Jonathan dan Nadia sampai di lantai yang dituju. Tidak ada perlakuan khusus diantara mereka berdua, seperti rangkulan ataupun sekedar memegang tangan. Keduanya berjalan dengan jarak tentunya wajah mereka tidak menunjukkan seperti pasangan yang ingin kencan makan siang berdua. Mereka diantar ke sebuah ruangan VIP restoran tersebut. Meja makan mereka, sengaja di atur untuk 2 orang atas permintaan Kenzo dan ruangan ini benar-benar hanya mereka berdua saja.
Setelah pelayan restoran meninggalkan mereka, Nadia mulai menunjukkan rasa tidak sukanya dengan suasana ruang makan mereka. Bagaimana mungkin orangtuanya bisa dengan mudahnya mempercayakan dirinya ke Jojo untuk di bawa ke tempat seperti ini. Apa orang tuanya tidak berpikir bagaimana kalau Jojo ternyata tidak sebaik dan sebijak pikiran mereka.
“Makan di depan juga bisa kan. Ngak perlu satu ruangan berduaan gini. Jangan-jangan loe punya niat ngak bener lagi sama gua.”
Merasa tidak terima dengan tuduhan Nadia, Jojo segera membela dirinya. “Jangan mikir sembarangan. Yang mesen restoran ini bokap, dia yang ngatur semuanya. Aku laper, cepetan mau makan apa.”
“Justru itu, kalau di depan kan bisa makan sepuasnya. Kalo mesen kan, jadi ngak puas makannya. Mesti nungguin satu-satu dating dibawain gitu.”
“Saya juga maunya begitu, tapi hari ini bukan karena kesalahan saya yang memesan ruangan ini. Yah udah. Kalau gitu aku pesan semua makanan. Kita makan bagi dua aja. Gimana? Jadi kamu bisa cobain semua makanan, sama saja kan?”
“Kalau ngak habis jadi mubazir dong. Boros amat sih jadi orang, mentang-mentang duit loe ngak berseri jadi ngak menghargai makanan.”
Suara buku menu tertutup kencang, mengagetkan Nadia hingga terlonjak. Ia melihat tatapan tidak suka seorang Jonathan persis dengan raut wajah ketika Jonathan sedang marah di kantor, membuatnya menelan salivanya dengan berat. Dirinya sangat tahu, bagaimana tabiat Jonathan ketika sedang marah. Lebih baik mengalah untuk saat ini daripada semakin runyam menghadapi sikap menyebalkan seorang Jonathan.
“Oke. Kamu yang pesan aja deh. Aku ngikut aja.”
Tanpa menjawab, Jonathan menekan tombol di samping mejanya untuk memanggil pelayan.
“Iyah, Pak. Sudah ingin melakukan pemesanan?”
“Yah. Semua menu utama kamu hidangkan dalam porsi kecil semua. Appetizernya juga mau semua dalam porsi kecil. Untuk dessertnya nanti akan saya info lagi.”
“Jadi total 20 menu utama dan 8 appetizer yah, Pak. Semua porsi kecil. Baik. Ditunggu 15-20 menit Pak, Bu. Terima kasih.”
Pelayan tersebut keluar ruangan dengan wajah tertegun karena pesanan tamu VIP nya.
“Yakin, bakalan habis?” Tanya Nadia dengan nada pelannya.
“Kalau ngak habis disumbangin aja buat staf di sini. Atau bungkus bawa pulang juga ngak masalah.”
“Yah, yah, yah. Terserah deh!.”
Tepat 20 menit kemudian, makanan berdatangan silih berganti, sampai-sampai 2 meja di samping meja makan mereka penuh.
“Ayo. Di makan.” Dengan nada memerintah dari Jojo.
Selama beberapa menit, keduanya makan tanpa bersuara. Hanya dentingan sumpit dan piring makan mereka mengalun menemani suasana makan.
Nadia memperhatikan Jojo makan dengan santainya, namun sudah beberapa menu habis dimakannya. Sampai sumpit Nadia dan sumpit Jojo bertemu di satu menu dimsum siomai yang tersisa satu lagi. Kedua mata saling bersitatap tidak suka.
“Aku duluan.” Pekik Nadia berusaha memenangkan makanan incarannya.
“Apa ada aturan siapa yang boleh duluan makan. Kamu tinggal ngambil menu lain saja setelah saya ambil siomai ini.” Jawab Jojo dengan santainya.
“Gua ngak mau. Sumpit gua duluan yang nyampe di piring ini. Minggir!”
Bukannya mengalah, Jojo malah menekan sumpit Nadia sehingga tangan Nadia tidak bisa mengangkat makanannya.
“Ish, loe rese banget sih. Jadi cowok itu ngalahan sama perempuan. Gimana jadi suami nanti. Sekarang aja udah kelihatan egoisnya.”
“Oh, jadi udah ngakuin saya jadi calon suami kamu nih?”
“Ngak bakalan. No, no.”
“Oke. Kalau gitu kamu ambil makanan lain. Saya mau makan ini.”
Merasa kesal, Nadia menarik kencang tangannya hingga sumpit yang mengapit di jarinya terpental jatuh. Tidak mau banyak berdebat, Jojo menekan tombil di mejanya kembali, lalu meminta pelayan untuk mengambilkan peralatan makan baru unutk Nadia.
“Ayo, dilanjutin lagi makannya. Masih banyak makanannya. Katanya kamu mau cobain semua biar puas.”
“Yang cari gara-gara duluan situ. Bikin mood makan gua hilang.”
Setelah menggerutu, Nadia tetap menikmati makan siangnya, bertolak belakang dengan ucapannya barusan.
Merasa perut keduanya mulai penuh, keduanya berhenti sejenak. Jojo memulai kembali percakapan mereka.
“Orang tua saya meminta saya untuk kenal kamu selama 6 bulan. Menurut kamu gimana?”
Mata Nadia melotot saat mendengar ucapan Jojo yang sama dengan nasihat orang tuanya.
“Kok samaan yah kayak bokap nyokap gua. Berarti mereka sudah bersekongkol nih merencanakan ini semua.”
“Sebenernya, mau saling mengenal atau ngakpun, kita tetap akan ketemu setiap hari di kantor. Dan pastinya, status kamu sudah bakalan diketahui sama semua penghuni di kantorku.”
Mendengar status dan pekerjaannya, Nadia menghela nafas panjang. Membayangkan bagaimana reaksi teman-teman kantornya besok. Khususnya dengan Mbak Lita.
“Lagian, kenapa juga sih, bokap nyokap loe mesti pake ngundang media segala. Jadi berabe kan. Duh.. Ngebayangin diincer pertanyaan sama orang-orang soal acara kemarin tuh ngak enak banget deh. Gua mesti ngomong apa dong.”
“Kamu pikir saya tahu sama rencana mereka bakalan seperti kemarin? Curiga aja saya ngak kepikiran.”
“Tinggal satu rumah kok bisa ngak tahu kalau mau dijodohin.”
“Kadang kalau saya lembur, saya pulang ke apartemen sendiri ngak jauh dari kantor. Kamu sendiri, tinggal satu rumah juga kan?”
Jonathan memang mempunyai sebuah apartemen sendiri. Sebenarnya ia ingin menetap di apartemen tersebut agar bisa hidup mandiri, namun keinginannya dilarang keras oleh Karisa. Kenzo mendukung keinginan Karisa dan mengatakan kalau Jonathan baru diijinkan tinggal sendiri setelah ia menikah nanti. Karisa baru mengijinkan Jojo menginap di apartemennya kalau ia terpaksa harus lembur sampai tengah malam. Kalaupun Jonathan sedang ingin menyendiri, Karisa akan menemani putranya itu dan tidak mengganggu Jojo sama sekali. Ibunya hanya datang untuk memastikan kebersihan dan ketersediaan makanan di apartemen Jojo selalu ada.
Merasa kalah dengan perdebatan mereka, Nadia berusaha untuk tidak memperpanjang urusan perjodohan mereka lagi.
“Yah, udah sih. Tiap hari juga ketemu di kantor kan. Itu juga saling mengenal. Jadi, ngak perlu makan berduaan gini terus-terusan.”
“Siapa juga yang mau pergi berduaan sama kamu. Memangnya kamu pikir kamu cewek spesial buat saya? Nyusahin dari pertama ketemu baru itu bener.”
Emosi Nadia meningkat karena tidak terima dengan ucapan Jojo barusan yang mengatakan dirinya merepotkan.
“Eh, siapa yang nyusahin? Gua juga udah minta maaf kan soal tiket sobek itu. Atau..”
Nadia menjeda ucapannya saat sekelebat pemikiran hinggap dikepalanya.
“Jangan-jangan, loe udah tau soal pertunangan kita, terus loe ngikutin gua ke bandara buat cari tau soal gua. Atau, jangan-jangan loe juga yang bikin skenario Randy selingkuh dibelakang gua.”
Mendengar tuduhan Nadia, Jojo meletakkan sumpitnya dengan kasar, menatap dengan emosi terlihat dari rahangnya yang mengeras..
“Saya seorang laki-laki berpendidikan, ngak akan mungkin melakukan hal memalukan dan rendahan seperti itu. Lagian, kuping kamu itu budek yah. Sudah dibilang kalau saya juga ngak tau menahu soal pertunangan sama kamu. Atau mungkin malahan kamu yang sengaja deketin saya dari bandara, terus sengaja melamar kerjaan di kantor saya biar bisa dekatin saya secara langsung.”
“Eh eh eh, ini orang. Dituduh malah nuduh balik.”
“Kamu yang mulai duluan kan.”
“Loe itu emang pantes dijulukin setan jutek.”
Dengan santainya, Jojo menyandarkan kedua bahunya ke kursi dengan bersedekap dan menatap tajam sosok wanita cantik bermulut pedas dihadapannya.
“Dan, kamu lebih cocok jadi macan kerdil. Ngak nyadar yah, kamu itu dari tadi mengaum kayak macan, walaupun badan kamu jauh lebih kecil dari saya. Apa cocok tingkah kamu itu jadi istri orang? Apa perlu saya masukkin kamu ke sekolah tata karma khusus istri keraton?”
“Loe!”
Dengan spontan Nadia bangun dari duduknya, matanya melotot panas menatap Jojo. Melihat reaksi Nadia yang marah karena perkataannya, Jojo justru merasa semakin senang menggoda gadis berstatus tunangannya tersebut.
Nadia menjulurkan jari telunjuknya mengarah ke Jojo dengan amarahnya.
“Loe tuh cowok gila, setan jutek ngak tau diri. Yang jadi istri loe bisa mati darah tinggi liat kelakuan loe itu. Di kantor gua memang karyawan, tapi di sini, loe bukan siapa-siapa gua. Jadi jangan coba-coba buat ngatur hidup gua apalagi ngatain gua cewek ngak ada tata krama! Gua bisa kesel juga karena sikap egois loe. Andai kolega bisnis loe tau kalau seorang Jonathan Linardi pemilik beberapa perusahaan, punya sisi gelap yang suka ngatain perempuan.”
Jojo pun bangun dari duduknya, kali ini Nadia melihat kilatan tajam di mata Jojo, yang sangat ia mengerti kalau Jojo sedang dalam mode marah walaupun perawakannya nampak begitu tenang.
‘Mateng deh, gua beneran bangunin macan tidur. Lagian kenapa juga sih dia mesti rese kayak gini, bikin gua emosian aja.’
Melangkah mendekati, Nadia memundurkan dirinya menjauh dari Jojo yang melangkah terus menerus mendekatinya. Sampai kaki Nadia terhentak dinding di ruangan itu.
“Udah, stop. Tadi gua memang kelepasan ngomong. Habisnya loe bikin gua darah tinggi.”
Jojo tidak menggubris perkataan Nadia. Melihat posisi Nadia terpojok, Jojo semakin mendekatkan tubuhnya. Dalam batinnya, ia harus memberi pelajaran kepada tunangannya tentang bagaimana menghormati dirinya sebagai calon suami.
Tubuh Nadia terhimpit dengan kedua tangan Jojo yang berada di sebelah kiri dan kanan kepala Nadia. Kedua telapak tangan Nadia menyentuh bagian depan tubuh Jojo untuk menahan agar tubuh mereka tidak saling menghimpit.
“Loe.. Loe mau ngapain?”
“Kenapa? Macan kerdil yang tadinya mengaum keras bisa takut juga sama setan kayak aku?”
Suara Nadia sudah tidak tinggi lagi, bahkan kini dirinya hampir tidak mampu berbicara karena gugup.
“Gua, gua ngak nyaman kayak gini. Bisa munduran dikit kan kalau mau marah.”
“Kalau aku ngak mau? Kamu harusnya saat ini memejamkan mata kamu buat aku cium.”