Cermin Kehidupan

1861 Words
Jangan ditumbang Kau hendak mengusang? Padahal Disayang-sayang kalau kau tinggal Dia sayang kamu Kamu mesti lebuh sayang dia Dia utusan Allah Maka, peluk-cintailah *** ''Kamu tahu arti salat bagimu? Sesungguhnya ia adalah cermin dari kehidupanmu.'' *** ''Salsa, kamu udah selesai urus beasiswa semester ini?'' tanya Wafa. Di antara dinding-dinding biru itu tiga insan berikatan sahabat sedang membawa langkah kaki. Usai menyebarkan suara kepada banyak telinga lewat siaran radio sekolah. Para murid di luar kelas tinggal bisa dihitung jari. Sebabnya bel istirahat sudah habis dan guru-guru mulai masuk kelas untuk mengajar. ''Aye cuma kurang surat pengajuan diri, Fa. Elu udah?'' ''Alhamdulillah semua berkas udah ada di tangan gue. Mungkin nanti pulang sekolah mau mampir ke ruang waka sama komite. Apa mau bareng?'' ''Ah kagak perlu. Elu duluan aje kagak apa-apa aye mah. Gampang.'' Sudah dianggukki oleh Wafa, maka sudah selesai lah topik pembicaraan tentang beasiswa. Memang di SMAN ARJ ini terdapat beberapa pengusaha yang menyumbangkan sebagian harta guna pendidikan orang-orang kurang mampu. Tiga di antara banyaknya penerima beasiswa itu adalah Wafa, Salsa, dan Hanan untuk di angkatannya. ''Eh, Han.'' Salsa menepuk bahu Jihan. Sedang Jihan menanggapinya sekadar dengan deheman seraya pandangannya dijatuhkan kepada Salsa. ''Kenapa gak elu terima aja sih permintaan Hanan? Kan elu bisa dapet pahala juga, tuh.'' ''Iya, kenapa elo gak mau, Han?'' Pertanyaan Salsa diperkuat Wafa. Sesungguhnya keheranan sudah tak lagi berjalan di kepala mereka. Sedari kenal Jihan di kelas 10, Jihan memang pandai di pelajaran agama. Kendati ia tidak pernah masuk 3 besar, hanya 5 besar. Rangking satu selalu disikat Wafa, juara dua dan tiga, temannya yang lain. Jihan memang hanya unggul di pelajaran tersebut. Namun amat disayangkan, ia selalu merasa hatinya keriput kala diminta membantu orang lain ke jalan kebenaran. Alasannya tetap sama: ''Aku belum merasa pantas untuk mengingatkan orang lain sedangkan aku sendiri masih perlu diingatkan.'' Sudah mengakar jua kalimat tersebut di kepala Wafa dan Salsa. Tiada ubah barang satu kata dihilangkan saja. Tetap sama persis. Lantas mereka dipilih untuk mendapat kekecewaan lagi atas sikap Jihan dan memilih untuk diam setelahnya. Sedikit bisa memaklumi, mungkin inilah cara pandang dan cara menyikapi yang berbeda dari mereka. Terlebih antara Wafa dan Jihan, sudah jelas unggul Jihan. Namun lebih berani Wafa. Beberapa meter lagi mereka akan tiba di kelas, dari arah belakang seseorang menyeru nama Jihan. Suaranya cukup asing bagi Jihan. Pun juga dengan wajahnya saat ia memlingkan wajah ke murid tersebut. ''Assalamualaikum.'' Datar. Nada suaranya datar. Diperkuat dengan garis hitam di kelopak mata serta merta tanpa seulum senyum saja yang diterbitkan. ''Waalaikumussalam,'' jawab Jihan, Wafa, dan Salsa. ''Nama Kakak Jihan?'' ''Iya.'' Tiba sebuah flashdisk merah diserahkan oleh siswi tersebut ke hadapan Jihan. ''Titipan. Katanya jam pelajrn ini gak bisa masuk kelas Kakak.'' ''Oke. Makasih, ya.'' ''Kenapa Kak Jihan waktu itu hanya balas salamku?'' tanyanya. Jihan mengerutkan kening. Ia tidak mengerti dengan maksud dari siswi di hadapannya ini. Sebelumnya mereka tak kenal, berjumpa pun tidak pernah. ''Aku yang nomor asing di WA Kakak. Tapi aku sepertinya gak jadi ikut ekskul yang Kakak ikuti.'' Perkatannya seolah menunjukan bahwa ia tahu apa yang ada di pikiran Jihan. Jihan paham. Pasti dia adalah orang yang waktu itu mengirimnya chat. ''Oh mau ikut ekskul Penyiaran? Boleh--'' ''Gak jadi, Kak. Wassalamualaikum.'' ''Waalaikumussalam.'' Kepergiannya masih diperhatikan oleh mereka bertiga setelah ia masuk ke kelass 11 Mia 5, Salsa pun bersuara. ''Dia anaknya Pak Aji, ya?'' ''Apa iya?'' tanya Jihan dan Wafa serentak. ''Ya aye cuma nebak. Abisnya mirip banget sama tingkah Pak Aji.'' Jawaban Salsa rupa-rupanya berhasil menciptakan decakan kesal dari JIhan dan Wafa. ''Iya. Kerjakan Bab 2.'' Suara Salsa dimirip-miripkan dengan suara Pak Aji. Meniru caranya yang berbicara tanpa nada yang naik-turun. Tak berselang lama kemudian tawa kecil nan perasaan geli meluncur dari mulut mereka. Dari balik kaca jendela kelas, siswi bermata panda itu menatap datar kepada mereka. Dia adalah si murid baru bernama Diva. Ia lantas menarik pandangan ke arah buku Seni Kebudayaan di mejanya lagi. *** Tiga meja dan kursi sudah saling di hadapkan. Tentu milik Jihan, Wafa, dan Salsa. Ketiganya kompak mengerjakan seraya diselipkan obrolan ringan tentang kilas balik kisah mereka di kelas 10. ''Dulu kok kita bisa kenal, ya?'' tanya Jihan di sela-sela kegiatannya mencatat materi pelajaran. ''Bisa, lah! Pertama kalinya deket gara-gara aye dapet kursi sisaan di samping elu, Han. TErus di belakang aye ada Wafa.'' ''Oh iya bener. Waktu itu aku masih inget pas kursi yang Salsa pakai, Fa ternyata rusak dan--'' Air muka Jihan sudah hendak meletupkan gambar tak tahan tawa. ''Salsa dudukin, kursinya malah ambruk.'' ''Terus Salsa jatuh.'' Tambah Wafa. Sementara itu yang sedang menjadi objek pembicaraan mengerucutkan bibirnya saja. Diingat-ingat, kala itu rasa sakit dan malunya tak setara. Sudah lebih unggul rasa malu karena dalam waktu singkat orang-orang telah mengerumuni Salsa. Pertanyaan 'kamu gak apa-apa' balapan keluar dari masing-masing mulut. Sekarang tinggal kenangan yang membekaskan tawa. Luka pada zamannya memang bisa menjadi tawa pada waktunya. ''Eh aye jadi inget murid kelas 11 tadi, deh. Kesan pribadinya kok serem amat yak?'' ''Namanya siapa, sih?'' tanya Wafa. Namun pandangan matanya urung lepas dari susunan kata di buku Geografi. ''Mana aye tahu! Menurut aye dia malah kayak hantu hidup.'' ''Udah ah. Kita lanjutin ngerjain tugas aja. Serius.'' Jihan menyanggah. ''Ghibah ya, Han?'' tanya Wafa. Jihan membisu dan cukup tersenyum kecil. ''Jihan mah ditanya bukannya jawab malah senyum.'' ''Itu juga jawaban yang tersirat, Salsa,'' bela Jihan. ''Mana bisa?! Jihan kagak jelas, deh.'' Tampak-tampaknya Salsa sedang kumat lagi. Perasaan menahan tawa tengah mendesak ruang dalam d**a Jihan dan Wafa lagi. Coretan kisah seperti ini, akan dikenang nanti. ''Iya, aku salah. Maaf, ya.'' ''Iya kagak apa-apa. Gitu, dong. Berani minta maaf itu hebat! Hebat! Hebat!'' Tapi gue gak salah, Sa. Cuma males memperpanjang perdebatan aja. Ya maaf, sih. Aye minta maaf, Han. Setelahnya mereka hanya saling tertawa kecil. *** Di sana, di pandangan mereka, keramaian sudah hampir terkikis. Benar siswa-siswi sudah tak sabaran untuk melepas lelah seharian dari sekolah. Jihan dan Wafa pun demikian. Mereka sudah mengenakan helm, akan pulang bersama. ''Maaf ya, ngerepotin kamu terus, Han.'' ''Kayak ke siapa aja sih, Fa?'' Mesin motor sudah dinyalakan, Wafa sudah naik, dan tak jadi pergi detik itu jua krena kehadiran seseorang. ''Assalamualaikum.'' ''Waalaikumussalam.'' Seorang adam yang menghampiri mereka, membuat Wafa menunduk dalam-dalam. Berdoa dengan baik detak jantungnya yang terasa amat bising itu supaya tak sampai ke telinga Yusuf. Iya, barusan yang membuat mereka tak lekas pergi adalah Yusuf. ''Ada apa, Suf?'' ''Emh, itu. Apa ya, gue tadi pagi dikasih amanah sama Ibu.'' Pandangannya ke arah lain. ''Kalau Ibu ngundang elo sekeluarga buat datang ke rumah besok malam. Mau ada a--acara.'' Jihan terangguk-angguk jua. ''Insya Allah gue sampaikan ke umi sama abi. Sampaikan ke ibu, makasih ya, undangannya.'' ''Iya, Han. Insya Allah.'' ''Ya udah kita pulang duluan ya, Suf.'' Mesin motor matic Jihan dihidupkan kembali. ''Mari, Suf. Wassalamualaikum.'' ''Iya. Waalaikumussalam.'' Perginya Jihan dan Wafa, membuat lelaki itu akhirnya membuang napas bermakna lega. Kedua telapak tangannya saling digosokkan agar menghangat. Lantas tangan kanannya diarahkan ke pelipis guna menyingkap sedikit butiran-butiran peluh yang ada di sana. Sudahlah jelas ia mendadak merasa panas-dingin. "Eh, Fa." Jihan memanggilnya pelan. "Hm?" "Kalau nanti elo jodoh Yusuf, harap sabar dengan keenggak pekaannya, ya." "Eh elo kok ngomong gitu? Ada-ada aja, deh." "Cie cie cie. Udah bisa gue liat, kok gimana elo ke Yusuf." Diam-diam, Wafa hanya bisa menahan senyumnya. "Eh eh eh parah, sih ini. Gue bisa ketemu Jihan lagi. Padahal tadinya gue mau ngerjain tugas kelompok dulu di kelas. Tapi, gagal. Terus kita ketemu deh, Ji di sini." "Gue sih gak ngarep bisa ketemu elo, Han." Jihan melipat kedua tangannya di depan dadak. "Astaghfirullh, ukhti." Hanan pura-pura syok dan mengelus d**a. "Ucapan ente sungguh terlalu." Jika tidak gengsi, Jihan dapat tertawa saat ini juga mendengar suara Hanan yang cenderung dibuat-buat seperti raja dangdutnya Indonesia. Namun, tanpa Jihan tertaw pun, Hanan sudah tahu. Maka, seberkas rasa bahagia pun sedikit bertandang di hati Hanan. Setidaknya, ia tak melulu melihat wajah masam Jihan. Hanan berharap Jihan akan luluh lalu mau menerima permintaannya. *** Setelah mengantarkan Wafa ke rumah susun di kelurahannya, Jihan langsung bertolak ke asrama panti Al Baraqah. Kendati sudah pukul setengah lima kala ia tiba di halaman asrama, Jihan tak menyesalinya walau nanti hanya sebentar. Sebab ada rasa rindu yang menggelegar terhadap anak-anak panti dan Jihan tidak bisa menundanya. Sekarang gadis itu sudah berada di dapur asrama menggunakan celemek. Diusapkan jua kedua tangannya ke kain tersebut usai ia selesai mencuci piring. Beberapa insan wanita berusia 40-an dan seusia Jihan sedikit lebih tua sibuk dengan urusan masing-masing. Memasak sayur, menggoreng kerupuk, memotong tempe, dan membuat air teh di dalam wadah besar. Jihan sudah ganti tugasnya menghilangkan bekas air di piring, gelas, dan sendok. Langsung ia susun meningkat di atas meja. ''Pokoknya Jihan harus ikut makan. Jangan pulang dulu, ya,'' kata Lusi, wanita tertua di asrama panti itu. Tangannya sedang memotong-motong tempe. ''Udah sore, Umi. Selesai ini Jihan langsung pulang aja, ya?'' ''JIhan bawa baju ganti?'' ''Bawa.'' ''Ya udah mandi di sini. Nanti Umi yang bilang ke abi sama umi kamu, ya.'' Jihan sudah tak bisa menolak kalau seperti ini. Acara makan bersama berlangsung. Sebelum dan sesudah makan berdoa bersama dengan posisi membentuk lingkaran. Rasa kebersamaan pun terasa kental di sana. Saling membahu mengambilkan nasi atau sayur. Anak-anak kecil yang menurut Jihan sudah mampu bersikap mandiri. Seusainya mereka melaksanakan salat maghrib dan ngaji bersama. Lantas kini, antara kaum adam dan hawa dibagi dua tempat. Diberitahukan apa-apa saja yang perlu mereka ketahui. Seperti acara ceramah pada umumnya, hanya saja lebih diajak bersahabat dengam bahasa untuk anak-anak. Jihan duduk di antara Ara dan Lia. Fokus mendengarkan ceramah dari umi. ''Diibaratkan waktu Umi lagi ngasih tugas hafalan buat anak-anak Umi semuanya di sini, terus Umi mau kasih boneka buat yang cepat dan bagus hafalannya. Misal ... em siapa, ya? Nah Ara sama Lia misalnya. Misalnya Ara hafalannya cepat dan baik, sedangkan Lia lambat dan kurang baik. Jadi, Umi bakalan kasih boneka itu ke siapa?'' ''Ke Ara!'' Serempak mereka menjawab dengan jawaban yang sama. ''Nah sama dengan kalau ikta salat tepat waktu, insya Allah, Allah juga akan cepat ngasih apa yang kita mau. Tentu dengan salat yang baik dan khusyuk juga. Pada mau minta apa ke Allah?'' ''Alquran.'' ''Baju baru.'' ''Mukena.'' ''Iya, banyak maunya, kan? Jadi salatnya jangan malas-malasan. Harus semangat! Oke!'' ''Siap, Umi.'' Sementara itu tanpa Umi tahu, Jihan sedang dibisikkan sesuatu oleh Ara. Hati Jihan lantas mendadak kelabu dan ia peluk Ara dengan erat. Sebab kata Ara. ''Ara maunya ketemu mama sama papa di surga, Kak.'' Kalimat yang amat sendu Jihan terima hingga menjalar ke hatinya. Ia merasa amat beruntung memiliki orang tua yang lengkap. Tak terbayang bagaimana duka yang ia rasa kekalau berada di posisi Ara. ''Dalam Alquran, surat Al-Ankabut ayat 45 'Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) k**i dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)'. '' Dan dalam surat Al-Maidah ayat 55 'Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)'. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD