Pria Kutub Utara

1091 Words
Mister X berdiri. Sepertinya dia akan pergi tapi ternyata malah mendorong Seira ke dinding. Mencekik lagi dengan sorot matanya tajam penuh kebencian. "Mengapa keluargamu melakukan ini padaku?" tanyanya dengan nada tinggi. Matanya terlihat berkaca-kaca. Seira semakin tak paham dengan situasi yang dia hadapi sekarang. Hanya bisa menggeleng pasrah, tanpa tahu apa maksud dari perkataan Mister X. Hanya air mata yang mengalir deras dengan napasku tersengal. Dia bisa mati jika pria itu tidak melepas tangannya sekarang. Untunglah Mister X melepas tangannya. Seira terbatuk dan menghirup udara banyak-banyak. Tubuhnya yang lemah, merosot ke lantai sambil menangis sejadi-jadinya. Pria itu malah menatap seperti seolah tidak bersalah. k*****t! "Mengapa kau begitu kejam? Bunuh saja aku jika kau memang sangat membenciku!" teriak Seira. "Ya, aku akan membunuhmu jika waktunya tiba. Untuk sekarang belum bisa," ujar pria kejam itu. "Dasar pria dingin, tak berperasaan. Hatimu pasti terbuat dari es kutub utara." "Apa?" Mister X tersenyum tipis. Seira heran, apa dia salah lihat? Pria itu ternyata bisa tersenyum juga. Manis sekali. Bari tertawa lepas. Apa kata-katanyaterdengar lucu bagi mereka? Pria itu mendekat dan meletakkan tangannya di d**a Mister X. "Wow, aku bisa membeku," ejek Bari. "Singkirkan tanganmu atau kau akan kehilangan itu," ujar Mister X. Bukannya takut, Bari malah tertawa. "Pria itu di Australia dan aku sudah tahu keluarganya," ujar Mister X lagi. "Itu akan memudahkanmu menyelidikinya," Bari menanggapi. "Ya, ternyata wanita sialan ini ada juga gunanya sedikit." Mister X menutup laptopnya, lalu mengambil jacket dan bergegas pergi. "Kau mau ke mana?" tanya Bari. "Memastikan sesuatu," jawab Mister X. "Mister, jika kau ingin ke rumah Mas Roni, tolong cari tahu apakah dia masih hidup atau seperti katamu, mati." "Siapa kau berani memerintahku." Jawaban Mister X membuat nyali Seira ciut. Dia menatap tajam. "A ... aku ... aku bukan memerintah, hanya minta bantuan." Seira memberanikan diri berbicara sambil menatap Mister X. Pria itu malah mendorongnya lagi ke dinding dan mengunci gerakan Seira dengan tubuh hingga tak bisa bergerak. Kali ini, dia menantangnya. Mereka pun saling tatap. Pandangan Mister X beralih ke bawah. Sepertinya dia tertarik melihat bibir Seira yang terbuka sedikit. Dia menyentuh bibir wanita di depannya. Tatapan tajam itu berubah menggelap. Ada apa dengannya? Dan mendekatkan wajah. Seperti ingin mencium. Seira mengerjap. Rasanya tak mungkin. Anehnya, dia malah diam saja, menunggu Mister X melakukan sesuatu. Wajah tampan itu sangat dekat sekarang. Pria itu punya bentuk bibir yang seksi. Matanya besar dan garis rahangnya terlihat tegas. Seira dapat merasakan napasnya sekarang. Aroma mint. Tiba-tiba Mister X menjauhkan wajahnya dan melepas tubuh Seira dari cengkeramannya. Tanpa sepatah kata, pria itu pergi. Seira bisa bernapas lega. Gantian, kali ini Bari yang mendekat dengan tatapan aneh. "Ada apa?" tanya Seira. Pria itu mendekatkan wajahnya. Dia mendorong Baro hingga terhuyung ke belakang. "Kau jangan macam-macam!" "Aku hanya memastikan, apa yang dilihat Arga tadi. Dia sepertinya tertarik sesuatu." "Omong kosong." "Selama bersama Mister X, aku belum pernah melihat dia tertarik dengan wanita." "Bukannya dia penjahat? Biasanya penjahat suka bermain wanita." "Dia bukan penjahat. Dia cuma pembunuh bayaran. Bukankah penjahat sebenarnya adalah orang yang memerintahnya?" Seira terdiam. Rasanya dia tertampar dengan Perkataan Bari. Dia lah penjahat sesungguhnya. Seorang istri yang tega membunuh suaminya. "Hei, tadi, mengapa kau mendorongku? Tadi kau diam saja ketika Mister X mendekat padamu." "Aku takut padanya." "Jadi denganku, kau tidak takut?" "Tentu saja. Kau temanku." "Sejak kapak kita temanan?" "Sejak sekarang." Seira tertawa kecil dan meninggalkan Bari. Untunglah Mister X pergi meninggalkan rumah, jadi dia merasa bebas mau beres-beres. Hari mulai gelap. Pria kutub itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Seira sudah selesai memasak untuk makan malam dengan harapan semoga Mister X suka. Jika tidak, lehernya akan dicekik lagi. Cukup sudah, dia tak mau lagi. Mister X kembali. Tanpa sepatah kata pun, dia masuk ke kamarnya dan memanggil Seira. Wanita itu ikut masuk dengan tangan gemetar. Aura Mister X menakutkan. "A ... ada apa, Mister?" tanyanya gugup. Mister X tersenyum sinis membuat Seira semakin takut. Senyum itu lebih menakutkan daripada tatapan tajamnya. Mister X pandai memainkan emosi seseorang hanya dengan seringainya. "Bukakan sepatuku!" perintah Mister X. Seira mendekat lalu berlutut di depan pria itu dan menyentuh sepatu Mister X dengan tangan gemetar. Setelah terbuka keduanya, dia berdiri kembali. "Siapkan air hangat. Aku mau mandi!" Tanpa menjawab, Seira langsung melaksanakan perintahnya. Setelah semua sudah siap, dia kembali ke hadapan pria itu dan mengatakan semua sudah siap. "Kau tetap berdiri di sini selama aku mandi. Jangan bergerak selangkah pun!" ujarnya tegas. Seira mengangguk sambil menunduk. Mister X menjadikannya sebagai pelayan. Dia merasa harus melakukannya dengan baik jika ingin tetap hidup. Pria kejam itu sudah biasa membunuh. Mister X akan dengan mudahnya melenyapkan Seira kapan saja jika melakukan kesalahan. Mister Xsudah selesai mandi. Pria itu hanya memakai handuk. Seira dapat melihat dengan jelas dadanya yang bidang dan perut kotak-kotak itu. "Kenapa? Kau seperti tidak pernah saja melihat d**a terbuka pria. Atau jangan-jangan suamimu tidak seperti milikku?" Seira hanya diam mendengar perkataan Mister X. Tentu saja, Roni juga memilikinya meski tak sesempurna tubuh pria kutub itu. Mister X mendekap. Aroma mint dari tubuhnya menguar. "Kau merindukan sentuhan suamimu?" tanyanya. Seira mundur ketika pria itu terus saja mendekat hingga punggungnya terbentur dinding. Mister X terus saja mendekat. "Berhenti di situ, Mister!" ujar Seira. Dia tidak tahu dari mana keberanian itu muncul. Mister X menyeringai, membuatnya kian takut. "Kau mulai berani," ujar Mister X. "Keberanian seseorang akan muncul ketika dia terdesak," ujar Seira. Mister X tersenyum smirk. Dia menjauh. "Siapkan makan malam untukku. Awas saja kalo tidak enak. Kau akan merasakan akibatnya." Cepat-cepat Seira keluar dari kamar. Dia menyiapkan makanan di meja dan berharap pria itu menyukainya karena dia memasaknya dengan bersungguh-sungguh. Tidak berapa lama, Mister X datang dan duduk di salah satu kursi. Bari juga datang dan duduk di samping pria itu. Seira mengambilkan piring untuk kedua ptia itu. Tanganku gemetar. "Kau selalu bisa membuat Seira takut padamu, Arga," ujar Bari. "Aku tak melakukan apa-apa. Bukan salahku jika dia takut," ujar Mister X dengan santainya. Seira mengumpat dalam hati. Dasar pria tak punya perasaan. Dia selalu mencekik, tentu saja siapa pun pasti takut. Dengan enaknya dia mengatakan bukan salahnya. Bari tertawa mendengar ucapan Mister X. Seira deg-degan ketika mereka mulai mencicipi makanan di piring masing-masing. Bari mulai menyendok suapan pertamanya. Seira menatap sambil menggerakkan kepala meminta jawaban. Bari paham dan dia pun menggeleng lemah. Apa maksudnya? Jangan-jangan masakanku gagal lagi, bathin Seira. Dia menahan napas ketika Mister X juga memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Yang tidak diinginkan pun terjadi. Pria itu mengeluarkan makanan yang sudah masuk ke mulutnya, mengalihkan pandangan ke arah Seira Tatapan tajamnya seolah ingin membunuh berhasil membuat gemetar. Air matak Seira mulai mengalir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD