Bukan Tuan Putri

1127 Words
Seira terbangun dari tidurnya. Ruangan serba putih. Ini di mana? tanyanya dalam hati. Seorang pria memakai jas putih datang, menyuntikkan obat lewat infus. Baru Seira menyadari ternyata dia berada di ruangan dokter. "Aku kenapa, Dok?" tanyanya. "Nona pingsan dan dua pria membawa anda ke klinik saya," ujar dokter tersebut. "Pingsan?" "Ya, anda kelaparan makanya sampai pingsan. Silakan makan dulu." Dokter memberiku makanan. Seira memakannya. Diliriknya jam, pukul delapan malam. Dia tak tahu berapa lama tertidur. Seingatnya, mereka berangkat pagi. Bari masuk ke dalam. Dia sendiri tanpa Mister X. Seira sempat bertanya dalam hati, di mana pria itu? "Bagaimana kondisinya? Apa sudah boleh pulang?" tanya Bari. "Sudah. Dia hanya kelaparan. Istirahat di rumah, kondisinya akan membaik," ujar dokter itu. Bari memberi sebuah amplop pada dokter itu. Pria itu menarik Seira masuk ke mobil. Ternyata Mister X ada di dalam. Mereka pun berangkat. Hanya setelah jam perjalanan, mobil berhenti di sebuah bengkel. Apa mobil ini rusak? Entahlah. Seira memilih diam saja. Kedua pria itu turun. Mister X membuka pintu untuknya sambil berkata, "Turun, Penghianat!" Tatapan matanya yang tajam, membuat nyali Seira ciut. Dia keluar dari mobil dan ikut masuk ke bengkel itu. Ternyata di dalam sebuah ruangan layaknya rumah. Perabotan lengkap mulai dari lemari, sofa dan tempat tidur. Kamarnya ada tiga. Siera bingung harus ke mana. Mister X datang. Pria itu mendekat, membuat nyali Seira ciut. Dia mundur, namun pria itu terus mendekat hingga tubuh Seira terbentur ke dinding. "Aku tak menyangka, kau secantik ini," ujarnya lagi. "Kau mau apa?" tanya Seira panik. "Menurutmu?" "Jangan macam-macam!" Mister X tersenyum sinis. "Memangnya kau bisa apa?" Air mata sudah keluar dari sudut mata Seira. "Maafin aku. Aku tak bermaksud melaporkannya ke polisi. Aku hanya ingin membatalkan kesepakatan kita. Aku tak tahu nomormu." "Kau pikir seenak itu membatalkan kesepakatan begitu saja?" Mister X kian dekat dan mencekik hingga Seira kesulitan bernapas. Untuk kedua kalinya pria itu melakukan hal ini. Seira pasrah dan memejamkan mata, berpikir mungkin inilah akhir hidupnya. Ternyata pria itu melepas kembali cekikannya. Seira terbatuk. "Jangan coba-coba kabur. Kau masih berhutang padaku. Gara-gara kau, aku harus bersembunyi," ujarnya penuh penekanan. Pria itu meninggalkan Seira. Dia terduduk sambil bersandar di dinding. Menangis meratapi semua yang terjadi akibat kebodohannya sendiri. Rasa kantuk menyerang. Mungkin efek dari obat yang dia minum di klinik tadi. . "Bangun, sialan! Kau di sini bukan tuan putri!" Samar-samar terdengar suara Mister X. Seira membuka mata. Pria itu menjulang di depan sambil mengayunkan kaki, menyepak pelan. Seira belum sepenuhnya sadar. Dikuceknya mata. Mister X menatap dengan tatapan sinis. "Kau pikir ini hotel. Bangun, kau harus bereskan rumah ini," ujarnya lagi. Seira menuruti perintah Mister X. Selama ini dia tidak pernah memegang sapu dan alat kebersihan lainnya. Ternyata beres-beres rumah sangat melelahkan. Mister X juga menyuruh memasak untuk mereka. Seira menatap bahan makanan yang barusan dibeli Bari. Tak tahu bagaimana mengolahnya. Cukup lama dia termenung, hingga muncul ide. "Baiklah. Kau pasti bisa Seira." Dia menyemangati diri sendiri. Diambilnya beberapa jenis sayur dan mulai memotongnya. Mencampur dengan bawang dan bumbu lainnya. Ini benar-benar bikin letih. Seira tak pernah memasak sejak dulu. Ada pembantu yang menyiapkan semuanya. Hampir satu jam, akhirnya masakan pertamanya pun siap. Dia mulai menyala masakan di meja yang sudah dibersihkan tadi. Setelah selesai, Seira masuk ke kamar yang ditunjukkan Bari sebagai kamarnya. Hanya ada tempat tidur kecil dan satu lemari yang sudah usang. Ya, seperti kata Mister X, dia bukan tuan putri di sini. Seira jadi merindukan Roni. Selama ini, pria itu selalu memperlakukannya seperti tuan putri. Dia kembali meratapi kesalahan yang sudah diperbuatnya. Apakah Roni memaafkannya jika tahu istrinya lah dalang di balik pembunuhan. Terdengar suara pecahan kaca. Seira keluar dari kamar, melihat apa yang sedang terjadi. Mister X duduk di kursi dan di bawah, terdapat piring pecah. Pria itu mendekat dan menarik rambut Seira dengan kuat. "Ini bukan makanan manusia. Kau bisa masak gak sih? Kau mau membunuhku ya?" Dia meringis kesakitan. Air mata langsung mengalir tanpa perintah. "Maaf, Mister, aku tak bisa memasak. Aku tak pernah melakukan itu," jawabnya. "Lebih baik kubunuh saja kau jika tak berguna." Mister X mencekik lagi. Matanya melotot tajam. Pandangan Seira mulai gelap. Mister X melepas lalu mendorong tubuh Seira hingga tersungkur. Dia pun menangis. "Bersihkan semua itu, atau kupaksa kau memakan semuanya!" bentaknya. Seira mengangguk cepat sambil menghapus air mata. Mas Roni, aku benar-benar berharap kau ada di sini, bathinnya. . Hari sudah malam. Badannya terasa pegal semua akibat seharian membersihkan rumah. Dia melihat pantulan wajah di cermin. Bekas cekikan Mister X menghiasi leher jenjang itu. Pria yang benar-benar kejam. Terdengar ketukan pintu. Itu pasti Bari. Seira merara lebih baik menghadapi si botak itu dari pada Mister X. Bukan Bari melainkan pria kejam itu, muncul di balik pintu dengan wajah dinginnya. Seira jadi gugup karena takut. "A ... ada apa, Mister?" tanyanya. Dia melempar beberapa pakaian ke wajah Seira, lalu pergi tanpa bicara. Dia pun menutup pintu dan mengambil pakaian berserakan itu. Beberapa kaos oblong dan celana pendek. Lumayanlah. Dia memang membutuhkannya. Setelah itu bergegas mandi. Rasanya badan lengket sekali sudah beberapa hari tak mandi. Selesai mandi, Seira memilih pakaian yang diberi Mister X dan mengeringkan rambut. Pintu kembali diketuk. Untung saja yang datang bukan Mister X melainkan Bari. Meski wajah pria ini sangar, setidaknya dia lebih ramah dari Mister X. "Ada apa, Bari?" tanya Seira. "Mister X memanggilmu. Temui dia di kamarnya." Pria itu berlalu. Seira jadi gugup. Berhadapan dengan pembunuh itu, jantungnya selalu berdetak kencang karena takut. Apa kali ini, dia akan dicekik lagi? Seira sudah sampai di kamar Mister X. Pria itu sedang menatap laptop di pangkuannya. Dia hanya mematung di dekat pintu. "Masuk dan lihat ini!" perintah Mister X. Perlahan, Seira melangkah, mendekat ke arah Mister ax. Seira melihat wajah Hendra di layar laptop. "Apa kau mengenal pria ini?" tanya Mister X. "Dia papaku," jawab Seira sekenanya. Mister X menatap. Tiba-tiba saja, perasaan Seira tidak enak. "Ada apa dengan papaku?" dia memberanikan diri bertanya pada pria itu. "Bagaimana dengan pria ini?" tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaan. Pandangan Seira beralih ke layar laptop. Wajah Randi terlihat di sana. "Dia Randi. Adiknya Mas Roni." "Roni? Suamimu?". "Ya." "Lebih tepatnya Almahrum suamimu." "Apa? Mas Roni? Gak mungkin. Kau pasti berbohong padaku. Mas Roni pasti masih hidup." "Kau yang membunuhnya," sambung Mister X lagi. "Bagaimana dengan Papa? Apa kau akan membunuhnya? Apa alasannya?" "Berisik! Pergi atau aku akan menjahit mulutmu agar tak bicara lagi!" Mister X mendorong Seira kuat hingga tersungkur. Dia menangis sejadi-jadinya. Pria itu menyeringai. Sungguh manusia kejam. Iblis. Dia akan membunuhnya jika bisa lolos dari sini. Seira berjalan gontai, masuk ke kamar dan merebahkan tubuh di ranjang sempit itu. Hanya bisa termenung sambil mengingat kenangan manis bersama Roni. Akh, aku merindukanmu, Mas. Kini kau tiada karena aku, bathin Seira. Dia menangis sejadi-jadinya. Tak peduli meski terdengar ke kamar Mister X dan menyebabkan pria itu marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD