3. Apa Yang Harus Aku Lakukan? 1

1591 Words
JADWAL PUBLISH BULAN JANUARI 2022: . 1. SEXY SCANDAL setiap hari Senin-Kamis. 2. RELOVE setiap hari Jum'at-Minggu. . Semua cerita aku tayang pkl. 12.00 WIB. Kalau ceritanya ga muncul di jam segitu, coba cek story aku di i********: atau sss, bisa aja aku telat atau justru ga update. . Tolonglah, Guys. Aku udah share info cerita aku di akun sosmed aku. Kalian ga perlu add atau follow, cukup cek aja. Karena buat kalian yang sebulan kemaren nanya kapan cerita ini lanjut, itu buat aku gemas banget. Karena pengumuman udah aku buat di sosmed aku. ******************************** “Sssst .... Sssst ....” Elzi merasakan bagaimana tangan Ben yang besar sedari tadi mengusap puncak kepalanya secara berlahan, berulang kali. Cowok itu tak melonggarkan sedikit pun rengkuhannya. Pun mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan berbagai kata-kata pembujuk agar Elzi menghentikan isakannya. Dan mendapati itu, Elzi justru meradang. Menyadari dengan pasti bahwa seharusnya bujukan cowok itu passti akan berhasil, andaikan yang Ben bujuk adalah anak kecil yang baru saja kehilangan permennya. Bukannya malah seorang cewek berusia dua puluh sembilan tahun yang baru saja kehilangan keperawanannya! “Udahlah, Zi. Kamu nggak perlu nangis kayak gini. Cup cup cup!” “Kamu pikir ini semacam iklan penyedap rasa? Cup cup cup?!” Elzi sontak memukul dadanya. “Menurut kamu aja deh. Gimana bisa aku nggak nangis? Untuk semua hal yang sudah terjadi malam ini di antara kita, apa menurut kamu aku harusnya ketawa? Iya?” Ben memejamkan matanya dengan dramatis. “Maksud aku, tangisan kamu ini nggak berguna sama sekali. Tangisan kamu nggak bakal bisa ngubah apa yang sudah terjadi. Karena kalau seandainya tangisan emang bisa ngubah kejadian malam ini, aku jamin. Aku bakalan ikutan nangis bareng kamu deh sekarang ini.” Elzi mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Berusaha menyingkirkan keinginan untuk berteriak di depan wajah cowok itu dan menarik perhatian semua teman-teman yang kemungkinan juga menginap malam itu. “Aku tau!” tukas Elzi penuh emosi. “Semua nggak bakal berubah. Toh kita nggak punya kantong ajaib Doraemon untuk balik ke masa lalu.” “Nah, itu kamu tau,” tukas Ben. “Jadi untuk apa lagi kamu nangisin hal yang udah terjadi? Percuma. Don't cry over spilt milk, okey? Nyapekin badan dan nggak ada hasil.” Elzi terdiam. Alih-alih merespon perkataan Ben, cewek itu justru terlihat menggigit bibir bawahnya. Dan membiarkan air mata yang membasahi pipinya, perlahan mengering. “Aku bakal nikahin kamu, Zi. Aku janji.” Ben kembali bicara. “Kamu nggak perlu khawatir. Kamu bisa megang kata-kata aku. Kali ini percaya aku. Aku bener-bener bakal nikahin kamu.” Masih tak mengatakan apa pun, nyatanya Elzi tetap mendengarkan tiap kata yang terucap dari bibir Ben. Selayaknya cewek itu yang sedang memikirkan sesuatu di benaknya. Dan karena tidak mendapatkan respon sedikit pun, pada akhirnya Ben pun juga memilih untuk diam. Membiarkan beberapa menit yang rasanya begitu lama berjalan begitu saja, tanpa ada dari mereka yang bersuara. Hingga sejurus kemudian, telinga Ben mendengar lirihan suara Elzi. “Aku sudah bertunangan, Ben.” Kalimat itu akhirnya meluncur juga dari bibir Elzi. Bahkan, tanpa sadar Elzi telah menyebut nama pria itu untuk pertama kalinya. Ben terdiam. Elzi menghela napas panjang. Berusaha mengenyahkan rasa sesak yang mendadak menghimpit dadanya. “Kami udah ngerencanain pernikahan awal tahun depan. Cuma tinggal beberapa bulan lagi. Tapi, sekarang ....” Tak mampu meneruskan ucapannya, Elzi lantas memejamkan matanya. Membiarkan air mata kembali mengalir dan jatuh ke lengan Ben yang kokoh. Gimana bisa kecelakaan ini terjadi di saat aku udah bertunangan? Udah siap nikah? Bahkan tanpa drama pertunangan pun kecelakaan ini jelas menjadi masalah. Apalagi dengan status pertunangan dan rencana pernikahan yang udah di depan mata? Ya Tuhan. Karena tentu saja, masalah malam itu mungkin masih bisa mendapatkan jalan keluarnya dengan lebih mudah seandainya saat itu Elzi tidak berada dalam hubungan dengan seorang cowok. Dengan pertunangan yang telah mengikat dirinya dan masalah yang terjadi sekarang, tentu saja Elzi merasakan kepalanya terasa pusing berputar-putar. “Tapi, kita nggak tau apa yang bakal terjadi ke kamu beberapa bulan ke depan, Zi,” lirih Ben kemudian. “Gimana kalau kecelakaan malam ini justru ngebuat kamu ....” Ben menggantung ucapannya. “Tapi, ini semua keputusan kamu. Kamu mau ngelakuin apa pun, itu terserah kamu. Aku kasih kamu waktu buat mikirin ini semua, Zi.” Elzi mengangkat wajahnya. Bermaksud untuk membalas perkataan itu. Namun, dirinya justru terhenyak tatkala mendapati Ben yang langsung mengecup dahinya. Sekilas. “Pikirkan dengan baik. Aku bakal nikahin kamu kalau kamu menginginkannya.” Ben menghela napas. “Dan kalau pun kamu tetap memilih untuk menikah dengan tunangan kamu itu, ya ... aku nggak akan berbuat apa-apa.” Elzi mengangguk pelan. Pada saat itu ia merasa bagaimana tubuhnya yang amat lelah. Akibat meracau dan panik sedari tadi. Namun, ketika rasa lelah itu membuat tubuhnya seperti tak ada tenaga, sedikit kelogisan muncul di benak Elzi. Ia memang harus memikirkan masalah itu dengan lebih tenang. Jangan gegabah untuk mengambil jalan keluarnya. Sejurus kemudian Ben bangkit berdiri. “Kita siap-siap. Biar aku antar kamu pulang,” ucap Ben seraya menatap Elzi dengan sorot ragu di matanya. “Ehm ... kamu bawa mobil atau ....” Elzi menggeleng. “Mobil aku lagi di bengkel. Tadi aku ke sini naik taksi.” “Oke,” angguk Ben dengan ekspresi lega di wajahnya. “Kalau gitu bagus. Biar aku antar kamu balik sekarang juga. Dengan semua kekacauan ini, rasanya bukan ide yang menyenangkan kalau sampai ada teman-teman kita yang ngeliat kita dalam keadaan kayak gini.” Elzi mengangguk dan turut berdiri dengan masih menggenggam selimut di depan d**a. Ia memandang sekitar dan mendapati hanya ada pakaian Ben yang berserakan serta kimono handuk di atas kursi. “Baju aku ke mana, Ben?” tanya Elzi pelan seraya mencari-cari. “Kok baju aku nggak keliatan?” Pertanyaan itu membuat Ben sontak turut memandang sekitar. Kemudian ia mengangkat bahunya. Enteng sekali ia menjawab. “Aku nggak ingat, Zi. Tadi itu kan aku mabuk.” Mata Elzi memejam dramatis. “Mabuk! Mabuk! Mabuk!” geramnya dengan sangat frustrasi. Terutama dengan satu pemikiran menakutkan yang lantas melintas di benaknya. Kalau nggak ada baju, terus aku balik gimana? Ya kali cuma pake bra. Aku ini bukan semacam orang gila nyasar! Sementara Elzi menarik napas dalam-dalam berusaha untuk mendamaikan emosi yang mulai kembali bergejolak di dadanya, di seberang sana tampak Ben meraih celana jeans dan memakainya. Melihat itu, maka Elzi pun memalingkan wajahnya. Dalam hati ia merutuk, menyadari bagaimana mudahnya bagi cowok untuk berpakaian tanpa perlu merasa malu. “Ben, aku nggak mungkin balik kayak gini. Baju aku kamu letakin di mana sih?! Argh! Masa aku balik cuma pake bra?!” Tak menjawab pertanyaan itu, Ben justru meraih kausnya. Meloloskan pakaian itu melewati kepalanya. Untuk kemudian ia meraih balzernya, menghampiri Elzi, dan menyodorkannya pada cewek itu. Menerima blazer itu, ekspresi wajah Elzi tampak melongo. “Hah?” Elzi menerimanya dengan tatapan tak percaya. “Lebih baik kamu pake itu ketimbang kamu balik cuma pake bra,” ujar Ben santai. “Iya kan?” Mata Elzi sontak memejam dengan dramatis. Menyadari dengan jelas bahwa ia tak memiliki pilihan lain kali ini. Maka dengan berat hati, Elzi pun mengenakannya. Memiliki tubuh yang tinggi dan besar, tentu saja pakaian Ben berukuran besar pula. Hingga tak aneh bila pada akhirnya blazer itu dengan ajaib menutupi tubuh polos Elzi hingga pertengahan pahanya. Membuat ia lantas bisa berdiri tanpa memerlukan selimut lagi. Hanya saja, ketika Elzi menurunkan pandangannya dan melihat kakinya .... Astaga! Apa pantas aku balik ke rumah kayak gini? Kalau aku ketangkap basah dengan orang rumah gimana? Mama dan Papa pasti kena serangan jantung barengan! Ya ampun. Udah cukup aku kehilangan keperawanan malam ini. Aku nggak mau kehilangan orang tua juga! Dan ketika Elzi sedang bingung, Beng sepertinya tau ke mana arah pikiran cewek itu. Maka ia pun menghampirinya. Menangkap dengan jelas sorot keraguan di mata Elzi. “Ehm, gimana kalau gini?” Ben menarik napasnya. “Kita ke rumah aku dulu. Ntar aku ambilin celana atau rok Mbak Refta. Dan kamu bisa pake itu untuk balik. Gimana?” tanya Ben. “Kamu juga nggak bisa ngebangunin Angela dan bilang butuh baju buat pulang karena kita berdua lupa keberadaan baju kamu. Iya kan?” Lagi-lagi, Elzi menyadari bahwa ia tak memiliki pilihan lainnya. Hingga pada akhirnya, tanpa berpikir dua kali, Elzi pun mengangguk. Menerima tawaran itu. Bersiap-siap untuk segera pulang, Ben dan Elzi memastikan bahwa tidak ada barang mereka yang tertinggal di sana. Termasuk dengan ponsel mereka yang tergeletak di atas nakas. Ben mengambil ponselnya, lantas menyodorkan milik Elzi. Sekilas, Ben bisa melihat bagaimana cewek itu tertegun melihat pada layar ponselnya. Di mana tertera simbol panggilan tak terjawab. Dengan angka dua puluh delapan di depannya. Elzi mengembuskan napas. Memutuskan untuk tidak menghiraukan dulu masalah panggilan dari tunangannya itu. Alih-alih, ia justru membiarkan Ben yang langsung meraih tangannya. Berkata. “Ayo. Kita harus kabur dulu dari sini.” Elzi mengangguk. Pasrah saja ketika Ben mengajaknya keluar dari kamar. Perlahan, mereka mengendap keluar dari rumah Angela. Menuju ke mobilnya dan lantas pergi. * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD