Pria Menyebalkan

1009 Words
Mister X masuk ke kamarnya. Dia kesal bukan pada Seira tapi dirinya sendiri. Harusnya dia tadi marah tapi malah tergoda ketika jarak wajah mereka begitu dekat. Dia terus mengingat wajah Seira yang menantangnya. "Menarik," ujar pria itu. Dia tersenyum sendiri. Muncul keingin di hatinya untuk melihat wanita itu lagi. Mister X kembali ke dapur dan tidak menemukan Seira. Dia memanggil-manggilnya. "Hei, penghianat, ke sini kau! Wanita penghianat!" Dia selalu memanggil Seira seperti itu. Yang dipanggil pun tiba. "Ada apa Mister memanggilku?" tanya Seira. Mister X bingung ingin mengatakan apa. Dia pun mencari alasan. "Kau sudah makan?" Seira menatap heran. Untuk pertama kalinya Mister X menanyakan dia sudah makan atau belum. Mister X paham atas kebingungan Seira. Dia berkata lagi, "Kau dari tadi tidur terus. Jadi, aku menanyakan kau sudah makan atau belum agar kau tak mati kelaparan. Kau masih berguna untuk membersihkan seluruh rumah ini." "Sudah," jawab Seira kesal. "Baguslah." Mereka saling diam untuk beberapa saat. Seira masih saja memikirkan Roni, sedangkan Mister X tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak pernah mengobrol santai dengan orang lain. Setiap hari, dia hanya berbicara dengan Bari. Sesekali pada Bosnya sejak menjadi pembunuh bayaran. "Jika tidak ada lagi yang ingin Mister katakan, aku ke kamar dulu," ujar Seira. Dia membalikkan badan, hendak pergi. "Tunggu." Seira tidak jadi melangkah. Dia kembali menghadap Mister X dan menunggu pria itu berbicara, membuat Mister jadi gugup, tak tahu harus berkata apa. "Kau ... kau tidak boleh pergi tanpa izinku. Tetap di tempat." Mister X duduk di kursi depan meja makan. "Ambilkan untukku air minum." Seira mengambil apa yang diminta Mister X dan meletakkannya di depan pria itu. "Ambilkan cemilan!" Seira berjalan menuju lemari es. Dia mengambil beberapa makanan ringan dan meletakkannya di depan Mister X. "Aku tidak suka makanan ini. Ganti!" Seira mengambil makanan ringan dari depan Mister X. Dia memasukkannya kembali ke lemari es dan mengambil makanan lain. Lagi-lagi Mister X minta menyuruhnya mengganti makanan itu. "Mister, semua makanan sudah kubawakan. Tidak ada lagi," ujar Seira. Dia kesal pada Mister X. "Ya, kau carilah!" "Di mana?" "Apa aku harus mengajarimu?" Mister X menatap tajam, membuat nyali Seira ciut. "A ... aku tidak tahu di mana tempat jualan di sini. Lagi pula, aku tidak punya uang." "Kau pikir aku peduli?" "Dasar pria tak punya perasaan!" umpat Seira.Kesabarannya sudah habis. Dia tak peduli jika pria itu marah. "Kau bilang apa?" Mister X bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Seira. Wanita itu mundur karena takut. Punggungnya terhalang tembok. Seira tidak bisa mundur lagi. Mister X terus saja mendekat dan mengunci gerakan Seira. "Kau makin berani sekarang." Seira menunduk, tidak berani menatap. Dia takut dicekik lagi. Mister X menyentuh wajah Seira dan memaksa wanita itu menatap padanya. "Lihat aku! Mana keberanianmu tadi?" Seira menantang tatapan pria di depannya. Mereka saling tatap. Pandangan Mister X turun ke bibir Seira. Dia tergoda dan menyentuhnya. "Singkirkan tanganmu, Mister," ujar Seira. Dia menepis tangan Mister X dan mendorong pria itu menjauh. Seira ingin pergi tapi Mister X menangkap tangannya dan kembali menyudutkan Seira di dinding. Bukan tatapan tajam seperti biasa yang Seira lihat di mata pria itu, tapi bola mata yang menggelap. Mister X tidak paham apa yang dirasakannya saat ini. Tidak ada rasa kesal apalagi marah seperti biasa. Pria itu menjauh. Suasanya jadi canggung. Seira meninggalkan pria Mister X Mister X menarik rambutnya ke belakang ketika dia membasahi tubuh di bawah shower. Dia terus memikirkan tindakannya tadi. "Sial, mengapa aku melakukan itu!" Dia menyelesaikan mandinya dan kembali ke kamar. Perutnya terasa lapar. Sekilas dia melirik jam, sudah pukul tujuh malam. Mister X keluar dari kamar dan berjalan ke dapur. Di sana dia melihat Seira sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Dia memperhatikan gerak-gerik wanita itu, tanpa menyadari Bari berada di sampingnya. "Apa kau sudah menyadari kalau dia sangat cantik?" tanya Bari. Mister X kaget. Dia jadi gugup. "Ka ... kau bilang apa?" tanyanya. "Dia cantik kan?" "Terus kenapa?" Mister X balik bertanya. "Kau menatapnya sedalam itu." "Kau jangan ngaco. Aku hanya memperhatikan, siapa tahu dia melakukan kesalahan." "Sejak kapan kau seperhatian itu?" Mister X menatap kesal ke arah Bari. Yang ditatap malah tertawa meledek. Di tempat lain, Roni semakin sering berkunjung ke rumah Hania. Bertemu dengan Yuda bisa membuat suasana hatinya menjadi baik. Dia belum juga menemukan keberadaan Seira. Membayangkan istrinya berada di tangan pembunuh bayaran, membuat Roni tak bisa tidur. Apalagi pria itu terlihat marah ketika kejadian pembunuhan itu. "Apa belum ada kabar tentang Mbak Seira, Mas?" tanya Hania. Dia datang membawakan teh hijau untuk Roni. "Belum. Semoga Seira baik-baik saja," ujar Roni. Dia meneguk teh, lalu bersandar sambil memijat dahinya. "Apa Mas sudah menyelidiki siapa pria itu?" "Dia pembunuh bayaran, hanya itu yang kutahu. Entah darimana Seira mengetahui informasi pria itu hingga dia bisa berurusan dengannya." "Aku hanya bisa berdoa semua Mbak Seira baik-baik saja." "Mana Yuda?" "Dia sedang bermain bersama Antoni, ponakanku di kamar." "Aku mau menemuinya." Roni meneguk tehnya kembali, lalu dia meninggalkan Hania. Wanita itu menatap kepergian Roni. "Mas, sungguh aku berharap istrimu baik-baik saja, tapi aku merasa berdosa, menikmati kebersamaan kita saat dia tak ada. Meski kau datang hanya untuk Yuda. Kau begitu baik dan perhatian pada kami, hingga aku jatuh cinta padamu. Apa kau pernah memikirkan perasaanku?" Hania bicara sendiri. Di menyusul Roni ke kamar tempat Yuda bermain. Dia melihat Yuda sedang dipangku Roni sambil memegang mobil-mobilan. Pria itu menirukan suara mobil, membuat Yuda dan Antoni tertawa. Hania tersenyum bahagia melihat senyum putranya. Dia mulai berandai-andai jika Roni-lah ayah kandung Yuda. "Mama," panggil Yuda. Bocah itu turun dari pangkuan Roni dan berjalan ke arah Hania. Dia malah menginjak mobil-mobilan. Hania berlari untuk menangkap putranya. Roni juga melakukan hal yang sama dan dia berhasil menangkap Yuda yang hampir terjatuh. Kepala mereka berbenturan. Hania mengadu kesakitan. "Maaf. Kau baik-baik saja kan?" tanya Roni. Dia mengelus-elus kepala Hania. "Gak apa-apa kok, Mas," ujar Hania. Dia tersenyum. Wajahnya jadi merona. Roni menarik tangannya dari kepala Hania. Dia jadi merasa canggung. Yuda tertawa melihat kejadian itu. "Wah, anak Papa malah tertawa. Awas ya!" Roni menangkap Yuda dan menggelitiki bocah itu sambil berguling-guling di lantai. Lagi-lagi Hania tersenyum melihat adegan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD