Kisah Lalu

1438 Words
Jangan dilepas Kasih tak usah diputus Tentang kisah yang bebas Serumpun sayang yang dijaga Untuk rumah yang indah Tiada ikatan dipatah *** ''Tidak ada kisah yang indah selain berusaha menjalani dan mengusaikannya.'' *** Sudah terbentang amat indah layar hitam di langit itu. Disudahi jua pandangan matanya dari melihat lampu terbesar yang menggantung di sana dan sinar-sinar kecil yang mengelilinginya. Keindahan alam dari tangan Allah yang tiada bandingannya. Sekali berdecak kagum mengingat mahakarya Yang Mahakuasa, sedangkan kini ia sudah berada di bawah atap rumah bercat biru muda. Meninggalkan halamannya yang telah diramaikan mobil milik insan yang bertandang dengan undangan yang sama jua. Di dalam, pemilik rumah menyambut para tamu dengan air muka yang bersinar terang. Tangan-tangan dijabat dengan hangat. Dipersilakan duduk dan menikmati jamuan makanan ringan. ''Ehh udah gede aja, ya? Kelas berapa Adek?'' tanya Susi, Ibu Yusuf kepada seorang anak kecil yang bisa diterjemahkan kalau mereka sudah lama tak berjumpa. Hingga pada tamu berikutnya, Jihan sekeluarga menyalami tuan rumah. Gadis itu mengenakan gamis biru polos dengan kerudung instannya yang sampai menutupi sedikit di bawah d**a. ''Apa kabar? Kalian kok gak pernah main ke rumah saya ta, Pak Burhan sekeluarga? Padahal cuma beda kompleks.'' ''Beda kompleks juga lumayan jauh, Bu Sus.'' Umi lekas menjawab usai ditanya Susi. Sempat bertemu jua pipi keduanya. Lantas berganti Jihan mencium kedua tangan Susi. Santun sikapnya mampu menciptakan pandangan Susi yang terkagum-kagum. Tersirat di matanya, tersurat melalui tangan kiri Wanita berusia 48-an tahun itu dengan mengusap pelan kepala Jihan. ''Jihan gimana sekolahnya? Masih sering ketemu Yusuf?'' ''Alhamdulillah sekolahnya lancar, Bu. Kalo ketemu Yusuf.'' Sejenak isi kepala gadis itu diajak berpikir. Lagi katanya, ''Jarang ketemu, Bu. Soalnya kan kita sejak SMA beda kelas. Ditambah Ibu sekeluarga pindah kompleks ini kalau di jam pelajaran. Kalau di lur jam peljrn ya masih lumayan seringlah..'' Di ujung kalimat, Jihan sedikit terkekeh. ''Iya sih, Han. Ohya ayo dinikmati dulu suguhan seadanya itu.'' Abi, umi, dan Jihan sudah mengakhiri percakapan mereka sejenak dengan sang tuan rumah. Berbaur bersama insan-insan lain yang sudah duduk di atas tikar dalam ruangan yang bersih dari kursi. Sengaja, dengan cara demikian agar tempatnya lebih luas dan mampu menciptakan kehangatan kekeluargaan. Sesuai tema undangan yang Susi pinta kepada banyak manusia yang dikenalnya itu untuk kian mengikatkan tapi silaturahim. Piring-piring putih besar berisi lapis, bolu caramel, bolu ketan, biskuit, dan sejenisnya berada di tengah-tengah. Dikelilingi oleh para manusia berjilbab dan berpeci. Tak lupa jua, gelas-gelas berisi teh manis dan sirup rasa jeruk menjadi pendamping guna melancarkan kerongkongan. Jihan mengusap hidungnya dengan sapu tangan setelah sebelumnya sempat bersin. Kini tampak sedikit memerah jua ujung hidung bangir gadis itu. Di sebelahnya, Umi menyodorkan segelas sirup dingin. ''Enggak, Mi. Jihan lagi agak gak enak badan ini. Nanti minum es makin parah lagi.'' ''Ayo dinikmati lagi. Maaf, ya seadanya.'' Tahu-tahu, Susi datang dan terduduk di samping umi. ''Eh, Jihan kenapa? Lagi flu, ya?'' ''Iya. Flu sedikit, Bu.'' ''Ya Allah. Ya sudah, Ibu bikinin teh hangat, ya. Ini minumannya es semua.'' ''Eh gak usah, Bu. Jangan repot-repot.'' ''Gak apa-apa, Sayang. Bentar, ya.'' Sudah diangkat jua tubuh Susi dari tempat duduknya. Jihan memajang wajah tak enak hati kepada Umi. Lantas, entah ada dorongan darimana Jihan turut bangkit. Mengekori Susi sampai dapurnya. ''Kalo gitu Jihan buat sendiri aja ya, Bu.'' Susi sedikit tersentak. Ditengoklah jua asal suara tersebut yang ternyata ada di belakangnya. ''Udah Jihan duduk aja di sini. Liatin Ibu bikin teh buat Jihan.'' ''Hmmm gak mau, Bu. Jihan jadinya malah ngerepotin.'' ''Justru kalo Jihan nolak terus, barulah ngerepotin Ibu. Ibu bingung harus pake alasan apa lagi biar Jihan nurut.'' Seulum senyum sudah tersurat di bibir Jihan. ''Iya, deh. Jihan duduk di sini ya, Bu,'' katanya. Lantas cukup diacungi jempol oleh ibu. Pada salah satu kursi di ruang dapur tersebutlah Jihan duduk dan memerhatikan Susi. Suara insan-insan saling beradu cakap di ruang tengah mampu sampai ke ruang dapur. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sedikit lebih tua dari Jihan datang. Di antara kedua tangannya ia menggendong seorang balita lelaki. Jelas, air mukanya mempertontonkan kondisi sedang tergesa-gesa. Susi sudah menaruh segelas teh hangat di hadapan Jihan. Uapnya mengudara, haruk melatinya sudah menyentuh indera penciuman. ''Bu, itu acaranya udah mau dimulai.'' ''Astaghfirullah. Iya ya udah Ibu ke sana dulu. Ayo, Jihan.'' Susi sudah menarik tubuhnya dari dapur. Jihan sudah bangkit dan hendak bertolak langsung, tetapi Mita, kakak dari Yusuf itu sudah mencekal tangannya. ''Tolong gendong Akmal dulu ya, Han. Haduh Mba kebelet, nih. Udah gak tahan.'' Tanpa tanda satu kata 'iya' atau 'tidak' dari Jihan, Mita telah memindahkan Akmal, putranya ke pangkuan Jihan. Lantas berjalan cepat ke toilet utama di rumah itu. Sebenarnya, ingin Jihan tolak permintaan dari Mita. Bukan tak ingin ia membantu, hanya saja kondisi kesehatan sedang tak bisa dianggap baik. Takut kalau-kalau sampai menulari si kecil Akmal. ''Akmal Akmal Akmal pipi kamu mbul banget, ya?'' Jemari tangan Jihan gemas memegang pipi Akmal. Sedangkan tangan kecil dari balita itu sudah ganti menarik-narik bros bunga di kerudung Jihan. ''Jangan ditarik, Sayang. Haduh ampun, ya.'' Namun, Akmal justru terkikik melihat Jihan yang jadi khawatir. Kian ia tarik jua bros tersebut. Jihan berusaha tetap menjaga posisi kerudungnya hingga membuat kepala gadis itu sedikit tertunduk. ''Eh jangan nakal. Kita pok ame-ame aja.'' Ia menarik tangan Akmal pelan dan mengajaknya berlantun dengan lagu khas milik anak-anak itu. Akmal terkikik-kikik tak bisa berhenti tatkala kedua tangannya usai diajak bertepuk lantas digoyangkan pada perutnya. ''Pok ame-ame belalang kupu-kupu--'' ''Jihan?'' Kepalanya terangkat dan permainan bersama Akmal terhenti. Sudah senyum bersama muka yang semringah ke arah Yusuf. Kedua tangan Akmal terangkat-angkat ke arah lelaki berbaju koko biru itu. Isyarat yang baru mampu Akmal tunjukkan dengan sarat makna ingin digendong Yusuf. ''Hai, Yusuf. Bukannya acara udah dimulai?'' ''Iya. Terus lo sendiri ngapain di sini?'' ''Tadi gue dititipin Mba Mita buat gendong Akmal dulu. Katanya mau ke toilet.'' ''Maaf, ya. PAdahal elo tamu. Ya udah sana kumpul sama yang lain. Biar Akmal sama gue.'' Jihan mengangguk saja dan menyesap sedikit tehnya. Lantas hendak berlalu dan barulah ia menyadari sesuatu. ''Baju kita samaan, ya?'' tanya Jihan. Ruang hati Yusuf sudah terasa berguncang, malah Jihan berkata demikian. Dilemparkannya jua pandangan Yusuf dari baju hingga celana hitam polos yang terpasang di tubuhnya. Datar, ia lantas berkata, ''Aku pakai koko, kamu pakai gamis. MAsa sama?'' Sepersekian detik, barulah Jihan mengerti kesalahannya. ''Ah iya. Maksudku warna baju kita yang samaan. Maaf-maaf. Aku ke sana dulu, ya. Eh, BTW lawakanmu garing. Hihi. Dadah Akmal.'' ''Kirain mau dadah Yusuf. Alhamdulillah. Untung-untung.'' Sudah lega hati Yusuf. Meski sempat diajak bergetar hebat karena dengan santainya Jihan mengatakan warna baju mereka sama. Sungguh, Yusuf sudah hampir ditenggelamkan pada lautan percaya diri yang amat dalam. Dalam ruangan yang luas itu, sedikit dalil sedang disampaikan sebaik mungkin oleh Umar, suami Susi. Kedua kakinya menopang tubuh dengan berdiri dan dipandang banyak pasang mata. Kalimatnya diperdengarkan oleh banyak gendang telinga. Sementara itu, Jihan sudah duduk di samping umi lagi. Kesepuluh jemari tangannya disengaja memeluk gelas teh hangat itu. Sebab perasaan cukup sejuk menjalar ke tubuh Jihan. Singkat waktu, langit telah bertransformasi suasana. Bintang-bintang tenggelam dalam lamunan waktu. Perlahan bumi basah dengan rinai hujan yang bervolume kecil. Suhu dingin bertandang turut menyertai. Mobil-mobil di halaman itu pun laksana dimandikan tanpa tangan dari manusia. Allah sudah menurunkan pasukannya dengan baik. ''Maka malam ini sengaja saya sekeluarga mengundang semuanya yang ada di sini untuk mempererat tapi silaturahim. Dalam Quran Surah An-Nisa ayat 1 saja sudah jelas ' Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu'. Ada baiknya, semoga ikatan cinta kita karena Allah ini selalu terjaga hingga di surga-Nya. Aamiin.'' Usai disambut sang tuan rumah, maka berjalanlah kepada susunan acara berikutnya. Tema yang di angkat oleh keluarga Aryo tentu tak jauh-jauh dari hal islami. Diajaknya para tamu undangan untuk bermain tentang hafalan dan menjawab nama surah yang dilantunkan dari mulut speaker. Mula-mula, mereka diajak berdiri dan lantunan surah mulai diputar. Sesuka hati si pengatur suara, maka bisa dihentikan pada durasi berapa saja dan berhenti pada raga yang mana. Permainan berlangsung amat seru seiring turunnya hujan yang mulai renggang. Sudah hendak berkemas sejenak berhenti membasahi muka bumi. Dan kini, Jihan sudah berada di dalam mobil. abi dan umi membahas betapa indahnya saat Umar dan Susi masih menjadi tetangga mereka. Demikian, Jihan jadi diajak untuk tenggelam kepada masa lalu. Masa kecil bersama Yusuf. Kala itu ... . ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD