1. The Fúcking Reunion 1

3180 Words
Elzira Citrani merasa kegamangan yang membuat dirinya bagai terombang-ambing. Layaknya ia yang tak lagi ditahan oleh gaya tarik bumi. Persis seperti seluruh isi antariksa yang tertarik ke dalam satu lobang hitam. Dengan amat tiba-tiba. Begitu mendadak. Mengisap. Terasa menyentak nyawanya hingga membuat ia membuka mata dengan seketika. Terbangun dari tidurnya. Dan mendapati bagaimana rasa sakit itu langsung hadir, memberikan denyutan-denyutan yang membuat ia mengerang. “Astaga, Tuhan...” Memijat dahinya seraya melirih pelan, Elzi lantas merasakan kerongkongannya terasa amat kesat. Kering. Menghadirkan rasa tak nyaman yang mendera dirinya. Namun, itu belum seberapa. Hingga beberapa saat kemudian ia mendapati rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya. Pegal. Remuk. Dan entah kata apa lagi yang bisa ia gunakan untuk menggambarkan keadaannya saat itu. Semuanya terasa sungguh menyiksa. Menarik napas dalam-dalam, Elzi berusaha untuk menenangkan dirinya. Mencoba untuk mengabaikan rasa sakit itu, ia mengerjapkan mata. Perlahan, demi berupaya menyesuaikan retina matanya terhadap cahaya temaram di sekililingnya kala itu. Ketika bola matanya mengitari keadaan, Elzi mencoba berpikir. Hingga dahinya tampak berkerut di saat ia memaksa otaknya untuk mengingat. Lantas berbagai kilasan kejadian beberapa saat yang lalu melintas di benaknya. Menampilkan wajah-wajah riang. Penuh canda. Tawa terbahak. Yang tentu saja dimeriahkan oleh makanan dan minuman. Tampak begitu bahagia. Ah .... Mata Elzi membesar tatkala berhasil mengingat hal penting itu. Sesuatu yang harusnya tak akan mudah ia lupakan. Ehm ... apalagi kalau bukan reuni SMA? Malam itu Elzi menghadiri acara Reuni SMA yang diselenggarakan di rumah salah seorang temannya, Angela. Wanita cantik teman sebangkunya yang saat ini memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai dokter di wilayah perbatasan. Dan hal terakhir yang kemudian ia ingat adalah suara teman-teman yang riuh. Mungkin sedang mencemooh dirinya yang ternyata masih saja tak tahan dengan minuman beralkohol. Elzi menghela napas panjang. Merutuk di dalam hati. Memangnya sejak kapan tidak bisa meminum alkohol menjadi hal yang memalukan? Sekarang kalau diingat-ingat lagi, sangat wajar bila saat ini ia merasa pusing. Dan rasa pusing ini sudah pasti ditambah dengan rasa kesal mengingat beberapa orang temannya yang ternyata masih saja suka mengusilinya. Dasar mereka! Minuman apa sih yang mereka campur ke gelas aku tadi? Aaargh .... Ini wajar banget kalau aku ngerasa badan aku kayak kena timpuk gunung. Pasti gara-gara minuman itu. Menahan geram, Elzi mengangkat tangan kirinya. Hanya demi melihat jam yang melingkar di sana dan menimbang sejenak, apakah ia akan pulang atau memutuskan melanjutkan tidur malam itu. Jam dua malam. Sebenarnya Elzi bisa saja pulang, tapi sejurus kemudian ia merasa bahwa melanjutkan tidur terdengar lebih tepat untuk dilakukan daripada pulang. Terutama di saat tubuhnya sedang berada di kondisi yang tidak bisa diajak bekerja sama. Walau sebenarnya saat itu Elzi hanya duduk santai di dalam taksi –mengingat mobilnya sedang berada di bengkel, ia tak ingin mengambil risiko pulang dini hari. Siapa yang bisa menjamin keselamatannya coba? Menyingkirkan jauh-jauh rencana untuk pulang, Elzi sekarang memutuskan untuk kembali melanjutkan tidurnya. Dan itu dimulai dengan dirinya yang mengangkat kedua tangannya sejenak. Sekadar untuk merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Menggeliat di balik selimut. Lantas mencari posisi yang nyaman, berbaring menyamping. Bahkan dengan dramatis, ia mengayunkan tangan dan kakinya bersamaan. Mendaratkannya di atas guling. Lebih dari itu, ia pun menyurukkan kepalanya di sana. Memeluknya. Hanya untuk menyadari betapa nyamannya guling itu. Bayangan tidur yang nyenyak pun melintas di benaknya. Namun, rasa nyaman yang Elzi rasakan dan khayalan yang ia dambakan, mendadak menghilang. Tergantikan oleh rasa bingung. Itu adalah tatkala ia merasakan bahwa guling itu membalas pelukannya. Dengan satu tangan yang terasa berat mendarat di atas tubuhnya! Eh? Mata Elzi yang semula sudah memejam, sontak membuka. Berusaha berpikir. Hanya untuk terkesiap. “Eh?! Sejak kapan guling punya tangan?” Dan kala itu, kalau mau dipikir-pikir lagi, Elzi baru menyadari keanehan lainnya. Seperti ia yang baru sadar bahwa yang berada di bawah kepalanya jelas bukanlah bantal yang biasa ia gunakan saat tidur. Bantal yang satu ini tidak empuk. Alih-alih, justru terasa ... keras dan memiliki bentuk seperti ... tangan. Hah? Tangan lagi? Tu-tunggu dulu. Kenapa bantal-bantal di sini pada punya tangan? I-i-ini benaran tangan ... atau aku yang halu sih? A-a-apa gara-gara minuman itu? A-a-aku jadi semacam yang mabuk gitu? Elzi mencoba untuk tidak panik. Tapi, semua semakin tak berguna ketika matanya menangkap kenyataan lainnya. Yaitu di mana ia menyurukkan wajahnya, itu ternyata bukan guling. Melainkan satu bidang dadá polos yang tampak bergerak dalam alunan napas yang teratur. What?! Berbantalkan lengan, menyuruk pada dadá, dan satu tubuh memeluk tubuhnya? Tidak bisa tidak. Satu pertanyaan itu seketika timbul di benak Elzi. Ini aku beneran mabuk atau .... Ini siapa?! Dengan getar-getar ketakutan, Elzi memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Demi untuk mendapati ada satu wajah tampan yang tampak terlelap tepat di depan matanya. Satu wajah yang paling tidak ia duga sebelumnya. Hingga mata Elzi kemudian membesar pelan-pelan. Bahkan ia pun menyempatkan diri untuk mengucek terlebih dahulu matanya, sebelum ia melotot dengan lebih lebar lagi. Berharap agar wajah di hadapannya itu bisa berubah. Menjadi bantal, guling, atau apa saja. Yang penting bukan wajah seseorang. Terutama kalau itu adalah .... B-B-Ben? I-i-ini Ben? Ya Tuhan. B-B-Ben Yogaswara? Dan kemudian, tak mampu dicegah, Elzi pun sontak menjerit. “Aaahhh!!!” Panjang dan kuat, jeritan itu bahkan hanya butuh hitungan detik untuk memberikan dampaknya bagi cowok yang pulas itu. Membuat ia mau tak mau meringis seraya mengusap telinganya. Pun terdengar bergumam. Reaksi alamiah semua orang tatkala merasa tidurnya diusik. Perlahan, layaknya itu adalah adegan slow motion di film-film, Elzi melihat bagaimana bulu mata cowok itu tampak bergerak-gerak. Untuk kemudian, kelopaknya pun membuka. Tepat di depan mata Elzi. Hingga tak mampu dihindari lagi, dua pasang mata langsung beradu dalam satu tatapan yang lurus. Hening sejenak .... Kedua pasang mata itu mengerjap sekali. Untuk kemudian, saling menatap lagi. Seperti mereka berdua adalah sistem komputer yang sedang mengalami bug. Seolah masing-masing dari mereka perlu waktu sejenak untuk mencermati keadaan kala itu. Elzi menahan napas. Layaknya ia yang tengah menunggu, kejadian mengejutkan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Yang disertai oleh pengharapan. Mungkin saja ia benar-benar mabuk. Tapi .... “Zizi ....” Tidak ada halusinasi. Tidak ada mabuk. Karena mungkin mata bisa ditipu, tapi suara itu jelas bukan suara bantal atau pun guling. Suara itu terdengar berat dan dalam. Sudah lebih dari cukup untuk membuktikan pada Elzi bahwa bukan hanya dirinya yang berbaring di kasur itu. Alih-alih, ada seorang cowok yang bersamanya. Seseorang yang selalu memanggilnya dengan cirinya sendiri. Dan untuk sekejap mata, seperti ada hantaman tak kasat mata yang terasa bagai menimpa Elzi. Atau seperti ada sentilan yang membuat jantungnya berdenyut dalam rasa yang tak nyaman. Lebih dari itu, dari semua kesan sesak yang ia rasakan, Elzi sama sekali tidak pernah mengira bahwa akan ada masa di mana ia mendengar panggilan itu kembali. Setelah sekian lamanya. Setelah bertahun-tahun. Dan itu ... harus Elzi akui. Bahwa ia benci mendengar bagaimana ternyata suara cowok itu masih tidak berubah mengiramakan namanya. Hingga kemudian, menyingkirkan semua hal itu dari benaknya, Elzi justru mendapati bagaimana hanya ada sorot kosong di tatapan cowok itu. Layaknya ia yang masih belum sadar dengan situasi yang terjadi pada mereka berdua. Dan seperti ingin mempertegas ketidaksadarannya, di detik selanjutnya, ia justru bertanya. “Kamu kenapa ada di sini?” Namun, Elzi tidak sempat menjawab. Karena selanjutnya mata cowok itu tampak membesar. Tepat ketika ia melihat pada tangannya. Yang mendarat di atas bahu polos Elzi. Oke, tidak terlalu polos dengan fakta bahwa ada seuntai tali bra di sana. What?! Tali bra? Ben seketika syok. Buru-buru melepaskan tubuh Elzi. Sekarang sorot kosong di matanya menghilang. Tergantikan oleh emosi keterkejutan yang Elzo tolak untuk ia percaya. Wajah Ben memerah. Bangkit. Dan bertanya lagi dengan panik. “Ka-ka-kamu .... Kamu kenapa bisa ada di sini? Ya Tuhan. Kamu kenapa ada di sini?” Turut bangkit, Elzi meradang mendapati justru dirinya yang dicerca pertanyaan oleh cowok itu. Bukankah seharusnya sebaliknya? “Harusnya aku yang nanya gitu!” bentak Elzi murka. “Kamu kenapa ada di sini? Kenapa kamu ada di tempat aku tidur? Dasar b******n sialan!” Bersiap dengan semua kemungkinan yang bisa Ben katakan untuk membalas perkataannya, Elzi justru mengerutkan dahi dengan bingung ketika cowok itu justru diam. Nyaris tak bergerak. Bergeming. Bahkan matanya pun tampak tak berkedip. Heran mendapati respon diam Ben ketika ia justru membentak dan mengumpatinya, Elzi lantas menyadari bagaimana Ben yang tampak tidak menatap pada matanya, layaknya orang yang sedang berbicara pada umumnya. Melainkan menatap ke arah lain. Tempat yang kemudian Elzi ikuti. Demi mengetahui penyebab diamnya Ben. Dan pada akhirnya, Elzi paham. Mengapa bisa cowok itu diam! As-ta-ga! Elzi duduk hanya dengan mengenakan bra. Selain itu, tak ada lagi yang menutupi tubuh polosnya. Dan wajar saja kalau Ben jadi bergeming. Cowok normal mana yang masih berkedip kalau ada tampilan nyaris bugil seorang cewek di depan matanya? Lagi-lagi Elzi menjerit histeris. Mengumpati dirinya berulang kali karena lalai menahan selimut di tubuhnya. “Dasar b******n mesúm!” Elzi membentak Ben. Seraya menyambar selimut dan menghalangi pandangan cowok itu ke tubuhnya. Walau ironis, satu suara terdengar seolah mengejek di benaknya. Emang ngaruh ditutup lagi, Zi? Dengan keadaan kalian berdua yang kayak gini, dijamin Ben pasti udah ngeliat semuanya. Bahkan dijamin. Pasti lebih dari ngeliat doang. Meremas tepian selimut di depan dadanya sekuat tenaga, mata Elzi lantas memejam. Hanya untuk menggeram dengan penuh kemarahan. “Aaarghhh!!!” Reaksi Ben untuk emosi Elzi itu, alamiah sekali. Ia gugup. Tampak salah tingkah. Namun, itu bukannya membuat Elzi tenang. Yang terjadi justru sebaliknya. Please, Zi. Nggak usah ketipu lagi sama tampang sok alim dia. Sekali kamu mikir dia udah berubah, dijamin! Kamu bakal terjatuh lagi! Elzi jelas sekali tidak bisa tenang. Alih-alih, ketakutan perlahan mulai tampak memunculkan wujudnya di wajah cantik itu. Dengan satu pemikiran yang alamiah sekali. Ya Tuhan. Dengan semua ini, gimana kehidupan aku selanjutnya? A-aku .... Gimana bisa aku terjebak dalam keadaan kayak gini? Karena jelas, tampilan dadá polos Ben yang bidang dan tampilan otot di perutnya, sukses membuat kepanikan Elzi bertambah berkali-kali lipat! “Zi ....” Lirihan pelan Ben sontak membuat Elzi berpaling. Dengan ekspresi menakutkan di wajahnya. Seperti ia yang siap untuk menelan Ben bulat-bulat! “Aku nggak tau kenapa kita bisa kayak gini.” Tak ingin, tapi sungguh. Perkataan Ben yang terkesan sok polos itu membuat Elzi melongo. Disertai dengan mual-mual di perutnya. “Hah? Nggak tau? Kamu bilang kamu nggak tau? Nggak tau? Ya ampun. Terus yang kamu tau apa? Hukum phytagoras kamu tau?!” Ben salah tingkah. “Bukan gitu maksud aku. Tapi ....” Ia menghirup napas dalam-dalam. “Aku tadi kayaknya sedikit mabuk. Jujur aja, aku nggak ingat banyak.” lanjutnya sambil mengingat. “Dan ....” Ben tak melanjutkan perkataannya. Karena sejurus kemudian, Elzi kembali memejamkan mata. Seolah ia yang menolak untuk melihat kenyataan kala itu. Dasar alkohol b******n! Siapa sih pencetus minum alkohol?! Udah cukuplah alkohol itu jadi bahan sterilisasi! Jangan dipake buat minum-minum! Aaargh! Dan rasa geram itu, pada akhirnya bermuara pada kesedihan yang tak mampu Elzi tahan. Menimbulkan buliran air mata yang perlahan merembes di balik kelopak matanya. Mendobrak pertahanan Elzi. Jatuh dalam bentuk tangisan yang membuat Ben membeku. “Zizi ....” Tak disangka, bahkan mungkin oleh Elzi dan para setan di dunia, Ben meraih tubuh Elzi. Membuat mata yang berlinang air mata itu menyiratkan sorot syok. Ingin menarik diri, namun Elzi mendapati bagaimana tangan Ben memiliki kekuatan yang tak mampu untuk ia lawan. Hingga pada akhirnya, kepalanya pun mendarat di dadá yang bidang itu. Pun diikuti oleh tangan Ben yang lantas mengelus kepalanya. “Aku minta maaf. Aku tau permintaan maaf aku nggak bakal ngubah keadaan. Tapi, aku serius. Aku minta maaf.” Bisikan pelan di telinganya, membuat Elzi terdiam. Tak mengatakan apa-apa. Karena alih-alih masih merasakan kemarahan terhadap Ben, sekarang Elzi justru merasakan hal lainnya. Yaitu kedinginan yang penuh dengan aura ketakutan. Yang perlahan mulai merambah ke seluruh saraf tubuhnya. Dengan satu pertanyaan. Seolah sedang mempertanyakan takdir. Tuhan, salah aku apa? Kenapa aku harus terjebak lagi dengan cowok ini? Sementara itu, mendapati Elzi yang tidak bersuara untuk merespon permintaan maafnya, tentu saja membuat Ben tak tenang. Maka selanjutnya, cowok itu mengangkat dagu Elzi dengan jarinya. Membawa tatapannya untuk melihat ke dalam mata bening cewek itu. Ia mengembuskan napas pelan. “Zi, tenanglah. Just relax,” kata Ben kemudian. “Mungkin yang kita pikirkan nggak terjadi.” Elzi melongo. “Hah? Yang kita pikirkan?” tanyanya dramatis. “Emangnya kamu tau apa yang aku pikirkan?” Tentu saja tidak sulit menebak arah pikiran Elzi. Berdasarkan keadaan mereka berdua yang tanpa pakaian, berada di kasur yang sama, di balik selimut yang sama, dan sambil berpelukan, tentu saja muara dugaan hanya tertuju pada satu hal. Yaitu, sadar atau tidak, mereka berdua sudah melakukan hubungan intim. Namun, entah apa yang dipikirkan oleh Ben ketika ia justru berkata. “Aku tau, Zi. Tapi, mungkin aja nggak ada yang terjadi di antara kita. Kan ... bisa saja kita berdua cuma tidur bareng.” Mendengarkan perkataan itu, alih-alih membuat Elzi merasa tenang. Sebaliknya, ia justru menggeram. Dan Ben jelas tau itu, karena sedetik kemudian mata Elzi yang sempat meredup karena ketakutan, tampak berubah. Meradang dengan menyorotkan beragam kemarahan. Ben buru-buru menjernihkan perkataannya. “No no no. Tidur bareng maksud aku ya tidur. I mean, we fell asleep. Okey? Bukan ....” Ben meneguk ludahnya. “It's not like we had sex.” Mata Elzi semakin melotot dan Ben dengan cepat kembali berkata. “Mungkin kita nggak ngelakuin apa-apa. Ya kan? Bisa aja. Semua hal tetap ada peluangnya.” “Oh, sekarang kita membahas soal peluang?” Dramatis, Elzi memejamkan matanya untuk beberapa saat. Seperti tengah berusaha menenangkan dirinya. Alih-alih kembali menjerit histeris dengan lebih kuat lagi. “Jadi, bisa kamu jelasin kenapa keadaan kita seperti ini kalau kita memang ...” Elzi merasakan bagaimana napasnya terasa sesak saat ini. Suaranya rendah, tapi tajam mendesis ketika melanjutkan perkataannya. “... did nothing? Dengan keadaan aku yang nyaris telanjang? Di atas kasur dengan kamu?! Dan kamu juga nggak pake pakaian?!” Mata Elzi menajam. “Menurut kamu, kita kepanasan terus buka baju bareng biar nggak gerah gitu?! Terus kita main peluk-pelukan biar kayak yang akrab gitu?! Iya?! Kamu pikir kita Laa-Laa dan Tinky Winky yang hobinya berpelukan?!” Ben menghela napas panjang. “Sabar, Zi.” “Gimana aku bisa sabar kalau keadaannya kayak gini?! Aku bukan turunan Bunda Teresa yang bisa sabar! Aku cuma cewek biasa yang bersumpah akan ngebunuh kamu hidup-hidup dengan cara yang paling bar-bar!” “Oke oke. Coba kita cek dulu. Kita lihat apa kita memang melakukannya atau emang cuma sekadar tidur bareng. Seharusnya ada sesuatu di kasur ini yang membuktikannya,” ujar Ben kemudian. “Nyaris naked dan berdua di atas kasur belum tentu menjadi bukti kalau kita berdua making love. Yaaah ... kemungkinan kita cuma gerah tetap ada peluang. Walau cuma 0,1%.” “Nyaris naked? Making love?” tanya Elzi histeris. “There’s no love!” Dan tanpa sadar wanita itu mengangkat tangan, mengepalkannya dan mendaratkan tinju pelampian pada dadá Ben. Ben dengan sigap menangkap tinju itu. “Kita selesaikan dulu ini, Zi. Baru abis itu kalau kamu emang mau mukul aku ya ... pukul. Terserah.” “Kalau memang terbukti, aku janji. Bukan pukulan yang bakal aku berikan ke kamu. Tapi, kematian!” Elzi menggigit bibir berusaha menguatkan hati. “Dasar b******n!” umpatnya sambil bangkit. Menyadari bahwa tubuhnya polos tanpa ada pakaian selain bra yang melekat, membuat Elzi tidak akan abai untuk menutupi hal tersebut dari mata Ben. Tentu saja dengan selimut yang mereka gunakan kala tidur tadi. Namun, ketika Elzi berdiri bersama dengan selimut itu, sontak saja ia memekik. Tepat ketika melihat satu pemandangan polos lainnya yang tidak ia perkirakan sebelumnya. “Ada hidung Squidward! Aaah!!!” Mata Ben melotot syok. “A-a-apa?” tanyanya tergagap. “Hidung Squidward?” Ben melihat ke bawah. Ke tempat di mana Elzi melihat sebelum pada akhirnya ia menjerit histeris kembali. “Wah! Kamu bilang ini hidung Squidward? Hah! Kamu nggak tau kalau yang kamu bilang hidung Squidward ini bisa berubah bentuk jadi tombak trisula Aquaman?” Berusaha untuk tidak mendengar perkataan Ben, Elzi pun berupaya menutup telinganya. Pun menutup matanya. Di dalam hati berdoa agar tampilan polos Ben yang sukses masuk ke retinanya, bisa ia enyahkan dari dalam pikirannya. Astaga. Tampilan polos! Tentu saja. Karena hanya itulah satu-satunya alasan mengapa Elzi sampai bisa melihat hidung Squidward di sana. Ya ampun. “Di-di-diam kamu! Jangan ngomong yang aneh-aneh. Dasar prikopat mesúm! Cabúl!” geram Elzi dengan wajah yang terasa panas. “Dasar hidung Squidward.” Kali ini, Ben mau tak mau ikut-ikutan memejamkan mata. Karena jelas sekali. Dadanya mendadak terasa panas karena lagi-lagi mendengar istilah itu. Hidung Squidward? Ya ampun. Yang benar saja. Mana ada cowok yang mau organ intimnya disebut dengan istilah menggelikan seperti itu? Tentu saja tidak ada. Dan itu, jelas termasuk Ben di dalamnya. Hingga wajar saja bila pada akhirnya rasa sabar yang berusaha untuk ia pupuk sejak tadi, sirna. Lenyap tak berbekas sedikit pun. “Hidung Squidward? Ehm ... kamu beneran mau ngeliat bukti kalau hidung Squidward ini bisa berubah bentuk jadi tombak trisula Aquaman? Iya? Hah! Aku bilangin ya. Tujuh samudra bakal badai tsunami kalau dia sudah berubah bentuk!” “Aaah!” jerit Elzi. “Berenti! Dasar cabúl! Mesúm! Nggak otak nggak penampilan kamu, semuanya nggak ada yang beres! Berenti ngomong yang aneh-aneh!” Kembali, Ben tercengang dengan perkataan Elzi. Hingga pada akhirnya ia geleng-geleng kepala. “Ternyata, setelah sekian lama kita nggak ketemu, kamu emang nggak berubah. Mulut kamu itu memang ....” Ben tak mampu meneruskan perkataannya. “Wah. Dan tadi kamu ngomong apa? Penampilan aku nggak beres?” “Emang! Otak dan penampilan kamu sama nggak beresnya!” “Ha ha ha ha. Memangnya penampilan kamu udah beres sampe ngomong penampilan aku nggak beres? Dengan selimut yang menutupi dadá, sementara dua bokοng kamu ke mana-mana? Itu menurut kamu beres? Aku bahkan bisa ngeliat ada tahi lalat di bokοng kamu!” What? “Siapa sih yang nggak beres?” “Stop!” Elzi meradang. Menyadari bahwa ia yang terlalu emosi hingga hanya fokus dengan tubuh bagian depannya dan melupakan bagian belakangnya. Hiks. Entah sudah berapa lama Ben memanfaatkan hal tersebut. Buru-buru membalikkan tubuhnya, memastikan bahwa sekarang tak ada lagi tubuhnya yang bisa dilihat cowok itu, Elzi mendapati bagaimana sekarang Ben sudah berdiri di hadapannya. Terpisahkan oleh tempat tidur, tampak telah mengenakan celana dalamnya yang bertipe low-rise briefs. Hal yang tentu saja membuat Elzi jengah. Karena jelas celana dalam itu membuat bagian intim Ben tampak menakutkan di mata Elzi. Dan melihat reaksi itu, Ben menyeringai. “Jangan sampe kamu ileran ngeliat hidung Squidward, Zi.” Astaga! * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas,  karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD