Bab 14. Gelagat Cemburu Part 2

1610 Words
Nadia kembali mengusap wajahnya dengan frustasi. Sudah cukup rasanya hari ini dia berdebat dengan Jojo sampai membuatnya marah-marah. Baru saja ia merasa senang bisa meluangkan waktu dengan sahabatnya, ternyata Jojo masih saja mengekorinya ditambah lagi dengan pertanyaan yang dirinya tau akan berujung pada perdebatan lagi. “Nadia Nataka. Aku nanya sama kamu loh.” Jojo bertanya tak sabaran. “Ihh, mana aku tau sih! Dia mau datang juga, aku ngak bisa ngelarang lah. Aneh bener nanyanya. Kalau ngak suka yah jangan ngikut aja. Ribet amat sih jadi cowok.” Jawab Nadia dengan ketus. “Huff.” Jojo mendengus kasar mendengarkan ucapan ketus Nadia. Baru kali ini Jojo diperlakukan tidak menyenangkan oleh seorang wanita. Bahkan, dulu Naka-nya sering memuja dirinya tampan saat Jojo berusia 15 tahun dan Naka berusia 6 tahun Biasanya dia yang selalu seperti ini kepada tiap lawan jenis yang berusaha menarik perhatiannya. Kini, Jojo tahu bagaimana rasanya dicuekin dan direspon ketus seperti ini. Nadia memperhatikan Jojo mengendarai mobilnya menuju kampus tanpa merasa kesulitan mencari arah ataupun bertanya kepadanya untuk sekedar menunjukkan arah kampusnya. “Kok, kamu tau jalan ke kampus aku? Katanya mau lihat-lihat. Sebenernya kamu udah pernah ke kampus aku atau belum sih?” Jojo tidak menggubris pettanyaan Nadia, hanya wajahnya mengeluarkan semburat merah karena sedang menahan rasa malu dirinya sedang ketahuan berbohong. “Kamu lupa kalau mobil teman-teman kamu ada di depan kita? Tanpa nanya kamu saya tinggal ngikutin mereka saja.” Merasa ucapan Jojo ada benarnya, Nadia mengendikkan bahunya kemudian bersandar kembali. Raut cemberut di wajah Nadia masih terlihat jelas, ia berpikir kalau sikap Jojo terlalu berlebihan kepadanya sejak menjadi tunangannya. ‘Baru jalan sehari aja, dia udah over protektif begini. Gimana jadi istri dia nanti. Memangnya gua tau kalo Mike bakalan datang apa. Besok-besok, gua bisa dijaga ketat nih ngak bisa gerak.’ Gumam Nadia dalam batinnya. Jojo yang memperhatikan tingkah Nadia seakan menyadari perbuatannya sudah membuat Nadia tidak nyaman berdekatan dengan dirinya.. “Bukannya aku terlalu overprotektif sama kamu. Cuma ingin kamu ngerti, kalau aku ini termasuk pebisnis muda yang cukup dikenal orang banyak. Dengan status kamu sebagai tunanganku yang sudah diketahui orang, otomatis pergerakkan kamu juga ikut dipantau. Soal nanti kita jadi nikah apa ngak, itu urusan belakangan. Yang penting saat ini kita jaga nama baik keluarga dulu. Ngerti kan maksud aku?” ‘Kok dia tau pikiran gua sih? Serem amat. Hih..’ “Nadia…” “Eh, iyah… Iyah, aku ngerti. Oke, oke. Udah cukup pidatonya, Pak Jonathan.” “Call me Jojo from now if we are not in the office.” Nadia mengangkat tangannya, memberi tanda hormat kepada Jojo dengan wajah usilnya. “Siap,” Segaris senyuman terukir di bibir Jojo melihat tingkah Nadia kepadanya. ‘Ganteng banget kalau senyum begitu. Pantesan senyumnya mahal. Kagak senyum aja udah ganteng plus di kejer-kejer cewek, apalagi dia murah senyum bisa ngantri tuh kantor buat ketemu mereka bertiga.’ “Sudah puas mandangin muka ganteng gratis?” Terkejut karena dirinya ketahuan melamun sambil memandangi wajah Jojo, giliran wajahnya memerah karena ia tidak dapat berkelit. “Apaan sih!” Suara Nadia terdengar merajuk dan memasang mode ketus untuk menutupi rasa malu. Sesampainya mereka di café tersebut. Mike sudah sampai duluan, melihat kehadiran Jeremy ia mengangkat tangannya memberi tanda kepada Jeremy. Mereka semua menghampiri Mike. Awalnya raut wajah Mike tampak sumringah menatap kedatangan Nadia, namun senyumnya seketika pudar saat melihat kehadiran seorang laki-laki dibelakang Nadia. Ada kekecewaan di wajah Mike. Walaupun dirinya mengetahui mengenai berita pertunangan Nadia, tetap saja dalam hatinya masih mengharapkan kesempatan untuk mendapatkan hati Nadia, dan hari ini sebenarnya ia juga ingin tahu, bagaimana Nadia secepat itu bertunangan. Padahal, mereka tahu kalau Nadia baru saja putus dari Randy belum sampai 2 bulan. Nadia menyapa Mike kikuk namun ia tutupi dengan senyuman. Mike memang pernah mengungkapkan perasaan cintanya kepada Nadia. Namun segera ditolak, karena Nadia tidak ingin hubungan pertemanannya dengan Jeremy rusak kalau terjadi sesuatu dengan Mike nanti. “Halo, Kak Mike.” “Hai, Dia. Udah dibilangin panggil nama Mike aja.” “Ngak ah. Enakan manggil kakak, biar beneran punya kakak. Hehehehe.” ‘Maunya kamu jadi pasangan aku, Dia. Sayangnya kamu lebih memilih persahabatanmu dengan Jeremy.’ Wajah dingin Jojo semakin menjadi, malah semakin menyeramkan saat melihat senyum Nadia diberikan kepada laki-laki lain. Pandangan Jojo menatap Mike setajam elang yang sedang memburu mangsanya. Begitupula dengan Mike, melawan tatapan Jojo dengan pandangan yang tidak kalah sengitnya. Katakanlah dirinya belum jatuh cinta sepenuhnya dengan Nadia, namun otaknya seakan tidak terima kalau tunangannya bersikap manis kepada Mike. Nadia duduk diapit oleh Jojo dan Vita, sedangkan Mike duduk berseberangan dengan Vita, sejajar dengan Jeremy dan Diana. Menyadari pandangan Jojo dan Mike saling beradu, Nadia memecah suasana horor dengan mengenalkan keduanya. “Kak Mike, kenalin ini Kak Jonathan. Kak Jo, kenalan ini Kak Mike, kakaknya Jeremy.” Mendengar Nadia memanggilnya dengan sebutan kakak, pandangan Jojo beralih ke Nadia menatap tidak suka. “Gua Mike.” “Saya Jonathan.” Keduanya mengeratkan salaman mereka seakan menjelaskan sisi maskulin masing-masing. Vita dan lainnya hanya terkekeh melihat tingkah Mike dan Jojo. “Seru nih kayaknya.” Goda Vita berbisik ditelinga Nadia. Setelah keduanya duduk kembali, Jeremy mendekati kakaknya dan membisikkan sesuatu. “Loe jangan ngegas di sini. Sadar kalau Nadia udah jadi tunangan orang.” Mike hanya membalas ucapan adiknya dengan tatapan tidak suka dan memilih diam. Setelah memesan makanan, Vita memberanikan diri bertanya kepada Nadia. “Dia, sekarang ceritain, kenapa tiba-tiba loe bisa tunangan, trus kita semua ngak tau menahu sejak kapan kalian saling kenal?” Vita sedikit memajukan kepalanya menatap Jojo. “Maaf yah, Kak. Kalau pertanyaan kita agak pribadi banget, kita semua ini sahabatnya Dia dari SMP. Sepak terjang ini bocah kita udah tau banget luar dalemnya. Makanya kita agak kaget waktu dengar berita pertunangan kalian.” Jojo tidak bereaksi, ia melihat ke arah Nadia menunggu responnya menjawab pertanyaan teman-temannya. Nadia membalas lirikan mata Jojo dengan tajam sambil mendengus kasar memikirkan bagaimana menjawab cecaran pertanyaan temannya kini. “Ternyata gua sama Kak Jo ini--” “Jojo, Nadia…” Protes dari Jojo karena kesal Nadia masih saja memanggilnya dengan formal. “Eh iya, maap. Gua sama Jojo udah dijodohin dari kecil.” Belum selesai bicara, Diana sudah memotong dengan pertanyaan. “Lah, trus ngapain loe dibolehin pacaran sama Randy kalau emang udah dijodohin dari kecil?” “Ck, makanya dengerin dulu Nadia ngomong. Main motong aja sih loe.” Jawab Vita dengan gemas, sedangkan Diana hanya tertawa kecil menyadari ketidaksabarannya sambil menangkupkan kedua tangannya. “Sebenernya, bokap nyokap ngak setuju waktu gua pacaran sama Randy. Tapi, mereka ngak mau maksain kehendak mereka sepenuhnya. Setelah gua putus dari Randy, mereka langsung mutusin untuk lanjutin perjodohan ini. Dan, jadilah gua sama Jojo tunangan.” “Setau gua, kayaknya dulu Kak Jojo juga punya pacar kan yah?” Sanggah Diana. “Betul. Sudah putus 2 tahun lalu.” Jawab Jonathan singkat. “Trus, loe berdua saling cinta ngak?” Pertanyaan Mike sontak membuat semua mata di meja tersebut menatap kepadanya. Belum sempat Nadia ataupun Jojo menjelaskan soal perasaan mereka, tiba-tiba dua orang wanita menghampiri mereka. “Loe, Jonathan Linardi kan?” Merasa dirinya dipanggil, Jojo mendongak untuk melihat siapa yang menegurnya. Rasanya malas menyapa balik, tapi saat ini mau tidak mau ia harus menjaga nama baik keluarganya di depan umum, karena bagaimanapun Jonathan adalah pewaris 3 perusahaan besar milik orangtuanya. Nama baik keluarga ada di bahunya. “Marisa sama Lusi bukan?” Wajah kedua wanita tersebut nampak bahagia takkala Jojo masih mengenali mereka. “Iyah, wah seneng banget loe masih inget sama kita. Jadi bisa nostalgia masa kampus lagi nih kita bertiga.” Saking senangnya, Marisa dan Lusi sampai lupa kalau ada 5 pasang mata sedang memandang ke arah mereka dengan raut wajah bertanya. Nadia yang biasanya bersikap cuek dengan sekelilingnya, saat ini merasa kesal sekaligus geli menatap 2 wanita dewasa yang sedang menyapa dengan gesture tubuh mereka yang terlihat jelas sedang beraksi menggoda tunangannya. ‘Sok dingin, kaku, jutek, tapi ketemu 2 iblis ini mukanya udah beda aja dia.’ “Ehem..Ehem..” Sengaja membuat suara agar Jojo menyadari kalau Nadia berada di sampingnya. Andai saja tidak ada teman-temannya, mungkin Nadia akan bersikap cuek dan meninggalkan Jonathan dengan 2 teman centilnya itu. Jojo menoleh menatap Nadia yang sedang menaikan sebelah alisnya sambil memberikan senyuman meledek. “Kenapa? Kamu haus? Minuman yang kita pesan belum datang yah?” Tanya Jojo dengan polos. Diana dan Vita menutup mulutnya menahan tawa melihat reaksi tunangan sahabatnya yang tidak peka ini. Sedangkan Mike menatap tidak senang seakan ingin memukul Jojo. Dahi Jojo semakin berkerut melihat mata Nadia semakin lebar menatapnya, ia benar-benar tidak mengerti arti tatapan Nadia itu. “Kak, temen kampus yah? Kelihatannya seumuran.” Akhirnya Vita yang bersuara mewakili Nadia karena gemas dengan kelakuan pasangan ini. Yang satu ngak peka yang satu gengsinya tinggi. “Oh, iyah. Marisa, Lusi. Kenalin ini Nadia, tunangan gua. Nadia, mereka teman kuliah aku dulu.” Marisa dan Lusi menjulurkan tangan mereka untuk berkenalan dengan Nadia. “Nadia.” “Marisa.” “Lusi,” “Kita ini anak alumni kampus Santoso, kalian apa anak kampus ini juga? Semester berapa?” Tanya Lusi berbasa basi. Ucapan Lusi spontan membuat Nadia menoleh cepat dan memberikan kilatan mata menusuk ke Jonathan.. ‘Pantes aja dia tau jalan ke sini. Napa ngak bilang sih lulusan sini dulunya. Nyebelin, pembohong.’ “Wah, ternyata Jonathan sudah punya tunangan yah. Tapi, selama janur kuning belum berlabuh, mungkin kita berdua masih ada kesempatan dong yah.” Ucap Marisa dengan terang-terangan di depan Nadia. Wajah Vita dan Diana berubah menjadi geram melihat tingkah wanita gatal dihadapan mereka sekarang. Bagaimana tidak kesal, Marisa sengaja mencondongkan tubuhnya mendekati Jojo yang sedang duduk, sehingga bongkahan bulat di depan tubuhnya hampir bersentuhan dengan wajah Jojo kalau dirinya menoleh kesamping.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD