About Volkov

1729 Words
Di sebuah kamar mandi yang cukup gelap karena lampu yang sengaja dimatikan, empat orang siswa tampak membincangkan sesuatu yang serius di sana. "Jadi, dia sudah pindah?" Itu Yuna. Ia mendengus dengan bibirnya yang tersenyum miring. "Dan karena kita? Oh my God, dasar pengecut." "Tapi dari yang aku dengar, perempuan yang tinggal bersamanya pergi dari apartemen mereka karena masalah hutang, jadi aneh rasanya kalau Dasha pindah ke sekolah yang lebih elit padahal teman seapartemennya sedang terlilit hutang." Yuna setuju, itu penjelasan yang masuk akal. "Sudahlah, tidak perlu menceritakan tentang dia lagi, orangnya sudah tidak ada di sini, buang-buang waktu saja." Memang benar, tapi Yuna tidak bisa, Dasha sudah menjadi musuh sejati baginya. Apapun yang Dasha lakukan terasa menjengkelkan di matanya. "Dan--" Knock knock. Perkataan Yuna harus terpotong ketika mereka mendengar suara ketukan dari arah pintu kamar mandi yang tertutup. "Siapa?" seru perempuan itu dari dalam, namun karena tak kunjung dijawab, ia pun berjalan ke arah pintu dengan malas dan membuka dengan kasar. "Ap-- oh, sir Igor Ibragimov." Yuna mengecilkan suaranya begitu tahu ternyata guru terkiller di sekolah mereka yang tadi mengetuk pintu. "Ikut aku, Yuna Volkov," ujar Igor yang berjalan lebih dulu. Tiga teman Yuna berjalan cepat ke arahnya, salah satu dari mereka menatap Yuna dengan tatapan heran. "Ada hal penting apa sampai dia yang memangilmu, Yuna?" Yuna mengangkat bahunya tak acuh. "Tidak tahu, tapi sekarang aku harus ikut dengannya. Sampai jumpa." Yuna pergi dan mencari di mana Igor berjalan, ia lalu mencoba menyamai langkahnya dengan guru di depannya karena ia selalu tertinggal di belakang akibat langkahnya yang kecil. "Mm, sir? Kalau aku boleh tahu, ada apa memanggilku?" tanyanya dari arah belakang Igor. "Sepupumu ingin berbicara denganmu," sahut Igor singkat. "Sepupu?" Yuna membeo pelan, ia punya banyak sepupu, tapi siapa di antara mereka yang rela susah payah datang ke sini padahal bisa memberitahunya melalui ponsel jika ada yang penting. Atau mungkin Rein? Bukannya dia sudah pergi ke Moscow? Yuna tidak tahu, ia juga tak peduli dan ingin cepat kembali. "Sebelah sini, dia duduk di sana." Igor menunjuk ke arah ujung lorong yang sepi dengan pencahayaan minim. "Dia bilang ini penting dan ingin berbicara denganmu secara rahasia." Yuna heran, namun ia tetap mengangguk paham. Setelah Igor pergi dari sana, Yuna berjalan cepat ke ujung lorong tersebut. Di sana ada persimpangan buntu yang sama sekali tidak bercahaya, tempat ini memang jarang di jamah oleh mereka. Yuna melihat ke arah kirinya dan tidak ada orang sama sekali di sana, ia lalu memutar kepalanya ke arah kanan dan terkesiap kaget karena wajah itu terlalu dekat dengannya! Pria bersetelan jas itu hanya terdiam melihat Yuna yang sungguh terkejut sembari mengelus dadanya perlahan. "Hey kau siapa, huh?!" Yuna berseru marah. "Oh, kau yang mengaku sebagai sepupuku?" Ia tampak meremehkan pria di depannya. "Perkenalkan, aku Zenaida Zhabin, dan ingin--" "Ingin meminta uang dariku?" Yuna menyelanya dengan gaya yang benar-benar angkuh. "Benar? Tidak perlu menyamar sebagai sepupu dengan setelan jas, cukup jadi peminta dan aku akan memberimu uang." Yuna berdecih pelan, merasa waktunya terbuang sia-sia, ia hendak pergi, namun sepertinya tidak bisa karena Zen mencekal lengannya erat. "Aku tidak meminta uang sedikitpun," ujar Zen kesal, susah mempertahankan sikap datarnya ketika menemui orang menjengkelkan seperti Yuna. "Jadi apa, huh?" Zen menunjukkan layar ponselnya ke arah Yuna. "Bukalah," perintahnga kemudian. Yuna merebut ponsel itu dengan kasar. Awalnya ia merasa biasa saja, namun ketika beberapa video bermunculan, alih-alih merasa khawatir, ia malah tertawa. "Kau penggemarku? Hingga mengoleksi banyak video tentangku yang membully para siswa payah itu? Dan oh my God, kau juga punya banyak video Dasha yang lemah itu, mengesankan!" Zen tersenyum miring, perempuan ini terlihat sudah gila. "Kalau begitu ...." Zen mengambil kembali ponselnya. "Jika aku menekan tombol ini, lalu videomu yang menindas siswa lemah tersebar, kau tentu tahu bukan kalau bukan hanya dirimu yang terkena dampak buruknya? Oh, aku ingat, ayahmu sedang mempertahankan perusahaannya yang hampir collapse, 'kan?" Yuna mulai merasa khawatir, namun ia tetap menjaga dirinya agar tetap tenang. "Jangan coba-coba, kau tidak tahu konsekuensinya." "Sayangnya aku tahu, jika kau bersedia, aku sanggup menekan tombol ini." Jari Zen tampak bermain-main pada tombol send. "Tidak butuh lama, semua milikmu akan hancur." Yuna mulai tak bisa mengendalikan emosinya. "Jangan main-main denganku! Siapa kau sebenarnya?!" Zen membuang nafasnya pelan, wajahnya terlihat semakin seram dengan mimik yang benar-benar datar juga mata yang menyipit tajam. "Tidak usah bertele-tele, nona payah. Yang aku inginkan adalah kau meminta maaf kepada semua siswa di dalam video ini, dan juga Dasha yang kau sebut tadi." Yuna terkekeh. "Jadi ini tentang--" "KAU MAU TIDAK?!" Zen membentak Yuna dengan sangat keras, air mukanya keruh. "Aku sangat muak dengan perempuan angkuh sepertimu!" Yuna gemetar, ia kalah. "Pilihanmu hanya dua, minta maaf atau aku akan menyebarkan video ini." "Aku ...." "Satu ... dua ...." "Aku tidak bisa meminta maaf pada mereka!" Zen tersenyum miring. "Tiga ... sampai lima kau tidak mau juga, aku akan menyebarkannya saat ini juga." Yuna ketakutan, egonya mengatakan ia tidak perlu meminta maaf kepada orang-orang payah itu, namun pikirannya berbeda karena ia jelas tahu apa-apa saja konsekuensi yang akan ia dapat ketika pria itu menyebarkannya. "Empat ...." "Berhenti! Okey! Aku akan meminta maaf kepada mereka semua! Kau puas?!" teriaknya frustrasi. Zen mengelurkan sebuah benda dari saku celananya. Benda yang ternyata ponsel itu tampak menampilkan layar merah dengan garis naik turun. Yuna yang perlahan paham apa itu, dengan cepat mencoba mengambilnya namun tetap kalah cepat dengan pergerakan Zen. "Aku tunggu selama tiga hari, jika ucapanmu palsu, aku akan menyebarkan video dan rekaman suaramu," ujar Zen memasukkan kedua ponselnya ke dalam saku dalam jasnya. "Sampai jumpa." Zen melangkah dengan hati senang, ketika ia sampai di ujung lorong yang satunya, ia bisa mendengar teriakan frustrasi dari Yuna, bukannya kasihan, ia malah terkekeh. *** Adrian duduk dengan jari mengetuk setir mobil, sudah jam sepuluh dan ia harus menunggu empat jam lagi sampai Dasha keluar dari sekolahnya. "Ah, benar, ada sesuatu yang kulewatkan," ujar Adrian menjetikkan jarinya, ia membuka laci lalu menarik sebuah laptop berwarna hitam dari sana. Adrian memang selalu membawa laptop ini kemanapun ia pergi bersama mobil ini, jaga-jaga ketika ia bosan saat diperintahkan menunggu di dalam mobil oleh Damian, seperti saat ini. Hanya saja, ia takkan berseluncur di dunia sosial media, ia ingin menuntaskan pekerjaannya. "Yuna Volkov, ya?" Adrian memang pandai mencari suatu informasi sampai ke akar-akarnya, jika ia di hadapkan oleh kata sandi dan sebagainya, gampang saja, ia akan meretasnya. Satu persatu info tentang Yuna sudah ada di tangannya. Adrian menggelengkan kepalanya heran dengan sifat Yuna yang buruk sekali. Satu pertanyaan yang ada di benaknya, apa perempuan itu tidak pernah di perhatikan oleh orang tuanya? Sehingga bersikap semena-mena pada orang lain. Begitu semua informasi dan video sebagai bukti sudah ia rangkum dalam sebuah link, ia langsung mengirimnya ke email Damian. Ia juga melampirkan di sana tentang orang tua Yuna, mereka orang baik, keluarga Volkov terkenal kedermawannya, lalu kenapa Yuna beda sendiri? Adrian menghela nafas, ia tak tahu dan tak mau tahu, mungkin perempuan itu mengalami kelainan pada sikapnya. Sementara itu, Damian menerima email ketika ia masih berkutat dengan berkas di tangannya, ia membuka link itu, melihatnya sebentar lalu ke luar, tak mau membuka video apapun karena ia tak tahu apa yang ia akan lakukan kalau ia melihat bagaimana Yuna memperlakukan Dasha dengan buruk. Damian mengambil ponselnya, menghubungi seseorang yang sudah kenal dekat dengannya. "Zen? Bisa tolong aku sebentar?" Ya, Zen adalah orang yang diminta Damian untuk menemui Yuna. Mengancam perempuan itu. Hanya dia, tidak termasuk orang tuanya, yang salah adalah Yuna, orang tuanya tidak ikut andil. Ia memang tidak tahu bagaimana orang tua Yuna memperlakukan perempuan itu bagaimana. Namun, dari yang ia ketahui, Yuna lah yang bersalah. *** Jam istirahat berbunyi nyaring, para siswa ke luar beramai-ramai dan pergi ke kantin. Rein menutup spidol lalu menghapus coretannya di papan tulis, ia melirik Dasha ketika perempuan itu tampak serius dengan buku terbuka di hadapannya. Kelas sedang sepi karena semua orang pergi ke luar, Rein berjalan pelan ke arah meja Dasha lalu berhenti tepat di sebelah mejanya. "Ada yang kau tidak mengerti?" tanya Rein menunduk menatap Dasha. Dasha mendongak sedikit lalu menggeleng. "Tidak, tidak ada." Dasha juga cukup heran. Rein yang tadi terlihat cuek, tapi sekarang ia terlihat ramah. "Aku Rein Volkov," ujar Rein memperkenalkan dirinya. Volkov? Dasha teringat Yuna. Nama belakang itu sama dengan perempuan itu, tapi sangat tidak mungkin mereka keluarga, 'kan? Lagipula pasti tidak hanya Yuna yang punya nama belakang Volkov. "Dasha Milkova," ujar Dasha. "Ke kantin, ya? Boleh, tapi sebentar." Dasha membereskan alat-alat tulisnya, ia juga berpikir kalau Rein tidak sedingin yang ia pikirkan, buktinya pria itu mengajaknya berbicara dan bahkan tadi tersenyum. "Okey, ayo," ajak Dasha lalu bangkit berdiri. Rein mengangguk lalu berjalan lebih dulu, Dasha yang siswa baru tentu tidak tahu di mana letak kantin, bukan? Seperti kebanyakan sekolah, hal yang sangat tidak anti mainstream jika dua siswa, perempuan dan laki-laki berjalan bersama di gosipkan memiliki suatu hubungan. Terlebih lagi dua siswa itu memiliki sedikit attention, tentu lebih besar percakapan yang terjadi. Kantin di sekolah itu ternyata berada di sebuah ruangan besar dengan bangku yang hampir sudah di penuhi oleh para siswa. "Sebelah sini, Dasha," ajak Rein ke arah meja di sudut yang tersisa sedikit space. Dasha dan Rein baru saja meletakkan piring mereka di atas meja ketika satu siswi tiba-tiba datang dan menatap mereka berdua dengan tatapan minta di kasihani. Dasha jadi ingat kucing yang kelaparan menatapnya meminta makan. "Aku boleh bergabung dengan kalian?" tanyanya dengan nada sedih. "Aku selalu makan sendirian, karena aku siswa baru-mm sebenarnya sudah dua minggu, tapi aku belum mempunyai teman sama sekali." Dasha menggeser tubuhnya dan memberi tempat ke perempuan itu. "Silakan, aku juga siswa baru di sini." Perempuan manis itu tampak kegirangan, sepertinya dia adalah perempuan yang hyper active, mungkin itu sebabnya dia belum memiliki teman. "Aku Alina Antonov, kalian pasti Dasha Milkova dan Rein Volkov, benar 'kan?" Dasha mengangguk membenarkan, sedangkan Rein diam saja. "Dari mana kau tahu?" tanya Dasha penasaran. "Yeah ... kalian berdua sudah menjadi pusat perhatian sejak kalian pertama kali datang, tidak sepertiku haha." Dasha tidak tahu ingin membalas apa lagi, Alina terdengar seperti merendahkan dirinya sendiri. "Tapi tidak apa, setidaknya aku tidak menjadi objek bully dari geng mereka," ujar Alina lalu menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. "Bully? Siapa--geng?" Tepat setelah Dasha bertanya, tiba-tiba terdengar suara piring yang jatuh dan terdengar nyaring. Semua orang termasuk Dasha melihat ke arah di mana dua perempuan saling berhadapan dengan amarah di wajah mereka. What's going on? Kenapa sekolah elit yang Dasha datangi selalu ada penindasan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD