A Problem Comes

1505 Words
Pagi ini tak seperti pagi-pagi sebelumnya, karena Damian meminta ia yang menyetir mobilnya sendiri sekaligus ia yang mengantar Dasha ke sekolah. Sendirian. Adrian ia perintahkan ke kantornya terlebih dahulu, lalu saat jam pulang sekolah, Adrian ke sekolah Dasha dan menjemputnya. Adrian mengangguk menyanggupi. Dasha hanya melihat ke arah dua pria di hadapannya bergantian, entah apa yang mereka bicarakan karena Dasha sama sekali tidak mengerti bahasanya, sepertinya spanish. "Ayo, Dasha," ujar Damian menatap Dasha, tangannya kemudian menggenggam tangan perempun itu lalu menariknya ke luar rumah. Damian membukakan pintu mobil untuk Dasha, hal yang biasa di lakukan oleh seorang gentleman. Di dalam mobil, Dasha melirik Damian lalu menunduk. "Aku minta maaf untuk kejadian tadi malam," ujarnya pelan. Damian menoleh dan terkekeh, ia mengusap puncak kepala Dasha dengan lembut. "Tidak apa." Dasha tertegun dengan perasaan hangat yang tiba-tiba ia rasakan ketika Damian menyentuhnya. Matanya menatap pria itu tak berkedip, kenapa sekarang Damian tampak lebih tampan di matanya? Terlihat berbeda saja dari sebelum-sebelumnya. "Kenapa, Dasha?" tanya Damian melihat ke arah Dasha sejenak sebelum kembali memfokuskan pada jalanan di depan. Dasha terkejut, ucapan itu membuatnya tersadar dari lamunannya. "Mm tadi pagi ada ... ada telepon," ujar Dasha mengalihkan alasan sebenarnya, ia meringis pelan karena tak mungkin juga ia berbicara jujur berterus terang jika ia mengagumi Damian. "Telepon? Di ponselmu? Dari siapa?" tanya Damian berturut-turut. "Dari Yuna, dia ingin meminta maaf tapi caranya sangat kasar, siapa yang mau memaafkan kalau begitu," ujar Dasha tertawa pelan, namun tawanya surut ketika Damian terlihat serius menatap ke depan. "Kau tahu dia?" tanyanya kemudian. Damian mengangguk membenarkan. Jadi, perempuan itu sudah mencoba meminta maaf, ya? Tapi dengan cara yang kasar dan memaksa, mungkin Damian harus memberi sedikit dorongan lagi. "Dia, perempuan yang mengganggumu di sekolah lamamu, 'kan?" ujar Damian melirik Dasha. Dan Dasha mengangguk jujur, lagipula Damian sendiri yang sudah memergoki bagaimana kelakuan Yuna terhadapnya. Suasana mobil hening setelahnya, jalanan yang lengang membuat Damian harus fokus ke depan. Sedangkan Dasha duduk tenang dengan pandangan mengarah ke luar jendela dan ia mulai mengantuk. Oh no, penyakit kantuknya tidak boleh datang di saat seperti ini! "Damian," panggil Dasha saat tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Hm?" Damian menyahut lembut. "Bisakah kau mencari tahu tentang keadaan Laura?" tanya Dasha lirih. "Mm maksudku, aku hanya ingin tahu kabar dia," sambungnya merasa tak enak melihat ekspresi Damian yang berubah. Damian diam awalnya, namun tak lama kemudian menjawab dan tersenyum teduh. "Tentu bisa. Kau merindukannya?" Dasha mengangguk antusias. "Ya, aku hanya punya dia di sini," jawab Dasha. "Bisa saja, tapi kau harus tetap bersamaku, Dasha," ujar Damian tanpa bantahan. Dasha mendongak menatap Damian, apa ia takut kalau Dasha tidak bersamanya lagi? Dasha mempirkirakan jawaban yang mungkin dan memikirkannya membuat Dasha seolah kehilangan nafasnya. No, sepertinya tidak, batinnya mencoba tidak terlalu percaya diri. "Jika suatu saat nanti dia bebas, kau akan bersamanya Dasha?" Rahang Damian tampak mengeras, ia kemudian menekan klakson mobil dengan kasar. "Mm mungkin." "Tidak." Damian langsung menyahut. "Kau harus tetap bersamaku, kau aman bersamaku, Dasha. Laura sudah masuk ke dalam pusaran gelap itu, entah kapan berhentinya, walaupun dia menuruti permintaan mereka, tidak menjamin kalau mereka tidak menganggu Laura lagi suatu saat nanti." Dasha menatap tak percaya ke arah Damian, ucapan pria itu terdengar kasar di telinganya. "Apa? Kalau begitu, kenapa kau tidak mencegahnya waktu itu?!" Seru Dasha emosi. Damian menghela nafas pelan, memejamkan matanya sesaat, karena ucapan Dasha tentang Dasha yang akan bersama Laura lagi cukup membuat emosinya naik level, hingga perkataannya tak terkontrol dan membuat Dasha ikut marah. "Maaf, Dasha," ujar Damian menepikan mobilnya karena mereka sudah sampai di depan gedung sekolah. "Kau tahu semuanya, 'kan? Terus kenapa diam saja dan membiarkan Laura ikut dengan mereka? Kau ingin menjebakku?" Dasha benar-benar marah sekarang, perempuan itu sudah akan membuka pintu mobil jika saja Damian tidak cepat menekan central door lock di sisinya. "Dasha, dengar." Damian mengenggam sebelah tangan Dasha, lembut namun memaksa. "Dia yang meminta ini semua, aku hanya menurutinya saja," ujar Damian pelan, sebelah tangannya mengusap pipi Dasha yang sudah berair karena air mata. "Kau tidak tahu betapa berharganya dia bagiku," ujar Dasha meneteskan air matanya sekali lagi. "Aku tahu, sayang." Damian jadi merasa bersalah. "Aku akan membantu mengeluarkan dia dari sana, tapi berjanjilah kalau dia sudah bebas, tetaplah bersamaku." Dasha menatap Damian dengan matanya yang basah, namun ia tak menjawab apapun. "Sudah jangan menangis." Damian mengusap pipi Dasha pura-pura kasar, membuat Dasha tertawa pelan walaupun masih kesal. "Buka pintunya kalau gitu." Damian menggerakkan tangannya ke tombol pengunci di pintu mobil, namun jarinya tertahan ketika matanya melihat seorang pria yang keluar dari sebuah mobil sedan hitam dan berjalan masuk ke dalam gedung sekolah. "Damian?" Dasha mengikuti arah pandang Damian dan barulah ia paham. "Ada apa dengan Rien? Kau mengenalnya?" tanya Dasha selanjutnya. Tangan Damian tadi mengepal lalu terangkat tidak jadi membuka kunci pintu, ia menatap Dasha dengan dahi mengernyit samar. "Aku kenal dia sejak aku mencari tahu tentangnya," ujar Damian. "Dan kuberi tahu satu hal, Dasha, dia adalah Rein Volkov, sepupu dari Yuna Volkov, teman lama di sekolah lamamu." Mata Dasha mengerjap pelan, cukup kaget namun tidak sekaget itu, memang pernah terlintas pemikiran ini di dalan kepalanya, dan ternyata benar, sesuai yang ia duga. Tapi ada yang mengherankan, bagaimana Rein bisa memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Yuna? Ah ya, walaupun satu marga, tidak semua orang memiliki sifat yang sama. "Tapi dia baik," ujar Dasha pelan menatap lurus ke depan. Damian menatap tak suka, ia lalu menoleh ke arah Dasha dan tubuhnya tiba-tiba condong ke arah Dasha hingga membuat perempuan itu terkejut walau sesaat. "Damian?" "Bisakah aku memintamu untuk tidak dekat dengannya, Dasha?" Mata biru Damian menyala. "Aku hanya tidak mau, kau paham tidak?" "Tapi dia baik." "Baik ataupun tidak, aku tidak suka," jawab Damian sedikit frustasi. "Kau ingin menghalangi hubungan pertemananku?" Damian mengerjap sekali sebelum kembali ke duduk di bangkunya. "Keluarlah, kelas mungkin akan segera di mulai," ujar Damian terasa dingin dan datar, tangannya lalu menekan tombol pengunci. "Damian--" "Dia mungkin sudah menunggumu," ujar Damian masih datar, melirik Dasha sesaat lalu membuang tatapannya, ia kesal. Dasha menghela nafas pelan. "Kalau begitu, aku duluan," ujar Dasha lalu keluar dari mobil. Mata Damian mengikuti langkah Dasha, tiba-tiba dari arah pintu masuk, Rein keluar dan menyapa Dasha, mereka tampak berbincang sebentar sebelum masuk ke dalam sekolah. Rahang Damian mengeras, ia sangat kesal sekarang, atau lebih tepatnya cemburu. "Sh*t!" Ia tahu ia bisa memaksa, tapi ia berpikir kembali, hal itu pasti akan membuat Dasha malah tertekan dan mengikuti kemauannya dengan setengah hati. Tapi, kalau begini pun, sulit bagi Damian mengatur bagaimana dan apa yang harus di lakukan oleh Dasha. Padahal, untuk sebagain alasan, hal ini juga untuk kebaikan perempuan itu. *** Ketika jam istirahat tiba, Dasha masih berdiam diri di dalam kelas, menolak ajakan teman-temannya yang mengajak ke kantin, termasuk Rein. Dasha hanya merasa bersalah pada Damian, ia tahu Damian mencoba melindunginya hanya saja Dasha merasa Rein adalah pria yang baik. Tapi melihat bagaimana wajah Damian tadi, membuat hatinya tak enak. Dasha kemudian bangkit berdiri, mungkin ia harus berjalan melihat-lihat ke luar sebentar agar kepalanya bisa lebih ringan, berikut dengan hatinya. Dan sangat kebetulan, di lantai atas dari lantai kelasnya, ia menemukan ruangan besar yang didalamnya ada sebuah kolam yang tak kalah besar, beberapa siswa perempuan dan laki-laki memenuhi ruangan itu, mereka semua memakai pakaian ... yang membuat Dasha ingin tutup mata, namun tak mungkin juga. Melihat ada siswa yang seperti dirinya berada di dalam ruangan itu membuat Dasha memberanikan diri untuk masuk, ia suka melihat orang berenang namun ia tak bisa berenang, meskipun sudah berulang kali mencoba dan berlatih. Dasha kemudian duduk di sebuah bangku ketiga dari atas yang ada di sana, namun tidak lama ia duduk, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan orang-orang mulai berkumpul ke satu tempat. Dasha mengernyit penasaran apa yang terjadi di sana, ia kemudian bangkit dan berjalan pelan, namun setelah melihat lebih dekat, Dasha terkejut karena yang berkelahi adalah dua siswa perempuan yang kemarin ia temukan di kantin! Bahkan sekarang mereka sudah bermain fisik, menarik rambut dan menampar pipi. Orang-orang hanya melihat tanpa mau melerai, mereka bahkan menyoraki mendukung salah satu dari mereka. Dasha merasa geram, ia merasa emosi melihat orang-orang yang hanya menonton seolah itu adalah sebuah pertunjukkan. Dengan berani, Dasha berjalan membelah kerumunan, memaksa beberapa orang untuk menyingkir memberinya jalan. Dan sekarang, ia sudah berdiri di barisan paling depan, tanpa pikir panjang Dasha mendekati kedua perempuan itu lalu mencoba melerainya. "Hei, jangan di sana, kau bisa terkena sasaran amuk mereka!" ujar salah satu siswa sembari menarik lengan Dasha menjauh dari sana. "Biarkan saja, ini jadi lebih menyenangkan." Dasha mendengarnya, namun ia jelas tidak mau! Dasha lalu meneriaki kedua perempuan yang sedang gelap mata itu kemudian mencoba melerai mereka dengan sekuat tenaganya. Namun, mencoba melerai juga sama saja dengan merelakan tubuh terkena sasaran amukan mereka. Salah satu dari kedua perempuan itu-tidak tahu siapa yang melakukan, tak sengaja menampar pipi Dasha begitu kuat hingga Dasha bukan hanya terhuyung-huyung, ia juga jatuh ke dalam kolam! Kejadian itu membuat semuanya terdiam, begitupun para pesorak tadi dan dua perempuan yang penampilannya sudah acak-acakan itu, hanya menyisakan kesunyian dan tarikan nafas yang terburu-buru. Hingga seseorang tersadar dan ia berseru. "Tolong dia!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD