Tertawa

1135 Words
Tatapan Mister X begitu tajam. Seira mulai terisak. Dia takut sekali. Tangisannya pun pecah. Mister X malah tersenyum geli melihat Seira yang sesugukan. Pria itu tertawa. Bari juga ikut tertawa. Seira jadi heran, mengapa kedua penjahat itu tertawa melihat dia menangis. "Kau lucu menangis seperti itu, bahkan Mister X pun tertawa. Ini penampakan langka," ujar Bari. Sontak ekspresi wajah Mister X berubah, kembali dingin. Seira juga tidak menyangka pria itu bisa tertawa. "Aku akan membunuhmu," ujar Mister X pada Bari. Bukannya takut, Bari justru makin tertawa kencang. "Hei, kau." Mister X menunjuk Seira. "Aku?" tanya Seira. "Makan ini!" perintah Mister X. Seira mendekat dengan rasa takut. Mister X mendekatkan wajan berisi opor ayam. "Ayo makan!" ujar Mister X. Seira mengambil opor ayam dan memakannya. Wajahnya berubah. Tidak enak sama sekali. Tidak ada rasa asin. Yang ada hanya rasa manis. "Bagaimana?" tanya Mister X. "Ini ti ... tidak enak, Mister." "Habiskan semua!" "Apa?" Seira kaget. "Kenapa? Kau tak mau? Atau aku yang memasukkannya ke mulutmu?" Seira tidak mau itu terjadi. Dia mengambil opor ayam dan memakannya meski tidak enak. Bari tak tega, ditariknya wajan yang berisi opor ayam itu. "Kenapa kau menghentikannya?" tanya Mister X. "Cukup, Ar. Kau berlebihan." "Dia harus tahu masakan yang dimasaknya rasanya seperti apa." "Tapi tidak harus memakannya sampai habis. Seira, kau masuklah ke kamarmu." Seira menuruti perkataan Bari. Mister X kesal tapi dia tak ingin berdebat dengan Bari. . Roni menyuruh beberapa detektif swasta mencari keberadaan Seira. Sementara itu, selama di rumah sakit, Hania terus saja datang menjenguk. Dia membawa Yuda, putranya. Sejak lahir, Roni melihat tumbuh kembangnya Yuda. Karena itu, Yuda sudah seperti anaknya sendiri. Hari ini, Hania kembali datang membawa Yuda. Bocah itu berlari senang menghampiri Roni. "Papa," panggil Yuda. Roni tersenyum menyambut bocah itu. Yuda langsung memeluknya. "Bagaimana, apa Mas sudah dapat kabar tentang Seira?" tanya Hania. Roni menggeleng lemah. Dia tak menemukan jejak pembunuh itu dan motif di balik kejadian itu. Dia tak memiliki musuh dan tak pernah terlibat masalah dengan orang lain. Roni hanya bisa berharap Seira baik-baik saja. "Hari ini aku sudah boleh pulang," ujar Roni. "Benarkah? Sukurlah," ujar Hania. Wanita itu menjauh. Dia menatap dari jauh Yuda dan Roni yang sedang becanda. Dia tersenyum bahagia. Hati Hania berdebar tiap kali bersama Roni. Namun dia sadar, Roni mempunyai istri hingga Hania menepis cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dia tak mau jadi perusak rumah tangga pria yang begitu baik padanya juga putranya. Dokter masuk ke ruangan. Mereka memeriksa keadaan Roni dan mengatakan Roni sudah boleh pulang. Hania membantu Roni bersiap pulang. Supir pribadi Roni sudah datang. Mereka pun meninggalkan rumah sakit. Hania ikut ke rumah Roni karena Yuda tak mau pulang. Bocah itu ingin bersama Roni. Mereka sudah sampai. Roni menatap rumah yang sudah berbulan dia tinggalkan. Foto pernikahannya dengan Seira terpampang di ruang tamu. Dia masuk ke kamar. Di sana, banyak foto dia bersama Seira. Roni mengambil salah satunya. "Sayang, kau di mana? Mas merindukanmu. Bertahanlah, Mas akan terus mencari." Roni mengelus foto yang di tangannya seolah itu adalah Seira. Hania melihat Roni menghapus air matanya. Dia tahu, Roni merindukan Seira. Dia tak bisa berbuat apa. Hatinya ikut sakit melihat Roni. . Pencarian terus dilakukan. Roni sudah kembali bekerja. Dia mengerahkan lebih banyak lagi orang untuk mencari Seira. Ketika sedang memeriksa laporan keuangan yang diberikan sekretarisnya, seseorang menelepon, meminta bertemu. Roni menyuruh si penelepon datang. Sekitar lima belas menit, seorang pria masuk. "Apa kau dapat petunjuk?" tanya Roni. "Ya, kami menemukan rumah pembunuh itu. Berdasarkan cctv sebuah minimarket di sekitar rumah itu, kami menemukan istri tuan ada di sana." "Maksudmu?" Pria itu menunjukkan foto Seira. Baju yang sama dengan yang dipakai Seira ketika peristiwa pembunuhan itu. "Istri tuan terlihat di sekitar rumah pembunuh itu. Pria itu pembunuh bayaran." "Jadi maksudmu?" Pria itu menatap iba pada Roni. "Ya, istri tuanlah yang merencanakan pembunuhan itu." "Apa?" Roni merasa sakit di dadanya. Kabar yang sangat mengejutkan dan menyakitkan. "Kau jangan menuduh sembarangan." "Saya juga menanyakan orang-orang di sekitar situ apa mereka pernah melihat Seira dan salah satu mengaku melihat istri Tuan ada di sana." Roni ingat kejadian malam itu. Tiba-tiba Seira menelepon, mengatakan agar Roni berhati-hati dan menutup pintu karena seseorang akan datang membunuhnya. Bagaimana Seira bisa tahu? Benarkah bahwa istrinya lah yang merencanakan pembunuhan itu. Lalu, mengapa dia memberi tahu Roni? Roni juga ingat ucapan pria itu ketika Seira datang. Pria itu mengatakan jika Seira menjebaknya lalu Seira mengatakan salah paham. Roni menyentuh pelipisnya. Kepalanya sakit. Dia tak terima dengan fakta yang ditemukannya. "Seira, mengapa kau lakukan itu? Apa salahku?" Roni membanting pas bunga yang ada di meja kerjanya sambil berteriak, "Aaaakkkk!" Hatinya benar-benar sakit. Pria itu hanya diam, merasa iba pada Roni. "Ini pasti salah paham. Aku harus tahu alasannya. Tetap melakukan pencarian. Cari juga info tentang pria itu!" perintah Roni. "Baik, Tuan." Pria itu meninggalkan Roni. Roni bersandar di kursi. Dia jadi tidak fokus bekerja dan memutuskan untuk pulang saja. Ketika di perjalanan, Hania menelepon, mengatakan jika Yuda menangis minta bertemu dirinya. Roni pun menjalankan mobilnya ke arah rumah Hania. Sampai di sana, dia melihat Yuda berbaring di lantai sambil menangis. Ketika melihat Roni, bocah itu berhenti nangis dan memanggil Roni. "Papa." "Kenapa, Sayang? Kok tidur di lantai?" tanya Roni. Dia menggendong Yuda. "Mama jahat. Yuda gak diboleh datang ke rumah Papa." Roni mengelus kepala Yuda. Bocah itu menyandarkan kepalanya di d**a Roni. Roni membawanya ke sofa. "Dari tadi dia nangis. Aku kewalahan karena dia terus minta diantar ke kantormu. Maaf, jadi mengganggu pekerjaanmu, Mas." "Tidak kok. Aku tadi sedang di jalan mau pulang ketika kau menelepon." "Tumben Mas cepat pulang." "Aku tidak bisa konsentrasi, jadi aku lebih baik pulang saja." "Ada masalah?" Hania melihat wajah Roni kusut, tidak seperti biasa. Dulu, pria itu selalu tersenyum. Sejak Seira menghilang, Roni juga kehilangan senyum itu. "Seira yang mengirim pembunuh itu ke rumah," ujar Roni. "Apa?" Hania kaget, "ini pasti salah paham, Mas. Kau jangan percaya begitu saja." "Aku tidak percaya, tapi kenyataannya memang seperti itu. Seira lah yang mengirim pembunuh itu tapi dia membatalkannya hingga dia disandera." Hania tak tahu harus berkata apa. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan. "Mas Roni, aku yakin ini salah paham. Bisa saja, pembunuhnya salah target." "Ya, aku berharap seperti itu. Jadi, aku harus menemukan istriku agar semua jelas." "Papa, Yuda mau tidur sama Papa," ujar Yuda. "Yuda, Papa banyak kerjaan, jadi biarkan Papa pulang ya," ujar Hania. Dia ingin mengambil Yuda dari gendongan Roni, tapi bocah itu menolak. "Ya udah, Papa tidur sama Yuda," ujar Roni. "Horeeeee." Yuda melepas diri dari Roni lalu dia berlari-lari mengelilingi sofa. "Mas Roni, maaf kalau Yuda membuat Mas repot." "Gak apa-apa kok." Roni mengejar Yuda. Mereka becanda sambil kejar-kejaran. Hania tersenyum melihat adegan itu. Andai Mas Roni adalah papanya Yuda, bathin Hania. Bukan hanya sehari, Yuda minta tidur dengan Roni. Dia terus merengek minta ditemani. Akhirnya Roni tak pulang ke rumah selama seminggu lebih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD