Bab 12. Peraturan Nikah

1636 Words
Amarah yang awalnya meluap untuk dilampiaskan, kini malah menciut menjadi rasa gugup disertai degupan kencang dalam dadanya. Apalagi saat ini, Jojo semakin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mancung mereka saling bersentuhan. “Pak, eh, Jonathan, Please. Jangan begini.” “Apanya? Memang aku apain kamu, hem?” Jojo memperhatikan mata Nadia mulai mengembun menahan airmatanya agar tidak turun. Jojo juga dapat merasakan getaran di bagian depan tubuhnya yang berasal dari tangan Nadia karena dirinya sudah berhasil memojokkan gadis dihadapannya.. “Aku, aku. Kamu jangan, hmpp” Melihat bibir Nadia bergumam tidak jelas dan melihat rasa takut Nadia, tanpa pikir panjang, Jojo menyambar bibir yang sedari tadi menggodanya. Entah mengapa rasanya menyenangkan melihat rona merah di wajah Nadia setiap kali mereka berdekatan. Jojo hanya berniat menempelkan bibirnya ke bibir Nadia. Awalnya, Nadia memukul kecil tubuh Jojo. Karena sikap Nadia ini, niat semula Jojo hanya mengecup berubah menjadi lumatan panjang dan panas. Lelah bergelut agar terlepas, akhirnya Nadia diam pasrah karena tahu kalau tenaganya hanya sia-sia saja melawan Jojo, malahan Nadia menikmati ciuman pertamanya bahkan tangannya mulai merayap perlahan naik sampai ke melingkari tengkuk Jojo.. ‘Beginikah rasanaya dicium laki-laki?Kakiku lemas.’ Merasakan desiran mengalir di sekujur tubuhnya, bagai tersengat ketika kulit mereka bersentuhan.. Jojo melepaskan pagutan bibirnya dan menatap wajah Nadia yang menunduk menutupi rasa malunya, nafas keduanya masih menderunya. Jonathan segera menanyakan sesuatu yang mengganggunya saat mengecup bibir Nadia, merasa ada keanehan dengan cara ciuman gadis ini, seakan ini adalah pengalaman pertamanya. “Jangan bilang, kalau ini ciuman pertama kamu.” Nadia menganggukkan kepalanya perlahan sambil menunduk, menjawab pertanyaan Jojo. Respon Nadia membuat Jojo terkejut dan merasa bersalah karena Jojo sempat mengira Nadia sudah pernah berciuman dengan mantan-mantan pacarnya. ‘Jadi waktu dia pacaran sama Randy beneran ngak pernah ciuman?’ “Umur kamu sudah 23 tahun kan? Dari kamu pacaran pertama kali sampai sekarang ngak pernah dicium laki-laki?” Masih bertanya penasaran, membuat Nadia mendelikkan matanya kesal. “Ck, kalau ngak percaya yah udah. Ngak usah dibahas juga napa sih!” “Kalau gitu. Terima kasih, karena kamu menyimpan ini hanya untuk calon suami kamu.” Ucap Jojo sambil menyeka bibir yang baru saja ia kecap pertama kali. Ada rasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang Nadia, tapi di sisi lain Jonathan merasa bangga karena dirinyalah yang menjadi orang pertama menyentuh bibir Naka-nya menurut versi Nadia. ‘Sebenarnya ini ciuman kedua kamu, Naka.’ Dalam hati Jojo berucap sambil menatap Nadia. Menyadari Jojo lengah, Nadia mendorong tubuh Jojo menjauh darinya, kemudian ia berjalan membelakangi Jojo sambil mengisi paru-parunya yang sempat tersendat karena ulah Jojo barusan. Airmatanya mengalir karena rasa kesal. Nadia tidak pernah memikirkan kalau Jojo bersikap agresif dengan mengecup, ralat tapi melumat hampir seluruh bibirnya tadi dan masih menyisakan efek lemas pada kedua kakinya. Nadia terpekik saat merasakan dua buah tangan menempel di bahunya. “Kita duduk lagi yuk. Aku jadi lapar lagi setelah kejadian tadi.” Menatap tajam dengan kening berkerut, Nadia tidak mengerti apa maksud perkataan Jojo barusan. Namun, ibaratnya sebuah robot, ia mengikuti perintah Jojo dan duduk kembali ke kursinya. Dalam hatinya ia bermonolog. ‘Ini orang ngak ada rasa bersalahnya apa yah. Main nyosor aja. Lebih parah dari Randy. Tapi, kalau Randy begitu, gua bisa kabur. Kok kenapa sama dia, kayak dihipnotis sampe ngak bisa ngapa-ngapain yah. Jangan-jangan dia pake ilmu pelet lagi. Hih! Serem.’ ‘Kenapa rasanya berbeda ketika aku dengan Rika. Seperti ada magnet yang memaksaku untuk semakin mendekat dan mendekat. Apalagi bibir Nadia tadi, sepertinya ingin terus ku lumat tanpa henti kalau saja tidak ingat dosa. Apa Nadia punya jimat di bibirnya? Aku seorang Jonathan bisa tergoda dengan seorang perempuan yang baru saja kukenal. Its impossible. Ralat deh, udah kenal lama tapi baru ketemu lagi and she is my Naka.’ Terdiam keduanya dalam lamunan dan argument batin yang berbeda. Seorang pelayan mengetuk pintu dan masuk hingga memecah keheningan keduanya. “Maaf, Bapak, Ibu. Apakah mau memesan dessert?” Mata Jojo melirik Nadia yang masih melamun, ia memegang punggung tangan Nadia hingga gadis itu tersadar. “Kamu mau pesan dessert ngak? Atau sudah kenyang?” Tanya Jojo dengan lembut. “Ehm, sepertinya perut aku sudah kenyang. Paling pesan yang seger-seger aja biar ngak mual perutku.” Sejak ciuman tadi, Jojo dan Nadia mulai memakai panggilan aku dan kamu dalam pembicaraan mereka. “Kalau gitu pesan mango sorbet dan blueberry sorbet saja.” “Baik, Pak.” Setelah pelayan restoran pergi, Jojo menatap Nadia kembali sambil menghembus nafas panjang. Ada rasa bersalah dengan tindakannya ke Nadia. “Maaf.” Nadia yang sedari tadi menunduk sambil membaca buku menu, mengangkat kepala ketika Jojo mengucapkan permintaan maafnya. “Huh?” “Maaf kalau tindakan tadi bikin kamu marah. Aku pikir kamu sudah biasa ciuman karena kamu sudah pernah…” “Pacaran? Memangnya semua orang kalau pacaran harus udah ciuman? Aku bukan cewek yang kayak gitu, rasanya takut aja kalau mikirin soal ciuman. Mungkin karena itu, makanya Randy selingkuh sama temen aku sendiri. Apa pemikiran kayak aku masih kampungan?” Jojo memajukan tubuhnya, memegang tangan Nadia di atas meja untuk menaikan rasa percaya diri gadis itu juga berusaha menjelaskan agar tidak salah paham. “Kamu memang cewek bawel, judes, ngak mau kalah, pinter dan banyak akalnya. Soal ciuman, itu prinsip yang kamu pegang, bukan kampungan.” Entah kenapa, ucapan Jojo membuat sesuatu mengalir hangat di dalam diri Nadia. Baru kali ini pikirannya tentang keintiman didukung oleh laki-laki selain Randy. “Tapi, kenapa tadi sama aku, kamu ngak nolak? Malahan kayaknya kamu juga menikmatinya.” Baru saja Nadia merasa Jojo adalah laki-laki terhormat yang sedang melindungi prinsip kewanitaannya, tiba-tiba rohnya seakan ambruk karena ucapan meledek Jojo berikutnya. “Boleh ngak sih, kita jangan bahas masalah ini lagi.” “Oke, its your rights.” Keduanya diam kembali sampai pesanan makanan penutup mereka datang. Keduanya sepakat membagi separuh tiap sorbet agar dapat mencicipi masing-masing rasa yang berbeda. Setelah selesai, Nadia terkekeh sendirian. “Kenapa ketawa? Aku lagi ngak ngelawak loh sekarang.” Jojo menanyakan Nadia sambil ikut terkekeh. “Aku cuma merasa lucu, tingkah kita berdua udah persis banget kayak orang pacaran. Makanan semua kita bagi dua, lucu kan.” “Kita memang lagi pacaran kan? Lunch date lebih tepatnya. Lupa, kalau kamu itu tunangan aku?” Nadia menyandarkan bahunya sambil mendengus. “Apa ngak ada jalan lain buat kita membatalkan pertunangan ini?” Jojo berdiri dari duduknya sambil meletakkan serbetnya ke meja. Wajahnya sudah berubah dingin kembali. “Kalau kamu mau membatalkan pertunangan ini, kamu yang cari jalannya. Kita pulang sekarang.” Jojo melangkah keluar dari ruang makan mereka. Nadia mendengus kesal melihat sikap dingin Jojo kambuh lagi. Setelah membayar makan siang mereka, Jojo dan Nadia masuk ke dalam lift turun menuju parkiran. Saat lift berhenti satu lantai, tiga orang masuk ke dalam lift dengan wajah terkejut. “Eh ada Pak Jonathan, ini pasti tunangannya, ya kan?” Jonathan hanya tersenyum dan sedikit mengangguk menanggapi sapaan partner kerjanya di perusahaan JTR. Pak Stuward, pemilik toko peralatan tulis besar di Jakarta yang mulai menggurita menyaingi departemen store peralatan tulis lainnya. Ternyata Pak Stuward sedang makan bersama istri dan putri nya yang berusia 25 tahun. Berita pertunangan Jonathan dan Nadia sudah tentu diketahui oleh semua orang, dan Pak Stuward salah satu tamu undangan yang hadir di acara pesta milik orangtuanya kemarin itu.. Sang istri berusaha berbincang untuk mengorek rasa kekepoannya tentang hubungan pemuda tampan ini dengan wanita yang tidak terkenal dalam lingkungan sosialnya. Nadia hanya menyunggingkan senyum basa basi kepada tiga orang asing yang tidak dikenalnya. Suaasana tidak nyaman dirasakan Nadia dalam lift sejak tiga orang ini masuk. Walaupun Pak Stuward tersenyum ramah, namun ia bisa melihat senyum palsu dari istri Pak Stuward. Apalagi putrinya saat ini sedang menatap tajam ke Nadia seakan ingin mencabik-cabik wajahnya, menilai dari atas sampai bawah seakan sedang menguliti Nadia untuk mencari kekurangan dalam diri. ‘Kalo nyongkel mata orang ngak dosa dan ngak dihukum, pengen gua colok tuh mata.’ Tidak ingin banyak basa basi, istri Pak Stuward akhirnya bertanya layaknya seorang reporter. “Pak Jonathan sudah pacaran berapa lama? Siapa nama tunangannya? Kenalan apa dijodohin? Soalnya tiba-tiba langsung ada acara tunangan aja. Setau saya, Pak Jonathan kan dulu bukan ini pacarnya. Boleh lah kita kenalan. Oh iyah, Pak Jonathan masih ingat sama putri saya kan? Dia masih single nih sampai sekarang, katanya nungguin Pak Jo, eh ternyata sudah tunangan sama yang lain.” Bunyi denting lift menyelamatkan Jojo dan Nadia dari rentetan pertanyaan istri Pak Stuward. Belum lagi ucapan menyindir yang ditujukan kepada Nadia, seakan Nadia tidak cocok bersanding dengan Jojo, membuat mata keduanya memutar jengah. Saat pintu lift terbuka, Jonathan berpamitan dengan cepat. “Kami duluan, Pak Stuward.” Jojo sengaja merangkul bahu Nadia untuk keluar dari lift. Untuk pertama kalinya, Nadia membalas rangkulan tangan Jojo dengan memegang lengannya. Lalu berjalan meninggalkan keluarga tersebut dan berharap tidak akan bertemu keluarga itu lagi. Saat pintu lift tertutup, senyum dari istri Pak Stuward berubah datar. “Ngeliat dari mana partner mu itu, Pah. Masih cantikkan anak kita kemana-mana.” “Bodynya aja masih bagusan aku, Mah. Ngak ada lekukannya gitu, mau-mauan aja ditunangin sama anak kecil. Paling baru lulus SMA.” “Bener banget. Menang kamu banyak, sayang. Mamah juga bingung, itu orang tuanya si Jonathan kok mauan aja nerima cewek standard begitu jadi menantunya. Lulusan S3 nikahnya sama anak SMA.” Pak Stuward hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istri dan anaknya yang lari dari kenyataan karena calon mantu incarannya sudah bertunangan dengan gadis lain. Terutama istrinya, apa dia lupa kalo dirinya tidak sampai lulus kuliah karena orangtuanya tidak mampu dan akhirnya dijodohkan dengan Pak Stuward. “Kamu juga lulusan SMA kan, Mah.” Ucap Pak Stuward sekedar menegur dan mengingatkan agar tidak merendahkan orang lain. “Jamanku SMA itu udah lulusan tinggi, jaman sekarang mau bersanding sama orang kaya yah harus tinggi pendidikannya.” Menjawab ucapan suaminya dengan lirikan tajam. Sudah pasti setelah ini Pak Stuward akan didiamkan seharian oleh istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD