berisi fotonya dengan Laura, ini yang satu-satunya sempat ia bawa dan ia masukkan ke dalam kopernya. Dasha tersenyum, ia dan Laura tampak bahagia karena tidak pernah mengira kalau hari ini akan terjadi. Sebenarnya, masih banyak foto-fotonya dengan Laura di dalam ponselnya. "Tunggu, di mana ponselku?" gumam Dasha bertanya pada dirinya sendiri. Meletakkan frame itu ke tempatnya semula, Dasha mulai merogoh saku pakaian yang ia kenakan, saku pakaian kotornya dan tidak menemukan apapun. Ia juga mencari di dalam lemari lalu laci, masih sama, tidak ada ponselnya di sana. "Apa aku meninggalkannya di apartemen?" lirih Dasha. Setelah di pikir-pikir, Dasha yakin kalau ponselnya memang tertinggal, kalau begitu ia tak bisa melakukan apapun selain merelakannya. Tapi apakah mungkin di dalam koper? Dasha mencoba mengingat. Hari itu ia membawa ponsel dan merasa tak memasukkan ponselnya ke dalam koper. Atau mungkin jatuh di suatu tempat? Tapi, di mana? Dasha menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran negatifnya. Ia pusing sekarang, ponsel adalah benda penting, ada beberapa kenangan di dalamnya yang tak bisa di ulang kembali. Hal ini mau tak mau membuat mood Dasha bertambah buruk. Sejujurnya juga ia kurang suka tinggal di sini walaupun di sini mewah. Hanya saja, karena menghargai Damian yang membantunya, membuatnya tak bisa lakukan apapun selain bersikap baik seperti yang di inginkan Laura. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, membuat Dasha cepat-cepat berjalan ke arah pintu lalu membukanya, dan ternyata seorang wanita dewasa dengan apron putih di tubuhnya. "Adrian menyuruhku membawakan ini, Dasha Milkova," ujarnya menyerahkan sebuah baki dengan piring berisi nasi dan lauk serta segelas air putih di atasnya. "O-oh hm terimakasih," ucap Dasha menerima baki itu. "Mm memangnya di mana Adrian?" lanjutnya bertanya. Perempuan dewasa dengan wajah datar itu berkedip sekali. "Damian menyuruhnya pergi ke kantor, dan Adrian berpesan padaku agar kau segera beristirahat karena besok kau sudah bisa pergi ke sekolah." Ia kemudian berbalik dan berlalu dari hadapan Dasha. Dasha membawa masuk bakinya lalu menutup pintu dan menaruh baki tersebut ke atas nakas. "Sekolah?" Dasha berkata lirih. Masih ada trauma di dirinya tentang Yuna dan teman-temannya yang suka mengganggunya, tak menutup kemungkinan di sekolah yang mungkin lebih elit itu akan lebih banyak perundung. Dasha tak bisa merasakan hal seperti itu lagi. Selera makan pun menguar seketika, perasaan cemas hinggap di hatinya. Memperhatikan makanan yang tercium harum itu membuatnya teringat dengan Laura, apa ia makan makanan yang enak juga? Namun, perutnya yang memberontak minta di isi tak mampu Dasha hiraukan hingga mau tak mau, selera tak selera ia harus menelan suap demi suapan. *** Adrian mengetuk pintu ruangan Damian, tidak ada jawaban dan ia langsung masuk begitu saja. "Ada yang bisa kubantu, Damian?" tanya Adrian berdiri di depan meja kerja Damian. Damian mengangguk, ia menunjuk berkas-berkas terbengkalai di atas meja di tengah sofa. "Baca, pahami, lalu serahkan padaku." Adrian melirik berkas-berkas yang akan ia santap malam ini sebelum mengangguk paham lalu berjalan ke arah sofa. "Bagaimana dengan Dasha? Ia sudah bangun?" tanya Damian berhenti sejenak dari pekerjaannya. "Ya, mungkin sekarang dia sedang makan malam." Damian mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. "Bagus." Adrian melirik Damian sejenak, terkadang Damian memang terlihat begitu tak acuh atau terkadang sebaliknya. Cukup tak bisa di tebak inginnya seperti apa. "Lalu bagaimana dengan keluarga Volkov, kau sudah mengetahuinya?" tanya Damian membalik kertas di tangannya. "Ya, sedikit lagi," ujar Adrian. Ia memang tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat karena ada beberapa hal yang membuatnya sibuk akhir-akhir ini. "Ok." Damian dan Adrian saling diam untuk waktu yang cukup lama, sebelum Damian kembali mengangkat wajahnya dari tulisan-tulisan di depannya. "Besok, hari pertama Dasha di sekolah barunya, bukan?" Ia melirik Adrian. "Ya, semuanya sudah selesai, kau tenang saja, Damian." Damian tahu itu, hanya saja ada yang membuatnya berpikir tentang sesuatu. "Kenapa?" tanya Adrian yang menangkap eskpresi cemas dari Damian. "Apa aku perlu menyewa seseorang agar Dasha memiliki teman di sekolahnya?" Adrian memicing. "Untuk apa? Maaf Damian, tetapi menurutku, tidak perlu, Dasha pasti akan menyesuaikan dirinya, di tempat yang baru aku yakin ia akan menjadi dirinya yang baru juga." Adrian memang tepat jika di tanya tentang saran. "Kau benar, tapi ... rasanya masih belum lega, masih ada yang ku khawatirkan." Adrian tersenyum tipis. "Kau sudah mencintainya, ya?" Damian diam, tak bisa menyangkal. "Love at the first sight memang mengagumkan." "Diamlah, Adrian." Damian berkata ketus lalu melanjutkan acara membacanya dan tanda tangan yang tak berkesudahan. Adrian sendiri berusaha menawan tawanya hingga bibirnya menipis. *** Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Dasha terbaring di atas tempat tidur besar itu dengan mata nyalang menatap langit kamar. "Besok aku akan bersekolah?" lirihnya. "Tapi aku bahkan tidak membawa perlengkapan sekolah. Apa mereka bercanda?" Dasha memiringkan tubuhnya, tidak ada guling yang biasanya ia peluk sebelum tidur, jadi ia menggulung dirinya dengan separuh lebar selimut, dan sisanya ia gulung menjadi guling. Ya, setidaknya begitu lebih nyaman. "Aku merasa seperti berada di rumah orang asing," gumam Dasha memejamkan matanya dan kemudian tertawa, menertawakan dirinya sendiri. "Bodoh, aku memang berada di rumah orang asing." Rasanya seperti mimpi. Dasha kemudian mematikan lampu tidur, dari tadi keadaan kamar sudah remang-remang dan ia tak bisa tidur, satu-satunya cara ialah mematikan semua lampu dan membuat ruangan itu gelap gulita. Jarum jam terus bergerak hingga kini jarum itu menunjukkan angka sebelas. Handle pintu kamar Dasha terbuka, seseorang yang hanya terlihat samar karena cahaya dari luar tampak mendekat ke arah Dasha yang tertidur nyenyak. Orang itu duduk di pinggir ranjang Dasha, jemari besarnya membelai pipi Dasha lalu mengecupnya pelan. Ia merasakan dadanya yang membuncah senang, berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini, terasa istimewa. Mungkinkah perempuan ini adalah takdirnya? Kalau memang benar, tak tahu harus di ungkapkan seperti apa rasa bahagianya. "Suka sekali tidur di kegelapan, ya?" gumamnya dengan suara berat sebelum mengecup kening Dasha. "Tidur yang indah, Sayang." Ia kemudian berdiri, menatap Dasha sekali lagi dalam keremangan cahaya dari luar kamar, cukup lama sampai ia berbalik lalu menutup pintu kamar dengan pelan hingga tak bersuara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD