Nadia merasa kesal sekaligus malu dengan tingkah lakunya. Saat ia keluar, Lolita melihatnya dengan tatapan bertanya.
“Aku lupa ketok pintu, Mbak. Trus Pak Jonathan marah, suruh keluar lagi.” Nadia menjelaskan dengan wajah cemberut sambil menepuk keningnya.
Sedangkan Lolita terkikik geli membayangkan jika dirinya di posisi Nadia, pasti sangat memalukan.
Nadia mengetuk pintu lalu masuk perlahan, menghampiri Jonathan.
“Permisi. Bapak memanggil saya?”
“Siapa yang manggil kamu. Saya ngak merasa.”
Mata Nadia melotot kesal, merasa sudah dikerjai oleh salah satu bosnya.
“Pak Tommy yang bilang saat beliau keluar ruangan ini.”
‘Dasar tuh anak. Awas dia, gua bales nanti.’ Gerutu Jojo dalam hatinya.
“Ehm, kalau memang ngak ada keperluan, saya kembali ke tempat Mbak Lolita dulu, Pak.”
Baru saja kaki Nadia mundur untuk berbalik badan, Jonathan menghentikan aksinya.
“Berhubung kamu sudah di sini. Kamu keluar, ambil semua barang kamu dan bawa masuk. Mulai sekarang, meja kerja kamu di sini.”
Nadia melihat arah tangan Jojo menunjuk kepada sebuah meja yang berada diantara sebelah meja Jojo dan meja Revan. Matanya melotot dengan letak meja yang dirasanya aneh. Yang artinya, secara tidak langsung Nadia akan duduk bersebelahan dengan Jojo dan Revan dengan posisi mejanya miring dan berseberangan dengan Tommy.
‘Astaga kenapa jadi duduk di situ sih, deket sama si setan jutek itu lagi.’
“Hei! Kamu itu ngaku professional dalam bekerja. Hari pertama saja sudah bengong terus, buat kesalahan, ngak ada etika masuk ruangan. Sudah sana cepat, pindahin barang kamu kemari. Saya kasih kamu waktu 30 menit.”
Mengepalkan kedua tangannya menahan amarah karena sikap Jonathan kepadanya. Nadia mencoba menahan kekesalannya dengan memejamkan mata sambil menghirup panjang udara ke dalam paru-parunya dan menghembuskannya perlahan. Lalu membuka matanya kembali.
“Baik, Pak.”
Keluar dari ruangan menuju meja Lolita, lalu mengambil tas serta buku catatannya.
“Ternyata meja itu punyaku, Mbak. Aku disuruh kerja di dalam. Jadi ngak bisa ngobrol lagi deh sama Mbak Lita.”
Lolita tersenyum sambil menepuk halus punggung Nadia. “Ngak apa-apa, Dia. Kita ngobrolnya pake chat aja di laptop kita. Kamu ditempatkan di dalam ruangan para bos, pasti untuk efisiensi kerja juga kan.”
“Saya senang deh, punya teman kerja kayak Mbak Lita. Baik dan pengertian, serasa punya kakak di sini.”
“Udah, sana. Nanti diomelin lagi loh. Pak Jo itu memang orangnya tegas banget. Maklumin aja.”
“Iyah, Mbak.”
Bergegas masuk kembali ke dalam ruangan beraura dingin bagi Nadia, karena di dalamnya terdapat sosok setan jutek alias Jonathan.
Terpana dengan fasilitas yang tersedia di meja kerjanya. Mulai dari laptop, peralatan tulis dan lainnya, semua sudah tersedia lengkap. Bahkan kursi Nadia terasa sangat nyaman.
‘Perusahaan bergengsi emang beda deh fasilitasnya. Walaupun ada si setan jutek ini, bodo amatlah. Yang penting gua di gaji.’
“Kamu buka data proyek yang diberikan Lolita. Biasanya dia sudah mengurutkan perusahaan mana yang menjadi prioritas kita lebih dulu. Untuk produk pensil terbaru, kamu berikan proposal kita ke daftar universitas yang sudah ada datanya juga. Lalu untuk event besar kita bulan depan, saya mau kamu yang memegang langsung acara di sana.”
Nadia mencatata semua perkataan Jonatahan dan perintah yang harus dijalaninya.
“Baik, Pak. Sekarang juga saya kerjakan untuk proposalnya. Paling lambat besok sore, semua sudah terkirim. Untuk event, saya butuh informasi untuk produk utamanya selain pensil ini, kita mau menonjolkan produk apa lagi, setidaknya ada 3 jenis produk unggulan perusahaan untuk menambah variasi.”
“Oke. Saya harap kerja kamu rapi dan bagus. Mungkin etika kamu saja yang perlu diperbaiki.”
Memutar jengah matanya, karena ucapan Jojo yang mulai menyerempet kejadian tadi siang.
“Pak, tadi itu saya ngak sengaja. Lagian, Bapak itu kan jabatannya CEO. Masa kejadian kayak tadi aja masih diingat. Dendaman amat sih.”
“Kamu!”
“Apa? Penilaian saya salah soal Bapak? Dari kita ketemu di bandara aja, Bapak memang jutek banget orangnya.”
“Ini masih jam kerja yah, Nadia.”
“Saya tau banget kok. Ini masih jam kerja. Coba Bapak pikir, lebih baik saya yang ceplas ceplos apa adanya, atau saya manggut tapi dibelakang Bapak, saya jelek-jelekkin. Perkataan saya juga ngak melanggar hukum ataupun etika kok. Siapa tahu dengan masukkan dari saya, Bapak bisa berubah dari yang jutek jadi ramah.”
‘Ini cewek, berani banget sama gua.’
Jonathan membisu setelah mendengar keluhan Nadia. Baru pertama kali seorang perempuan dengan lantang mengatakan sisi buruknya. Biasanya, Jojo selalu mendengarkan pujian demi pujian dari wanita yang berusaha mendekatinya.
Akhirnya Jonathan memasang mode diam, tidak lagi membalas argument Nadia.
Merasa sikapnya agak melebihi batasan sebagai seorang karyawan, Nadia merasa tidak enak hati karena diamnya Jojo.
“Ehm, maaf, Pak. Kalau ucapan saya menyinggung. Saya cuma mencoba jadi diri saya sendiri, karena saya tidak suka bermulut manis kalau ada yang tidak berkenan dengan suatu hal.”
“Hem.” Jo hanya menjawab singkat sambil menatap pekerjaannya.
Jam pulang kerja tiba. Nadia ingin mematikan computer, tapi merasa tidak enak hati karena ini hari pertamanya bekerja. Jojo melihat jam ditangannya, kemudian menoleh ke Nadia. Baru saja ia ingin memerintahkan Nadia untuk pulang, suara ketukan pintu terdengar.
“Masuk.”
Lolita melangkah masuk.
“Pak Jo. Saya ijin pulang dulu kalau sudah tidak ada yang perlu dikerjakan.”
“Yah, kamu pulang saja.”
“Baik, Pak. See you tomorrow.”
“Hem.”
Lolita menutup pintu dan bergegas pulang.
“Nadia, kamu juga sudah boleh pulang. Besok jam 9 tepat kamu sudah harus ada di ruangan ini. Saya, Revan atau Tommy tidak setiap hari ke kantor ini, karena kami harus mengurus perusahaan yang lain. Saya akan masukkan kamu ke dalam grup yang isinya kita ber 3 dan Lolita. Jadi kalau ada updatan, bisa komunikasi di grup.”
“Baik, Pak. Kalau begitu, saya juga pamit pulang.”
Setelah mematikan laptop, Nadia mengambil tasnya dan keluar dari meja kerjanya. Lalu melangkah menuju pintu.
“Kamu pulang sendiri atau dijemput sama siapa?”
‘Astaga! Ngapain gua nanya begitu. Bego banget loe, Joe. Turun deh harkat martabat gue di depan nih cewek.’
Jojo merutuki mulut dan pikirannya yang mulai tidak sejalan.
“Saya pulang sendiri, Pak. Udah gede, bukan anak kecil juga. Bapak juga tau kan kisah saya.”
Jojo pura-pura menunduk, tidak mendengar jawaban Nadia.
‘Ish, dia yang nanya, sekarang dia juga yang nyuekin. Sabar, Nadia. Setan jutek itu bos loe gimanapun nyebelinnya dia.’ Setelah mengumpat dalam hati, Nadia berjalan keluar dari kantornya.
Nadia keluar dari gedung PT.JTR, langkahnya menuju halte bus tidak jauh dari tempatnya bekerja. Hanya berjalan 5 menit sudah sampai. Saat menunggu bus yang menuju rumahnya, sebuah sepeda motor mendekati halte tersebut.
Raut wajah Nadia berubah marah saat mengetahui pemilik sepeda motor itu.
Randy turun dari motornya sembari membuka helm yang dipakainya, menghampiri Nadia.
“Dia, kita harus bicara. Kamu jangan salah paham dengan kejadian di Jepang. Itu semua bukan kemauanku.”
Ingin rasanya Nadia berteriak marah, kalau tidak mengingat saat ini mereka berada di tempat umum.
“Ran, gua ngak mau diganggu lagi. Kita udah ngak ada hubungan apapun lagi, so please leave me alone. Gua harap loe ngak melakukan hal yang sama ke gua dengan Luna. Ingat karma, Ran.”
“Ngak, kamu mesti ikut aku dulu. Kita ngomong dulu baik-baik, jangan asal mutusin sepihak gini.”
Randy mulai bersikap agresif dengan menarik paksa lengan Nadia agar mau ikut pulang dengannya. Sikap Randy ini justru menimbulkan rasa takut di wajah Nadia.
“Please, Ran. Jangan begini, aku ngak suka dipaksa gini.”
Nadia berhasil melepaskan diri dari Randy. Kebetulan ada seorang laki-laki dan dua orang perempuan yang menunggu di halte, menatap tidak suka kepada sikap Randy.
“Mas, jangan diganggu kalau orangnya ngak mau. Kasihan mukanya udah ketakutan gitu.” Pria asing tersebut menasehati Randy.
Nadia menoleh ke jalanan berharap menemukan taksi agar bisa kabur dari Randy. Sayangnya taksi yang baru saja lewat sudah ada penumpangnya.
Randy mengacuhkan nasihat pria asing tersebut dan berjalan ke arah Nadia lagi. Tiba-tiba sebuah mobil range rover putih dengan kaca gelap dari luar, mendekati Nadia.
“Cepat kamu masuk.”
Tanpa berpikir panjang, Nadia segera membuka pintu dan naik ke dalam mobil tersebut, dengan niat setidaknya ia terhindar dari paksaan Randy.
Ternyata Randy tidak menyerah, ia mengejar mobil tersebut dan menggedor beberapa kali bagian sisi pintu Nadia duduk.
“Woi, berhenti ngak!”
“Pak, kita ambil jalur tol saja, nanti saya turun pas keluar tol.”
Jojo si pengemudi mobil tersebut tidak menjawab, namun melajukan mobilnya sesuai arahan Nadia. Sedikit kesal karena perbuatan laki-laki yang mengejarnya sudah pasti membuat lecet mobilnya sedikit.
Setelah mereka di jalur tol, Randy sudah tidak mengejar mereka lagi. Nadia menoleh ke belakang mobil untuk memastikan tidak ada Randy dibelakang mereka.
“Kita sudah di tol, cowok itu ngak mungkin ngikutin lagi.”
“Yah, mana tau dia nekat, Pak.”
“Masih ngak mau ngaku kayak anak kecil. Buktinya aja kamu masih jadi target modus penculikkan.”
Mata Nadia melotot menatap Jojo sambil merutuki ejekan Jojo.
‘Selamat dari serigala, masuk lobang beruang ini namanya.’
Mencoba menenangkan diri dengan menyandarkan kepalanya sejenak, tiba-tiba apa yang dipikirannya keluar dari mulutnya.
“Bisa kabur dari iblis, eh ketemu rajanya setan.”
Ucapan Nadia membuat Jojo dengan spontan menoleh menatap tajam gadis disebelahnya.
“Apa kamu bilang? Saya setannya gitu?”
‘Aduh, mati gua. Kenapa mesti keceplosan sih, perasaan niat gua mau ngoceh dalam hati deh.’
Merasa tidak mau disalahkan, Nadia membalikkan kembali perkataannya.
“Memangnya Bapak merasa kayak setan?”
“Hei, I’m the one who helped you from that bastard.” Jawab Jojo dengan nada sedikit marah.
Nadia mengayunkan kedua tangannya seperti sedang meminta maaf.
“Iya, iya. Maaf deh. And thank you for helping me in the right time, Bos.”
Jojo menghela nafas panjang kemudian konsentrasi melihat jalanan.
“Rumah kamu di mana?”
“Eh, nanti pas keluar tol semangga, saya turun saja Pak. Sudah dekat kok dari sana.”
“Tanggung, diantar sampai depan rumah saja, biar kamu aman.”
“Bapak ngak keberatan nganter saya pulang? Saya yang jadi ngak enak, udah ngerepotin.”
“Udah deh, jangan bawel basa basi. Kasih tau aja rumah kamu di mana. Kenapa cewek suka bikin ribet hal sepele sih.”
“Perumahan matahari terbit blok B1 no 1.”
“Gitu aja mesti pake argument panjang.”
Nadia menghela nafas dengan kasar seraya mengumpat dalam hati, namun tetap saja terucap perlahan dari mulutnya.
“Ngak mau dikatain setan, tapi beneran kayak rajanya setan jutek.”
“Apa kamu bilang!”