Kabar Baik dan Buruk

1044 Words
Seira merasa bebas jika Mister X tidak ada di rumah. Dia lebih leluasa beres-beres. Awalnya pekerjaan ity sangat melelahkan, tapi perlahan dia mulai terbiasa karena tidak boleh membuat kesalahan agar pria dingin itu tidak mencekik lehernya lagi. Sedangkan untuk urusan memasak, tiap ada kesempatan, dia akan meminjam handphone Bari untuk melihat tutorial memasak ala Cheff. Seira harus bisa membuat masakan yang enak untuk Mister X. Pintu terbuka. Pria itu muncul dengan wajah dinginnya. Tidak ada senyuman di sana. Hanya tatapan dingin seolah siap membunuh. Seira hanya diam ketika Mister X lewat di depannya yang sedang mengepel. Jejak sepatunya membuat lantai kembali kotor. dia hanya pasrah tanpa berani protes. Setelah pria itu masuk ke kamar, Seira kembali membersihkan bekas injakan. Brgitu bersih, malah lewat lagi. Tidak cukup sekali, bahkan berkali-kali. Entah apa yang dicarinya Kali ini masuk ke kamar sambil membawa botol air mineral. Seira membersihkan kembali bekas injakan Mister X. Setelah bersih, pria itu malah lewat lagi. Kali ini, dia membawa laptop dan duduk di sofa. Seira kesal. Ditatapnya Mister X yang tampak serius memperhatikan layar laptop tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya dia mematahkan kaki pria tak punya perasaan itu. Mister X melihat ke arah Seira. "Ada apa?" tanyanya tiba-tiba. "E ... gak ... gak ada apa-apa." Seira jadi gugup. Aura pria itu benar-benar menakutkan. Bekas sepatu Mister X dia bersihkan kembali. Setelah itu, bergegas ke dapur. Namun langkahnya terhenti karena Mister X memanggil. "Hei, kau. Sini!" Mister X memanggil tanpa menoleh sama sekali. Seira mendekat. "A ... ada apa, Mister?" tanyanya. "Kudengar kabarnya, suamimu tidak jadi mati." "Benarkah?" Ingin rasanya Seira melompat girang mendengar berita yang diberikan Mister X. Ternyata pria itu mau menolong mencari kabar tentang Roni. Dia bersukur, Suaminya selamat. "Kau jangan senang dulu. Sudah lebih seminggu suamimu menginap di rumah wanita yang bernama Hania." Jleb ... Seira seperti sebilah pisau yang menancap tepat di hati. Tanpa sadar, pengepel yang dipegangnya jatuh. Tangan kehilangan tenaga. Kaki lemas. Hampir saja dia terjatuh jika tidak ditangkap Mister X. Dengan teganya, pria itu malah mendorong hingga terjatuh di lantai. Seira marah. Harusnya pria itu tak menangkap jika memang ingin mendorong, tapi dia tak punya waktu untuk memikirkan perilaku pria itu. Air mata sudah tak bisa kubendung lagi. Mengapa Roni tega melakukan ini? Bukannya mencari istrinya, dia malah bersama wanita itu. Wanita yang menyebabkan Seira salah paham hingga mencoba melenyapkan. Tak percaya jika Roni mencari kesempatan ketika Seira menghilang dan memberinya peluang pada Hania. Bari datang. Sepertinya dia kaget melihatku duduk di lantai dengan berurai air mata. Pria itu menuntunku duduk di sofa, dekat Mister X. "Ar, kau pasti menyakiti Seira lagi kan? Kau benar-benar keterlaluan!" ujar Bari. Perhatian yang Bari berikan, justru membuatku semakin terharu. Air mataku tambah deras. Bukan hanya itu, aku terisak dengan suara keras. "Hentikan tangisanmu itu!" bentak Mister X. Bukannya berhenti, suaraku malah makin keras. Aku punya keberanian jika ada Bari. Pria itu seperti pelindung. "Plis, Ar, berhentilah menyakitinya." "Aku tidak melakukan apa pun," Mister X membela diri. Tanpa sepatah kata, aku meninggalkan kedua pria itu. Aku masuk ke kamar. Air mataku semakin deras mengalir. "Dia kenapa?" tanya Bari. Masih kudengar suara mereka. "Aku memberi kabar, suaminya masih hidup," jawab Mister X. "Itu kan berita bagus. Kenapa dia malah bersedih?" "Suaminya nginap di rumah wanita lain." "Hmmm, pantas saja dia menangis. Harusnya kau tak mengatakan hal itu." "Kenapa? Aku kan berkata jujur. Baguslah kalo dia tahu." "Kau benar-benar tak berperasaan." "Perasaanku sudah lama mati. Tak ada gunanya bersikap baik. Itu hanya memberi peluang untuk orang lain menyakiti." Aku tertegun mendengar obrolan dua pria itu. Mengapa Mister X mengatakan demikian? Apakah dia pernah dikhianati? Perkataan Mister X ada benarnya juga. Sama halnya denganku. Rasa cinta pada Mas Roni membuatku terluka. Dia tega melakukan semua ini padahal tahu bahwa aku diculik pembunuh, malah kesempatan bersama wanita bernama Hania. Harusnya aku tak menggagalkan Mister X membunuhmu, Mas. Lihatlah akhirnya, aku jadi sandera dan kau malah enak-enakan dengan wanita itu. Di sini, aku setengah mati merindukanmu. . Entah berapa lama aku tertidur. Terbangun ketika hari mulai gelap. Kepalaku terasa sakit. Efek menangis hingga tertidur. Aku keluar dari kamar. Mister X sedang berdiri di depan kulkas sambil minum. Aku juga sebenarnya ingin mengambil air mineral dingin tapi tidak jadi karena pria itu berdiri di situ. "Kau tidur terlalu lama. Kupikir kau tak bangun lagi," ujarnya. Entah keberanian dari mana, aku menatap tak suka padanya. Ucapan pria itu pedas sekali. "Kau sudah berani menatapku?" Pria es itu menatap balik. "Dasar manusia kutub. Tak punya perasaan." Mister X mendekat padaku. Aku mundur. Dia terus berjalan hingga aku tersudut di tembok. Pria itu semakin dekat. "Coba kau ulang lagi kata-katamu!" Mister X mendekatkan wajahnya hingga jarak kami hanya beberapa senti. Aku bisa merasakan napasnya beraroma mint. "Manusia kutub." Terdengar suara tawa milik Bari. Dia datang sambil merampas botol mineral yang dipegang Mister X lalu meminumnya. "Manusia kutub," ejek Bari. "Kau ingin tanganmu hilang?" Mister X terlihat kesal. Dia merampas botol mineral itu kembali lalu membantingnya ke lantai. Aku kaget. Setelah itu dia pergi dengan tatapan tajamnya. Bari malah terlihat santai, tidak peduli dengan kemarahan Mister X. "Kau membuatnya marah," ujarku. "Dia tak bisa marah padaku." Aku menautkan kedua alis. Sebenarnya bagaimana hubungan mereka. Tanpa diduga, Bari bercerita kalau dia punya adik perempuan bernama Sonia. Sonia dibunuh setelah diperkosa dan Mister X dituduh sebagai pelakunya. "Kau tidak percaya bahwa Mister X pelakunya?" tanyaku. "Tidak. Saat kejadian itu, Arga bersamaku. Kami berkelahi karena Sonia." Bari berkata tidak bisa bersaksi karena dia mengalami kecelakaan saat sidang. Ada pihak yang berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya, sedangkan Mister X tidak punya alibi untuk menyangkal tuduhan kepadanya. Fakta lain yang mendukung tuduhan itu, hubungan mereka baru saja putus karena Sonia ketahuan selingkuh dengan mantannya. Mister X marah dan sempat melakukan kekerasan. "Arga memang terlihat cuek tapi dia sangat peduli dengan orang yang disayanginya. Dia tidak pernah melakukan kesalahan di asrama militer. Tuduhan itu membuatnya terpukul dan marah hingga dia menjadi pembunuh bayaran," ujar Bari lagi. Aku tertegun mendengar penjelasan Bari. Rasa kecewa yang dialami Mister X membuat dia berubah. Ya, tidak semua orang bisa melampiaskan kemarahannya dengan tindakan baik. Jalan yang ditempuh Mister X salah. Dia memilih jadi pembunuh bayaran. Sama halnya denganku, memilih menyingkirkan Mas Roni karena berpikir dia sudah selingkuh. Membayangkan pria yang kucintai b******u dengan wanita lain, membuatku marah dan benci.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD