Sesampainya di rumah, Karisa dan Kenzo bisa melihat aura kemarahan di mata Jonathan walaupun putra mereka tidak sedang berteriak. Justru sikap diamnya Jojo serta expresi dingin di wajahnya membuat adik-adiknya tidak berani meledek sang kakak mengenai pertunangan yang baru saja terjadi.
“Besok pagi, kita bicarakan ini, Jo.” Ucap Kenzo sang daddy terdengar tegas.
“Hem.”
Jawaban singkat Jojo yang tidak kalah tegasnya, mengonfirmasikan kalau putranya benar-benar sedang marah dan terdengar suara dentuman pintu berasal dari kamar Jonathan. Karisa dan Kenzo hanya dapat menghela nafas panjang menahan kesabaran, berharap rencana mereka akan diterima dengan baik oleh Jojo karena memang ini kemauan putra mereka sejak kecil. Tapi, Karisa dan Kenzo sangat memahami dan sudah mempersiapkan reaksi Jojo akan rencana dadakan mereka ini.
Setelah mandi, Jojo menyandarkan tubuhnya di atas kasur dengan beralaskan lengan kirinya, sembari melihat cincin yang melingkar di jarinya.
‘Kenapa bisa aku ngak ngenalin Nadia sebagai anaknya Onty Cika dan Uncle Nathan. Apa karena aku pacaran sama Rika dulu, sampai aku lupa rupa Nadia sekarang. Bego banget sih loe, Jo.’
Flashback On
Teringat akan kisah masa kecilnya saat mengunjungi kediaman Nathan saat Cika baru melahirkan.
“Onty, what is her name?”
“Sementara masih Baby N, Jo. Uncle Nathan masih bingung pilihin nama yang bagus.”
Jojo mengusap pipi bayi mungil dengan pipi tambun merah yang sedang tertawa kepadanya.
“Hai, Baby N. Aku Jojo. I will protect you more than Joel. Soalnya Joel itu nyebelin.”
Joel kecil menangis saat Jojo menatapnya dingin, walaupun bayi kecil tersebut tidak mengerti perkataan Jojo, namun hanya dari tatapan Jojo saja sudah membuatnya takut.
Karisa protes sembari menenangkan Joel dalam gendongannya. “Jo, kamu jangan bikin takut adik dong.”
“Biarin. Jo suka sama Baby N. Nanti Jojo yang jadi super hero buat Baby N.” Menoleh kembali sembari membelai halus pipi bayi perempuan dihadapannya. “You will be my future, Baby Naka.”
“Baby Naka?” Tanya semua orang dewasa di ruang tersebut.
Jonathan memperlihatkan senyum cengirannya karena memanggil Baby N sesuai dengan isi kepalanya. “I like to call her Naka.”
Karena panggilan Jojo, akhirnya Nathan mendapatkan sebuah nama dan segera mencari arti dari nama tersebut. Sebuah senyum terbit saat mengetahui artinya. Lalu mendekati Jonathan, dan mengusap lembut kepalanya.
“Namanya Nadia Nataka Harianto. Artinya Anak pertama sesuai harapan orang tuanya sebagai hadiah terindah. Nama panggilannya Dia.” Ucap Nathan sambil memandang mata istrinya.
“Nama yang bagus, Yank. Manis banget dengernya. Hai, Dia.” Jawab Cika sembari tersenyum.
Nathan menoleh ke Jojo kembali. “Kamu boleh panggil Nadia dengan Naka kalau kamu mau, Jo.”
Jojo tersenyum puas dan menoleh kembali memandangi Nadia. “Hai, Naka.”
Flashback Off
Jojo menghela panjang nafasnya, membayangkan pertemuannya dengan Nadia nanti di kantor. Belum lagi dengan pemberitaan yang akan muncul di media besok.
“Naka.” Gumamnya sendiri sembari melamun membayangkan wajah Nadia.
Ponsel Jojo bordering, dari Tommy dan Revan di grup chat mereka. Jojo menggeser lambang berwarna hijau untuk menjawab panggilan berupa video call..
“Jo, loe jujur sama gua. Kenapa tunangan loh bisa si Nadia, asisten kita. Gagal dong usaha gua buat dapetin Nadia jadi calon istri.” Tommy memulai percakapan mereka.
Jojo hanya menghela nafasnya kembali, seakan malas membahas masalah pertunangannya.
Revan memperhatikan raut wajah Jojo, dirinya pun memasang mode wajah serius. “Menurut gua, itu jalan Tuhan, Jo. Terima Nadia jadi calon istri loe. Dari awal gua udah lihat loe berdua itu cocok. Hati-hati sama si Tommy mulai hari ini. Dia rival loe tuh sekarang.”
“Eh, loe gila aje. Ngak ada yah sejarahnya gua nikung punya sahabat. Mulai hari ini, Nadia bakalan jadi perhatian khusus buat gua, walaupun sudah ada neneng sekretaris cantik dihatiku, Dia tetap pujaan gua kok.”
Wajah Jojo seketika berubah garang mendengar ucapan Tommy.
“Ish, muka loe, Tong, tong. Jangan cemberut gitu. Maksud gua, Nadia itu adik kita sekarang. Masuk dalam daftar yang harus kita lindungi dari para cowok kurang ajar di luar sana. Betul ngak, Van?”
Revan terkekeh dengan keusilan Tommy. “Loe bener, Tom. Mulai hari ini, Nadia termasuk perempuan yang harus kita lindungi selain bini gua. Kalau sekretaris pribadi loe belom masuk kategori.”
Terlihat Jojo mulai memijit pelipisnya perlahan.
“Ditunangin sama cewek cantik, mandiri, pinter, harusnya loe bersyukur, Jo. Kenapa mesti pusing sih.” Ucap Tommy kembali menyemangati sahabatnya.
“Gua lagi mikirin gimana mesti berhadapan sama Nadia di kantor nanti. Media pasti bakalan ramai nunggu di depan kantor kita hari Senin. Kenapa juga emak bapak gua mesti ngumumin di podium sih. Bikin masalah aja.”
Revan menarik bibirnya seakan mengerti jalan pikiran orang tua Jojo. “Karena mereka tau sifat loe, Jo. Kalau ngak secara formal, loe pasti bakalan berkilah terus. Gua yakin loe pasti punya rencana buat ngebatalin perjodohan sebelum pengumuman tadi, kan?”
Jojo sempat terkejut, seakan-akan Revan mengetahui pikirannya, kemudian dirinya tertawa kecil saat menyadari sesuatu.
“Loe benar, Van. Dan konyolnya, gua merencanakan itu semua sama Nadia kemarin.”
“Apa!” Jawab Tommy dan Revan bersamaan karena terkejut.
“Tiga hari lalu, Nadia yang ngusulin ke gua soal jadi pacar pura-pura, karena dia juga lagi dijodohin. Gua ngak bilang iyah, ngak juga nolak. Ternyata malah kita berdua ditunangin beneran.”
Tommy mengangguk-angguk sambil memajukan bibirnya. “Loe berdua memang jodoh deh. Rencana pura-pura kalian jadi kenyataan.”
***
Nadia masuk ke dalam rumah dengan wajah merengut. Sepanjang perjalanan pulang ia tidak bersuara, hanya duduk sendirian di belakang dengan bersedekap sambil melihat cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.
Sama seperti Kenzo, Nathan memberitahu putrinya untuk membahas masalah pertunangannya besok pagi. Berbeda sikap Jojo, berbeda pula sikap Nadia. Gadis ini tidak terima harus menunggu esok hari untuk membahas masalah penting menyangkut masa depannya yang sudah diatur tanpa sepengetahuannya ini.
“Tapi, Dad. Nanya dikit masa ngak boleh sih?”
“Dia, Daddy capek. Besok pagi aja pas sarapan yah kita bahasnya.”
Nadia menghentakkan sebelah kaki, bibirnya cemberut sambil menatap tidak senang ke daddynya, lalu berlari ke atas sambil mengangkat sedikit gaun nya yang panjang agar tidak tersandung.
Setelah Cika selesai membersihkan diri, ia naik ke lantai atas menghampiri kamar putrinya.
Mendengar suara ketukan pintu disertai suara pintu terbuka, Nadia pura-pura memejamkan matanya dengan posisi membelakangi.
“Kamu sudah tidur, Dia? Kayaknya pura-pura deh.”
Merasa ketahuan, karena Cika memang selalu bisa mengetahui gelagat putrinya setiap kali berbohong. Nadia membalikkan tubuhnya, dan mengganti posisi tidurnya menjadi duduk tetap dengan wajah ditekuk dan mata sedikit sembab.
“Mom, kenapa sih ngak bilang kalau hari ini aku bakalan tunangan. Ini kan hal penting, harusnya dibahas dulu sama Dia. Bukannya langsung main ngumumin kayak tadi.”
Cika membelai pipi putrinya. “Kalau Mommy bilang, pasti kamu bakalan kabur. Iyah kan? Kita selalu bahas soal perjodohan ini ke kamu, tapi kamu selalu marah ataupun bilang ngak mau dijodohin.”
“Iyah, sih. Habisnya kok kayak aku ini gadis ngak laku aja pake dijodohin segala.”
“Besok kita ngobrolin ini yah sama Daddy. Kamu tidur dulu sekarang.” Setelah itu, Cika mengecup kening Nadia lalu keluar dari kamar putrinya.
Esok paginya, Nadia bangun lebih pagi dari biasanya, bahkan ia membantu mbak di rumah menyiapkan sarapan. Nathan yang baru turun dengan Cika, tertegun melihat kehadiran putrinya di dapur. Saling menatap dan tersenyum, berharap mood Nadia sudah membaik.
“Wah, anak gadis Daddy baru kemarin tunangan, hari ini mulai masuk dapur nih. Belajar masak buat calon suami yah.” Senyum lebar Nathan menggoda putrinya.
“Ish, Daddy. Aku ngak bisa tidur gara-gara kerjaan Mom sama Dad nih. Daripada kesel, mendingan bantuin mbak deh. Yuk, makan udah selesai nih sarapan made by Nadia Nataka.”
Sambil menikmati sarapan, Nadia sudah tidak sabar lagi menunggu penjelasan sang ayah yang tak kunjung memulai percakapan tentang kejadian semalam.
“Dad, ayo dong bilang. Kenapa Dia mesti ditunangin sama si setan jutek itu.”
Mendengar julukan Nadia kepada Jojo, Nathan tersedak.
Uhuk uhuk
Cika segera memberikan gelas minum Nathan, sambil melototi putrinya dengan raut wajah terheran bercampur tak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut putrinya itu..
“Kamu apa-apaan sih, Dia. Masa Jojo yang ganteng gitu kamu bilang setan jutek.”
“Asal Mommy tau yah. Dia itu bos aku di kantor tempat aku kerja. Trus aku udah pernah ketemu sama dia di bandara. Nah, dia juga yang ngasih aku uang taksi buat pulang.”
“Jadi, mobil putih yang nganterin kamu pulang 2 kali juga itu Jojo?” Ucap Cika yang masih menelaah kecurigaannya terhadap bos Nadia yang mengantarnya pulang.
“Ya iyalah, dia. Orangnya itu angkuh banget, dingin, ngak banyak senyum, bawel dan jutek. Ngak ada deh tingkahnya yang masuk daftar kualisifikasi calon suami aku nanti. Aku bingung, Mom sama Dad lihat dari sisi mananya sampai bisa setuju aku tunangan sama dia.”
Nathan tertawa mendengar ucapan menggerutu putrinya.
“Bagus dong dia begitu. Daripada pintar ngerayu, terus akhirnya selingkuh di belakang kamu. Lebih nyakitin. Mendingan sok cool kaya daddy kamu ini, tapi setia sampai mati sama mommy kamu. Ngerayunya cuma buat perempuan yang dia cinta aja.”
Nadia memutar matanya jengah mendengarkan ucapan daddynya dengan perkataan menyerempet ke sikap laki-laki seperti Randy. Bilang saja sedang menyindirnya.
Nathan memasang sikap serius kembali sambil menatap putrinya.
“Daddy sama Mommy bukan orang tua yang cuma mementingkan diri sendiri. Kami sudah memberikan kamu kesempatan untuk memilih laki-laki sesuai kriteria kamu. Tapi nyatanya pilihan kamu salah kan? Jonathan itu anaknya memang keras di awal. Dia dididik daddynya sebagai penerus yayasan Linardi, bahkan dia bisa membuat perusahaan sendiri dengan kerja kerasnya. Kami kenal orangtua Jojo dengan baik, dan yakin kalau Jojo laki-laki bertanggung jawab yang bisa melindungi kamu. Daddy harap kali ini kamu percaya sama pilihan kami.”
Mendengar wejangan panjang lebar sang daddy, Nadia hanya bisa mengendikkan bahunya sembari menghela nafas panjang. Tidak mampu mengucapkan protesnya lagi.
“Dia, kamu kenalan dulu sama Jojo. Dalam waktu 6 bulan, Mommy yakin kalian pasti jadi pasangan bucin kayak kami. Nanti siang Jonathan jemput kamu, Kenzo sudah memesan restoran buat kalian berdua makan siang bareng, biar lebih santai ngobrol berdua.”
Setelah selesai memberi pengertian dan memerintah putrinya untuk bersiap-siap siang nanti, Cika dan Nathan meninggalkan Nadia sendiri dan beristirahat. Baru saja selesai mandi, ponsel Nadia berdering. Saat melihat ternyata dari Randy, membuatnya semakin kesal berdengus sambil membenamkan wajahnya di bantal.
‘Lepas dari playboy cap kapak, eh tunangan sama setan jutek. Argh! Napa nasib gua mengenaskan gini sih!’