Roni terbangun dari tidur panjangnya. Sudah dua Minggu dia koma. Peluru panas yang bersarang di jantungnya berhasil dikeluarkan. Beruntung Roni, peluru itu tidak mengenai ventrikel kirinya hingga tim dokter bisa mengangkatnya, meski dia kehilangan banyak darah.
"Seira ...." Suara Roni terdengar lirih.
Dokter langsung memeriksa keadaan Roni. Setelah itu, dia keluar dan mengatakan jika pasien sudah siuman. Kedua orang tuanya masuk setelah mengetahu Roni siuman. Anita menangis sambil memeluk Roni.
"Kau membuat Mama khawatir," ujar Anita.
"Seira ... Seira. Mana Seira?" Suara Roni terbatah.
"Seira baik-baik saja, Sayang."
"Aku mau melihatnya, Ma."
"Roni, sebaiknya kau istirahat dulu. Kondisimu belum stabil."
"Aku mau melihat Seira."
Roni memaksa duduk. Dia merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Roni meringis sambil memegang pelipisnya.
Anita memanggil dokter. Roni terus memaksa untuk berdiri. Dia histeris hingga dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang. Perlahan, Roni memejamkan matanya.
.
Roni bangun. Dia melihat seseorang menunduk sambil memegang tangannya. Pria itu menyentuhnya kepala wanita tersenyum sambil tersenyum. Perlahan, wanita itu mengangkat kepalanya.
"Mas Roni," panggil wanita tersebut.
Senyum Roni langsung sirna melihat siapa yang menjaganya. Bukan Seira melainkan Hania. Roni menjauhkan tangannya.
"Sukurlah, akhirnya Mas siuman. Aku sangat khawatir."
"Bagaimana kabar Yuda?" tanya Roni.
"Yuda baik-baik saja. Dia aku titip di rumah tanteku."
"Aku mau menemui Mama."
"Biar aku panggilkan."
Hania keluar. Tidak berapa lama, masuk Anita.
"Roni, kau jangan banyak gerak dulu." Anita memberi peringatan.
"Ma, Seira di mana?"
Anita terdiam. Dia takut mengatakan yang sebenarnya karena kondisi Roni belum memungkinkan untuk mendengar kabar buruk.
"Jawab, Ma. Seira ada di mana?"
"Roni ...."
"Apa dia dibawa pembunuh itu?"
"Iya. Dia disandera pembunuh itu agar bisa kabur."
"Dan sampai sekarang tak ada kabar keberadaan Seira?"
Anita hanya mengangguk. Roni merasakan sakit di jantungnya mendengar kabar buruk itu. Dia memegang dadanya. Napasnya jadi kencang. Roni mulai tersengal. Anita memanggil dokter.
Kondisi Roni tidak baik. Mendengar kabar buruk itu. Dia histeris. Dokter terpaksa lagi menyuntikkan obat penenang.
Anita hanya bisa menangis melihat anaknya. Dia memang tidak suka pada Seira karena wanita itu tidak bisa hamil. Beberapa kali, Anita menyuruh Roni menikah lagi dan menceraikan Seira. Mereka ingin punya cucu. Tentu saja Roni menolak karena sangat mencintai istrinya.
Meski demikian, Anita tak mengharapkan Seira mengalami hal buruk. Hilangnya Seira, membuat dia sedih. Terlebih melihat anaknya hancur akibat kejadian itu.
Seira adalah menantu yang baik. Dia tidak pernah melawan meski Anita menyakitinya. Dia tetap bersikap lembut. Satu-satunya kesalahan Seira adalah tidak bisa hamil. Anita hanya ingin punya cucu.
Di tempat lain, Seira menangis sambil menyuci sayuran yang akan dimasak. Pasalnya, Mister X pasti marah lagi kalau masakannya gagal dan dia tidak yakin kali ini berhasil.
Bari lewat, hendak ke kamarnya, tapi langkahnya terhenti. Mungkin karena mendengar isakan Seira. Meski wajahnya sangar, Bari lebih lembut dibanding Mister X.
"Kau kenapa lagi?" tanya Bari.
"Aku gak bisa memasak semua ini. Mister X pasti marah lagi dan mencekik leherku."
Tangisan Seira tambah kencang. Entahlah, dia juga gak tahu kenapa begitu. Bari menatap iba, kasihan pada Seira. Meski demikian, dia tersenyum geli.
"Sini, aku ajari," ujar Bari. Pria itu mendekat.
"Benarkah?" tanya Seira tidak percaya. Dia menatap tak yakin.
"Ya."
Seira pun membawa sayuran dan daging ayam yang sudah dicuci. Bari mengambil daging dan mulai memotong kecil-kecil.
"Buat seperti ini!" perintah Bari.
"Baiklah." Seira mengambil alih pekerjaan Bari dengan wajah tersenyum. Ini mudah.
Mereka bekerja sama menyelesaikan masakan. Ternyata Bari ramah dan bisa bersikap hangat. Dia juga bisa tersenyum. Bagaimana jika Mister X tersenyum juga? Pasti kelihatan tampan, bathin Seira. Dia menggeleng lemah tak mau membayangkan pria kejam itu. Setengah jam kemudian, sayur capcay, ayam pedas manis dan sambal teri terhidang di meja.
"Akhirnya selesai juga. Ah, rasanya menyenangkan," ujar Seira sambil melentangkan tangan, lega. Hal itu membuat Bari tersenyum. Mereka tak sadar Mister X datang.
"Wah, ada yang lagi bahagia," sarkas Mister X. Tatapannya dingin.
Senyum Seira langsung sirna seketika. Spontan, dia bersembunyi di balik tubuh Bari. Seolah mencari perlindungan.
"Sepertinya enak," Mister X berkomentar melihat masakan yang terhidang.
"Cicipi aja, Ar," tutur Bari, "Seira udah berusaha keras."
"Awas saja kalo kali ini gagal lagi. Kau takkan kumaafkan. Nyawamu taruhannya," ujar Mister X sambil menatapku tajam.
Seira gemetar, takut jika Mister X tidak menyukai masakan itu. Tanpa sadar, dia menahan napas ketika Mister X mencoba suapan pertama. Bari juga terlihat gelisah.
Mister X tidak berkomentar. Dia duduk dan mengambil piring. Bari mengembuskan napas panjang. Apakah ini berhasil?
"Apa dia suka?" tanya Seira berbisik pada Bari.
"Sepertinya begitu. Dia tak berkomentar," jawab Bari dengan berbisik pula.
"Kau benar. Jika tak suka, biasanya dia akan memecahkan piring."
Seira tertawa kecil. Tiba-tiba Mister X memukul meja dengan keras sambil menatapku tajam. Sepertinya dia mendengar obrolan itu, membuat Seira terdiam dan menunduk.
Bari duduk di dekat Mister X dan ikut makan. Seira berniat meninggalkan mereka tapi Bari menghentikan.
"Kau mau ke mana?" tanya Bari.
"Aku mau ke kamar."
"Kenapa kau gak makan bersama kami?"
Bukan tidak mau tapi Seira takut Mister X marah. Pria itu terlihat cuek saja sambil terus menyuapkan nasi ke mulut.
"Aku gak lapar," ujar Seira.
"Duduk dan makanlah!" ujar Mister X.
Seperti sebuah perintah yang harus dilaksanakan, Seira langsung duduk di samping Bari. Tangannya gemetar ketika menyendok nasi ke piring. Mister X tampak cuek dengan wajah datar. Apakah pria itu terbuat dari es kutub Utara?
Mister X sudah selesai makan dan tanpa sepatah kata, langsung pergi meninggalkan meja makan. Seira mengembuskan napas lega. Bari tersenyum.
"Kau takut sekali dengan Arga," ujarnya.
"Arga? Siapa Arga?"
"Mister X. Nama aslinya Arga Praditya."
"Wah, nama yang bagus."
"Mister X itu nama yang diberikan pria yang menjadikannya sebagai pembunuh bayaran."
"Mengapa dia menjadi pembunuh bayaran?" tanya Seira penasaran.
"Awalnya hanya untuk membalaskan dendam. Mister X sudah menjalani hidup yang pedih. Sebenarnya dia adalah pria baik. Penghianatan yang dialaminya membuatnya jadi dingin dan kejam seperti itu."
Seira tertegun mendengar penjelasan singkat Bari. Dia jadi bertanya-tanya pakah jika Roni masih hidup, dia akan berubah juga atas penghianatan yang dilakukannya? Ya, dia sudah mengkhianati suami dengan pembunuhan. Entah mengapa Seira tak yakin Roni sudah meninggal.
"Hei, kau ke marilah!" perintah Mister X tiba-tiba, membuat jantung Seira seperti mau copot.
Dia mendekat pada Mister X yang sedang fokus pada laptopnya. Berdiri di dekat pria kutub itu tanpa berani bertanya lagi. Hanya menunggu pria itu mengatakan perintah selanjutnya.
"Kau bilang kemarin, pria ini adiknya Roni," ujar Mister X.
"Ya."
"Di mana dia sekarang?"
"Di Australia."
"b******k!" umpat Mister X gusar. Wajahnya terlihat seperti menahan emosi. Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba Mister X marah? Apa Seira salah bicara? Tidak, dia merasa hanya menjawab pertanyaan. Membuat Seira jadi bertanya lagi sebenarnya apa hubungan antara Randi dan pria kutub itu?
"Apa kau mengenal Randi?" Seira memberanikan diri bertanya pada pria itu. Bukannya mendapat jawaban, Mister X malah menatap tajam. Guratan kemarahan tersirat di wajahnya. Membuat Seira semakin takut.