“Aku mencoba untuk tabah menghadapi kenyataan kalau sejak malam ini lelaki mempesona yang menggetarkan iman itu akan menjadi teman tidurku.”
- Bianca Rinjani. Istri yang masih shock melihat roti sobek suami–
DUSTIN
“Bisnismu lancarkan Nak Dustin?”
Gue tersenyum dan mengangguk membalas pertanyaan Papa mertua. “Alhamdulillah lancar Pa. Semuanya bisa terkendali dengan baik.”
Saat ini kami bertiga sedang berdiri di ruang tamu bersama beberapa anggota keluarga yang lain. Jangan ditanyaistri gue di mana karena gue juga nggak tahu. Terakhir kali gue lihat dia sedang memfokuskan amarahnya pada sepiring kue bolu yang coba dia habiskan.
“Kalau begitu, kenapa kamu nggak fokus aja sama bisnismu dan berhenti jadi GM di Legion?”
“Nah, saya sudah sering bilang sama dia juga. Kalau Dustin fokus sama bisnisnya pasti bisa lebih berkembang lagi,” ujar si Papa.
“Dustin belum bisa melepaskan kerjaan yang sekarang Pap.” Gue menatap mereka bergantian. “Sejak awal Dustin memang tertarik dengan dunia perhotelan. Kuliah aja khusus di manajemen perhotelan bukan bisnis. Yah, kebetulan aja jiwa berbisnis Dustin ini warisan dari Papa dan lumayan untuk jadi kegiatan sampingan nambah tabungan tapi sampai sekarang Dustin sama sekali tidak berniat keluar dari Legion.”
Papa mertua gue menepuk lengan gue dan mengangguk. “Iya Papa ngerti sih. Kamu hebat memang bisa sukses di dua hal yang berbeda itu dan juga sekalian kamu bisa awasin itu Bianca yang kadang-kadang suka semaunya sendiri. Memang ya kalau sudah jodoh nggak akan jauh-jauh. Papa sama sekali nggak nyangka kalau kamu ternyata atasannya Bianca.”
“Dustin juga nggak nyangka kok Pap.”
Sejujurnya, gue rada kasihan sama istri gue karena dia korban yang paling dirugikan dari pernikahan express ini dan diharuskan menerima kenyataan pahit bahwa guelah— lelaki yang dia katain m***m dari awal – yang harus menjadi suaminya. Mungkin saja – mungkin – kalau kita bertemu dengan cara yang normal sebagaimana lelaki bertemu dengan wanita cantik yang masuk kriteria gue meskipun kelakuannya jauh dari idaman gue, kami memiliki peluang untuk bisa bersikap sewajarnya. Tidak berkelakuan seperti musuh bebuyutan dan harus pasang posisi ready to war. Entah bagaimana caranya nanti, sifat kami yang bagaikan langit dan bumi ini bisa melebur. Apakah harus gue yang mengalah atau dia?
Walaupun menurut gue pribadi, Bianca itu wanita yang menarik. Bisa manis banget tapi juga bisa meledak tiba-tiba. Disenggol dikit aja, dia bisa gigit balik. Gue suka itu. Gue baru menyadari sekarang kalau ternyata kehidupan percintaan gue yang dulu terlalu monoton dengan semua mantan yang berkelakuan semanis madu dan kegiatan hanya sebatas kencan, makan malam romantis di restoran mahal, belanja gila-gilaan yang berakhir dengan percintaan panas. Yeah, seperti itulah gue dulu. Bianca membuat gue begitu excited .Men with a new toy. Yeah. Gue tidak akan pernah menduga apa yang bisa wanita itu lakukan.
Sekali lagi mengheningkan cipta buat istri perawan gue yang sebentar lagi nggak perawan karena pernikahannya ternyata hasil konspirasi para Mama yang amat sangat berbahagia malam ini.
"Mantuku, rajin ngegym ya?"
Papa Ahmad menepuk-nepuk pundak gue setelah memandangi postur tubuh gue yang tegap menjulang, berisi juga berotot. Ngegym menjadi rutinitas mingguan gue yang tidak boleh ditinggalkan. Meskipun setelah gue resmi menikah nanti, gue bakalan punya rutinitas baru setiap malam bersama istri garang gue di atas ranjang tapi sebelum itu terjadi, tentunya gue harus memikirkan bagaimana caranya supaya Bianca mau gue ajak adu gulat. "Iya Pap. Harus itu. Biar tetap fit dan segar."
Papa Ahmad manggut-manggut, "Papa nggak nyangka aja kalau anak kurus yang dulu seringnya nonton film ultramen cuma pakai kolor aja sudah jadi lelaki gagah begini.” Gue mengerjapkan mata mendengarnya. “Waktu sudah lama banget berlalu ya,Ar.” Beliau menoleh ke Papa yang tertawa dan mengangguk. “Tapi lama-lama jadi jarang ketemu. Setiap tour jalan-jalan kan, Dustinnya nggak pernah dibawa." Kalau dulu Papa Ahmad pernah tahu kebiasaan gue berarti—
Papa tersenyum lalu kumis tipisnya bergerak-gerak karena kekehannya. Gue diam aja melihat interaksi antara sahabat lama sekaligus relasi bisnis ini. "Setiap kita tour dia sibuk terus. Jadi ya kami ke mana-mana hanya berdua saja. Seperti pasangan pengantin baru yang masih tetap di mabuk cinta sama seperti kalian toh."
Gue garuk-garuk pelipis. Papa mertua tertawa mengiyakan. Gue jadi mikir, apakah berpuluh-puluh tahun mendatang gue akan berkelakuan sama seperti mereka saat ini ketika semua anak-anak gue sudah pada minggat dari rumah dan hanya menyisakan istri tercinta?
Ah gue mikirnya kejauhan. Bisa bobo tenang sama Bianca malam ini aja sudah syukur.
"Nak Dustin—" Papa Ahmad menghela napas, berwajah serius. Gue menyimak dengan wajah tenang. "Bianca itu anak pertama Papa yang rada beda dari adik-adiknya." Dalam hati gue sangat mengiyakan, kira-kira keturunan dari Papa atau Mama mertua. "Meskipun kadang dia bikin malu, ceplas ceplos, tukang ngomel dan pecicilan tapi sebenarnya hatinya itu seperti hatinya cinderella." Eh, WHAT?
"Maksud Papa?"
"Dia itu nggak pernah mementingkan dirinya sendiri. Dia punya hati yang baik terutama untuk orang-orang yang dia sayang dan dia jaga. Apalagi untuk adik-adiknya. Kami tahu kalau selama ini desakan menikah menjadi beban berat buat dia karena adiknya Bella, juga sudah akan di lamar orang tapi Mamanya nggak mau menyetujui kalau Bianca belum menikah duluan. Mungkin kamu akan mendapat penolakan dari dia tapi jangan menyerah ya. Papa yakin, dia menerima ikhlas pernikahan ini meskipun kalian butuh waktu untuk saling beradaptasi. Bianca baik kok kalau kamu tahu bagaimana memperlakukannya."
"Iya Pap. Beri kami kesempatan untuk mencobanya dulu ya." Wajah gue mungkin menyiratkan tekad seorang lelaki gantleman yang pasrah sama nasib.
“Tentu saja. Papa yakin suatu hari nanti kalian pasti bisa saling menerima kehadiran satu sama lain.” Gue mengamini dalam hati.
"Good man." Papa gue menepuk wajah gue dengan senyuman lebar sampai suara wanita yang melahirkan gue ke dunia terdengar dari arah belakang gue masih dengan—
"Baby."
Yeah, gue pasrah. Bianca aja tadi sampai tertawa dengan mulut terbuka lebar hingga gue nggak tahan dan harus menyumpalnya dengan kue bolu yang anehnya nggak dia lepeh tapi malah dia kunyah dan telan habis setelah itu dia lanjutin lagi ketawanya sampai gue kesal. Hampir aja gue masukin piringnya sekalian ke dalam mulutnya biar diam. Lagian kan dia itu benar-benar tukang makan. Kerjaannya setelah semua prosesi selesai bukannya mesem-mesemin suami malah ngunyah aja nggak berhenti. Stress kali dia.
Gue berbalik, "Please Mam, jangan panggil—"
"Ssst," Mama menggeleng. Gue reflek mingkem. Di sebelah beliau, Mama mertua mengekori. Mereka memandangi gue dengan wajah binar dan sumringah. Ada apaan sih nih? Mencurigakan.
"Sampai kapanpun, kamu akan tetap jadi baby nya Mama tapi sekarang kamu adalah seorang suami. Jadi Mama minta sama kamu ya baby, jangan pernah sekalipun kamu membuat istri kamu nangis, membentaknya, mengabaikannya dan melakukan KDRT. Tidak boleh sampai terjadi. Bianca sudah jadi tanggung jawab kamu dunia dan akhirat. Jadi kamu harus mulai merubah kelakuan kamu dan menuruti semua perkataannya dan melindunginya dengan nyawa kamu." Mama mulai menangis. Astaga.
Gue maju dan menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik Mama gue itu. "Jangan nangis Mam. Dustin nggak suka lihatnya."
Mama mengangguk dan menghapusnya lalu memeluk gue dengan erat seraya berbisik. "Sekarang lakukan tugas kamu dengan baik. Kami menunggu empat cucu yang chubby-chubby."
Gue menarik napas panjang dan mengeluarkannya. Mama mengurai pelukannya dan mencium kening dan kedua pipi gue. "Nah baby, buat Bianca bahagia ya. Ingat ya, menyakiti Bianca sama saja dengan menyakiti Mama."
Gue dalam hati menggerang. Ah, sial!!!
Lalu Mama gue mengambil telapak tangan gue, membukanya dan meletakkan kunci yang dihiasi bunga mawar putih hidup di sana. Eh, apaan nih? Gue dapat hadiang pernikahan rumah ya?
"Ini kunci kamar Bianca. Kamu naik sana, biar yang di bawah kami yang urus. Keluarnya besok pagi aja nggak usah buru-buru. Mau tidur sampai sorean juga nggak apa-apa kok atau diterusin sampai besoknya lagi juga kami nggak masalah." Semuanya terkekeh. Gue cengok. Terus gue nggak butuh makan gitu? Bisa habis gue di dalam sama Bianca. Papa merangkul Mama dan menatap gue dengan senyuman begitu juga dengan mertua gue.
Gue hanya bisa mengumpat dan menggerang dalam hati ketika menyadari kalau ternyata Bianca sudah dikunciin di atas sana. Gue bahkan tidak menyadari kalau ternyata semua keluarga memperhatikan kami sejak tadi. Tolong jangan drama, please!!!
Mama mendekat, memutar badan gue dan mendorong gue untuk cepat naik ke atas. Gue hanya bisa mengumpat kesal dalam hati dan menggaruk tengkuk lalu berjalan pelan menaiki tangga di bawah tatapan semua seluruh keluargaseakan melepas gue untuk pergi berperang. Yeah, perang dengan Bianca. Perang fisik atau perang mulut? Entahlah. Malu banget sumpah!!!
Sampai di depan pintu berhias bunga mawar itu gue terdiam sesaat. Gue jelas nggak sudi menoleh lagi ke belakang dan akan mendapatkan entah apa. Gue menarik napas dan menghembuskannya mencoba meredakan ketegangan gue sejak naik tangga tadi.
Gue memperhatikan kunci di tangan gue cukup lama lalu akhirnya menyerah dan memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya sampai bunyi klik terdengar. Gue tarik lagi itu kunci, gue pegang gagangnya – Eh, sumpah ya gue beneran seperti mau pergi perang – terus gue buka pintunya dan aroma bunga semerbak langsung tercium membuat gue sesaat menikmati pemandangan yang indah karena tempat tidurnya banyak bunga-bunganya. Eh, apaan tuh?
Gue menutup pintu dan menguncinya lalu reflek membuang kuncinya ke belakang begitu saja dengan bunyi bergemerincing setelahnya. Entah di mana. Ah bodo amat. Supaya Bianca nggak lari.
Gue berjalan seraya mengedarkan pandangan. Kamarnya rapi dan besar plus ada kamar mandi di dalam. Koper gue sudah ada di pojokan. Lalu gue melihat gundukan yang ada di atas tempat tidur yang tertutup selimut. jangan bilang kalau Bianca lagi molor di situ. Gue nggak suka berperang kalau lawannya nggak melawan balik. Gue berdiri di sisi lain ranjang, memajukan tubuh ke depan dan berdeham. "Ehmm."
Efeknya seperti ada yang terkejut di dalam sana lalu gue melihat pergerakan dia yang perlahan mundur menjauh ke belakang. Gue berusaha menahan tawa. Oh jadi begini cara lo menghindar. Gue menarik selimut itu di antara hiasan bunga-bunga yang ada di atas kepala dan Bianca langsung berdiri dan mengacungkan— Oh SHITT – gue angkat tangan dan mundur.
"Apa lo suami m***m? Jangan berani-beraninya mendekat kalau elo nggak mau gue gelitikin pake nih kemoceng!!!" desisnya.
Oke, kemoceng bulunya sih nggak gue permasalahin tapi kenapa itu rambutnya—
"Lo habis kesetrum dimana?"
Bianca terdiam, menaikkan manik matanya ke atas juga tangan satunya ke rambut lalu terkikik persis kuntilanak membuat gue seketika merinding. "Ini efek hairspray yang keras banget. Ajigile ya si Devil bikin rambut gue amburadul. Nanti kalau ketemu bakalan gue botakin itu rambut mienya.”
Mukanya terlihat kesal sambil memainkan ujung rambutnya. Siapa Devil yang dia maksud? Setan? Iblis?
"Tapi setelah diperhatikan lagi lebih seksama ternyata gue cantik juga seperti ini. Spesial buat suami m***m gue malam ini." Telapak tangannya menempel di pipi seraya tersenyum-senyum genit. "Gimana Pak Suami, gue cantik banget kan?" dia memiringkan kepalanya ke satu sisi lalu mengedip-kedipkan matanya dengan ekspresi menggoda. Gue cuma bisa bengong masih dengan posisi tangan di atas. WHAT THE—
Gue maju, dia langsung pasang kuda-kuda ngacungin lagi itu kemoceng di depan wajah gue.
"STOP IT!!! Jangan lo berani-beraninya maju sesentipun.”
"Lo gila!!!" desis gue. Takjub dengan tingkahnya.
Gue perhatikan penampilannya secara keseluruhan yang berdiri di atas tempat tidur. Abaikan rambut jigraknya, wajahnya sudah bersih tanpa polesan riasan dan memakai baby doll motih kembang warna pink kebesarannya yang – Oh my– di mata gue saat ini, Kendall Jenner pakai bikini aja kalah sexy dari istri gue. Penasaran bagaimana tampilannya setelah gue robek baby dollnya itu.
"Lo yang nggak waras Andreas Dustin!!!" desisnya.
Gue menurunkan tangan, merapikan rambut gue dan tersenyum smirk. "Halo juga Bianca Rinjani Akwaryin, istri sah gue di depan agama dan hukum yang halal gue apa-apain aja. Kenapa lingerie lo yang kemarin nggak di pakai? Gue nggak keberatan melihatnya dari pada hanya lo simpan."
Dia melotot sangar lalu meloncat turun hingga gue reflek mundur dan maju mengacungkan kemoceng ke rambut gue yang reflek mundur untuk menghindar.
"Lo apa-apan sih?!" gue jelas kesal. Kelakuannya seperti anak-anak. Di mana keanggunan seorang wanita berumur 30 tahun?
"Siapa bilang gue mau lo apa-apain aja. HAH!!!" teriaknya. “Gue bertingkah seperti ini karena lo juga dan lupakan keinginan m***m lo itu. Gue nggak sudi memperlihatkannya sama lo gitu aja!!!”
“Tapi gue tetap punya hak untuk melihatnya,” jawab gue kalem dengan senyuman miring. “Gue ini Suami lo.” Gue mengucapkannya dengan penuh penekanan.
Kemocengnya langsung turun ke d**a gue dan menekan-nekannya di sana. Bianca terlihat sangat kesal dan berantakan. Astaga rambutnya!!
"Dengar ya, di mata semua orang gue memang istri lo tapi gue sendiri belum ngakuin lo sebagai suami gue. Gue bukan wanita-wanita di luaran sana yang pasrah gitu aja ketika Tuhan nyodorin gue dengan lelaki model lo gini dan bersedia di apa-apain aja. TIDAK DUSTIN TIDAK!!!" Teriaknya di depan wajah gue. Menarik. Sangat menarik. Drama Queen.
"Itu sih urusan lo tapi gue sudah mengambil lo dari orang tua lo dan mengikat janji mati dengan Tuhan. Itu bukan hal yang main-main sayang—" kemocengnya menekan d**a gue lagi dan mengibaskannya tapi gue nggak peduli, "Jadi, gue berhak dengan hadiah gue."
"NO WAY!!!!!!" teriaknya lalu menyerang gue membabi buta dengan kemocengnya hingga gue mundur dan menabrak meja riasnya dan menjatuhkan entah botol apa di sana. Gue menghindar dan dia seperti kalap semakin gencar nguselin gue dengan kemoceng.
"BIANCA HENTIKAN!!!" Teriak gue.
"TIDAK AKAN!!!"
"LO AKAN TERIMA AKIBATNYA SETELAH INI KALAU LO TETAP BEGINI!!"
Kemocengnya makin gencar menggelitik leher dan telinga gue. "GUE NGGAK PEDULI!!"
OH SIAL!!! Habis kesabaran gue.
Akhirnya gue terpojok ke dinding tapi hanya sesaat karena setelah itu gue pegang kemocengnya, menariknya lepas dari tangan Bianca dan mematahkannya jadi dua. Bianca memekik dan menutup mulutnya. Gue tersenyum devil dan membuang patahannya entah ke mana.
"Jadi—" kata gue akhirnya mendominasi seraya maju dan dia langsung mundur ke belakang, "Lo nggak peduli kan gue apa-apain. Sebenarnya sih elo nggak usah memberontak gitu—" gue melepas kancing Beskap gue satu persatu, "cukup lo tidur di ranjang penuh bunga itu dan gue yang akan manjain lo sampai puas malam ini." Bianca menggigit bibirnya saat gue sudah bertelanjang d**a.
"Gue nggak mau dimanjain sama lo!!!" teriaknya seraya menggeleng tapi matanya menatap mupeng badan gue. Jarinya bergerak-gerak di sana seperti sedang menghitung – gue menurunkan pandangan dan melihat otot six pack gue – dan langsung tersenyum penuh kemenangan. Gue berdeham, dia langsung kaget dan menggeleng kemudian melotot ke gue.
"JANGAN COBA-COBA LO NYOGOK GUE PAKE ROTI LO ITU!!!!"
"Berminat?" tawar gue semakin maju dan menyudutkannya ke dinding dan dia langsung berbalik menghadapkan badannya ke sana menolak untuk menghadap ke gue.
"Sama sekali nggak!!!" cicitnya seraya melindungi bagian depan tubuhnya.
Gue mengambil kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas menahannya dengan satu tangan di dinding dan merapatkan tubuh gue. "Elo nggak akan bisa menghindar malam ini Bianca," bisik gue lembut di telinganya dan melihat dia yang memejamkan mata. Senang karena akhirnya gue yang mengambil alih. "Gue juga nggak tahu kenapa gue jadi terjebak sama lo di sini padahal kita nggak punya hubungan apa-apa. Tapi, ya sudahlah ya mau gimana lagi." Gue meniup belakang telinganya, "Pasrah aja nggak usah melawan."
Bianca nampak merinding gue gelitikin gitu. "Gue nggak sama seperti wanita yang selama ini jadi bahan mesuman lo ANDREAS DUSTIN!!"
Bianca memberontak, menginjak kaki gue dengan kuat. "DAMN!!!"
Gue mundur dan dia langsung mendorong gue ke belakang dan lari menjauh. Saat gue melihat kaki gue tanpa sengaja gue memperhatikan lantai marmer di depan sana yang sedikit mengkilat. Gue terdiam dan tahu apa penyebabnya. Botol minyak milik Bianca yang tumpah isinya. SIAL!!!
"BIANCA BERHENTI!!!"
"NGGAK!!!" Dan terjadilah. Bianca terpeleset dan berteriak nyaring, "ARRGGHHHHH!!!!"
Gue langsung melesat lari dan sebelum tubuhnya membentur lantai marmer yang keras, gue sudah menariknya dalam pelukan gue hingga menyebabkan kami berdua terjatuh dan naas dahi gue tepat mengenai lemari dengan cukup keras. DUKK!!
Bianca yang gue peluk erat untuk melindungi kepalanya dari benturan apapun terjatuh di samping gue. Gila, rasanya kepala gue mau pecah. Gue menggerang dan terlentang di marmer dingin memegangi kepala merasakan nyerinya terasa sampai ke kaki.
"ARGGHHHHH!!!" Teriakan Bianca membuat kepala gue semakin sakit. "ADA DARAAAHHH!!! MAMAAAAA !!"
"Bianca," erang gue sebelum pandangan mata gue mendadak gelap.
Malam pertama gue berantakan. Seharusnya bukan begini skenarionya. b******k!!!!
***
BIANCA
Adakah malam pertama yang lebih buruk dari ini?
Aku yakin hanya kami berdua yang berkelakuan absurd seperti ini di saat seharusnya kami menikmati syurga dunia entah sudah yang keberapa kalinya sambil membayangkan hasilnya nanti yang pasti lucu dan ngegemesin. Saling mencumbu mesra dan meneriakkan nama masing-masing di sertai dengan kalimat pendamping yeah baby, faster, faster lalu ber ah oh ah oh ria. Etdah aku sok tahu banget padahal belum pernah nyobain tapi di cerita e****s kebanyakan gitu tuh. Plak!
Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan berkelakuan segini gilanya di depan suami sendiri. Padahal dari dulu aku sudah mengharapkan momen malam pertama yang penuh romantisme sarat keintiman seperti di film-film bikin baper yang aku tonton sendirian di apartemen, ngenes iya.
Begitulah kira-kira harapan seorang wanita perawan. Selama ini aku bukannya sok suci tapi aku memang tidak mau memberikan sesuatu yang berharga itu ke deretan mantan-mantanku yang bisa saja hanya numpang lewat dan berlalu pergi setelahnya. Ujung-ujungnya enak di dia nggak enak di aku dong.
Aku lebih memilih memadu kasih dan memberikan kesucianku untuk seseorang yang menjadi suamiku kelak di masa depan kerena aku ingin mengingat saat-saat terindah itu. Lagian pasti rasanya berbeda ketika melakukannya saat sudah di halalin dengan saat masih di gombalin tapi nggak juga di halalin. Tapi di dalam bayanganku bukan lelaki macam Andreas Dustin yang akan memiliki kesucianku yang terjaga ini. Tidak. Tidak. Tidak. Bencana. Disaster.
Setelah suaraku hampir habis memanggil Mama atau siapapun orang yang ada di luar kamar karena aku nggak bisa buka pintu yang kuncinya entah ada di mana, aku menyerah. Kurang ajar banget karena nggak ada satupun yang menjawab panggilan maydaymayday ku. Rasanya pengen aku tendang aja itu pintunya sampai terlempar jauh tapi sayang aku bukan wonder women.
Ini menjelaskan kenapa kamarku semuanya serba lengkap. Sepertinya mereka benar-bener mengharapkan kami untuk bergumul semalaman dan tidak perlu keluar kamar dalam waktu dekat. Dasar ya semua penghuni rumah konspirasinya.
Aku terpaksa menggeret Dustin yang setengah naked itu dengan susah payah ke atas tempat tidur dan berusaha mengabaikan roti sobek yang terpampang tanpa sensor yang membuat tangan gatal ingin menjamah. Sudah halal sih tapi kok geli ya. Untung aja aku menyimpan kotak P3K di dalam kamar.
“Duh, seharusnya kan malam pertama itu tragedi berdarahnya di atas ranjang tapi kenapa malah karena kepentok lemari gini sih ah!!” gerutuku seraya membersihkan lukanya dengan pelan sambil gigit bibir. Setelah beres menempelkan perban putih di dahinya sebelah kanan, gue tertegun sesaat dalam diam dengan posisi wajah kami yang teramat dekat.
Aku masih belum percaya kalau Dustin, lelaki tampan ini adalah suamiku. Yang mengherankan, kenapa dia mau saja menyetujui perjodohan ini meskipun dia tidak bisa menolak permintaan Mamanya tapi setidaknya dia tidak terlihat sangat menerima dengan lapang d**a seperti saat melihatku tadi dengan tatapan lapar seakan siap untuk membuktikan ucapanku dulu saat kami bertemu untuk pertama kalinya di Hongkong. Apa dia masih segitu penasarannya?
“Ya Tuhan maapkan hambamu ini yang menolak ajakan suami untuk beribadah sarat kenikmatan. Bukan maksud hamba tidak berbakti tapi tolong hamba masih shock,” lirihku disertai hembusan napas berat.
Baru aja beberapa jam jadi istri sudah membangkang tapi aku benar-benar belum bisa menerima Dustin. Aku nggak mau gegabah sebelum yakin dia pantas menjadi lelaki yang memilikiku seutuhnya.
Aku menghela napas dan berdecak, “Kenapa elo mau-maunya aja sih dinikahkan paksa begini Pak Andreas?”
Saat sibuk memandangi pahatan wajah tampannya, mata Dustin terbuka. Demi kolor Calvin Klein, aku tercyduk. Jadi setelahnya aku hanya menahan napas dan mengerjapkan mata masih di posisi yang sama karena terlalu kaget. Dia hanya menatapku datar tanpa ekspresi lalu tiba-tiba bumi berputar dan setelah sadar dengan apa yang terjadi posisi kami sudah berubah. Aku terlentang dalam posisi di bawah sedangkan Dustin di atas mengurung tubuhku dengan kedua tangannya. Aku ternganga.
YA TUHAN!!! lelaki ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Glek. Aku menelan saliva. Roti sobek. Aku mau roti sobek.
"Gue terluka karena ulah lo," katanya dingin dengan tatapan tajam mengintimidasi di atasku yang sudah kehilangan seluruh kemampuan otak untuk sekedar berpikir mencari cara menyelamatkan diri. "Sekarang lo mau lari kemana lagi,Hah?!” desisnya. “Apa lo masih belum bisa menerima kenyataan kalau gue adalah suami lo sekarang, suka atau nggak suka lo sama gue?!"
Aku menatap mata hitamnya. Berkabut amarah dan entahlah, seperti isyarat kalau dia siap merobek baby doll yang aku pakai saat ini juga kalau aku nekat bertingkah seperti tadi.
"Apa lo menerima pernikahan ini?" Tanyaku akhirnya. "Apa alasannya?"
"Aku punya alasan atau nggak, mau tidak mau aku harus menerimanya. Air mata Mamaku terlalu berharga untuk dibuang-buang sekalipun aku nggak doyan sama lo."
Aku terdiam dan membalas tatapannya. Itu menyakitkan. Dari awal aku tahu kalau aku memang sama sekali bukan tipe wanita idolanya dia untuk diajak kencan apalagi menikah. Aku sadar diri kok. Tentu dia lebih memilih wanita setipe Kendall Janner yang seksi berbikini dari pada aku yang berbaby doll ini. Aku nggak ada apa-apanya.
Aku memalingkan wajah dan terdengar geramannya di sana. Lalu kedua pahanya menahan kedua kakiku dan tangannya menangkup wajahku agar menghadap ke arahnya. Aku mendelik berusaha untuk menantang dengan tatapan mata meskipun aku takut banget saat ini.
"Apa gue harus mengingatkan posisi lo saat ini, Bianca!!" desisnya lagi dengan wajah yang perlahan turun. Aku reflek menutup mata sambil baca doa selamet dalam hati agar terlepas dari jeratan iblis m***m di depanku yang entah mau berbuat apa. Tanganku yang mencoba memukul d**a dan pundaknya seperti tidak berpengaruh apa-apa.
Beberapa menit tidak terjadi apa-apa sampai cekalannya terlepas dan suara umpatannya terdengar. Aku buka mata dan bangkit duduk di pinggir ranjang melihat dia yang berdiri di sisi lain dengan wajah datar. Nih orang nggak bisa nampilin ekspresi yang lain apa. Walaupun gantengnya sih tetep. Plak!!
"Dengar Dustin!!! Gue tahu kalau gue harus menerima kenyataan pahit ini, gue tahu banget," ucapku dengan gaya lebay. "Tapi lo harus kasih kesempatan gue untuk bisa nerima lo. Gue masih kaget, shock dan merasa kalau semua ini terlalu cepat. Gue datang dari Bali tadi siang terus langsung di seret ke dalam kamar, didandanin jadi manten mengorbankan ini rambut gue yang indah seperti iklan shampo ditipi-tipi jadi sapu ijuk begini," kataku sambil menunjuk-nunjuk rambut, "dan setelah sadar lo sudah halalin gue aja."
Dustin melipat lengannya di d**a memandangi seksama wajahku yang mungkin cukup mengenaskan. Tak apalah yang penting kami tidak bergulat malam ini dan dia mengurungkan niat jelek apapun itu yang ada di kepalanya.
Dustin nunjukku dan menekankan setiap suku katanya, "Kalau begitu kita harus membicarakan banyak hal."
"Memangnya dari tadi kita ngapain?" tanyaku dengan wajah polos.
"Gue harus meladeni tingkah gila lo itu," desisnya.
Aku tertawa sarkas, "Gila-gila gini gue istri lo."
"Ngaku juga lo istri gue?" Dustin tersenyum miring.
"Cihh," dengusku.
Dustin memegangi kepalanya dengan tangan seraya mengerang hingga aku reflek langsung berdiri dan berlari ke arah meja rias dan membuka laci yang ada di sana.
"Ngapain lo?" Tanya Dustin ketus.
Aku mengambil obat pereda sakit sekaligus air putihnya dan meletakkannya di nakas. "Minum.”
Dustin menaikkan alisnya seraya mendekat, "Ngerasa bersalah?"
"Nggak usah bawel kenapa sih tinggal diminum doang!!"
Dustin melewatiku seraya menghunuskan tatapannya dan aku balik mendelik. Lalu dia meminum obat itu dan aku hanya bisa diam memperhatikan.
"Lo simpan kunci kamar gue di mana?"
Dustin menoleh sekilas, "Gue buang." Lalu meletakkan gelasnya yang sudah kosong.
"WHAT!!! Lo buang? Nggak waras ya lo!!"
Dustin menoleh heran, "Memangnya lo nggak punya serepnya?"
Aku menepuk jidat dan langsung gerasak-gerusuk merunduk ke bawah-bawah lemari dan meja rias. "Dasar g****k!! Ngapain juga pakai lo buang itu kunci. Mereka semua nggak akan peduli sama kita kalau bukan kitanya sendiri yang keluar dari peradaban." Aku memperhatikan dengan seksama pojokan kamar dan tempat-tempat sempit lainnya mencari kunci yang dibuang seenaknya.
"Ya lo urus lah. Kepala gue pening ngelihat lo nungging- nungging begitu."
SHITT. Aku lupa diri dan langsung berdiri kemudian berbalik melihat ke Dustin lalu—
"ARGGAHHHHH!!!" Jeritanku menggema setelah melihat Dustin yang ternyata sudah melepas celananya saat aku sibuk nyariin kunci kesana kemari hingga menampilkan wujud lelaki idaman yang seharusnya hanya ada di dalam majalah Calvin Klein. Cuma pakai kolor doang. "ASTAGAA MATA GUE TERCEMAR. HUAAAAAAA!!!!!"
Aku menggelengkan kepala. Yang hampir naked siapa yang malu siapa.
"Lo apaan sih apa-apa menjerit."
"Mata gue masih suci, tolong jangan cemari mata gue dengan otot-otot lo itu." Aku menggeleng lagi menahan keinginan untuk mengintip sedikit.
"Bukannya kemarin lo ngubek-ngubek kolor gue tapi kenapa sekarang di kasih penampakan seksi begini lo malah sok histeris. Padahal mau ngintip kan lo?"
Aku buka mata dengan kesal, "Sialan lo!!! Awww!!!" Aku tutup mata lagi.
"Dasar nggak jelas tapi—" Aku mendengar suaranya yang semakin mendekat.
"Jangan beraninya dekat-dekatin gue ya!!" teriakku lagi.
Masih sambil menutup mata, aku bergerak memukul-mukul angin dengan kepalan tangan mengarah ke sekitarku dan kakiku yang juga ikut-ikutan nendang-nendang ke arah depan. Selama beberapa detik melakukan gerakan absurd tanpa mengenai objek pukulanku, akuterdiam karena keheningan yang ada di sekitarku mencoba menebak-nebak di mana Dustin berada. Perlahan tapi pasti, aku memberanikan diri untuk membuka mata dan melotot ketika menemukan dia berdiri tepat di depanku. Aku shock. Lalu dia menarik tanganku dan membawaku kembali ke ranjang dan menghempaskanku di sana.
"JANGAN SENTUH GUE. JANGAN. JANGAN. JANGAN. TIDAK DUSTIN TIDAK. JANGAN LAKUKAN JANGAN!!!" Aku makin histeris. Takut diapa-apain.
Dustin menekan-nekan ujung jarinya di keningku hingga membuatku kembali menatapnya yang berdiri menjulang di luar tempat tidur melipat lengannya seraya menggelengkan kepala. Aku berusaha keras fokus dengan wajahnya. Abaikan ototnya, abaikan pundak lebarnya, abaikan aura hot dan sexynya, abaikan d**a bidangnya, abaikan bagian bawahnya yang –awwww.
"Belum di apa-apain aja lo sudah heboh sendiri, bagaimana kalau sudah gue kasih yang enak," Cibirnya. Aku hanya bisa melotot mendengarnya juga merinding gila.
Dustin maju, aku ngesot sedikit mundur ke belakang masih dengan penampilan urakanku dan dia merunduk menumpukan kedua telapak tangannya di atas tempat tidur dan menatapku seksama. Jantungku sudah gedebukan dari tadi. Demi Dewa dewi di langit, ini kenapa ada satu yang lepas di sini. Tolong bawa pulang. Aku nggak kuat ngelihatnya.
Mungkin saat ini kalau ada orang yang lihat bagaimana penampilan kami berdua, bakalan shock melihat ketidakseimbangan yang ada karena tampilanku yang mengenaskan seperti terkena serbuan angin topan dan Dustin yang rupawan bak dewa.
"Tunggu disini. Gue akan kembali lagi, Akwaryin." Dustin tersenyum smirk. Aku menggigit bibir menahan napas lalu mendesah lega saat dia berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga!!" Aku menghempaskan diri ke tempat tidur seraya memandangi bunga-bungaan yang ada di atas kepala.
"Ah, gue lupa bawa perlengkapan buat mandi."
Dustin keluar lagi dari kamar mandi hanya berbalut handuk pink milikku yang menggantung seksi di pinggulnya. Glek. Aku duduk tegak dan ternganga. Ajigileee!!! Sexy Man. Lelaki bule yang sering aku lihat di Bali kalah seksi dari nih orang. Dustin membuka kopernya dan mengambil peralatan mandinya dalam posisi menugging ke arahku yang hanya bisa menelan saliva melihat pemandangan itu. Cengok, terpesona, termupeng, terapalah pokoknya. Harus berapa kali aku nyebut malam ini.
Mimpi apa aku tadi malam sampai mendapatkan suami yang penampakannya menggetarkan iman banget. Saat Dustin berbalik, dia sedikit tertegun melihatku yang mandangin dia tanpa kedip lalu tersenyum miring dan melarikan jemarinya ke rambut dan menyisirnya ke belakang. Nikmat Tuhan mana lagi yang coba aku dustakan.
"Kita akan membuat kesepakatan," katanya seraya maju mendekat, "Kenapa muka lo merah begitu, sayang. Mau lihat?"
"ÀRGGHHHHHHHH!!!!" Aku menjerit dan menutup mata pakai bantal saat tangan Dustin perlahan bergerak untuk membuka kaitan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.
"BHAHAHAHHAHA!!!”
Lalu tawa nyaring terdengar disusul kemudian suara bantingan pintu kamar mandi. "SIAAAALLLLLAAAN LO DUSTIIINNNNN!!!!" Teriakku lalu menggigit bantal dengan sekuat tenaga. Gemas!!
"Bisa mati jantungan kalau begini caranya." Aku mengelus d**a dan mengacak rambut lalu melihat ke arah jam dinding dan melotot. "What!!! Masih jam 10 malam!!”
Aku memukul kepalaku sendiri dengan tangan seperti orang frustasi dilanjutkan dengan tidur terlentang seraya menjambaki rambut, kakiku menendang-nendang serampangan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Benar-benar stress. Malam masih panjang dan aku sudah ngerasa nggak kuat. Ya Tuhan, tolong hambamu ini supaya kuat iman melewati godaan besar seperti ini.Pagi cepatlah datang!!! Pleaseeeeeeeee!!!!
Aku langsung masuk ke dalam selimut rapat-rapat dan berharap Andres Dustin ketiduran di dalam kamar mandi sampai besok. I wish.
***