It's New School

1059 Words
Dasha terbangun dengan tubuh yang lebih segar daripada biasanya, suhu ruangan yang terasa tentram dan kasur empuk menjadi sebab kenapa kepalanya bisa terasa seringan ini. Dasha merapikan rambutnya dengan jari-jemari tangannya, ia kemudian turun lalu membereskan tempat tidurnya, kebiasaan baik yang akan terbawa kemanapun ia berada. Perempuan itu selanjutnya berjalan ke arah cermin lalu memperhatikan dengan teliti bentuk wajahnya. Wajah ini, ia tak tahu mirip ayah atau ibunya karena ia tidak pernah melihat wajah orang tuanya, tidak sekalipun. Ia sudah di berikan ke panti asuhan sejak ia bayi, satu-satunya yang diberikan orang tuanya ialah nama aslinya. Dasha masih memperhatikan wajahnya ketika pikirannya mengalihkan topik di kepalanya hingga membuat kedua bola matanya melebar. Sekolah! Ia baru teringat akan hal itu. Dalam sekejap, ia melupakan masalahnya tentang wajah. Jam sudah menunjuk ke angka enam dengan jarum panjang ke tujuh, ia harus bersiap dari sekarang. Namun, Dasha teringat kalau ia tidak mempunyai seragam sekolah barunya itu. Suara ketukan dari pintu membuat Dasha cukup terkejut, ia buru-buru menghampiri, mungkin saja Adrian, ia harus nenanyakan tentang hal ini. Namun, Dasha harus kecewa karena Damian lah yang kini berdiri di depan pintu kamarnya. "Damian?" Nama itu keluar begitu saja dari mulut Dasha. Damian tampak menarik nafas, mata birunya menyala dalam sesaat. "Aku mendengar suara langkah kaki yang terus-terusan berjalan, seperti orang yang sedang bingung atau gelisah, apa aku keliru?" tanyanya. Dahi Dasha mengerut samar. "Mendengar langkah kakiku?" Damian mundur selangkah lalu tangannya terangkat menunjuk pintu di sebelah kamar Dasha. "Kamarku di sana, Adrian belum memberitahumu, ya?" Dasha menggeleng. "Telingaku sensitif, jadi aku bisa mendengar langkah kakimu." Dasha sebenarnya tidak percaya. Namun, ia hanya mengangguk mengiyakan. Sesensitif apapun, apakah mampu mendengar suara yang berasal dari ruangan yang terpisah dinding batu dengan si pemilik telinga? "Jadi, kau benar sedang gelisah? Ada apa?" tanyanya dengan mata yang bersinar penasaran. Tanpa sadar, kedua tangan Dasha yang berada di samping tubuhnya mengepal, ia selalu seperti ini, terseret masuk ke dalam mata itu, sulit untuk mengalihkan pandangan karena mata itu begitu indah. "Dasha?" Damian memanggilnya. Mata dengan pupil cokelat itu mengerjap dua kali sebelum menunduk menatap lantai lalu kembali menatap Damian. "Ya, mm sebenarnya aku ingin bersiap, tapi belum ada seragam sekolahnya," ujar Dasha dengan suara pelan di ujung kalimat. Ia merasa tak enak. "Belum ada?" Raut wajah Damian tampak berbeda, ia terlihat berpikir sesuatu. "Apa para pelayan itu tidak mempersiapkan segalanya?" gumamnya dan berbalik pergi. Dasha yang merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, cepat-cepat menggenggam erat tangan Damian, mencoba menghentikannya. "Damian, mungkin saja a--aku tidak tahu tempatnya," katanya cepat, tangannya terurai melepas cekalannya ketika Damian berbalik ke arahnya. "Tidak tahu, ya?" Damian berbalik menggenggam tangan Dasha, masuk ke dalam kamar, terus hingga mereka sampai di depan sebuah pintu yang berhadapan dengan pintu kamar mandi. "Sudah membuka ini?" tanya Damian. "Belum," jawab Dasha. Ia tahu pintu ini namun ia tak mau juga tak berani membukanya, bisa saja ada sesuatu yang aneh di dalamnya. "Kalau begitu, bukalah," ujar Damian mengedikkan kepalanya. "Lalu berpakaian dan turun ke bawah untuk sarapan." Ia melempar senyum teduh. Membuat Dasha membalas senyum itu spontan. Damian kemudian keluar dari kamar Dasha. Membuat perempuan itu lega karena berada dekat dengan Damian, ia merasa sesak. Tapi Dasha segera sadar akan apa yang ia harus segera lakukan. Ia pun membuka pintu dengan pelan. Hal yang pertama kali di tangkap Dasha ialah aroma barang baru di hidungnya. Tangannya kemudian meraba-raba dinding mencari sakelar lampu karena tempat itu gelap, dan tak butuh lama ia mendapatkannya, dengan segera ia menekan sakelar itu lalu ruangan menjadi terang benderang. Pemandangan yang terlihat oleh Dasha pertama kali sungguh mempesonanya, ruangan itu penuh dengan pakaian wanita, sepatu, tas sekolah, dan juga seragamnya! Dasha benar-benar berusaha untuk tidak menganga melihat betapa bagusnya seragam itu, seragam lamanya juga bagus, hanya saja ia merasa yang ini lebih bagus, apalagi ia mendapatkannya dengan judul 'bukan beasiswa' Bodoh, beasiswa adalah hal yang banyak di nanti para siswa di luar sana, tapi entah kenapa Dasha tak ingin lagi mendapatkannya. Ia trauma dengan kata itu. Ini semua karena Damian yang membayar uang sekolahnya. Mungkin setelah ini, Dasha harus berterimakasih padanya. *** Damian duduk di pinggir kasurnya dengan tangan bertaut. Tadi itu benar-benar terasa aneh, ketika ia mengenggam tangan Dasha, jantungnya berdegup lebih kencang. Ia merasa jika Dasha akan berbahaya untuknya. Berbahaya yang menyenangkan. Damian mengacak rambutnya frustasi. Ia memang benar-benar menyukai Dasha. Kalau begitu, perempuan itu juga harus balik menyukainya. Lalu mereka akan menjadi sepasang kekasih. Ya, Damian sangat menunggu hal itu terjadi suatu saat nanti. Tak sengaja, Damian melirik sesuatu di atas meja. Ia kemudian bangkit berdiri dan mendekatinya, mengambil benda pipih itu lalu mengangkatnya. Itu adalah ponsel milik Dasha yang Damian ambil ketika di rooftop waktu itu. Ponselnya kemasukan air karena memang Damian menemukannya setelah Dasha cukup lama beranjak dari sana. Damian tentu mengambilnya dan menggenggamnya di bawa bersamanya. Damian sengaja tidak memberi Dasha ponsel ini lebih cepat karena ponsel ini harus di perbaiki. Sebenarnya, ada pemikiran kalau lebih baik Dasha menggunakan ponsel terbaru saat ini, tapi ia yakin ada kenangan di dalam ponsel ini yang mungkin sangat berharga bagi Dasha. Damian kemudian meletakkan ponsel itu lalu berbalik dan membuka kausnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Sangat di sayangkan Damian tidak membuka isi ponsel itu, padahal jika ia membukanya, ia akan menemukan satu foto yang mungkin mengingatkannya akan seseorang yang dulu sekali pernah bersamanya. *** Damian menuruni anak tangga dengan cepat. Namun, ketika sampai di meja makan, ia tak melihat Dasha, hanya ada Adrian yang berdiri sembari menatap meja yang sudah penuh akan makanan. "Dasha belum turun?" tanyanya ke Adrian sembari melanjutkan langkahnya. Adrian mendongak menatap Damian. "Belum, mungkin sebentar lagi." Benar, tak lama kemudian Dasha tampak keluar dari kamarnya, ia menuruni anak tangga dengan pelan. Dasha benar-benar terlihat sangat memukau dengan seragam itu! Tas ransel di punggungnya juga membuatnya tampak semakin manis. Adrian melirik Damian yang menatap Dasha tidak berkedip. Sepertinya ada yang terpesona untuk kedua kalinya. "Maaf membuat kalian menunggu," ujar Dasha gugup. "Tidak apa, Dasha, duduklah," ujar Adrian mewakilkan Damian yang masih diam. Damian merasa kalau Dasha terlalu cantik untuk ke sekolah, memang ia tidak memakai riasan apapun, tapi versi naturalnya ini bisa membuat dirinya gila. Adrian berdeham cukup keras agar Damian berhenti dari acara memikirnya. Saat ini mereka sedang sarapan, lebih baik cepat makan dari pada melamun memikirkan hal yang bisa di pikirkan nanti. "Oh, maaf." Damian bergumam pelan sebelum fokus kembali terhadap makanan yang ada di depan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD