Into Your Arms

1181 Words
Tak lama Dasha pergi dari ruangan kerjanya, Damian memutuskan untuk ikut pergi ke kamarnya juga daripada ia di sana namun pikirannya terus dihantui oleh Dasha. Sampai beberapa jam kemudian akhirnya pekerjaan Damian selesai, ia meletakkan laptopnya di atas meja yang terletak di dekat cermin. Baru saja Damian berbaring ke atas tempat tidurnya ketika lampu padam dan membuatnya tak bisa melihat apapun seolah ia menutup mata. Damian kesal sebenarnya, hanya saja ia sudah lelah dan akhirnya menyerah pada kantuknya. Namun, berulang kali ia mengganti posisi tidurnya, ia tak tertidur sekalipun. Apa karena hujannya yang begitu deras? Petir juga terdengar bising di telinga Damian alih-alih takut. Damian mumutuskan memejamkan matanya saja, toh nanti lama-kelamaan ia akan jatuh dalam kantuknya. Dan beberapa menit kemudian, ia tidak juga tidur dan akhirnya bangkit duduk. Dan bertepatan dengan saat itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan keras dan cepat. Mungkin bagi para gadis, hal seperti ini akan sangat menakutkan, tapi Damin bukan gadis, ia turun dari ranjang tanpa menyalakan sumber cahaya apapun, melangkah ke arah pintu kemudian memutar handlenya. Belum sempat ia bisa melihat siapa gerangan yang berdiri di depan pintunya, tiba-tiba orang itu langsung memeluknya. Namun, Damian tentu tahu siapa yang sedang tersedu sembari memeluknya erat ini. "Aku takut." Damian membalas pelukan Dasha lebih erat, ia tidak tahu kalau hal ini adalah kelemahan Dasha, kalau ia tahu ia pasti sudah mendatangi kamarnya lalu menenangkannya lebih dulu. "Sst, ada aku," bisik Damian di atas kepala Dasha lalu menutup pintu dan membawa perempuan itu masuk ke kamarnya. Dasha sendiri melepaskan pelukan, ia sudah tak peduli tentang apapun karena yang terpenting sekarang ialah mengatasi rasa takutnya. Damian ingin mencari ponselnya, namun ia merasa ada sesuatu yang berat di ujung baju kaosnya, ia melirik dan ternyata Dasha menggenggamnya begitu erat, perempuan itu juga tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling seolah memastikan tidak ada apapun dan siapapun di sana selain mereka berdua. "Kemarilah," ujar Damian lembut dan menarik tubuh Dasha ke dalam pelukannya. Damian agak terkejut karena Dasha begitu erat memeluknya, itu pertanda bahwa ia benar-benar takut kegelapan yang diiringi dengan hujan lebat. "Tenanglah, tidak ada apapun di sini." Dasha tetap tidak mau melepaskan pelukannya, ia masih setia memeluk Damian hingga pria itu tidak bisa bergerak sama sekali. "Ya sudah, kita tidur saja," ujar Damian akhirnya. Dasha menguraikan pelukan, perlahan ia mendongak menatap Damian dengan matanya yang basah. Walaupun gelap, Damian masih bisa melihatnya. "Kau takut sekali, ya," gumam Damian menyentuh lembut pipi Dasha. "Aku ... boleh tidur di sini?" tanya Dasha pelan melirik ke arah ranjang Damian yang ukurannya sama besar dengan miliknya. "Tentu," ujar Damian, tapi ia melihat ada setitik kekhawatiran di mata Dasha dan ia terkekeh. "Tenanglah, Dasha, aku bukan pria seperti itu, aku ingin menjadi pria terhormat yang hanya menyentuh satu perempuan, yaitu istriku." Dasha mendongak menatap mata Damian, seseorang seperti Damian rasa-rasanya sangat tidak mungkin tidak main perempuan, tapi memang tidak menutup kemungkinan juga jika ia bukan termasuk kategori pria brengs*k yang di benci Dasha. "Kau bisa tidur di ranjang dan aku di sofa jika kau mau," ujar Damian sedikit menunduk menatap Dasha lebih dekat. Benar-benar tidak di duga Damian jika Dasha menggeleng sebagai jawaban. "Tidak perlu, aku ... tidak mau." Damian paham, ia lalu melepaskan dengan pelan genggaman tangan Dasha di kemejanya. "Naiklah, aku akan menutup pintu," ujar Damian menunjuk pintu kamarnya yang masih terbuka. Dasha mengangguk kaku, tapi ketika Damian berjalan hendak menutup pintu, ia ternyata mengikuti dari belakang. Damian sejenak berpikir, apa yang telah di lalui Dasha hingga ia setakut ini dengan hujan yang di hiasi kegelapan. Ia kemudian mengajak Dasha naik ke atas tempat tidur lalu menyelimutinya bersama dirinya. Cahaya kilat yang menembus kain jendela yang tipis membuat Damian bisa melihat dengan jelas walau sesaat. "Tidurlah, tidak perlu takut apapun, aku ada di sini." Dasha masuk ke dalam pelukan Damian tanp aba-aba, ia tidak peduli apapun lagi, yang terpenting ialah ia aman, itu saja. Damian sendiri mengecup kepala Dasha berulang kali dengan sayang sebelum ikut menutup matanya. Kepala Dasha semakin masuk ke dalam pelukan Damian, tubuhnya merasa nyaman dan hangat, membuat kantuknya datang dengan cepat. Sejujurnya ini hal yang langka karena tidak biasanya tubuhnya cepat nyaman dengan seseorang yang baru di kenal. "Terimakasih," gumam Dasha sangat pelan lalu memeluk Damian. Mata Damian perlahan terbuka dan ia melirik ke bawah di mana Dasha sudah tertidur pulas. Secepat itu padahal tadinya ia sangat ketakutan. Damian tersenyum, ia suka posisi ini, di mana Dasha berada dalam pelukannya seolah miliknya dan bersandar nyaman di dadanya seolah ia percaya jika Damian akan sepenuh hati melindunginya. Damian menarik nafas panjang lalu mengecup kening Dasha, ia tidak mau memaksa tapi ia tidak ingin lama, itu sangat sulit karena Damian ingin Dasha tetap nyaman berada di sisinya. *** Pagi-pagi sekali, Dasha sudah mengerjapkan matanya dan terbangun, awalnya heran kenapa sekarang ia dalam pelukan seseorang, namun ketika otaknya mulai bekerja, ia teringat kalau tadi malam hujan turun dengan sangat deras di iringi lampu yang padam, lalu ia ke kamar Damian begitu saja dan tidur di atas kasurnya ... bersamanya. Tapi, Dasha merasa nyaman. Kalaupun tidak, ia takkan bisa tidur di pelukan Damian walau hujan datang amat sangat deras sekalipun. Dasha mendongak menatap Damian yang masih terpejam, ini memang masih sangat pagi, jadi tak heran kalau Damian masih tidur. Lampu juga sudah menyala kembali. Dasha rasanya ingin tetap di sana lalu tidur kembali bersama Damian, tapi tidak! Ia takut Damian akan menganggapnya seperti perempuan yang tidak tahu malu, di beri tumpangan tapi berlaku seenaknya seolah pemilik rumah. Dasha mengangkat pelan-pelan lengan Damian lalu ia keluar dari sana dan mengisi kekosongan tempat ia tidur tadi dengan guling kemudian menurunkan lengan kekar itu ke sana. Dengan begini, alam sadar Damian akan berpikir kalau yang ia peluk masih Dasha. Damian masih pulas dalam tidurnya dan Dasha bersorak senang, ia turun dari ranjang dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara sedikitpun sampai keluar dari kamar Damian. Di bawah, Adrian yang sudah bangun mengernyit melihat Dasha yang keluar dari kamar Damian lalu berjalan cepat ke arah kamarnya. Sejenak, ia berpikir, melirik ke arah dua kamar yang saling berdekatan itu bergantian, namun ia tetap tak menemukan jawaban, mungkin nanti ia bisa bertanya sendiri ke Damian. Kembali ke Dasha, perempun itu tidur terlentang di atas kasurnya, kantuknya masih ada dan ia memutuskan untuk tidur lagi walau sebentar, namun ponselnya berdering nyaring membuatnya harus bangkut mengambil benda yang tidak mau diam itu. Seseorang tidak di kenal, Dasha malas meladeni telepon seperti ini jadi ia menolak sambungan telepon, namun ponsel itu kembali berdering dan ada satu pesan masuk. Angkat. Yuna. Dahi Dasha mengerut, untuk apa Yuna meneleponnya, terdorong rasa penasaran akhirnya Dasha menerima teleponnya. "Halo." "Okey, aku tak ingin berbasa-basi, jadi aku ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang aku punya, kau memaafkannya, 'kan?" Dasha butuh waktu untuk mencerna yang di ucapkan oleh Yuna. Minta maaf? Dari Yuna? "Cepat jawab, bukan hanya kau yang harus ku hubungi." Dasha menghela nafas kesal, beginikah cara meminta maaf yang baik dan benar? Karena terlanjur kesal, akhirnya Dasha mematikan sambungan telepon lalu mematikan daya ponselnya, biarlah Yuna kesal di seberang sana. Ia harus belajar lebih dulu bagaimana bersikap yang sopan ke orang lain, barulah Dasha memaafkannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD