Meet New Friends

1594 Words
Suara denting dari sendok dan piring yang beradu mulai berhenti ketika tiga orang itu sudah selesai dengan sarapannya. Damian menatap Adrian dalam beberapa detik, tatapan penuh makna itu bisa Adrian pahami dan ia mengangguk. "Dasha," panggil Damian menoleh ke arah kanan. "Ya?" "Adrian yang akan mengantarmu, aku punya meeting penting pagi ini jadi tidak bisa ikut mengantarmu ke sekolah." Dasha mengerjap sekali lalu mengangguk paham. "Tapi ... bukannya Adrian adalah asistenmu? Aku pergi dengan supirmu yang lain saja, tidak perlu bersusah payah." Damian menenggak air di gelasnya hingga tandas sebelum menjawab Dasha. "Sama sekali tidak susah," ujarnya menatap lurus ke depan. "Kau akan tetap bersama Adrian." Ya, ini di karenakan Adrian adalah satu-satunya orang yang bisa di percaya oleh Damian, tidak ada yang lain. Damian yakin, selama tak ada dirinya, keamanan Dasha terjamin bersamanya. "Hm okey." Dasha mengangguk patuh. Kalimat 'ia menumpang' itu terus berdengung di kepalanya. Jadi ia tak bisa membantah apapun. Adrian lalu melirik Damian lagi. Sepertinya tidak akan ada yang pria itu ucapkan lagi, jadi ia bangkit berdiri lalu merapikan jasnya. "Baiklah, Devushka, kita berangkat sekarang," ujarnya tersenyum ceria menatap Dasha. Dasha mengangguk, ia berdiri. Melihat Damian yang masih diam saja, ia sengaja melirik Adrian dan pria itu menggelengkan kepalanya pelan. "Kami pergi dulu, Damian," ucap Adrian berlalu sembari menepuk bahu Damian dua kali. Damian sendiri masih tampak berpikir sesuatu, ia melirik arlojinya sesaat dengan kening berkerut dalam, lalu berdiri mengikuti langkah Adrian dan Dasha. Damian melihat Adrian dan Dasha yang sudah masuk ke dalam mobil, ia lalu menoleh ke arah supir yang harusnya mengantarnya ke kantor pagi ini. "Ayo ikut." Si supir yang berdiri di samping mobil pun mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Sedangkan Damian sendiri masuk ke sisi kiri bagian penumpang dari mobil yang dikendarai Adrian. Hal itu membuat Adrian maupun Dasha terkejut karena mereka pikir Damian berada di mobil lain. "Damian, bukannya kau--" "Jalankan saja mobilnya," perintahnya memotong ucapan Adrian. "Baiklah," sahut Adrian paham. Dasha melirik Damian perlahan, kemudian berdeham kecil membersihkan tenggorokannya lalu melihat ke arah luar jendela. "Dasha." Dasha menoleh dan terkejut ketika Damian menggenggam erat tangannya. "K--kenapa?" tanyanya sembari memperhatikan tangannya yang tampak kecil dalam genggaman tangan besar Damian. "Jika kau merasa ada yang tidak cocok denganmu, atau ada yang mengganggumu, apapun yang membuat perasaanmu tak enak di sekolah itu ... tolong beritahu aku, kau paham?" Damian menatap Dasha dengan bersungguh-sungguh. Dasha terkesiap. Tatapan itu benar-benar penuh makna, ia bahkan bisa merasakan bagaimana Damian peduli tentangnya. "Aku tahu, tenang saja." Dasha tersenyum kecil, membuat Damian lega dan bisa menyandarkan punggungnya ke kursi dengan d**a ringan. Setelahnya, tak ada percakapan apapun di antara mereka, Damian memejamkan matanya memikirkan alasan apa yang akan ia berikan nanti pada rekan kerjanya karena telat dalam meeting yang sebenarnya dibuat oleh Damian sendiri. Dasha menatap tangannya yang berada dalam genggaman Damian, ia ingin melepasnya karena merasa canggung. Damian masih seperti orang asing baginya. Jadi, dengan Damian memperlakukannya seperti ini terasa aneh menurut Dasha. Seolah mereka sudah mengenal lama dan menjadi sepasang kekasih. Tak lama kemudian, dua mobil mewah itu masuk ke dalam area sekolah. Tampak beberapa siswa berjalan kaki. Hanya segelintir yang di antar pakai mobil. Sepertinya sekolah ini berbeda dengan sekolah lamanya walaupun sekolah ini tampak lebih berkelas dari sekolah lamanya. Sepertinya. Mobil kemudian berhenti, sebentar lagi jam delapan jadi banyak siswa yang terburu-buru masuk ke gedung sekolah sebelum gerbang di tutup. "Dasha, ingat yang kubilang tadi, 'kan?" Damian kembali memperingatkan Dasha, ia terlalu khawatir! Dasha mengangguk paham. "Tentu, Damian. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa," ujarnya membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali dan berjalan bergabung bersama siswa lainnya. Adrian menatap Dasha yang tampak berbicara dengan siswa lain. "Aku rasa dia akan baik-baik saja, pengalaman pahitnya di sekolah itu pasti akan ia perbaiki di sekolah dengan lingkungan yang baru," ujar Adrian yang paham dengan kekhawatiran Damian. "Aku tahu." Damian memijit keningnya. "Benar-benar tahu, tapi aku tetap sangat mengkhawatirkannya." Adrian tersenyum tipis melirik Damian melalui kaca spion tengah. "Kau lihat ...." "Hah? Kenapa?" Damian menghela nafas kasar, ia tak bisa katakan ke Adrian kalau Dasha sungguh cantik dengan balutan seragam itu, itulah yang membuat kekhawatiran Damian semakin bertambah. Tapi ia takkan mengatakannya ke Adrian karena ... ia tak mau saja. "Tidak, lupakan." "Kau ingin mengatakan tentang Dasha yang terlihat semakin menawan, ya? Maka dari itu kau khawatir dia akan di goda oleh lelaki lain. Apa aku benar?" Damian menghela nafas, pria kurang ajar itu tahu saja apa yang ia pikirkan. "Kau sudah tahu, 'kan? Jadi, aku memintamu untuk tinggal di sini sampai Dasha pulang," ujar Damian yang membuat Adrian langsung menolehkan kepalanya ke belakang. "No, Damian, aku bisa sangat bosan," protesnya. "Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkanmu ke kantor?" tawarnya selanjutnya. Tapi Damian memang sudah merencanakan ini sejak awal, maka dari itu ia membawa supirnya bersamanya karena Adrian akan ia tugaskan menjaga Dasha. "Tidak bisa, kau harus disini." Perkataan Damian itu sungguh menyiksa Adrian. "Damian, aku--" "Ingat siapa tuan di sini, Adrian?" Ia sengaja berkata seperti itu. "Baik, tuan," ujar Adrian malas-malasan. "Jangan formal." "Baik, Damian." Damian tertawa kecil melihat kesengsaraan Adrian, tapi mau bagaimana lagi, Adrian yang ia percaya jadi Dasha akan ia serahkan padanya. Ketika para siswa sudah tak kelihatan sama sekali, Damian keluar dari mobil yang satu ke mobil satunya lagi, kemudian pergi meninggalkan Adrian sendirian yang nantinya mungkin akan mati. Mati bosan. *** Rok tartan lipit dengan motif scottish plaid berwarna cobalt blue dengan garis white dan grey yang mempercantik, di tambah blazer hitam dengan kancing emas, kemeja putih yang juga berkancing emas, lalu dasi yang senada dengan motif roknya, serta logo sekolah Russia International high school yang merekat di sebelah kiri atas blazer Itu memang benar-benar menambah pesona dari seorang Dasha. Terlalu tinggi level rasa-rasanya untuk ukuran seorang siswa high school. Ketika Dasha bergabung bersama para siswa lain, ia dibuat kaget karena dihampiri oleh seorang perempuan cantik yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan. "Hai! Kau siswa baru, ya? Karena aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," ujarnya riang. Dan ia langsung berkata informal seolah mereka adalah teman lama. Tapi memang cara bicara seperti itu yang akan mempercepat jalannya suatu hubungan walaupun terdengar aneh pada awalnya. "Ya, aku baru di sini," jawab Dasha tersenyum kaku. Perempuan tadi tampak berbinar. "Kau cantik sekali," serunya. "Kau memakai skin care merk apa?" tanyanya kemudian. Dasha yang sudah senang akan punya teman mendadak menghela nafas panjang. Ternyata penyebabnya adalah penampilan, bisa di pahami. "Aku tidak memakai skin care apapun. Em kalau begitu aku pergi dulu," ujar Dasha berjalan lebih cepat meninggalkan perempuan itu yang sedikit protes karena ditinggal. Dasha menggelengkan kepalanya pelan, ia harus mengingat tentang pemikirannya waktu itu, tak perlu berteman dengan seseorang yang tidak murni ingin berteman, ujung-ujungnya pasti bermasalah lalu bermusuhan. Akan lebih baik sendirian saja dan berteman sewajarnya dengan yang lain. Ya, mungkin Dasha akan menerapkannya. Saat bel berbunyi, seluruh siswa beramai-ramai masuk ke kelasnya masing-masing, sedangkan Dasha harus menepi dahulu kalau tidak ingin tertabrak. "Dasha ... Milkova?" Dasha menoleh begitu namanya di sebut oleh seseorang. "Oh ya." Pria gendut dengan kemeja yang tampak ketat di bagian perut serta kacamata yang bertengger di wajahnya itu rasanya bisa di tebak apa posisinya di sekolah ini, ia pasti kepala sekolah. Tapi bagaimana ia mengenali Dasha sekaligus mengetahui nama lengkapnya? Apa karena Damian, ya? "Lewat sini, aku akan mengantarmu ke kelas barumu," ujarnya dan diangguki Dasha. "Aku Antony Toropov, kepala sekolah di sini." Benar, seperti yang ia tebak. "Sampaikan salamku ke Damian Declavroix," ujar Antony. "Dia pengusaha muda yang hebat." Dasha mengernyit. Dia mengenal Damian? Ah dia yakin kepala sekolah bersikap seperti ini karena Damian, sangat jelas sekali. Antony kemudian berhenti di satu pintu yang tertutup, ia mengetuk pintu itu sebelum kemudian membukanya dan terlihat para siswa yang duduk rapi di sana dengan seorang guru perempuan yang sedang mengajarkan rumus matematika di depan whiteboard. "Maaf mengganggu, miss Rusanova," ujar Antony ke guru perempuan itu. "Tidak masalah, sir," sahutnya menarik diri dan berdiri di sebelah meja guru. "Perhatian, izinkan aku mengenalkan siswa baru di kelas ini, Dasha Milkova," serunya sembari menunjuk Dasha yang berdiri di sisi kirinya dengan tangannya. "Ada yang ingin di bicarakan, Dasha?" tanya Antony dan Dasha menggeleng, ia nervous. "Baik kalau begitu, silahkan duduk di bangku kosong sebelah sana, Dasha." Dasha mengikuti arah lengan Antony dan ia menemukan satu bangku kosong di sebelah siswa yang terus menunduk menatap bukunya, sangat berbeda dengan siswa lain yang semuanya menatap ke arah depan. "Terimakasih, sir." Dasha kemudian berjalan, mencoba menghiraukan mata-mata penasaran yang menatap ke arahnya, ia lalu menaruh tasnya di atas meja dan duduk di kursi kosong itu. "Miss Rusanova, bisa ikut denganku sebentar?" Antony menunjuk ke arah luar kelas. "Ah bisa, sir," jawab guru itu sebelum Antony keluar lebih dulu dari kelas. Miss Rusanova melihat ke arah Dasha lalu tersenyum lebar. "Senang bertemu denganmu, Dasha, semoga kau betah bersekolah di sini, ya." "Ah ya, miss, terima kasih." Seorang siswa pria yang duduk diam di sebelah Dasha tadi mendongak lalu melihat ke arah Dasha. Dasha yang merasa di tatap, ikut menoleh namun pria itu segera mengalihkan tatapannya menjadi ke depan, membuat Dasha menyernyit melihatnya. Kesan pertama adalah segalanya, Dasha selalu ingat hal itu, dan sekarang kesan pria itu dari awal sudah jelek kepadanya. "Dan Rein!" "Ya, miss?" Dasha menolehkan kepalanya begitu saja, nama dia Rein? Batinnya melihat lekat pria bernama Rein itu. "Tolong kerjakan dan jelaskan soal ini ke teman-temanmu, sepertinya aku akan lama di luar," ujarnya dan disanggupi oleh Rein. "Ok well, terimakasih, Rein. Yang lain tolong perhatikan Rein dan usahakan kalian paham," ujar Rusanova. "Dan untuk Dasha, kalau kau tidak paham, tanyakan saja pada Rein, ya?" "Baik, miss." Rusanova tersenyum mengangguk sebelum pergi dari sana dengan langkahnya yang cantik. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD