Nadia merasa kesal dengan sikap dua wanita ini. Namun, dirinya tidak ingin meributkan hal sepele dan rendahan. Tiba-tiba, ia berdiri, membuat Jonathan mengernyitkan dahinya..
“Sori, aku mau ke toilet. Permisi.”
“Gua ikut, Dia.” Vita menyusul berdiri dan menemani Nadia..
Merasa tidak nyaman, Diana ikut-ikutan berdiri dan menyusuli sahabatnya.
“Gua juga mendadak kebelet aja deh. Permisi semua.”
Marisa pikir ini kesempatan baginya untuk bicara dengan Jojo lebih lama lagi karena Nadia sedang ke toilet. Ternyata dugaannya salah. Baru saja ia melangkah melewati belakang Jojo untuk bersiap duduk. Belum sampai terduduk, Jojo malahan berdiri.
“Sori, gua juga mau ke toilet. Kalau kalian mau duduk di sini, tanya sama mereka boleh apa ngak, soalnya ini bukan acara gua.”
Melihat sikap Jojo, Mike menyunggingkan senyuman tipis.
‘At least dia bukan cowok yang suka ngambil kesempatan pas ceweknya ngak ada. Poin plus buat dia.’ Dalam hati Mike sedikit memuji.
Marisa malah menarik Lusi untuk duduk disebelahnya tanpa merasa malu ataupun sungkan dengan dua laki-laki dihadapan mereka.
“Kita makan bareng boleh kan yah?” Tanya Marisa sambil memberikan senyuman manisnya, dipikiranya Mike dan Jeremy pasti akan mengiyakan permintaannya karena merasa tidak enak hati.
“Ini memang tempat umum. Siapapun boleh duduk dan makan di café ini. Tapi, sorry to say. Gua ngak bisa respect sama perempuan yang ngak punya sopan santun kayak kalian. Apalagi sudah jelas kalau teman kalian sudah punya tunangan. Penilaian gua sebagai cowok, sikap kalian kurang pantas apalagi mengingat kalian itu senior kita semua.”
Perkataan tegas Jeremy begitu mengena sekaligus menusuk harga diri mereka. Perubahan raut wajah Marisa dan Lusi begitu kentara. Marisa segera berdiri dengan wajah geram diikuti oleh Lusi.
“Gua ngak butuh penilaian loe. Kelakuan loe ini bakalan gua aduin ke Jonathan. Lihat aja nanti siapa yang bakalan dia bela.” Jawab Marisa sembari melangkahkan kaki keluar dari café tersebut untuk menutupi rasa malunya karena ucapan Jeremy.
Di dalam toilet wanita, Nadia, Vita dan Diana duduk di atas kloset kubikel masing-masing sambil mengeluarkan kekesalan mereka dengan 2 wanita tersebut.
“Dia, kenapa loe ngak langsung damprat aja sih. Kesel gua liat dua siluman bebek itu.” Diana berucap dengan nada menggebu-gebu.
Nadia keluar lebih dulu dari kubikelnya. Diikuti oleh Vita dan Diana belakangan.
“Ngak lah. Ngapain juga gua repot-repot. Yang dideketin aja kagak nolak, bikin cape hati gua sendiri. Ge er an lagi si Jojo.”
“Berarti loe cemburu dong, Dia. Hayo.. Ngaku..” Goda Vita sambil tertawa.
“Ish, siapa juga yang cemburu. Males banget cemburuin setan jutek kayak dia itu.”
Diana dan Vita melihat tingkah Nadia, keduanya tersenyum saling memandang, menyiratkan kalau sebenarnya Nadia sedang kesal tapi masih gengsi mengakuinya. Bahkan ini pertama kalinya mereka melihat Nadia begitu kesal karena laki-laki.
“Iya juga ngakpapa, Dia. Hak loe juga kok. Kan Kak Jojo itu tunangan loe. Emangnya loe rela milik loe diambil lagi sama pelakor?” Diana semakin gencar menggodanya.
“Hais, ngak gitu juga lah. Gua eneg aja liat cewek terlalu vulgar di depan umum gitu. Demen kali batok kelapanya nempel di mukanya Jojo.” Bela Nadia.
“Iyah, iyah. Percaya deh.” Ucap Vita sambil terkikik geli mendengar pembelaan diri Nadia, tapi tetap saja tersirat aroma kecemburuan..
Tiga dara cantik keluar dari toilet bersamaan, langkah mereka ketika melihat seorang laki-laki di depan pintu toilet pria. Jojo juga baru keluar dan berpapasan dengan mereka. Vita dan Diana maju duluan dan Nadia dibelakang mereka.
“Kita duluan yah.” Ucap Vita sembari berlalu meninggalkan Nadia dan Jojo berduaan.
Saat Nadia melangkah untuk menyusul temannya, Jojo memegang lengannya.
“Kita ke sana sama-sama. Ayo.”
Nadia memilih untuk tidak protes dan menuruti Jojo. Sampai di meja, dua teman centil Jojo sudah tidak menghilang Jonathan menghela nafas lega karena akhirnya dua orang tersebut menghilang entah karena apa..
“Loh, kemana teman kamu?” Tanya Nadia ke Jojo.
Jojo tidak menjawab, harusnya Nadia tahu kalau dirinya juga baru saja dari toilet hanya untuk menghindari kedua teman kampusnya tersebut. Ia hanya mengendikkan bahunya untuk menjawab.
Makanan pesanan mereka sudah datang dan mereka menyantap hidangan café tersebut seakan melepas rindu masa-masa kuliah.
“Mantep bener emang baso di sini, ngak ada saingannya.” Sahut Jeremy sambil mengecap makanannya kepedasan.
“Iya, sejak jaman aku kuliah memang rame café ini. Minumannya juga enak. Habis ini saya traktir es campur yah.” Jojo menyambungi ucapan Jeremy.
“Asik!!” Jawab semua anggota di meja tersebut.
Mike melihat gesture Nadia dan Jojo seakan bukan pasangan yang sedang jatuh cinta, sehingga dalam hatinya merasa masih ada kesempatan untuk mendekati Nadia dan merebut cintanya, walaupun kesempatan itu sangat tipis.
“Nyambung tujuan ketemuan kita yuk. Jadi, Kak Jonathan sama Nadia ini ngak kenalan dulu dong, langsung dijodohin orang tua gitu? Apa hubungan kalian ngak kikuk yah nanti?” Tanya Vita menyelidik ingin melihat respon keduanya.
“Aku sama Nadia sudah saling mengenal sejak kecil. Bahkan waktu Nadia baru lahir, aku pernah memangkunya langsung.” Jawab Jojo dengan santai sambil menyeruput strawberry milkshakenya.
Mata Nadia membulat, seakan tidak percaya kalau mereka sudah saling mengenal sejak kecil.
“Kok, aku ngak inget yah kita pernah ketemuan.”
Jojo menoleh melihat Nadia dengan wajah datarnya.
“Apa perlu aku ceritain gimana cengengnya kamu waktu kecil? Sampai-sampai aku dihukum gara-gara kamu sama Daddy.”
“Ish, ngak yah. Awas aja. Tapi beneran, aku ngak ingat loh.”
Semuanya tertawa melihat tingkah pasangan di depan mereka bagaikan anjing dan kucing.
“Kita disuruh saling kenal dulu selama 6 bulan ini. Kalau memang ngak ada feeling yah artinya kita bukan jodoh.” Nadia berucap seakan ingin menegaskan kalau ia masih menentang perjodohan ini.
Vita malah mengatakan hal yang membuat mata Nadia makin melotot. “Gua yakin 1000% kalau kalian ini berjodoh. Muka kalian ini mirip loh siluetnya. Udah jalanin aja 6 bulan ini, bener ngak, DI?”
“Iyah, bener tuh. Gua juga yakin, kalian ini jodohan. 6 bulan lagi, kita jadi bride’s maidnya loe dong.” Diana menimpali sambil menggoda.
“Artinya kalau sesudah 6 bulan dan kalian ngak berjodoh, batal nikahnya. Trus Nadia bisa gua deketin lagi dong.” Ucap Mike dengan santainya. Justru Jeremy, Vita dan Diana malah melotot dengan mulut menganga, tidak mempercayai apa yang baru saja diucapkan Mike.
Bukannya merasa tidak nyaman dengan ucapan Mike, Nadia malah membuat ekspresi cengiran untuk membuat Jojo kesal.
“Bisa jadi tuh, Kak Mike.”
Jojo menoleh memberikan tatapan mengerikan kepada Nadia.
Jeremy menonjok lengan kakaknya sambil tertawa, agar membuat suasana tidak tegang.
“Becanda loe bisa bawa petaka, Mike. Jangan gila loh. Sori yah, Kak Jo. Abang gua memang suka konslet kadang. Jadi ngak usah ditanggepin omongannya.”
“Its okay. Ucapan dia ada benarnya juga.” Dengan bijak Jojo menyingkapi ketegangan dihatinya sendiri.
Es campur traktiran Jojo datang, dengan sukacita mereka menikmatinya karena gratisan.
Jojo mengulurkan tangannya ke arah salah satu pegawai café untuk meminta tagihan makan mereka. Saat seorang membawa nampan kecil berisi tagihan meja mereka, orang tersebut tersenyum kepada Jojo.
“Makasih yah, Pak Jonathan udah makan di sini lagi.”
Jonathan tersenyum lepas dengan rona wajah bahagia melihat wanita pemilik café tersebut, lalu ia berdiri dan keduanya saling berpelukkan. Nadia menganga kembali melihat wanita lain yang mengenal tunangannya, kali ini bahkan Jojo bersikap begitu manis.
“Gua kangen banget sama loe, Jo. Gile udah berapa lama ngak denger kabar loe sejak loe ke Amrik.”
“Its my pleasure to meet you also, Cath. Kenalin, ini Nadia tunangan gua.”
Wanita yang bernama Catherine segera menjulurkan tangan dengan ramah kepada Nadia, membuat Nadia mau tak mau mengulurkan tangannya juga.
“Hai, Nadia. Gua Catherine. Kita sahabatan dari kecil, satu sekolah sampai kuliah bareng juga. Jadi, maaf yah kalau tadi reaksi gua agak berlebihan pelokan sama Jojo.”
“Hai, aku Nadia. Panggil Dia aja.”
Jojo mencoba menerangkan siapa Catherine kepada Nadia agar tidak terjadi salah paham seperti kehadiran dua gadis tadi..
“Cath, pemilik café ini. Dia sudah punya 2 anak.”
“Tepatnya bakalan 3, Jo. Dan café ini juga punya loe. Jangan terlalu merendah deh, Jo. Kalau bukan karena kebaikan loe, mungkin café gua bakalan tutup beberapa tahun lalu.”
Catherine memegang punggung tangan Nadia sambil tersenyum.
“Loe beruntung dapetin Jojo, karena dia itu cowok yang sangat baik dan bertanggung jawab. Jonathan dan dua teman lainnya ikut andil di cafe gua ini. Mereka dijuluki tiga sekawannya kampus di sini. Revan sama Tommy juga suruh ke sini dong, kapan-kapan, Jo.”
Mendengar nama Tommy disebut, Vita tersedak sampai wajahnya memerah. “Maksudnya, Tommy Sumitomo?” Tanya Vita penasaran.
“Iya. Kamu kenal?” Jawab Catherine dengan polosnya, tapi membuat wajah Vita pias.
Setelah selesai bicara dengan Catherine, Nadia berpisah dengan teman-temannya dan pulang diantar Jojo.
Di dalam mobil, Nadia terlihat kesal karena sudah dibohongi. Kemudian ia segera meluapkan apa yang ada dipikirannya.
“Kenapa kalau tau café tempat aku ngumpul, kamu ngak bilang. Malahan punya saham di sana lagi. Mau pamer yah sama aku?”
“Apa aku pernah bilang begitu?”
“Terus, kamu itu playboy juga yah. Bisa cape hati aku kalau kita nikah nanti. Apa jangan-jangan pas ketemu yang gahar, malah aku dijambak lagi.”
Gerutuan Nadia menimbulkan senyum kemenangan di wajah Jojo.
“Bilang aja kalau kamu cemburu sama aku tadi, buktinya sampai kamu berdiri pake muka cemberut trus langsung ke toilet.”
Merasa tingkahnya ketahuan, Nadia melotot dengan wajah merona, mencoba menyangkalnya.
“Idih, cuih! Ogah yah, gua cemburuan sama loe. Ngak pantes playboy kayak loe gua cemburuin. Ngak ada harganya dimata gua.”
Tiba-tiba, Jonathan menepikan mobilnya di sisi terkiri jalan tol dan menekan tombol segitiga merah. Membuka sabuk pengamannya dan mendekati Nadia dengan cepat.
“Ka… Kamu… mau ngapain?” Tanya Nadia dengan raut wajah panik.
Melihat sikap Jonathan, Nadia seakan sudah mengerti apa yang akan dilakukan Jojo kepadanya sekarang. Ia berusaha membuka pintu mobil, sayangnya dikunci dari sentral pintu kemudi Jojo. Tubuh Nadia terkunci oleh kedua lengan Jojo yang mengapit di sisi kiri dan kanannya.
“Aku mau keluar aja. Buka pintunya! Kamu minggir!”
Jojo menatap tajam semakin mendekati Nadia, membuat gadis itu merasa kikuk sekaligus bergidik ngeri. Memundurkan punggungnya menjauh dari Jojo, sayangnya saat ini posisinya sudah terkunci oleh kedua lengan Jojo.
“Ka.. Kamu.. mau ngapain?” Tanya Nadia kembali dengan suara terbata-bata.
Mencengkram kedua bahu Nadia dengan erat, nafas Jojo terasa di pipinya. Kilatan mata elang Jojo begitu menakutkan saat ini seakan ingin menelan mangsanya hidup-hidup.