Bab 6. Rencana Pertunangan

1653 Words
Nadia memberikan senyuman lebar, tepatnya cengiran karena dirinya keceplosan mengumpat sang bos kembali. “Hehehe, makanya jangan jutek kalau ditanya baik-baik, Pak.” “Baru kali ini ada wanita siluman yang berani ngatain saya raja setan.” “Ish, kan. Ngajakin ribut namanya. Saya bukan wanita siluman yah, Pak. Kalau saya siluman, Bapak udah ngak berbentuk sekarang. Udah saya makan, telen, trus dilepeh lagi.” “Kalau gitu saya juga bukan rajanya setan jutek. Kalau saya setan, kamu malah aku biarin sama mantan kamu itu.” “Emangnya Bapak tega, biarin saya di apa-apain sama Randy.” “Hei! You are not my girlfriend or my wife. Who cares.” Jojo mendapatkan pelototan dari Nadia yang tidak mempercayai tingkah bosnya yang satu ini. “Ish, saya sumpahin yah, nanti Bapak bakalan bucin berat sama calon istri Bapak, biarin tahu tuh rasanya kesel, sakit hati kayak gimana.” Mendengar sumpah serapah Nadia, wajah Jojo menjadi datar kembali. Bahkan dirinya sudah tidak membalas ucapan Nadia. “Saya tahu bagaimana rasanya dikhianati dan dibohongi.” Kepala Nadia menoleh menatap raut wajah Jojo saat mengatakan demikian. Ada rasa tidak enak hati sudah terlalu kasar dengan ucapannya. “Yah udah. Sesama pejuang sakit hati, jangan saling nyerang. Saya minta maaf kalau ucapan saya keterlaluan. Habis, Bapak gitu sih. Ngalah dikit sama perempuan, Pak. Cewek itu kalau udah berargumen, maunya didengerin, bukannya dinasehatin. Kalau mau dinasehatin, mending datang ke pastur atau ustad ajah.” “Katanya minta maaf, tapi buntutnya masih aja nyerocos.” Sahut Jojo merasa tidak mau kalah dari Nadia. Jojo sendiri merasa heran dengan sikapnya belakangan ini, biasanya dia tipe cowok yang ngak pusing dengan penilaian orang lain terhadap dirinya. Mengapa rasanya tidak tahan membalas, kalau Nadia yang mengatakan penilaiannya. “Iyah, iyah. Saya diam aja deh. Nanti rumah saya di gang pertama setelah masuk gerbang, Pak. Posisi sebelah kiri, gerbang oranye.” Mobil Jojo sampai ke tujuan sesuai instruksi Nadia. “Terima kasih yah, Pak. Udah mau nganterin saya sampai rumah.” “Hem.” Nadia membuka sabuk pengaman dengan cepat dan turun. Seorang wanita paruh baya yang melihat dari jendela rumahnya, segera membuka pintu untuk menyambut putrinya pulang. Baru saja Nadia memasuki pagar rumah, Cika langsung bertanya. “Kamu pulang sama siapa, Dia? Baru kerja udah ada tebengan aja?” Nadia menghela nafas panjang, lalu mengecup pipi mommynya. “Ceritanya panjang, Mom. Bisa jadi satu novel nanti.” Cika memutar jengah bola matanya. “Ish, kamu nih. Udah sana mandi, daddy kamu udah pulang juga. Habis kamu mandi, kita langsung makan. Trus videocall sama Nicky.” “Siap, Bu bos.” Nadia berlari menaiki anak tangga dengan terkekeh, setelah meledek mommynya. Saat makan malam tiba, Cika kembali menanyakan perihal anaknya diantar oleh siapa. “Dad, tadi anak gadis kamu ini pulangnya udah dianterin loh. Ngak jelas cewek apa cowok.” Cika mencoba memancing percakapan agar putrinya mau bercerita. “Oh yah? Pulang sama siapa, Cok? Tadi pagi, daddy mau jemput kamu, bilangnya mau mandiri aja coba naik angkutan umum. Tau-taunya…” Nadia yang mengerti keinginan kedua orangtuanya segera memotong ucapan sang daddy. “Haish, Mommy, Daddy. Ceritanya gini. Tadi pas pulang, aku memang lagi nunggu di halte bis. Tiba-tiba Randy datang, ngajak aku ikut dia. Aku tolak lah. Eh, dianya malah maksain aku. Untung aja ada bos aku lewat, dia langsung suruh aku naik. Namanya kepepet, aku langsung naik aja deh, trus kita muter lewat tol biar ngak diikutin Randy. Jadi gitu ceritanya.” Nathan mengangguk-angguk mendengarkan. “Kalau menurut Daddy, pasti bos kamu itu ada perasaan sama kamu. Buktinya dia mau bela-belain nyelamatin kamu dari Randy. Kalau daddy jadi bos kamu, mikir dulu seribu kali. Mana tau ternyata salah dugaan kan.” “Ngak, Dad. Dia itu cowok yang sama yang nolongin Dia waktu di bandara. Dia sempat cerita kenapa sampai kabur dari Randy. Makanya waktu dia lihat aku dipaksa Randy, dia nolongin aku. Gitu loh, Dad.” “Oh, begitu. Trus, kamunya suka ngak sama dia?” Tanya Cika tanpa basa basi. Mendengar ucapan Cika, Dia tersedak saat minum. “Mom! Aku ngak mungkin suka sama si setan jutek itu lah. Walaupun dia udah nolongin aku, bukan berarti aku langsung suka. Ihhh, andai Mom sama Dad kenal dia, orangnya itu tanpa ekspresi, membatu, kaku, plus juteknya luar binasa. Bisa kacau dunia persilatan kalau sampai aku nikah sama dia.” Nadia mengedikkan bahunya membayangkan mempunyai suami super jutek seperti bosnya. Sedangkan Nathan dan Cika malah tertawa kecil saat mendengar kicauan putrinya tentang si bos barunya ini. “Kok, Mom sama Dad malah ketawa sih?” Cika memegang punggung tangan putrinya. “Itu tanda-tanda awal jatuh cinta loh.” “Ngak yah, Mom. Never.” “Tapi kalau kamu ngak suka, yah bagus deh. Soalnya kamu itu sudah kami jodohkan.” Cika mendengus kesal, lagi-lagi soal perjodohan. “Mom, Dad. Aku masih bisa cari sendiri. Please, jangan pake dijodohin.” “Kita jodohin kamu, bukan langsung dinikahin, Dia. Setelah kamu tunangan, kalian kenalan dulu satu sama lain. Biar akrab.” “Artinya, aku ngak boleh suka cowok lain juga, kan? Misalkan aku jatuh cinta sama orang lain gimana? Contohnya bos aku itu mungkin?” Nadia mencoba mencari celah agar dirinya tidak dinikahkan dengan pilihan orangtuanya. “Kalau memang kamu mendapatkan laki-laki yang menyayangi kamu dengan tulus. Pasti Mom sama Dad ijinin. Sementara kan belum. Jadi kamu ikutin dulu maunya kami. Oke.” Nathan membalas ucapan putrinya dengan nada tegas. Karena kalau Cika yang menjawab, Nadia pasti akan terus melancarkan protesnya. “Iyah, Dad.” Setelah videocall dengan Nicky, anak bungsu Cika dan Nathan. Nadia pamit untuk istirahat ke kamarnya. Nathan memberikan sebuah instruksi sebelum Nadia keluar. “Mulai besok pagi, kamu pergi dan pulang kantor sama Dady. Ngak ada bantahan, sampai Daddy yakin kamu aman dari si Randy itu. Udah bagus dia ngak Daddy kasih pelajaran.” Glek. Nadia menelan salivanya perlahan melihat emosi terselubung di balik kata-kata sang papa. “Iyah, Dad. Aku juga takut. Kalau berangkat kerja, mungkin dia ngak berani, tapi pas pulang kerja itu yang beresiko.” Melihat gelagat putri mereka, Cika dan Nathan memutuskan menghubungi sahabat sekaligus calon besan mereka melalui sambungan videocall. “Risa, gawat nih. Nadia kayaknya lagi dideketin cowok lagi. Apa kita percepat rencana pertunangan mereka aja yah?” Risa dan Kenzo saling menatap dan tersenyum, kemudian menatap ke layar ponsel Risa kembali. “Kita baru aja bahas, Cik. Rencananya, di pesta kawin perak gua sama Kenzo. Kita mau umumin pertunangan mereka. Gimana menurut kalian? Setuju ngak?” Nathan memajukan bahunya mendekati layar. “Gua setuju banget. The sooner, the better deh. Nadia ini rada keras kepala soalnya. Cuma dia ngak berani bantah terang-terangan soal perjodohan ini. Dari cara dia ngomong, gua nangkep kalau dia bakalan cari celah biar pertunangannya batal.” “Oke, kalau gitu pas Kenzo pidato, kita umumin yah.” Jelas Risa. “Kok aku, Hun. Kenapa ngak kamu aja.” Goda Kenzo ke istrinya yang berhasil mendapat pelototan dari Karisa. “Ish, kamu yah. Di depan Cika sama Kak Nathan aja berani isengin aku.” Semua tertawa melihat pipi merah Karisa yang masih saja merona jika digoda suaminya, walaupun mereka sudah menikah 25 tahun. Di kamar lainnya, Nadia sedang melakukan hal yang sama, bedanya ia sedang berbicara dengan Vita dan Diana. Sedari tadi Vita dan Diana bercanda, Nadia nampak tidak menanggapi candaan sahabatnya. Hanya menerbitkan senyuman tipis sesekali. Vita yang menyadari tingkah Nadia, menegurnya seketika itu juga. “Dia, loe napa? Daritadi diem aja, kagak ada bawel-bawelnya.” “Vit, Di. Gua lagi dilemma nih.” Diana menimpali ucapan Nadia. “Loe masih mikirin si Randy sama Luna ngak tau diri itu?” Nadia melambaikan telapak tangannya dengan memutar jengah kedua bola matanya. “Haish, mereka berdua mah udah ke laut aja. Gua juga ngak ngerasa sakit hati gimana banget sih sama mereka. Yang gua pikirin bukan mereka, tapi rencana bonyok (singkatan dari bokap nyokap) gua nih.” “Memang mereka rencanain apaan buat loe? Lanjut S2?” Nadia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Vita. “Jadi apa dong, Dia? Jangan bikin gua sama Vita ngak bisa tidur dong.” Menghela nafas sejenak, kemudian Nadia menceritakan kegalauannya. “Bonyok gua mau jodohin gua sama anak sahabat mereka. Katanya waktu kecil gua pernah ketemuan. Lah, gua udah lupa lah yang mana orangnya. Namanya aja gua lupa siapa.” “Loh, kok loe ngak tau nama cowok yang bakalan dijodohin sama loe. Gimana sih?” Diana berucap. “Yang gua tau, nyokap cuma bilang inisialnya J. Orangnya ganteng, mapan, karirnya cemerlang, sayang sama keluarga, pendidikannya juga tinggi.” Tiba-tiba, mata Vita melotot dengan apa yang ia pikirkan sendiri. “Jangan-jangan bos loe lagi, Dia. Bukannya nama bos loe depannya juga J. Siapa tuh? Jonathan, iya kan?” “Ngaco loe, Vit. Ngak mungkin si setan jutek itu lah. Walaupun dia ganteng sih.” Vita dan Diana tertawa saat Nadia memuji bosnya dengan sadar. “Terus, kita berandai-andai nih, Dia. Kalau seandainya jodoh loe itu si bos, loe gimana?” Tanya Vita sambil terkekeh. “Hadeh, loe yah, bukannya nyembuhin kegalauan gua, malah nambahin pusing yang ada.” Gelak tawa semakin kencang dari Vita dan Diana saat melihat wajah merengut Nadia. “Dia. Gua juga dijodohin sama bonyok, dan menurut gua, mereka pasti ngak aka nasal pilih jodoh buat anaknya. Dan sampai sekarang, hubungan gua sama dia baik-baik aja, walaupun kita masih LDRan. Pas Steve dapet gelar doktoralnya, kita nikah. Awalnya gua sama kayak loe tuh, inget ngak gua sempet curhat sama loe berdua.” Nadia dan Vita mengangguk bersamaan dengan ucapan Diana. “Tapi sekarang, gua bersyukur ditunangin sama Steve. Daripada pacaran sama yang seumur tapi bobrok, mending sama yang lebih mateng deh. Beda umur juga ngak ketuaan amat, cuma 8 tahun. Malahan kita tuh enak, lebih dimanja, dianya lebih dewasa juga, jadi bisa nuntun kita ke jalan yang lebih benar.” “Haish, bu pendeta satu ini ceramahnya yahud bener. Jadi, Vit, Di. Menurut kalian gua terima aja nih ditunangin?” “Iyaah!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD