Kebiasaan-kebiasaan

1430 Words
Dia tidak ditinggal Sedang disimpan dengan rapi Pada ruangan hitam putih Tertata tanpa pengusik Tertawa tanpa batas Bersama menyelami perairan waktu tanpa rasa kebas *** ''Masa lalu memang belum mati, tetapi dia tidak bisa dihidupkan kembali.'' *** ''Jangan kencang-kencang naik sepedanya, Yusup!'' Iya, Gadis kecil itu melenyapkan huruf 'f' dan menggantinya dengan huruf 'p'. Sore-sore mereka sudah riang-gembira membelah jalanan kompleks yang tak begitu ramai. Masih dalam satu kawasan jua tempat yang hendak mereka tandangi tiap-tiap sorenya kecuali hari Minggu. Gadis kecil berjilbab oranye dengan gambar kucing di belakangnya itu mengencang-ngencangkan gerakan kakinya. Sudah tertinggal kendati tak sampai begitu jauh, maka ia telah dinanti Yusuf di bibir jalan. Berhenti seraya terus dibiarkannya saja melihat ke arah Jihan yang tampak kelelahan. ''Pelan-pelan aja, Jihan!'' seru Yusuf. Ia sudah mengerti, sahabatnya itu sedang berjuang keras-keras. Tak sampai hati melihatnya, perasaan tak enak kepada JIhan jadi merekah dalam waktu singkat. Tadi ia yang ditunggu Jihan, sebab hampir lalai karena sudah terlelap kekalau Ibu tak membangunkan. Tak perlu jauh-jauh mata memandang, sebuah rumah milik pengajar mereka sudah tampak. Aktivitasnya satu-dua anak ada yang diantar menggunakam sepeda motor. Yang lainnya sama-sama menggunakan sepeda. Laksana telah menjadi perkumpulan anak-anak dalam satu kompleks. Memang sengaja, sang pemilik rumah menjadikan tempatnya untuk mengajar ngaji, dan ia sendiri sebagai guru karena dirasa telah cukup mumpuni sebab lulusan sarjana Tafsir Quran. Perjalanan pun usai. Kedua insan yang saling menunggu itu telah memarkirkan sepeda di halaman. Tak lama kemudian, Ummah-- sebutan untuk guru ngaji mereka-- menarik gerbang hingga tertutup, karena dirasanya semua anak murid sudah tiba di sana. Ruang tengah rumahnya sudah ramai kembali dan makanan serta minuman tertata baik pada sebuah meja. Sudah biasa memang, Ummah menyediakannya. Hitung-hitung bersedekah. Suara ramai kata yang bercabang pada hal berbeda, telah dibungkus dan diganti dengan doa sebelum belajar mengaji. Mereka duduk rapi menjadi dua bagian: akhwat dan ikhwan. Teruntuk sore itu, suami Ummah barulah sekali absen turut serta mengajar anak-anak mengaji. Sebab sedang ditelusurinya perjalanan ke pesantren miliknya di Makassar. Lantas mengaji bergilir kepada Ummah. ''Ini dibaca tegas, ya, Jihan sayang. Tahu karena apa?'' tanya Ummah lembut. ''Tahu! Jihan baru inget, Ummah. Hehe.'' ''Karena apa?'' ''Karena nun sukun atau tanwin bertemu salah satu huruf halqi, Ummah. Jadi dibaca tegas.'' ''Alhamdulillah. Sekarang hafalan, ya.'' Satu persatu insan sudah ngaji dan setor hafalan, kini berakhir dengan kepulangan mereka ke rumah masing-masing. Jihan sedang mengeluarkan sepeda dari barisan sepeda lainnya, ditunggu oleh Yusuf di gerbang rumah Ummah. Namun, saat mereka sudah mulai membelah jalanan kompleks, tiba-tiba Jihan berhenti. Turut membuat Yusuf berhenti. Nyatanya rantai sepeda Jihan putus. ''Nanti kalo dimarahin Umi gimana?'' Sudah hendak pecah jua genangan air di mata Jihan. Yusuf menarik sepeda Gadis kecil itu. ''Jihan pakai sepeda Yusuf, biar Yusuf yang bilang sama Umi Jihan biar Jihan gak dimarahin.'' ''Yusup gak apa-apa?'' ''Enggak apa-apa. Ummah sama Ibu Yusuf pernah bilang, kalau Rasulullah ngajarin kita untuk saling membantu.'' Maka sore itu, Jihan menggunakan sepeda Yusuf. Pada hari setelahnya, mereka bersama kembali. Diantar Abi pagi-pagi sekali ke sekolah menggunakan mobil. ''Yusup udah izin sama Ibu?'' tanya Abi melirik ke arah Yusuf melalui cermin di mobilnya. Rasa ingin tahu Jihan mencuat jua. Ia menarik diri untuk menghadap ke arah Yusuf yang duduk di kursi tengah mobil. ''Udah. Ibu gak anter Yusuf sampe gerbang karena masih bersih-bersih rumah.'' ''Oke. Jihan sama Yusuf siap berangkat?'' tanya Abi. ''Insya Allah siap!'' Serentak dua bocah itu menjawab. ''Ada barang yang ketinggalan?'' ''Insya Allah tidak!'' ''Bismillah kita berangkat!'' ''Bismillahirrahmanirrahim. Subhaanal ladzii sakhhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa rlbbinaa lamumgqolibuuna.'' Kebiasaan-kebiasaan itu sudah melekat hingga tamat sekolah dasar saja. Pemahamam mereka mulai membesar saat memasuki dunia biru-putih. Sedikit berjarak dengan tak selalu bersama saat apa-apa dan ke mana-mana. Dan kini, Jihan besar sedang mengembuskan napasnya di dalam mobil. Bersandar di punggung di kursi seraya dilipatnya jua kedua tangan di depan d**a. Umi dan Abi masih berbincang tentang keakrabam dahulu. Jadi sama-sama tenggelam dalam lisan yang membawa ingatan kepada detik yang pernah dilewati. Laksana berdongeng mengiringi jalan yang sedang Jiham tempuh pada dunia tidur. ''Sekarang lumayan banyak tetangga yang udah pindah ya, Bi?'' ''Ya, tapi alhamdulillah juga tetangga baru selalu baik dalam berinteraksi.'' ''Umi jadi kangen zaman dahulu, Bi.'' Tersenyum Umi ke arah Abi. Abi balas tersenyum. ''Kangennya ke masa lalu itu cuma bisa kita pendam dan kita kenang. Gak bisa kita ulangi lagi, kan?'' Sejenak hening, lantas Umi menjawab, ''Iya, Bi.'' Dan malam itu tertambat lagi di halaman rumah keluarga Burhan. Sedikit suara lalu-lalang kendaraan masih terdengar. Mereka turun dan masuk ke rumah. Diputarlah kenop pintu kamar Jihan. Jarum jam pukul sepuluh berhasil Jihan pandang. Namun, kala disuakan dengan tiga buah buku yang tertumpuk di kasur, hilang sudahlah rasa kantuk yang semula berkumpul. Tiga buku berbeda isi: novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi. Lemari kaca di dinding kamarnya sekilas Jihan lihat. Buku-buku amat rapi berbaris di sana. Dan tentu, itu belum semuanya buku Jihan ditaruh di sana. Masih ada lemari kaca yang menyatu dengan dinding di ruangan lain yang berisi buku-buku jua. Ditariknya jua sebuah buku berisi kumpulan puisi karya penulis Vira Ayu Safila dengan judul Mengutip Waktu. Maka lampu kamar tak dimatikan. Bersama suara detik jarum jam menemani Jihan menelusuri diksi-diksi yang menembus sampai relung hati. '' Untuknya yang telah layu Bak purnama yang membisu Kau jauh dipandang dengan pilu Indah dikenang dalam muara rindu. Masya Allah. Puisinya bikin baper!'' Digigit jua daging bibir bawah Jihan. Dia wanita, dia juga punya cinta, tapi masih belum tersemai untuk salah satu insan dari lawan jenisnya yang belum halal. Benar-benar belum tetapi bukan berarti Jihan tak normal. Ia hanya sementara waktu sedang menjadi buta cinta agar tak menjadi cinta yang buta. Dari luar kamar, kelima jemari Burhan diketukkan pada pintu kamar anak semata wayangnya. Sebab masih bisa ia tangkap lampu yang berpendar dari kamar Jihan terang-benderang. ''Jihan belum tidur?'' Suara Burhan sedikit diperkeras. Tak tahu sudah berhasil membuat Jihan meloncat dari tempat tidurnya. Mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan sebuah lampu hiasan di meja sebelah kasur. Buku berada di dekapan. ''Iya, Abi. Sekarang Jihan mau tidur, kok.'' ''Baca bukunya besok lagi.'' ''Iya, Abi.'' Hafal saja Burhan dengan kebiasaan Jihan. Buku buku buku. Maka, kendati buku adalah jendelanya dunia, Burhan tetap mengawasi apa dan sebanyak apa isi buku yang puterinya rekam baik-baik dalam sehari. Tetap diperintahkan agar selalu mengutamakan membaca Alquran, memahami, dan mengamalkannya. Pokoknya adalah tak sampai menduakan kitab suci tersebut. Jihan kini menarik ulur napasnya. Namun mendadak teringat jika baju gamis dan kerudung lebarnya masih melekat di tubuh, segera ia bangkit. Lampu dinyalakan lagi, pun lagi tepat saat Burhan melintasi kamar Jihan usai dari dapur. ''Kalau masih baca buku, besok-besok gak Abi izinin lagi Jihan beli buku.'' Jihan menepuk dahi. Kali ini bukan ketahuan, melainkan kesalahpahaman. ''Jihan gak baca buku, Bi. Jihan lupa masih pakai gamis. Mau ganti dulu, abis ini langsung tidur, kok.'' *** Di sana, pada halaman yang tak begitu luas daun-daunnya berguguran digoyah angin. Beberapa bangku panjang tampak lengang dari para insan, sedangkan sebuah bangku di bibir halaman kecil belakang sekolah itu digunakan seorang insan saja. Ia masih menghadap laptop mengerjakan tugas power point Bahasa Indonesia. Dua buah buku yang masih berbau materi Bahasa Indonesia ditumpuk di belakang laptop. Jemari lelaki itu urung terdiam jua. Bola matanya tak berhenti menatap layar monitor. Naik-turun, kanan-bawah. Dibaca dan dipahami sebaik mungkin, karena Bahasa Indonesia sebenarnya tidaklah mudah meski ia bahasa ibu sendiri. ''Contoh essai--'' ''Woy!!!'' Seseorang menepuk pundak Yusuf lumayan keras. ''Astaghfirulah Hanan! Biasa aja bisa, kan? Kaget, nih.'' ''Owalah ada yang kaget?'' IA melirik ke arah Yusuf. ''Kaget melihat kegantengan gue yang makin bertambah?'' Bahkan Yusuf sampai berdecak jua. Hampir-hampir saja laptopnya tadi tak bisa ia kendalikan karena kedatangan Hanan yang turut serta menggoyangkan bangku itu. ''Liputan kita waktu itu kan idah diunggah di Youtube! Lo tahu gak respons para penonton gimana? Hah?'' ''Aku belum liat chanel sekilah kita lagi. Kenapa emang?'' ''Ah elah. Lo sumpah kudet banget, sih.'' ''Jangan mudah bersumpah. Sumpah itu bukan buat mainan.'' Hanan meneguk air minum milik Yusuf. ''Iya, deh. By the way makasih minumnya.'' Yusuf cukup berdehem menanggapi. ''Jadi ada apa sama hasil liputan kita?'' tanya Yusuf. ''Nah jadi gini.'' Hanan menegakkan punggungnya. Memasang air muka serius dan cukup diartikan bahagia. ''Ternyata video liputan kita itu!!!'' Lelaki itu berseru.''Ya biasa aja,'' lanjutnya tanpa tenaga ekstra seperti tadi. ''Sudah kuduga.'' ''Yah anak bahasa gagal nih ceritanya mau ngejailin anak IPA?'' ''Ohya kamu anak bahasa, kan? Pinter Bahasa Indonesia, dong?'' ''Ya belum ten--'' ''Bantuin! Aku mau ke toilet dulu.'' Laptop Yusuf diangkat oleh dirinya sendiri lantas dipindahkan ke pangkuan Hanan. Membawa diri pergi dari sana meski dikata-katakan jua oleh Hanan. Ia menolak keras-keras dan mengancam akan meninggalkan barang-barang Yusuf di sana. Sayangnya, Yusuf tetap berlalu. Kendati sekilas sepasang matanya itu sempat menangkap sebuah pemandangan di sudut halaman belakang yang berjarak lumayan jauh dengannya. Pemandangam dua insan yang sedang makan bersama dan saling berhadapan. Yusuf tak sampai tersenyum, ia jadi kikuk sendiri dan cepat berlalu usai tertangkap basah oleh salah satu objek yang masuk ke pandangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD