Bab 10. Kencan Pertama

1649 Words
Di kediaman Linardi, Jojo masih diam sambil mengunyah sarapannya. Kenzo dan Karisa saling menatap ketika mereka memperhatikan mode diam anak sulung mereka. Kenzo menyandarkan bahunya, meletakkan peralatan makan yang menandakan dirinya selesai, sembari menatap Jojo untuk mengatakan sesuatu. “Jo, hari ini kan masih libur kantor. Kamu jemput Nadia buat makan siang bareng yah. Daddy sudah booking restoran VIP buat kalian berdua.” Menghela nafas panjang hingga bahunya naik turun, Jojo menatap tajam Kenzo. “Mesti yah, Dad.” Karisa tersenyum melihat tingkah kesal anaknya yang sudah tidak menggemaskan lagi. “Kamu kenalan sama Nadia dulu selama 6 bulan. Kami yakin kalian pasti jatuh cinta setelah mengenalsifat masing-masing.” “Dia itu cewek bawel, Mom. Kalau ngomong ngak pake rem, judes banget.” Joel memberanikan diri menimpali ucapan kakaknya. “Justru cewek yang begitu baru bener, Kak. Malahan yang mulutnya manis itu bahaya loh, kayak sang mantan.” “Bener tuh. Aku juga lebih suka cewek yang pake baju casual dan sopan, daripada pake ketat belahan kemana-mana.” Sambung Jason. Mendapat angin segar sang adik, Kenzo melancarkan serangannya juga memaksa Jojo mengikuti rencananya. “Tuh, Joel sesama cewek yang ngomong begitu. Kamu kira, Mommy kalian ini ngak bawel dan judes dulunya? Untung Daddy kalian cinta sama dia. Tapi, cuma Mommy kalian yang berani ngomong apa adanya. Sudah kodrat perempuan lebih bawel dan judes, yah fungsinya untuk mengingatkan para laki-laki supaya jadi pribadi yang lebih baik.” Wajah ketus serta tatapan tajam Karisa berubah hangat kembali setelah mendengar semua penjelasan suaminya tentang perempuan. Lagi-lagi Jojo mendengus merasa tidak ada yang sependapat dengan dirinya mengenai pertunangannya dengan Nadia. Jojo beranjak dari kursinya, bermaksud melangkah naik ke dalam kamarnya. Tetapi, langkahnya dihentikan oleh Karisa yang sedang memegang ujung lengan bajunya dengan gaya menarik. “Udah, sana. Jemput Nadia dirumahnya. Terus kamu ajak dia makan di tempat yang sudah daddy kamu pesanin.” Mendapat paksaan sang mommy, Jojo membalikkan tubuhnya lalu memcubit pelan kedua pipi Karisa dengan menahan gemas. “Mom. Ini masih pagi. Bolehkan Jojo ke kamar sebentar, nanti jam 11 kurang aku berangkat jemput calon menantu Mommy yang bawel itu.” Mendengar ucapan calon menantu, Karisa serasa mendapatkan sedikit lampu hijau dari putranya. Ia menarik simpul senyuman lebar. Lalu melihat ke arah jam di rumah. “Gitu dong. Oke. 1 jam lagi, Mommy ingetin kamu buat jemput Nadia. Biar kamu ngak alesan ketiduran.” Jojo membulatkan matanya dengan mulut menganga, merasa usahanya merayu sang mommy tadi sia-sia saja. Ternyata ibu sambungnya ini sangat mengenalnya sampai ke pikiran liciknya. ‘Gagal deh rencana ketiduran gua.’ Karisa berbisik di telinga putranya. “Kamu pasti masih ingat kan panggilan kamu ke Nadia apa?” “Iya. Masih.” “Apa?” Goda Karisa ketika melihat semburat kemerahan di pipi Jojo. “Apaan sih, Mom. Udah ah. Jo mau ke kamar. Tuh lihat, suami posesif Mom Ica udah melototin aku terus.” Setelah Jojo naik, Karisa duduk di sebelah suaminya. “Jadi aku bawel, jutek dan galak yah?” Joel dan Jason yang melihat cengiran daddy mereka yang super tegas di luar namun akan berubah menjadi singa ompong bila berhadapan dengan istrinya, tertawa lepas saat Kenzo merayu Karisa yang memasang mode ngambek. *** Jojo sedang memakirkan mobilnya di depan rumah Nadia. Karisa, benar-benar menyuruhnya bersiap-siap tepat 1 jam setelah sarapan tadi pagi. Masuk ke dalam kamarnya, menyuruhnya mengganti pakaian yang dipilih Karisa sendiri. Mau tidak mau, Jojo menurut dengan raut wajah berat hati. Tidak sulit bagi Jonathan mencari alamat Nadia karena memang dia sudah beberapa kali mengantar tunangannya ini. Menekan bel rumah, kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari pintu garasi. “Mau cari siapa, Den?” “Saya, Jonathan. Mau bertemu sama Nadia, Mbak.” “Oh, sebentar.” Wanita itu masuk ke dalam rumah, karena memang Jonathan belum pernah turun langsung mengantar Nadia dan masuk ke rumah. Mbak Dewi mengetuk pintu kamar Nadia dan memberitahukan ada Jojo datang ingin menemuinya. Namun, Nadia menyuruh Mbak Dewi agar mengatakan dirinya sedang sakit, tidak mau diganggu. Mbak Dewi menurut saja perintah Nadia dan turun kembali, lalu bergegas ke depan untuk memberikan pesan Nadia tadi. Cika sudah melihat ke depan dan mengenali mobil putih yang terparkir di depan rumahnya. Namun ia merasa janggal lalu mengikuti Mbak Dewi dari belakang. “Den, kata Non Nadia, dia lagi sa--.” Belum sempat terucap, Cika segera memotong ucapan Mbak Dewi dari belakang sampai bahunya tersentak karena kaget. “Eh, Jojo. Mbak Dewi, bukain pintunya. Itu calon suaminya Nadia. Kamu hafalin mukanya. Kalau dia datang ke rumah, langsung bukain pintu. Ngak usah nanya Nadia lagi. Trus, kamu langsung buat minuman yah.” “Eh, Iya. Buk. Tadi itu, anu.. Non Nadia yang suruh begitu.” Mbak Dewi segera membukakan pintu untuk Jojo setelah menjelaskan ke CIka, karena takut majikannya salah paham. “Ayo masuk, Jo. Nanti, Mommy panggilin Nadianya.” “Eh iya, Tan.” “Panggil Mom sama Dad aja. Kamu juga jadi anak kami sekarang.” “Iya, Mom. Maaf, Jo belum terbiasa.” Cika mempersilahkan Jojo untuk duduk, Nathan yang melihat kejadian di depan barusan, menyambut Jojo, menemani sambil mengobrol. Cika bergegas menuju kamar Nadia dengan wajah setengah marah karena mengetahui niat licik putrinya. Pastinya Nadia akan mendapatkan hadiah dari dirinya di dalam kamar nanti. Sementara di dalam kamar Nadia, setelah Mbak Dewi keluar kamar, gadis itu menggerutu sendiri sambil memasang headset di telinganya mendengarkan musik. “Hahh, Mommy sama Daddy mau maksain aku ketemu sama si setan jutek itu, mana bisa. Akal Nadia lebih jalan. Setiap hari di kantor ketemu sama dia, masa gua liburan harus juga gitu ketemua dia. Lama-lama muka gua ngak berenergi ketemu sama si setan satu itu.” Nadia bergumam sendiri, duduk di atas kasurnya sambil memakai headphone ditelinganya. Sehingga tidak menyadari mommynya masuk ke dalam kamar dan mendengarkan ucapannya barusan. Cika menarik sebelah headset Nadia, lalu berbisik ditelinganya. “Akal siapa yang lebih pinter tadi?” Kedua bahu Nadia tersentak setelah menyadari kehadiran sang mommy sambil berteriak karena spontan kaget. “Argh! Mommy!” Jantungnya berdebar kencang, wajahnya pucat pasi. Bukan karena terkejut, tapi panik karena ketahuan akal bulusnya oleh Cika. “Aku bisa kena serangan jantungan loh, Mom.” “Justru Mommy yang bisa kena serangan jantung kalau kelakuan kamu kayak gini. Sana, cepetan ganti baju kamu. Berani-beraninya kamu suruh Mbak Dewi bikin dosa dengan berbohong yah.” “Habisnya Mom sama Dad maksa banget sih. Aku kan udah kenal sama si Jonathan itu, ngapain juga mesti makan siang bareng.” “Kamu mau batalin acara makan siang yang diatur sama Daddy Kenzo?” Dahi Nadia merengut karena Cika memakai kata daddy untuk Kenzo. “Yah iyalah, aku males jalan sama dia.” Cika mengambil ponsel Nadia yang tergeletak di atas kasur dan memberikannya ke Nadia. “Kalau gitu kamu telepon Kenzo atau Karisa sekarang. Kamu yang harus batalin sendiri.” Glek. Saliva Nadia turun dengan berat. Daddynya saja sudah cukup menakutkan bagi Nadia, apalagi seorang Kenzo. Benar-benar mati kutu saat ini Nadia dipojokkan oleh Cika. “Yah udah, aku pergi. Nyebelin.” Cika meletakkan kembali ponsel Nadia dan berjalan ke arah lemari pakaian Nadia, mengambil sebuah gaun selutut tanpa lengan berwarna merah muda. “Pakai yang ini.” “Ish, Mom. Ngak harus gitu juga kali. Cuma makan siang aja kan.” Gemas dengan tingkah putrinya, Cika menarik lengan Nadia, menyeretnya ke kamar mandi. “Udah sana, nururt aja. Cepetan ganti. Mommy nunggu 5 menit. Ngak keluar, Mommy terobos masuk, mami telanjangin kamu..” “Astaga, Mommy ih! Iyah, aku ganti sekarang, jangan di dorong.” Akhirnya Nadia menurut dengan suara merajuknya. Lima belas menit kemudian, Nadia sudah rapi dan siap berangkat. Jojo tertegun melihat gaya berpakaian Nadia hari ini. Terlihat senyuman tipisnya saat menatap Nadia, sedangkan yang ditatap merasa risih dan menyangka Jojo berpikiran jorok saat melihatnya dengan gaun yang ia pakai. Malahan Nadia memberikan hadiah pelototan ke Jojo. Jojo dan Nadia baru saja memasuki mobil. Jojo bermaksud untuk bersikap basa basi dengan Nadia agar situasi mereka tidak canggung. “Kita jalan sekarang?” “Kagak, tahun depan aja. Ngak usah basa basi deh. Buruan jalan biar cepet sampe, cepet makan, cepet selesai.” Sahut Nadia dengan ketusnya. Jojo tidak menanggapi ucapan Nadia, namun raut wajahnya menjadi dingin dan kaku seperti saat dirinya sedang di kantor. Perjalanan mereka begitu hening, hanya suara radio mobil saja yang mengalun mengiringi. Mata dan otak Nadia seperti terhipnotis oleh alunan lagu mendayu yang diputar, sehingga ia memilih untuk merilekskan tubuhnya serta memejamkan matanya. Setengah jam kemudian, mobil Jojo sudah sampai di parkiran restoran yang dituju. Ternyata, Kenzo memesan restoran di sebuah hotel bintang lima di area Kuningan. Menoleh menatap Nadia karena tersadar, gadis disebelahnya tidak bersuara sepanjang perjalanan. “Dasar muka pelor, nempel dikit kena ac langsung molor. Kebiasaan kamu dari kecil ngak berubah, Naka.” Gerutu Jojo dengan suara sepelan mungkin namun tidak membangunkan Nadia yang masih terlelap. Jojo malahan menikmati pemandangan Nadia yang sedang terlelap, sambil menyandarkan diri, terdengar dengusan Jojo sambil tersenyum. ‘Ternyata dia cantik juga kalau diam begini. Apa dia juga sadar kalau aku ini cinta masa kecilnya?’ Kelopak mata Nadia terbuka, keduanya saling beradu pandang karena Jojo tidak menyangka Nadia langsung membuka matanya begitu cepat. Tidak sempat bagi dirinya bersikap pura-pura. “Udah sampe yah? Kok ngak bangunin?” “Sepuluh menit yang lalu. Buruan dilap ilernya tuh.” Nadia terkejut, dengan reflek tangannya mengusap sisi bibirnya yang ternyata kering. “Ish! Siapa yang ileran!” Protes Nadia tidak dihiraukan Jojo yang sudah membuka pintu mobilnya dan keluar menuju pintu lift. Nadia segera melepaskan sabuk pengaman, turun dari mobil, berkaca sejenak di jendela mobil untuk memastikan rambutnya tidak acak-acakkan lalu menyusuli bos sekaligus tunangannya sekarang. “Ngak ada etikanya jadi cowok, masa dia ninggalin tunangannya jalan sendirian. Wait. Kok, gua mau aja ngaku-ngaku jadi tunangan dia. Ish, ogah.. Hei! Tungguin.” Jojo menghentikan langkahnya, meoleh sekilas kemudian menekan tombol di kunci mobil tanpa melihat Nadia yang menyusulnya, membuat Nadia mengumpat kesal. “Suombong bener ih!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD