Bab 4. Setan Jutek

1670 Words
Nadia masih menatap sengit ke wajah Jonathan tanpa berpikir mengapa laki-laki tersebut bisa ada di kantor tempatnya bekerja, begitu juga sebaliknya mata Jojo menatap seakan ingin menelan gadis dihadapannya ini.. “Kamu kok bisa sampai sini?” “Gua mau wawancara lah, ngapain lagi.” Mulut Revan menganga saat mendengar Nadia, calon asisten mereka dengan lantangnya menjawab ketus pertanyaan seorang Jonathan yang terkenal bertangan dingin. Namun, dengan cepat Revan menyadari sesuatu dan terkekeh sendiri. Nadia menyadari kalau laki-laki dihadapannya ini tidak mungkin datang ke ruangan yang sama hanya karena iseng. Apalagi untuk sampai ke sini memerlukan kartu akses, yang artinya pria mulut bawel menyebalkan dihadapannya ini pasti orang itu. ‘Mateng gua. Jangan-jangan dia..’ Gumam Nadia sambil memukul dahi dengan telapak tangannya sendiri. “Ehm, jadi meja di tengah itu punya loe?” Tanya Nadia terbata-bata. Jonatahan meletakkan kedua tangannya disamping saku sambil mengangguk dengan tatapan menusuk, memperlihatkan aura keangkuhan di sinar mata tersebut.. “Jadi, loe itu CEO disini?” Revan dan Tommy tidak bisa lagi menahan rasa geli mereka dengan pertunjukkan lucu pagi ini. Ditambah dengan melihat raut wajah sahabat mereka yang memerah menahan emosi. “Dia itu Jonathan, CEO di sini. Pemilik saham terbesar di PT JTR.” Tommy semakin gemas mengerjai Nadia yang sudah terlihat menahan malu dengan sikapnya barusan. ‘Kenapa mesti dia sih orangnya. Udah gua judesin pula di depan petinggi lain. Duh, Nadia, Nadia. Loe bego banget sih.’ Revan akhirnya memecah suasana kikuk dan lucu antara Jojo dan Nadia. “Jo, ini Nadia, calon asisten kita semua. Gua sama Tommy udah setuju, tinggal keputusan loe sekarang.” Jonathan berjalan santai ke meja kerjanya sambil membuka berkas Nadia yang sedari tadi belum sempat ia buka. Membaca sejenak CV yang dibuat Nadia. “Kamu lulus umur 21 tahun? Trus, kamu yakin bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan sebagai asisten kami semua? Kayak kurang matang aja secara karakter kalau dilihat dari umur.” Andaikan ada alat mendeteksi emosi seseorang, mungkin alat itu akan mendeteksi kepala Nadia yang saat ini sedang berasap, menahan diri untuk tidak mengucapkan sumpah serapah kepada cowok ganteng sekaligus arogan dihadapannya ini. Memejamkan mata sejenak sambil menarik dalam nafas dan menghembuskannya. Nadia membuka matanya dengan tatapan tegas menyalak. “Usia saya memang baru 23 tahun, tapi pengalaman saya boleh diuji dengan mereka yang bekerja lama.” Jojo berulang kali mencecar pertanyaan-pertanyaan sulit kepada Nadia, dan dengan mudah dan tenang gadis itu menjawabnya. Walau rasanya Nadia ingin sekali mencungkil mata elang Jonathan saat ini. “Kita akan meluncurkan produk alat tulis teknologi baru. Menurut kamu, bagaimana membuat nilai produk lama yang serupa bisa tetap imbang dengan yang terbaru?” Revan dan Tommy mengangguk-angguk, merasa pertanyaan Jonathan sangat bagus sekali. “Setiap produk mempunyai ciri khas dan nilai tersendiri pastinya. Tidak ada istilahnya keluaran produk lama akan musnah kalau teknologi baru muncul. Yang ada hanyalah pergeseran kebutuhan saja. Kita harus melihat dahulu segmen kebutuhan masyarakat setiap produk yang akan dipasarkan, baru bisa kita tetapkan langkah pemasaran di pasaran nanti. Misalnya untuk pensil grafir ini, harganya pasti mahal. Kita pasarkan dikalangan mahasiswa senirupa ataupun kalangan perusahaan dengan background serupa. Kita juga bisa bekerja sama dengan pameran yang berkaitan dengan kesenian, atau mengadakan bazaar di kampus-kampus. Itu menurut saya. Pak.” Revan dan Tommy bertepuk tangan mendengarkan jawaban Nadia. “Loe masih meragukan kemampuan dia, Jo?” Goda Tommy yang sangat jelas menyadari sikap Jojo saat ini sangat berbeda dari biasanya. Merasa tidak dapat mengelak kalau Nadia adalah gadis cerdas dengan usianya yang masih terbilang muda. Jojo harus mengakuinya sendiri. “Oke, kamu diterima kerja. Hari ini kamu minta sama Lolita semua proyek kita, kamu boleh pelajari di rumah. Dan besok kamu sudah bisa bekerja di sini.” Revan mengangkat telepon dan menghubungi sekretaris mereka. “Lita, kamu siapkan semua proyek kita ke Nadia, trus kamu minta Pak Handy untuk membuatkan 1 kartu akses untuk Nadia.” Bernafas lega, akhirnya perjuangan seorang Nadia untuk bisa diterima di posisi ini tercapai juga. Walaupun ia harus menjawab pertanyaan bernada tidak menyenangkan dari seorang Jojo. “Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya ke Mbak Lolita untuk meminta data proyek dan pamit pulang.” Baru saja Nadia berbalik melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan. Suara Jojo menghentikan langkahnya. “Tunggu dulu.” Nadia mengeram kesal dengan suara perlahan, kemudian berbalik badan. “Saya berubah pikiran. Kamu lihat file nya di sini saja, jangan di bawa pulang. Besok kamu akan duduk di sebelah meja Revan.” Seketika itu juga, Revan dan Tommy mengerutkan dahi mereka. “Baik, Pak. Saya akan bertanya sama Mbak Lolita. Permisi.” Setelah Nadia keluar ruangan, Revan menanyakan rasa penasarannya. “Ngapain si Nadia loe suruh kerja diruangan kita juga? Ngak salah loe?” Tommy tersenyum usil, pikirannya seakan sedang menerawang rencana sahabatnya ini. “Pasti dia mau berduaan sama Mbak Nadia tercintahh, biar makin kenal luar dalam. Apalagi, kita berdua jarang ke kantor ini, Van. Masa loe ngak nyadar sama siasat dia.” “Bener juga, kata loe, Tom.” “Gua suruh dia diruangan ini biar gampang kalau kita mau minta data dan lainnya sama dia. Nadia bakalan jadi asisten kita kan? Artinya bukan cuma kerjaan gua doang, tapi buat bantu loe berdua juga kan. Yang minta asisten selama ini loe berdua kan? Sekarang udah dapet, loe permasalahin lagi. Mau dibatalin juga gua ngak masalah.” Dengan tegas, Jojo membalas ledekan kedua sahabatnya tanpa ekspresi sama sekali.. “Yakin, loe? Cuma karena itu aja? Kalau loe demen juga kita ngak masalah.” Jojo tidak beraksi dengan candaan Revan. Melihat Jojo tidak merespon, Revan mengangkat sebelah alisnya ke Tommy untuk kembali menggoda sahabat mereka, yang segera dimengerti oleh Tommy. “Kalau loe kagak suka, artinya gua punya kesempatan dong buat deketin Neng Nadia.” Goda Tommy dengan senyuman usilnya. Dengan posisi duduk yang sama, kepala Jojo tidak bergerak, hanya kelopak matanya yang memancarkan aura mematikan ke arah Tommy. Dan ditanggapi dengan tawa geli Revan dan Tommy. “Jo, Jo. Kita ini sahabatan dari kecil. Sifat kita juga sebelas dua belas soal ngadepin perempuan. Mulut loe boleh bilang ngak suka, tapi mata loe itu beda.” “Terserah kalian. Nanti suruh OB (Office Boy) buat siapin meja Nadia. Per siang ini kita mulai training dia.” Revan memperjelas perintah Jojo barusan. “Maksudnya, loe kan yang trainingin dia. Gua mah tingga nerima laporan aja lah.” Emosi Jojo sudah semakin naik menghadapi dua teman usilnya. Rahangnya mengeras sambil mengepalkan genggaman tangannya. “Udah, tadi katanya mau meeting. Jangan karena Neng Nadia, kita ngak jadi meeting, trus ribut. Gua masih harus ke perusahaan bokap nih.” Tommy berusaha mempercepat waktu agar tidak membuat jadwalnya berantakan. Tiga sekawan tersebut, memutuskan makan siang di dalam ruangan mereka sambil meneruskan meeting bulanan. Nadia diajak Lolita untuk makan siang bersama. “Dia, enaknya kerja di ruang direksi salah satunya ini. Makan siang kita gratis, jadi hematan. Karena tugas kita ini kejar-kejaran dengan waktu, makanya kita berdua terpaksa makan siang di kantor.” Nadia mengendus cemberut. “Trus kita jadi ngak bisa punya temen dong, Mbak.” Lolita terkekeh melihat wajah cemberut rekan barunya ini. “Kalau lagi ngak ada bos. Gua suka makan bareng staf lain, trus makanan gratis ini buat makan malem deh. Nanti deh kalau loe udah mulai kerja, pasti ngerti maksud gua soal kerjaan kita ini. Bos kita itu baik kok, walaupun merasa kerja seharian, tapi mereka ngak mau kita sering lembur. Jadi masih aman lah buat gua yang udah berkeluarga gini. ”Oh, gitu yah, Mbak.” “Terus, karyawan disini tuh betah, karena bos memperhatikan kesejahteraan kita semua. Mulai dari asurasi kesehatan, THR, bonusnya bisa 3 kali lipat kalau perusahaan lagi untung besar. Setiap tahun ada acara kebersamaan, kita dikasih jalan-jalan ke luar kota.” Mata Nadia berbinar-binar membayangkan dirinya sudah tepat melamar di PT JTR. ‘Cuma satu aja yang bikin kepala gua mau pecah, yaitu si Jonathan bawel.’ Lolita mengangguk sambil tersenyum. “Pokoknya enjoy aja sama kerjaan kita, nanti juga terbiasa. Pak Jonathan itu ngak banyak ngomong, gua lebih nyaman sama Pak Tommy ataupun Pak Revan.” ‘Dih, siapa bilang ngak banyak ngomong. Bawel minta ampun, plus jutek lagi.’ Protes Nadia dalam hatinya. Nadia memberitahu mamanya kalau ia sudah diterima kerja, dan langsung mempelajari tanggung jawabnya hari ini. Setelah jam makan siang selesai, beberapa OB terlihat sedang masuk ke ruangan direksi sambil membawa meja kerja di dalam ruangan itu. Nadia dan Lolita yang sedang duduk di depan ruangan, mengerutkan dahinya sambil memikirkan alasan penambahan meja kerja di dalam ruangan itu. “Mbak Lolita, saya kerjanya di sini kan yah barengan sama Mbak?” “Iyah, Dia. Harusnya sih gitu, kan kerjaan kita saling berhubungan. “Trus, kenapa OB bawa-bawa meja masuk ke sana yah?” 30 menit kemudian para OB sudah keluar dari ruangan tersebut. Dua wanita di lantai direksi ini masih bertanya-tanya dalam hati. Lolita pun masih mengajarkan Nadia sistem perusahaan serta mengcopy file proyek yang mereka pegang serta daftar tenant besar mereka. Pukul 2 siang, Revan dan Tommy keluar dari ruangan mereka. Lolita segera berdiri saat menyadari kehadiran bos mereka. Tommy dan Revan menghampiri. “Kami sudah selesai, Lita. Jangan lupa untuk menyebarkan event kita untuk bulan depan.” Perintah Revan. “Baik, Pak. Sebelum sore ini segera saya kirim by email.” Tommy memberikan senyum manisnya ke arah Nadia, lalu memberitahukan sesuatu. “Nadia, kamu dipanggil Pak Jonathan ke dalam ruangan.” “Kenapa ngak telepon aja sih.” Gerutu Nadia dengan suara sepelan mungkin. “Tadi kamu bilang apa, Nad?” Tommy yang mendengar ucapan Nadia, semakin usil menggodanya dengan mencondongkan tubuh sambil meletakkan telapak tangannya di belakang telinga. Ketahuan dan malu dengan gerutuannya, wajah Nadia memerah. “Oh, ngak, Pak. Saya masuk menemui Pak Jonathan sekarang. Permisi.” Nadia cepat-cepat melangkahkan kakinya masuk karena salah tingkah. Merasa kikuk, sampai-sampai ia lupa mengetuk pintu sebelum masuk. “Bapak memanggil saya?” Jonathan yang terkejut dengan kehadiran Nadia secara tiba-tiba, menatap kesal hingga dahinya mengerut. “Siapa yang suruh kamu kemari. Ngak sopan, masuk juga tanpa ketuk pintu dulu. Keluar kamu, dan ulangi lagi dengan sopan!” ‘Argh!! Dasar setan jutek!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD