Seketika saja Elzi membuang muka. Dan mengabaikan bagaimana Ben menatap dirinya, Elzi justru teringat dengan hal penting lainnya ketimbang hidung Squidward. Maka ia pun mengedarkan tatapannya menyusuri tempat tidur. Hanya untuk menemukan sesuatu yang bisa menjadi indikasi akan apa yang telah terjadi padanya dan Ben. Hingga kemudian, tubuhnya pun menegang. Tepat ketika matanya terpaku pada bercak merah di atas seprai bermotif itu.
Menyadari bahwa Elzi tak membalas perkataannya, Ben pun melihat pada cewek itu. Hanya untuk membawa tatapannya ke arah lainnya. Pada kasur. Tempat yang menjadi fokus mata Elzi. Dan pada saat itu, Ben mendengar suara gedebuk. Ketika dengan begitu tiba-tiba, Elzi jatuh terduduk di lantai. Seperti dirinya yang tak mampu menahan gaya gravitasi lagi.
Dingin. Elzi yakin bahwa rasa dingin itu bukan berasal dari lantai berkeramik mahal itu. Alih-alih berasal dari ketakutan yang membayang di benaknya. Sekarang, Elzi bukan hanya panik. Semua sarafnya seperti mati rasa. Bahkan jantungnya seolah tidak berdetak lagi. Ia seperti merasa bahwa kehidupannya sudah berakhir saat itu pula.
“Ya Tuhan. Ini ... ini ....”
Bahkan Elzi tak yakin apa yang akan ia katakan. Karena sedetik kemudian, sebulir air matanya jatuh. Dan di saat itu, Ben segera bertindak. Beranjak dengan cepat. Meraih tubuh Elzi dan mengajaknya duduk di tempat tidur.
“Zi ....”
Untuk lirihan pelan yang Ben ucapkan, hanya ada tatapan kosong yang mampu Elzi berikan. Hal yang terang saja membuat Ben meneguk ludah dengan panik.
Ben lantas menangkup pipi Elzi, menahan wajah cantik yang telah memucat itu tepat di depan wajahnya. Dengan amat dekat. Bahkan saking dekatnya, Elzi bisa merasakan hangat embusan napas Ben. Pun sebaliknya dengan Ben.
“Aku bakal bertanggungjawab,” lanjut Ben dengan serius. “Aku bakal nikahi kamu. Jadi ...” Ben menarik napas sekilas. “... kamu nggak perlu khawatir.”
Namun, layaknya Elzi yang memang sudah mati, ia tak merespon perkataan Ben. Ia hanya diam. Dengan satu suara sinis yang mendadak muncul di benaknya.
Bakal nikahi aku?
Hah?
Bakal nikahi aku dia bilang tadi?
Emangnya aku lupa kalau dia dulu juga pernah janji hal yang sama?
Tapi, nyatanya?
Dia ngilang entah ke belahan dunia bagian mana.
Ngilang tanpa kabar sedikit pun!
Lantas, Elzi menggeleng.
“Nggak. Nggak mungkin,” gumam Elzi dengan suara yang teramat samar. “Nggak mungkin aku nikah dengan kamu. Nggak. Pokoknya nggak.”
Dipenuhi oleh beragam bayangan di benaknya, Elzi lantas menarik diri. Dengan tetap mempertahankan selimut di tubuhnya, ia bangkit lagi. Demi melihat-lihat ke atas kasur kembali. Namun, kali ini dengan lebih saksama.
“Minggir!”
Ben yang kebingungan mendapati perubahan sikap Elzi yang mendadak, hanya bisa mengerutkan dahi. Bergeser ketika Elzi kembali memeriksa kasur. Seraya merabanya beberapa kali. Layaknya ia yang tengah mencari sesuatu di sana.
“Apaan, Zi?” tanya Ben untuk kemudian ia memutuskan turut berdiri pula. “Kamu nyari apa?”
Tidak menemukan apa pun di kasur, Elzi meneguk ludah. Kali ini ia mengahmpiri Ben. Bahkan tanpa sadar meraih satu tangan cowok itu. Ia menengadah saat berusaha memaku tatapan Ben.
“Bilang ke aku kalau kamu pake.”
Kali ini tak hanya bingung, dahi Ben pun langsung berkerut tak mengerti. “Pake? Maksud kamu pake apa?”
Elzi menggigit bibir bawahnya sekilas. Seolah merasa bimbang ketika didesak oleh pertanyaan itu. Hingga kemudian, ekspresi ngeri tercetak di wajahnya ketika ia menjawab dengan setengah berbisik pada cowok itu.
“K-k-k ....”
Belum mengerti, Ben kembali bertanya. “K-k-k apa?”
Memejamkan mata, Elzi menjawab. “Kondοm!”
“Uhuuukkk!”
Ben sontak terbatuk-batuk. Sementara Elzi kemudian melotot lebar. Menyiratkan emosi yang benar-benar tak terbendung lagi.
Tak peduli dengan wajah Ben yang berubah merah atau batuk-batuk salah tingkahnya, Elzi menodong Ben dengan pertanyaan bernada harapan itu.
“Kamu pake kan? Terus bekasnya udah kamu buang? Ke mana? Tong sampah? Kloset? Atau ....”
Karena itu adalah pengharapan terakhir Elzi. Ia mungkin melakukan kesalahan tanpa disengaja bersama Ben. Tapi, bukan berarti ia harus terperangkap dalam pernikahan bersama cowok itu kan?
Namun, nahas. Satu-satunya harapan Elzi perlahan sirna ketika ia mendapati Ben yang menarik napas dalam-dalam, membiaskan ekspresi yang tidak ia harapkan. Cowok itu kemudian menggeleng.
Elzi tertegun untuk beberapa detik. “Ka-kamu nggak pake? Kamu nggak pake kondοm? Serius? Kamu nggak pake?”
Kembali, Ben menggeleng. “Aku nggak pake kondοm.”
Dan ketika harapan terakhirnya sirna, maka kesedihan dan ketakutan Elzi berubah seketika. Menjadi kemarahan yang siap untuk meluap.
“Kamu nggak pake kondοm?! Kenapa bisa kamu nggak pake kondοm?!” tanya Elzi histeris. “Astaga. Umur kamu udah berapa sih? Gimana bisa kamu jadi cowok dewasa yang benar-benar nggak beretika kayak gini?! Serius? Kamu nggak pake?!”
Untuk itu, Elzi lantas melayangkan satu tangannya yang bebas. Dalam bentuk pukulan yang bertubi-tubi mendarat di dadá Ben. Dan Ben tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri. Seperti dirinya yang pasrah saja menerima hukuman itu.
“Udah ngambil keperawanan orang, eh ... malah nggak pake kondοm lagi! Kamu hidup di abad berapa?! Aaargh!!!”
Tinju yang bertubi-tubi, diiringi oleh berbagai umpatan yang ia layangkan, napas Elzi terdengar begitu kasar menderu. Dan Ben beruntung, karena Elzi tidak memiliki ikatan kekeluargaan dengan spesies naga mana pun. Karena kalau tidak, Ben yakin. Saat ini sudah pasti ada api yang menyembur dari kedua lubang hidung Elzi!
“Harusnya kamu pake! Gimana bisa kamu ngelupain hal sepenting itu? Argh! Harusnya kamu ingat buat pake!”
“Zi, aku mabuk. Gimana bisa aku ingat dengan segala macam kondοm di saat aku mabuk?”
“Harusnya kamu ingat! Bahkan untuk ngelepas celana dalam kamu aja kamu ingat! Kenapa buat masang kondοm kamu nggak ingat?!”
Didesak oleh rentetan kata-kata yang Elzi ucapkan, Ben nyaris merasa kepalanya pusing. Hingga ia pun antara sadar dan tidak, menukas seperti ini.
“Kalau aku ingat buat pake kondοm, itu artinya aku nggak mabuk.”
Hal yang membuat Elzi semakin meradang.
“Dasar penjahat kelamin.”
“What? Penjahat kelamin kamu bilang?” Bola mata Ben berputar dramatis. “I can make you sure that you are the first. Belum ada kelamin siapa pun yang aku jahatin sampai detik ini”
Elzi melotot. “Pertama aja udah lihai ya, Bun?” sindirnya dengan sinis. “Dan mau aku yang pertama atau yang terakhir, emangnya itu penting? Menurut kamu, aku bakal bangga gitu?!” Jari telunjuk Elzi menuding. “Dan ingat! Ada kelamin aku yang kamu jahatin barusan ini!”
Dan Ben yakin, melihat dari histerisnya Elzi, diikuti oleh dadanya yang naik turun dengan teramat kentara, situasi kala itu akan semakin kacau kalau dirinya tidak bisa berpikir dengan jernih. Hingga ia pun menarik napas dalam-dalam. Mengultimatum dirinya sendiri, agar menjadi orang waras di situasi genting saat itu. Jangan sampai terpancing dan justru membalas perkataan emosional Elzi dengan sama emosionalnya. Itu akan membuat semuanya semakin kacau.
“Zi ....”
Menyebut nama Elzi dengan lirih seraya berusaha meraih cewek itu, Ben justru mendapati bagaimana Elzi yang menepis tangannya. Alih-alih membiarkan dirinya untuk ditenangkan oleh Ben, ia memilih untuk duduk kembali di tempat tidur. Mengembuskan napas dengan kasar sementara satu tangannya meremas rambutnya. Frustrasi.
“Ya Tuhan. Kalau pun aku harus kehilangan keperawanan, itu bukan berarti aku bakal hamil kan? Jangan, Tuhan. Please, jangan buat aku hamil,” lirih Elzi semakin panik. Ia menarik napas. Berusaha untuk logis. “Peluang terjadi kehamilan di hubungan pertama nggak besar, Zi. Tenang. Hamil nggak semudah itu. Orang yang udah nikah aja bisa bertahun-tahun baru bisa punya anak. Nggak mungkin banget kan ya kamu sekali kejadian justru langsung hamil?” Elzi kemudian meringis. “Aku mohon, Tuhan. Kalau pun ada rencana ngebuat aku hamil, please diralat. Kasih aja kehamilan ini ke pasangan lain yang udah nunggu-nunggu. Aku ikhlas lahir dan batin.”
Melihat Elzi yang meracau seolah sedang tak sadar diri, Ben hanya bisa diam. Menyaksikan dengan saksama bagaimana sejurus kemudian mata Elzi tampak terpejam. Dengan bibirnya bergetar. Lantas, ia bertanya pada dirinya sendiri.
“Ka-kapan masa subur aku? Kapan? Besok? Lusa? Minggu depan? Atau udah lewat?”
Berusaha mengingat, tapi Elzi mendapati kepalanya seperti kosong. Sial! Tapi, manusiawi sekali. Memangnya otak cewek mana yang masih bisa berpikir di saat seperti itu?
“Zi ....”
“Sial!” umpat Elzi dengan napas terengah-engah. “Kemungkinan tetap ada, Zi. Walau peluangnya kecil, tetap saja ada. Ya Tuhan. Bahkan korban pemerkosaan aja sering hamil. Dan gimana kalau kecelakaan ini ngebuat aku hamil? Astaga. Bukannya udah jadi misteri umum ya kalau hubungan kecelakaan memiliki peluang hamil yang tinggi?”
Ben meneguk ludahnya melihat Elzi yang tetap meracau seolah dirinya tak ada di sana. Hingga ia pun kembali memanggil nama cewek itu.
“Zi ....”
Meradang, Elzi menoleh pada Ben. “Bisa berhenti manggil Za Zi Za Zi nggak sih?!” bentak Elzi. “Kamu nggak tau kalau aku panik?!”
Ben memejamkan matanya dramatis. Geleng-geleng kepala seraya mengembuskan napas panjang. Memilih membiarkan Elzi untuk kembali meracau panjang lebar karena kepanikannya.
“Kenapa ini harus terjadi ke aku? Gimana kalau aku hamil?” Mata Elzi bergerak-gerak gelisah, sedangkan jantungnya berdentum dengan begitu parah. “Hamil di luar nikah?”
Glek.
“Ya Tuhan. Kalau aku beneran hamil di luar nikah, gimana? Hukuman apa yang bakal aku terima dari Mama dan Papa? Diusir dari rumah? Digantung hidup-hidup? Atau ....”
Namun, sejurus kemudian terdengar kesedihan di suara wanita itu. Menggantikan racauan kepanikannya.
“Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku nggak bisa menjaga diri sendiri?” Mata Elzi memejam. “Belum bisa jaga diri sendiri, dan sekarang? Gimana kalau aku hamil? Gimana bisa aku menjaga anak aku? Ya Tuhan. Aku nggak sanggup hamil sekarang. Please, Tuhan. Jangan biarkan ada anak yang nggak berdosa harus dapat ibu yang belum bisa apa-apa kayak aku. Kasian dia ntar, Tuhan.”
Ben meraih tangan Elzi. Pelan-pelan menyelamatkan rambut cewek itu dari kemungkinan rontok dalam waktu dekat. Bagaimanapun juga, Elzi sungguh tidak tanggung-tanggung ketika melampiaskan emosinya. Dan alih-alih memberikan Elzi kesempatan demi menggunakan tangannya untuk hal lainnya, Ben justru menggenggamnya. Dengan erat. Hal yang sontak membuat Elzi menghentikan racauannya.
Mata Ben memaku tatapan Elzi. “Hamil atau nggak, bukan itu masalah di sini.”
Menjeda sejenak ucapannya, Ben mengingatkan dirinya sendiri untuk berbicara selembut mungkin. Jangan sampai perkataannya justru memancing emosi Elzi yang memang sudah terpancing sejak tadi. Itu bisa gawat!
Dan setelah beberapa detik berlalu, ketika Ben tidak mendapati ada reaksi apa pun dari Elzi, maka ia pun melanjutkan perkataannya. Dengan teramat berhati-hati. Berharap agar dirinya tidak sampai salah dalam memilih kata-kata.
“Terlepas dari kamu hamil atau nggak,” lanjut Ben kemudian. “Aku bakal tetap bertanggungjawab. Aku serius. Aku beneran bakal nikahi kamu. Dan kalau pun nanti kamu hamil, kamu nggak perlu khawatir. Kamu nggak perlu takut.” Tanpa kedip, Ben mantap Elzi. “Ada aku yang bakal ngejaga kalian berdua. Kita bisa pelan-pelan belajar jadi orang tua.”
Ka-kalian berdua?
Pelan-pelan jadi orang tua?
Demi dua hal itu, Elzi langsung membeku. Kepalanya seketika langsung terasa kosong. Hingga wajar saja bila pada akhirnya Ben mendapati tak ada lagi emosi di sepasang bola mata bening itu. Seperti perkataan Ben sudah membawa Elzi berada di awang-awang. Dunia tanpa kepastian.
“Menurut kamu?” tanya Elzi ironis. Entah sadar atau tidak, ia lantas menarik tangannya dari genggaman Ben. Untuk kemudian, ia memegang perutnya sendiri. “Apa sekarang s****a kamu udah berenang-renang di rahim aku? Apa s****a kamu udah berhasil ketemu sama ovum aku? Apa mereka udah melebur jadi satu?”
Ben merasa sesak napas. Tidak tau apakah itu pertanyaan yang perlu mendapat jawaban atau tidak.
Namun, mendapati Ben yang bahkan tidak memberikan sepatah kata pun untuk pertanyaannya, seketika membuat Elzi menggeram.
“Argh! Nikah sama kamu? Ya Tuhan. Aku nggak mungkin nikah sama kamu. Astaga. Kenapa harus aku sih yang ngalamin hal kayak gini? Aku ada dosa apa, Tuhan? Masa aku dihukum kayak gini sih?”
Tak akan membiarkan perdebatan itu menjadi hal yang berputar-putar, Ben meraih kedua lengan atas Elzi. Menahannya. Tidak memberikan celah sedikit pun untuk Elzi bisa bergerak barang seinchi juga.
“Zi,” kata Ben dengan penuh penekanan. “Aku nggak main-main. Aku bakal nikahi kamu. Jadi, please. Berenti panik. Berenti nyalahin takdir. Kita berdua bisa jalanin ini semua. Kita sama-sama cari jalan keluarnya. Dan itu adalah dengan menikah.”
Tak menanggapi perkataan Ben, Elzi hanya diam menatap pada mata gelap itu. Di sana, Ben mampu menangkap berbagai ketakutan dan kepanikan yang berkecamuk lewat sorot bening manik Elzi.
Apa aku bisa percaya dengan omongan kamu?
Sekarang kamu ngomong gitu, lusa?
Mungkin aja kamu ngomong hal yang lainnya.
Kita sama tau kamu itu kayak gimana.
Aku nggak pernah mau jatuh di lobang yang sama untuk ketiga kalinya!
Elzi bimbang. Dan Ben tau dengan pasti hal itu. Manusiawi sekali bila saat itu Elzi nyaris tidak tau apa yang harus ia lakukan. Semua pasti terasa amat menakutkan untuk dirinya.
Namun, Ben memutuskan untuk tidak membiarkan Elzi larut dalam kebimbangannya. Karena alih-alih menunggu, cowok itu pun lantas mengambil tindakannya.
Tiba-tiba, tanpa ada peringatan sedikit pun, Ben lantas menarik wajah Elzi. Ke arahnya. Tanpa ada silap sedikit pun tatkala membawa bibir Elzi untuk mendarat di bibirnya.
Sontak saja mata Elzi membelalak. Menyadari bahwa dalam hitungan detik yang teramat cepat, detik yang tak mampu untuk ia elak, bibirnya telah lenyap dalam satu pagutan yang dalam. Rasa syok akan keadaannya kala itu membuat ia seperti orang linglung yang tak mampu memberikan penolakan sedikit pun ketika Ben menciumnya.
Dalam dan kuat. Hingga menimbulkan suara decakan yang mengiringi pergerakan sensual yang bibir Ben lakukan padanya. Untuk kemudian, satu usapan sekilas diberikan oleh ujung lidah Ben. Tepat sebelum ia menarik ciumannya.
“Kita nikah, Zi,” tegas Ben tanpa kompromi. “Ini bukan pertanyaan. Ini pernyataan!”
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.