Bab 7. Janjian Pulang Bareng

1642 Words
Nadia meringis ketika dua sahabatnya berteriak di ponsel miliknya agar ia menyetujui perjodohan yang diatur kedua orangtuanya. “Ehm, gua coba cari cara dulu deh, siapa tau Tuhan kasih jalan ke gua biar ketemu jodoh pilihan gua sendiri.” Elak Nadia masih dengan pendiriannya. Pagi hari, di kediaman Linardi, semua anggota keluarga sarapan bersama. Akhir pekan kemarin, Bianca menginap bersama keluarganya. Bu Susi sampai harus menambah meja makan untuk para cucunya, karena meja makan lamanya sudah tidak bisa menampung semua anggota keluarganya kalau sedang berkumpul semua. Jojo, Jason dan Sean duduk sebaris, dibaris seberang mereka ada Joel dan Sanny. Sean dan Sanny adalah anak-anak Bianca dan Lukas. “Lihat tuh, muka papa kalian, seneng banget lihat anak, mantu, cucu kumpul kayak gini. Makanya, Bi, kamu sering-sering nginep disini sama Lukas dan anak-anak.” Ucap Bu Susi menghangatkan suasana sarapan mereka. Bianca tersenyum mensyukuri dengan keputusannya 25 tahun lalu untuk melupakan dendam masa lalu keluarganya dengan keluarga Linardi. Bagaimana Pak Ferry dan Bu Susi begitu menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri, bahkan dirinya dipercayakan memegang salah satu sekolah milik yayasan keluarga ini. “Iyah, Ma. Bi sama Lukas coba atur yah tiap bulan biar kita menginap di sini.” Sean, putra sulung Bianca memberikan sebuah ide atas saran omanya. “Mom, gimana tiap minggu ke 2 kita nginapnya. Aku bisa ketemu sama Kak Jojo, Joel dan Jason, nanti susunan acaranya, kita yang atur deh, biar ngak bosen. Misalnya bulan depan kita renang bareng, atau kita barbeque bareng. Seru kan.” Kenzo mengacungkan ibu jarinya kepada Sean tanda setuju dengan idenya. Pak Ferry menanyakan kembali perihal perjodohan cucu tertuanya kepada Kenzo. “Ken, gimana rencana pertunangan Jojo sama anak Nathan?” Jojo menghela nafas panjang mendengar perihal perjodohannya kembali. Tingkah Jojo tertangkap oleh Karisa, Bu Susi dan Bianca, dan kemudian mereka terkekeh melihat reaksi cucu tertua keluarga Linardi. “Harus banget yah, Mom.” Protes Jojo. “Kamu jalani dulu, Jo. Kenalan dulu saja, Mommy yakin kamu pasti bakalan bucin sama dia.” Karisa berusaha membujuk putra sulungnya. Kenzo ikut menambahkan. “Dia itu gadis baik-baik, dari keturunan yang jelas. Orang tuanya juga sahabat mommy kamu, kita berani jamin kalau mereka mendidik putrinya menjadi gadis yang dewasa, mandiri. Cantik pastinya.” Merasa malas berdebat, Kenzo menyudahi sarapannya dan bersiap untuk ke kantor. “Hari ini, Jo mesti meeting sama Revan dan Tommy. Jadi, aku ke yayasan dulu, baru ke kantorku. Aku berangkat dulu semuanya.” Jojo mengecup pipi mommy, omanya dan Bianca. Kemudian melambaikan tangannya kepada adik dan sepupunya. Siang hari, Jojo sudah tiba di PT.JTR untuk rapat lanjutan event mereka bulan depan. Setelah selesai, tiga sekawan itu memutuskan rehat sejenak menunggu sore, karena ketiganya sudah tidak ada pekerjaan menanti. Tinggal Nadia yang merasa kikuk dengan kehadiran tiga raja setan dengan berbagai versi. Jonathan si setan jutek, Revan si setan dingin, dan Tommy si setan jahil. “Jo, itu muka kenapa kayak belum dikasih jatah berhari-hari gitu?” Goda Tommy menatap sahabatnya yang sedang galau. Tommy dan Revan sangat tahu mengenai perjodohan Jojo. Makanya, Tommy senang sekali menggoda sahabatnya ini. “Eh, semprul. Dia belom kawin, jatah dari mana? Jatah preman maksudnya?” Nadia mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan percakapan para bosnya ini. Namun ia tidak mencoba menyela, tetap fokus dengan pekerjaannya. “Nyokap gua makin gencar soal perjodohan itu. Gua aja belom ketemu orangnya.” “Loe mau nolak ngak tega sama nyokap kan?” Sanggah Revan dengan tegas. “Nah, loe tau tuh.” Kepala Nadia menoleh ke Jojo seketika itu, saat mendengar ucapan perjodohan. Matanya membulat menatap Jojo tanpa sadar. Jojo yang merasa sedang dilihat, menoleh ke Nadia. “Kamu lihat apaan? Kerjaan kamu udah selesai?” “Ehh, kaget aja, Pak. Masih yah hari gini main jodoh-jodohan.” Jojo tidak lagi menanggapi kalimat Nadia. Merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nadia, Revan mengajak Jojo dan Tommy untuk meneguk kopi di kedai kopi franchise miliknya, yang berada di gedung ini. Nadia seperti mendapatkan angin segar takkala mendengar bigbosnya ternyata bernasib sama dengan dirinya. Sebuah ide tercetus dalam benaknya saat ini. “Gua yakin, dia pasti setuju sama ide gua. Simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan buat gua, juga buat dia kan. Menyelamatkan masa depan masing-masing. Hehehehe, gua mesti ngomong secepatnya nih sama dia, sebelum gua ditunangin.” Nadia mengambil ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu dan dikirim ke nomor Jonathan. “Pak, saya bisa bicara berdua saja? Di kantor ataupun pulang bareng boleh. Itu kalau Bapak ngak keberatan nganter saya lagi.” Jonathan membaca pesan dari Nadia dengan raut muka berpikir. Kemudian ia membalasnya segera sambil menerbitkan senyuman di bibirnya. “Oke, saya antar kamu pulang.” “Siap, Pak. Saya kasih tau daddy saya supaya ngak jemput. Thank you.” Wajah Nadia tersenyum sumringah sambil mengayunkan kedua lengannya kebelakang. 'Yes, rencana gua pasti berhasil. Gua ngak jadi tunangan. Huuhuuiii.' Sore itu, Jojo tidak menampakkan diri lagi ke kantor setelah tiga sekawan tersebut melipir ke kafe. Nadia uring-uringan memikirkan apakah bosnya lupa dengan janji mereka. Lolita mengetuk pintu ruang direksi dan hanya menampilkan kepalanya saja. “Nadia ngak pulang?” “Oh, iyah. Ini lagi beres-beres.” “Oke, aku duluan yah. Bye, Dia.” “Bye, Mbak Lita. See you.” Nadia menhela nafas kesal, merasa Jojo ingkar janji. Baru saja ia akan melangkah keluar ruangan. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. “Saya tunggu kamu di parkiran. Dari lift kamu tengok ke kanan. Masih ingat mobil saya, kan?” Senyuman terbit di bibir Nadia. ‘Dia ngak lupa ternyata.’ Kemudian membalas pesannya. “Oke. Saya sedang menuju lift direksi.” Tidak sulit bagi Nadia untuk menemukan kendaraan Jojo. Menghampiri mobil putih yang sedang menyala, mengetuk kaca pintu, lalu terdengar suara klik lalu Nadia membuka pintu dan duduk. Jojo segera menjalankan mobilnya keluar dari parkiran menuju jalan raya. Ia mengambil jalan tol seperti kemarin. Nadia baru ingin menunjukkan jalan tanpa melalui jalan tol, tapi sudah terlambat. “Pak, kita bisa lewat jalur biasa, ngak perlu lewat tol. Kemarin kan karena dikejar sama Randy, makanya lewat tol.” “Ngak apa-apa. Sudah terlanjur lewat. Lagian, kamu ngak bilang pas kita keluar gedung.” “Lah, Bapak ngak nanya dulu main terobos aja.” Jojo mendengus, malas berargumen lagi. “Kamu mau bicara apa sampai ngerepotin waktu saya?” Mata Nadia melotot mendengarkan keluhan bosnya. “Pak, yang mau saya bicarakan ini untuk keuntungan kita berdua.” “Maksud kamu?” Nadia memiringkan posisi tubuhnya agar menghadap Jojo. “Tadi saya dengar soal rencana perjodohan Bapak. Ehm, saya juga lagi dijodohin sama orang tua, dan kalau bisa maunya dibatalin, tapi ngak tega nolaknya ke orang tua saya.” Merengutkan dahinya mendengar ucapan Nadia. “Terus, maksud kamu mau ngapain?” “Gini, Pak. Saya punya ide supaya kita pura-pura jadi pasangan. Biar kita ngak dijodohin sama pilihan orang tua kita. Orang-orang ngak perlu tau, cukup kita saling ketemu sesama orang tua aja biar mereka nyerah.” Suara kekehan terdengar dari mulut Jojo. “Kok, Bapak malah ketawa.” “Kalau saya dijodohin lumrah. Nah kamu, umur masih muda udah dijodohin. Pasti ada yang ngak beres di kamu nih, makanya orang tua kamu nyuruh kamu cepat nikah. Yah, kelihatan sih dari mantan salah pilih kamu itu.” Nadia menegangkan bahunya, tidak terima dengan tuduhan bosnya yang bawel tersebut. “Pak, kalau ngak setuju sama ide saya, yah bilang saja. Ngak perlu mojokin saya dong.” Menjatuhkan kembali bahunya menyandar di kursi sambil menggerutu. “Dikatain setan jutek ngak terima, kenyataannya emang gitu.” Tiba-tiba Nadia mendengar bunyi suara sen mobil, kemudian merasakan Jojo melipirkan mobilnya ke rest area dan berhenti. Melepaskan sabuk pengamannya, lalu mendekatkan tubuhnya ke Nadia dan mendorongnya sampai menempel ke pintu, menatapnya dengan tatapan menusuk, wajah keduanya sangat dekat bahkan hidung mereka hampir saja bersentuhan.. “Eh! Bapak mau ngapain.” “Kamu bilang saya setan kan. Mau saya tunjukkin kalau saya benar-benar jadi setan? Hem?” Wajah Nadia memerah, otaknya terasa panas, jantungnya berdebar kencang dengan sikap mengejutkan Jojo. Nadia bahkan bisa merasakan nafas Jojo tersengal-sengal di pipinya. Mata Jojo tertuju pada bibir kenyal Nadia, entah mengapa seperti ada setan yang benar-benar sedang merasukinya saat ini. Nadia berusaha memundurkan wajahnya dan memejamkan mata meringis dengan rasa takut dengan tindakan yang akan dilakukan bosnya. Jojo memejamkan mata, menghirup dalam udara ke dalam paru-parunya. Kemudian memundurkan tubuhnya ke posisi semula. “Maaf.” Ucap Jojo menatap ke depan. Nadia membuka matanya perlahan, kemudian membenarkan posisi duduknya juga. “Saya akan pertimbangkan ide kamu. Sebenarnya saya sudah pasrah dengan pilihan orang tua saya, karena saya yakin pilihan mereka tidak sembarangan. Beri saya waktu 2 minggu lagi, karena saya sedang mengurus acara keluarga minggu depan.” “Iy, iya, Pak.” Jojo melajukan kembali mobilnya sampai ke depan rumah Nadia. “Terima kasih, Pak. Sampai jumpa besok. Hem.” Setelah turun, dan memastikan Nadia masuk ke dalam rumah, Jojo segera meninggalkan tempat tersebut. Cika yang memperhatikan dari dalam, segera menanyakan kembali hal yang sama, karena ini yang kedua kalinya sang putri diantar pulang mobil yang sama. “Kamu diantar bos kamu lagi? Sebenernya kamu sama bos kamu ini bagaimana? Kamu baru beberapa hari kerja di sana loh.” “Ish, Mom. Aku diantar pulang karena sambil bicarain proyek event buat beberapa minggu lagi. Biar beres kerjaannya. Udah ah, aku mau mandi dulu.” Nadia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Tangannya memegang ke arah letak jantungnya berada, merasakan degupan kencang yang masih belum berhenti. ‘Kenapa gua kayak gini, trus tadi juga ngapain gua harus merem kayak ngarep mau dicium Pak Jonathan. Astaga! Pikiran gua napa jadi gini sih, panas bener kepala rasanya. Ngak mungkin gua suka sama si setan jutek itu kan. Gengsi banget ah.’ Ditempat lain, satu tangan Jojo memegang stir mobil, tangan kirinya merasakan debaran seperti genderang berderap. ‘Kenapa tadi gua sampai bersikap begitu ke Nadia. Ngak seharusnya g berbuat selancang itu. Tapi, bibirnya menggoda banget buat dicium. Argh! Jonathan! Apa-apaan sih loe.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD