Bab 3. Asisten Baru

1693 Words
Keluarga Linardi berkumpul bersama setelah makan malam. Kenzo membiasakan kebiasaan bercengkrama dengan anak-anaknya setidaknya sejam setelah makan malam. Agar mereka semua selalu dekat satu sama lain. Joel adik Jojo berusia 23 tahun, duduk di samping Jojo sambil menyandarkan pelipisnya di bahu sang kakak dengan manja. Menikmati empuknya lengan kekar kakak kesayangannya yang tidak akan menyakitinya. “Haishh, loe berdua tiap ketemu udah kayak perangko aja. Nempel terus.” Protes Jason, adik bungsu Jojo, dirinya yang selalu kesal melihat kemanjaan kakak perempuannya ini. “Biarin aja napa, loe sirik aje. Sini, mau gua peluk bilang aja. Jangan giliran mau menghindar dari cewek baru pelak pelok gue.” Balas Joel dengan wajah menantang sang adik. Sedangkan Jojo yang kecilnya selalu banyak bertanya karena rasa penasarannya, ia tumbuh menjadi pemuda tampan irit bicara. Sikap dinginnya kerap menjadi pujaan sekaligus menakutkan bagi kaum wanita yang ingin mendekatinya “Biarin aja, Jas. Nanti kalau dia punya pacar juga, udah ngak gelendotan gini sama gua, kita udah dilupain ke awing-awang.” Goda Jojo sambil tertawa cengengesan. “Bener tuh, Jo. Buktinya, sekarang aja, Joel udah jarang banget manja-manjaan sama Daddy. Jangan-jangan udah punya pacar tapi ngak berani ngenalin.” Kenzo ikutan menggoda putrinya. “Kok jadi Joel sih yang jadi korban hari ini. Daddy juga ikut-ikutan deh. Gara-gara loe sih, Jas.” Joel menggeser duduknya mendekati Jason, lalu mengelitik pinggang Jason yang diketahui sebagai titik kelemahan sang adik. “Loe mau gua gelendotan sama loe. Nih, rasain loe. Biar sakit perut sekalian.” “Hahahaha, ampun, Kak. Gila! Geli banget. Ampun, ampun. Mommy, Daddy, Oma, Opa, tolongin Jason dong.” Kenzo, Karisa dan dua orang tua Kenzo hanya terkekeh melihat kehangatan anak-anak dan cucu-cucu mereka. Setelah puas membuat Jason tertawa sampai lemas, Joel berpindah lagi duduknya. Kali ini di samping Kenzo dan bersandar manja di bahu daddynya. “Daddy itu tetap cowok paling ganteng buat Joel. Jangan ngambek yah. Kalau marah, nanti Joel suruh Mommy rayuin deh, pasti klepek-klepek.” Goda Joel dengan wajah usilnya. Karisa menatap putra sulungnya yang sedang melamun sejenak. “Jo, kok bengong. Mikirin siapa?” “Ah, ngak Mom.” “Jo, di acara nanti, Mommy mau ngenalin kamu sama anaknya sahabat mommy. Kamu coba deketin dia, orangnya cantik, baik, pintar. Umurnya sama Joel cuma beda beberapa bulan saja. Siapa tau kalian cocok.” Jojo menghela nafas panjang. Ini bukan kali pertama sang mama menawarkan dirinya berkenalan dengan beberapa anak gadis dari teman-temannya. “Mom, aku bisa cari sendiri, ngak usah dikenalin terus. Lagian umur aku juga belum 40 tahun. Aku masih mau belajar bisnis di Yayasan Daddy. Kenalin ke Jason aja, Mom.” “Hush, ngaco kamu. Umurnya lebih cocok sama kamu daripada Jason dong. Lagian adik kamu itu, lulus aja belum. Habis kuliah, lanjut S2 dulu.” Sanggah Karisa. “Lagian, dijodohin itu ngak ada salahnya kok. Kadang pilihan orang tua itu lebih bagus, karena mereka lebih pengalaman. Bener ngak, Ma?” Karisa mencoba mempengaruhi pemikiran putra sulungnya. “Betul, dulu mommy sama daddy kamu juga Oma yang jodohin. Akhirnya liat deh, daddy kamu bucin akut ke mommy kamu.” Jawab Bu Susi membenarkan peryataan menantunya. (Baca: Guruku mamahku.) Joel baru saja lulus, akan terbang ke Sydney untuk melanjutkan gelas S2 nya di sana bulan depan karena beasiswanya diterima. “Daddy sama Mommy akan menemani Joel di Sydney selama sebulan di sana. Jadi, kamu yang bertanggung jawab di sini buat jagain Oma sama Opa dan Jason.” Perintah Kenzo. Mendengar namanya disebut, Jason segera mengajukan protesnya. “Loh! Kok aku mesti dijagain sama Kak Jojo sih, Dad. Yang ada, aku yang mesti jagain Kak Jojo tuh dari serangan cewek-cewek ganas yang suka datang ke kantor.” “Loe itu bukannya jagain Kak Jojo dari serangan cewek, tapi, loe itu jadi tameng biar para cewek beralih naksir ke loe. Seneng mah ngaku aja.” Goda Joel ke adiknya. Pak Ferri tertawa setiap kali melihat ketiga cucunya sedang adu mulut mesra. Ada rasa haru sekaligus syukur melihat kehangatan dalam keluarganya. Putri angkat mereka, Bianca tinggal bersama suaminya sejak menikah. Kemudian, ia teringat dengan James sahabat sekaligus besannya. “Jo. Opa James di sana sehat kan?” “Sehat, Opa. Aku lega diusia Opa James masih bisa mendapatkan teman hidup di sana. Setidaknya dia ngak kesepian waktu aku pulang ke Indonesia.” Hampir jam 9 malam, semua anggota keluarga Linardi kembali ke kamar masing-masing. Jojo mengecek laporan yang masuk di emailnya. Selain memegang perusahaan Linardi dan perusahaan Opa James, Jojo juga mempunyai usaha sendiri di bidang peralatan pendidikan bersama ketiga temannya. Mereka dijuluki sebagai tiga sekawan karena ketampanan, kepintaran dan kekayaan yang mereka miliki. Tok tok tok Karisa mengetuk pintu kamar putra kesayangannya dan masuk ke dalam. “Yes, Mom.” “Kamu masih sibuk, Jo?” “Ngak juga. Jo lagi meriksa laporan PT. JRT. Besok kita mau wawancara karyawan baru, trus kita mau meeting untuk bahas terobosan produk baru.” Karisa duduk disamping putranya sambil membelai kepala Jojo dengan lembut. “Masih muda, cari uang yang banyak, boleh banget. Asal jangan lupa jaga kesehatan kamu. Coba aja kamu udah punya istri, pasti kamu ngak jadi work alcoholic kayak sekarang.” Jojo yang mengerti arah pembicaraan sang mama hanya menghembus nafas panjang. “Mom, susah cari istri jaman sekarang yang kayak Mommy. Cantik, baik hati, pintar dan pastinya cinta Mommy itu tulus buat aku. Walaupun Mommy Ica bukan ibu kandung Jojo, but I love you so much more than anything.” “Artinya, kamu mau dong Mommy jodohin kalau Mom bisa dapetin criteria seperti mau kamu.” Menghela kembali nafas panjangnya, merasa tidak akan menang berargumen dengan sang mama. “Terserah Mom aja deh. Jo mikirin usaha dulu sekarang.” Karisa tersenyum memaknai satu langkah kemenangannya merayu sang anak untuk mau menerima perjodohan yang sudah ia atur dengan sahabatnya. Telepon Jojo bordering, panggilan video call dari grup tiga sekawan. Tommy: “Jo, besok loe yang mimpin wawancara yah.” Jojo: “Haish, males amat sih, Revan aja deh.” Revan: “Udah deh, Jo. Loe aja. Cantik orangnya, waktu wawancara pertama, loe kan ngak hadir. Sekarang gentian loe. Siapa tau selain jadi asisten, dia bakalan jadi bini loe.” Jojo: “Sompret, loe berdua yah. Ya udah, besok deh liat orangnya. Kalo menurut loe berdua oke, yah udah, terima aja.” Revan dan Tommy: “Oke, Bye.” *** Cika dan Nathan merasa bersyukur karena putrinya selamat dari seorang Randy. Untung saja, mereka selalu mengajarkan anak mereka tentang makna pernikahan dan melarang pergaulan bebas. “Makanya, dari dulu mau dijodohin sama Mommy, ngak mau nurut sih.” Cika menasehati putrinya yang sedang cemberut kesal. Nadia sudah tidak lagi merasa sakit hati ataupun sedih, ia juga bingung, mengapa reaksinya tidak seperti cerita-cerita di novel yang mengatakan kalau orang patah hati itu butuh waktu lama untuk sembuhnya. Bahkan, Nadia sudah memblokir kontak Randy dan Luna. “Ish, Mom. Udah deh ah. Dia masih kesel sama masalah sendiri, eh masih aja bahas jodoh-jodohan.” “Sekarang nolak, nanti pas udah nikah, jangan-jangan kamu yang bucin.” Goda Nathan Setelah sampai rumah, Nadia memberitahu Vita dan Diana alasan dirinya pulang. Akibatnya, Vita dan Diana bertengkar hebat dengan Luna selama perjalanan pulang mereka dari Jepang. “Vit, kan yang punya masalah gua, Randy sama Luna. Kenapa loe sama Diana ikut-ikutan gencatan senjata sih. Jangan lah.” Nadia melakukan panggilan dengan Vita dan Diana sebelum ia tidur. “Bodo amat, gua udah curiga sama si Luna gatel itu, soalnya gua pernah liat mereka pelukan waktu mereka ijin ke toilet di Jepang. Gua pikir apa gua yang salah liat, eh tau-taunya, temen makan temen.” Jawab Diana dengan nada sengitnya. “Yah udahlah. Jangan bahas mereka lagi. Mendingan kalian doain gua biar gua diterima yah besok.” “Amin.” Jawab Vita dan Diana bersamaan. Pagi itu, Nadia bergegas ke perusahaan incarannya. Dirinya optimis akan diterima kerja di perusahaan ini. Nadia adalah seorang gadis dengan otak encer. Diusianya yang ke 21 tahun, ia sudah lulus kuliah. Selama kuliah, ia magang di beberapa tempat sampai akhirnya menjadi seorang asisten manajer selama 2 tahun setelah ia lulus. Kali ini ia akan mencoba peruntungannya dengan melamar menjadi seorang asisten CEO di perusahaan tersebut. .Berada di depan resepsionis untuk kedua kalinya, Nadia tersenyum manis untuk menyapa dengan sopan. Terlihat nama resepsionis itu di pin yang menempel diseragamnya. “Selamat pagi, Mbak Marina. Saya ada janji wawancara ke 2 hari ini. Nama saya Nadia Nataka Haryono.” “Pagi, Mbak Nadia. Sudah ditunggu sama CEO kita di ruangannya yah.” Mbak Marina, memanggil security khusus lobi CEO untuk mengantar Nadia, karena lift ke ruang direksi berbeda dengan lift untuk karyawan. “Pak Handy, tolong antar Mbak Nadia ke ruang direksi yah.” “Baik. Mari, Mbak Nadia. Ikut saya.” Nadia mengikuti Pak Handy kea rah lift yang dimaksud, ternyata harus menggunakan kartu akses khusus untuk membuka lift tersebut. Setelah pintu terbuka, Pak Handy mempersilahkan Nadia. “Silahkan, Mbak. Nanti tekan tombol P saja, lift langsung menuju ruang direksi. Ada sekretaris, namanya Mbak Lolita.” “Baik, terima kasih, Pak Handy.” Nadia melangkah keluar dan dengan mudah melihat sekretaris yang sudah menunggunya. “Mbak Nadia, silahkan masuk. Sudah ditunggu sama direksi, ternyata mereka datang pagi sekali hari ini.” “Oh, artinya saya belum terlambat kan, Mbak? Soalnya waktu janji wawancara sebelum jam 10, ini masih 30 menit lagi.” “Iyah, Mbak. Langsung masuk saja yah.” Lolita membukakan pintu direksi, Nadia melihat 2 orang pria tampan duduk di sebelah kiri dan kanan. Sedangkan tengah ujung ruangan itu, mejanya masih kosong. “Kamu dengan Nadia yah?” Tanya Revan. “Iyah, Pak. Betul.” “Oke, kalau saya dan Pak Tommy sudah setuju supaya kamu diterima kerja jadi asisten kami. Kita tinggal menunggu jawaban dari teman kami satu lagi. Sebentar lagi dia masuk.” Seseorang membuka pintu ruangan mereka. Nadia memutar tubuhnya untuk menyapa seseorang yang ia yakini sebagai pemimpin tertinggi di perusahaan ini yang menempati meja tengah itu. “Hei! Kok Kamu!” “Loh, kok Loe sih!” Sapa Nadia dan Jonathan bersamaan karena terkejut. Mata Revan dan Tommy saling berpandangan saat melihat reaksi Jonathan bertemu dengan asisten baru mereka. Tatapan mereka seakan sedang bertelepati, akan ada pertunjukkan seru pagi ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD