ME.8 : MALAM PERTAMA YANG TERLEWAT

2646 Words
“Paling nggak mulai malam ini gue punya teman tidur” - Andreas Dustin. Akhirnya berstatus suami - Kamar Pengantin yang dianggurin DUSTIN Seharusnya sejak awal gue sudah bisa memprediksi dan tidak perlu terkejut dengan penolakan Bianca di saat kami seharusnya melakukan ritual malam pertama. Tapi melihat tingkahnya yang histeris seperti itu membuat gue kaget dan berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menerkamnya dan membungkam jeritannya dengan segala hal indah yang bisa gue berikan buat dia. Gue masih bisa berpikir logis dan menghormatinya yang memang masih belum siap dan tidak akan bertindak egois untuk mengambilnya paksa dan mencoba bersabar menerima kenyataan kalau momen malam pertama gue hancur total tapi tadi saat bangun dari pingsan akibat dari benturan kepala gue dengan lemari dan menemukan dia menatap dalam diam dengan wajah yang teramat dekat, matanya sempat sepersekian detik menyorot hangat. Itu tuh seperti menemukan oase di tengah gurun sahara dan akhirnya gue mengerti maksud perkataan Papa mertua. Bianca itu just a beautifull women. One from million women in the world come into being a different person. Aduh, sepertinya ini efek lain dari benturan di kepala jadi pikiran gue rada ngaco juga kayak Bianca. Sekarang gue sudah merasa segar setelah tadi berdiri di bawah aliran air dingin meski kepala masih berdenyut. Gue menarik napas dalam dan memandangi menampilan gue di kaca kamar mandi. Apa yang salah sebenarnya dari penampilan gue sampai Bianca menolak b******a dengan gue malam ini? “Ah sial!! pusing lama-lama kalau punya bini model begini,” ucap gue frustasi seraya menumpukan telapak tangan di dinding dan menundukkan wajah. Gue harus buat dia menerima kehadiran gue dengan ikhlas dan mengakui gue sebagai suaminya. Jadi gue memilih menahan hasrat yang sudah ada di puncak ini dan melewatkan malam pertama tanpa menyentuhnya dan mengikuti permainannya. Emang ya apa-apa kalau sudah halal itu di pandangan jadi lain. Bianca jauh lebih menggoda dan lebih menggiurkan dari sebelumnya.Shit!!!! Gue keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk pink yang di siapkan orang rumah –ini pasti kerjaan Mama gue nih – dan terdiam tidak jauh dari sofa panjang warna cream empuk yang sepertinya menjadi tempat paling nyaman di kamar ini selain tempat tidur. Di sana Bianca tidur ngulet macam ulet dalam kepompong yang seluruh badannya tertutup selimut lucu motif Mickey Mouse hanya menyisakan kepalanya yang rambutnya masih jabrik dan berantakan itu. Errghh, istri gue memang ya luar biasa bikin gue pengen ketawa geli. Gue menggelengkan kepala, berjalan mendekati koper gue dan menarik satu boxer keluar dan memakainya di sana dan hasilnya tidak terjadi apa-apa. Tidak ada teriakan histeris dan itu artinya Bianca beneran ketiduran. Setelah mengembalikan handuk, gue menghampiri dia yang masih tidur untuk membangunkannya karena kami memiliki pembicaraan penting yang harus dituntaskan. Gue merunduk, berpegangan pada ujung sofa dan menepuk pelan pipinya yang halus. "Bianca," panggil gue. Dia hanya bergerak sedikit dan melanjutkan tidurnya. Gue menghela napas dan menepuk pipinya lebih keras. Dia menggerang, menggumamkan entah apa lalu perlahan selimutnya merenggang. Dia mengeluarkan tangannya dan damn, tali bra warna merahnya terlihat karena baby dollnya yang ternyata kancingnya terbuka satu dan melorot nggak jelas di sana. Merah. Ah sialan Bianca. Gue menelan saliva, mengulurkan tangan untuk mengancingkannya karena jelas hal itu membahayakan iman gue. Sabar, sabar, sabar. Abaikan yang merah-merah. Abaikan yang empuk-empuk. Abaikan yang terasa mengganjal di d**a gue. Abaikan aroma strawberry tubuhnya. Abaikan hangat napasnya. s**t!!!! Bisa gila gue kalau begini caranya. Bianca benar-benar menguji iman gue yang semakin menipis ini. "Oppa, saranghae," lirih Bianca masih sambil memeluk leher gue. Oke, dia jelas ngelindur. Dia bilang apaan tadi? "Bianca," panggil gue dengan posisi yang nggak enak banget. Gue bersimpuh di karpet bulu samping Bianca. "Hmm," erangnya. "Ini gue Dustin." "Hmm." "Suami baru lo yang paling tampan," bisik gue di telinganya. Dikerjain dikit asik nih. Dia menggerang lagi tapi setelah itu seperti ada percikan api, matanya langsung terbuka dan melotot kaget saat menatap gue yang tepat berada di depan wajahnya. Matanya menyorot keseluruhan wajah gue mulai dari mata turun ke hidung lalu bibir. Bergantian. Tapi paling lama dia mandangin bibir entah sambil memikirkan apa. Lalu seperti tersadar, dia langsung memekik. "ARGGHHHHHHH!!!!" Gue terjungkang ke belakang disela kehisterisannya dan duduk menutup lagi tubuhnya dengan selimut. Gue bangkit seraya mendengus sebal dan menatapnya tajam. "Kalau lo teriak-teriak lagi, gue nggak akan segan-segan ngebungkam mulut lo itu sekarang juga!!!" "Mau apa lo!!! Mau nutup mulut gue pake lakban kayak yang di tipi-tipi itu?" "Elo kebanyakan nonton sinetron makanya hidup lo penuh drama kayak gini. Ngapain pakai lakban kalau mulut lo bisa gue sumpal dengan mulut gue. Mumpung nganggur dan bisa sekalian dinikmati tapi gue nggak nanggung kalau keterusan." Bianca ternganga sesaat lalu menyemburkan makiannya. “Lo tadi mau nyuri-nyuri kesempatan pas gue lagi tidur kan?" Gue menghela napas lelah, duduk di atas alas bulu itu dan menatap Bianca kesal."Seharusnya itu yang gue lakuin dari tadi dan saatmembuka mata elo sudah tanpa baju terus ada di bawah gue di atas tempat tidur bukannya masih ngulet di dalam selimut lo itu." Bianca blushing. Gue terdiam menatapnya. Lalu dia menghela napas dan melorotkan bahunya yang tadi naik. Gue menaikkan alis dan menunggu. "Oke. Gue capek teriak-teriak—" "Siapa juga yang nyuruh lo teriak-teriak dari tadi kayak orang stress." "GUE EMANG STRESS!!!" Teriaknya lagi. Gue memutar bola mata dan merapikan rambut gue dengan jari, "Ya itu sih karena lo sendiri." "Jadi apa mau lo sekarang?" "Making love." Bianca melotot dan melemparkan bantalnya ke wajah gue yang sigap langsung gue tangkap. "Pantes aja lo nggak punya pacar kalau tingkah lo aja kayak macan garong begini." "Itu urusan gue ya dan lo nggak usah sok tahu!!!" "Whatever. Gue nggak tertarik juga mendengarnya. Pasti miris." Bianca terlihat berusaha menahan kekesalannya. Gue menyeringai. "Kalau kisah gue miris, apa kabarnya elo yang juga harus menerima kenyataan dinikahkan sama gue. Itu karena lo nggak laku juga kan?" Gue menatapnya tajam, "Gue single bukan karena nggak laku tapi karena gue pemilih." "Cih, ngeles lo aja." Bianca memandangi keseluruhan tubuh gue dengan kesal. "Bisa nggak sih lo jangan tampil dalam wujud lo yang kayak gini di depan gue," desisnya. Gue menatap heran. What's wrong? Gue memang hanya pakai boxer aja sih. "Lo mau gue tampil dalam wujud utuh tanpa pakaian. Nggak masalah!!!" Gue berdiri saat dia langsung loncat ke arah gue dan menarik tangan gue untuk kembali duduk. "Jangan lakukan!!" Bianca menggeleng lucu masih dengan rambutnya yang jigrak itu. "Salah banget memang gue ngeladenin lo yang keseluruhan otak lo itu pasir semua." Gue mendengus dan menoyor jidatnya menjauh dan melepaskan cekalannya hingga dia terjerembab ke belakang lalu melewatinya dan duduk di atas sofa.Bianca merengut tapi mengikuti gue duduk di ujung sofa yang lain. "Jadi, kita buat kesepakatan," ucapnya seraya merapikan rambutnya dengan tangan. "Cari kertas dan pulpen. Buruan!!!" Perintah gue seraya melipat lengan gue di d**a. Bianca langsung ngacir ke satu meja di sudut dan membuka lacinya mengelurkan kertas HVS dan pulpen pinky. Gue berdecak. Barbie queen gue doyannya pasti pinky. Sebelas dua belas aja kayak Mama dan Jelita. Mereka bakalan jadi partner in crime yang cocok. Hidup gue memang penuh cobaan.Bianca balik lagi ke tempatnya dengan kertas dan pulpennya. "Kita dijodohkan secara tiba-tiba karena gue pun nggak nyangka kalau lo orangnya setelah pertemuan bertubi-tubi kita sebelumnya. Jadi, supaya kita nyaman dalam masa pendekatan, kita buat kesepakatan sampai batas yang ditentukan." Bianca mengangguk setuju. "Lo duluan." Bianca nampak berpikir dan menatap gue, "Seberapa banyak?" "Nggak usah banyak-banyak. Buruan lo tulis karena gue sudah ngantuk efek dari obat yang lo kasih tadi atau kalau nggak kita lanjutkan apa yang perlu di lanjutkan di atas tempat tidur sekarang juga." "Omooo omooo," pekiknya dan mulai menuliskan entah apa di sana. Gue memperhatikan wajahnya dalam diam. Bianca punya warna mata coklat bening yang cantik. Sejak awal kami bertemu matanya memang sudah mempesona gue. Pandangannya kuat menyiratkan kalau dia punya karakter yang tidak mudah di goyahkan. Bulu matanya lentik melengkapi kecantikan wajahnya dan bibirnya menjadi daya tarik yang tidak bisa diabaikan. Gue pengen ngerasain lagi. "Sudah." Bianca mengangkat pandangannya setelah sebelumnya sibuk menulis, garuk-garuk kepala, menggigiti ujung pulpennya seperti anak SD. Gue berdeham sesaat dan memberikan isyarat dengan dagu, "Bacakan!!!" Dia sempat melotot lalu mendengus, "Sikap lo tetap ya tukang perintah menyebalkan. Nggak di kantor ataupun di sini." Gue menyeringai, "Itulah gue Bianca. Atasan lo di kantor yang siap memerintah lo sesuka hati dan suami lo di rumah yang harus lo layani dengan sepenuh hati." "Sinting. Mimpi sana lo sana!!!" "Nggak usah bacot buruan bacakan!!!" "Ihh songong banget—" gue melotot tajam, Bianca nyengir. "Ehmm, yang pertama gue mau tidak ada satu orangpun di Bali yang tahu kita menikah." Gue menaikkan alis, "Tidak ada satu orang pun?" "Iya." "Termasuk Prilly?" Bianca mikir sejenak, "Iya. Kalau Prilly sampai tahu bisa runtuh Bali karena kehisterisan dia." Padahal gue berharap kalau di Bali nanti kita bisa lebih dekat. "Oke." Bianca sumringah. "Sampai gue ngerasa nyaman sama lo dan nerima lo jadi suami gue." "Kalau gitu elo harus mau gue angkat jadi sekretaris gue." Bianca melotot, "Mau lo kemanain itu si Lilian Colling. Bisa habis gue di giling sama dia kalau tahu gue ngambil kerjaannya!!!" "Elo harus dalam pengawasan gue Bianca. Masalah Lilian, gue yang urus." Jujur aja masalahnya bukan hanya itu tapi juga karena gue rada risih sama sekretaris gue yang hobinya nungging-nungging dan nunduk-nunduk nggak jelas itu. Bikin gue stres bukannya tergiur. Cara berpakaiannya yang terlalu terbuka –berbelahan d**a rendah, rok pendek dan press bodi – yang gue tahu banget akal-akalannya dia buat menarik perhatian gue. Sekiranya, kalau Bianca yang gue jadikan sekretaris terus gue suruh dia pakai baju model begitu, dia bakalan mau nggak ya? Ah, jangan. Nanti malah istri gue jadi tontonan. Mending pake koleksi Victoria Secretnya aja nanti buat tontonan gue pribadi di rumah. "Gue tetap sama pekerjaan gue!!" Bianca nggak mau kalah. "Lo memang keras kepala. Meskipun nggak ada yang tahu kalau lo itu istri gue tapi lo nggak akan bisa bebas berkelakuan di luar sana. Lo bertingkah, gue akan menindaklanjutinya." "Dustin," panggil Bianca lembut. Gue terdiam mencoba menebak apa yang ada di dalam pikirannya. "Kenapa?" "Lo dari lahir memang sudah menyebalkan seperti ini ya. Rasanya pengen gue lempar lo ke kolam buaya bergabung sama buaya-buaya darat model lo begini." Gue menaikkan alis dan tersenyum smirk. "Gue anggap itu pujian." "Nggak waras!!!" "Sebutkan semua yang lo tulis," kata gue akhirnya capek meladeni ocehannya. Bianca duduk bersila menghadap gue sepenuhnya dengan tatapan tajam lalu melihat lagi kertas coretannya. "Kita tinggal dalam satu rumah tapi beda kamar." Hmm. "Seluruh biaya hidup gue, elo yang nanggung tanpa terkecuali. Gaji suami buat istri, gaji istri ya buat istri aja. Titik." Alis gue mengkerut mendengarnya. Bianca memang jiwa-jiwa istri zaman now. Tahu banget memanfaatkan suami yang sudah kodratnya menafkahi istri. "Tidak ada kontak fisik yang menjurus keintiman. Kalau dalam waktu 3 bulan gue belum nyaman sama lo, kita akhiri semuanya." Gue mendengus mendengarnya. "Bagaimana kita bisa mencoba untuk nyaman satu sama lain kalau nyatanya semua yang lo tulis di situ membuat kita tetap berjarak. Gue setuju yang pertama tapi lo tetap dalam pengawasan gue dan di rumah lo adalah milik gue." Gue memajukan tubuh dan dia reflek mundur, "Elo harus layanin gue sebaik-baiknya tanpa terkecuali." Bianca melotot dan mendorong d**a gue menjauh ke belakang."Nggak bisa gitu dong!!" "Elo nggak mau ada orang yang tahu. Oke, gue nggak masalah. Elo mau gue nanggung hidup lo, itu juga gue sanggup." Gue menyeringai. "Dari semua itu gue hanya minta lo melayani gue tanpa terkecuali." "Termasuk ehem-ehem?" katanya penuh selidik. "Iyalah. Itu kewajiban lo Bianca. Lo mau dikutuk karena membangkang suami sendiri. Lagian gue sudah turutin semua keinginan lo yang lain dan gue hanya minta itu aja." Bianca berdiri dan membuang kertanya lalu menunjuk wajah gue. "Lo memang licik Andreas Dustin!! Lo tidur di sofa aja, gue ngantuk!!" Saat Bianca akan berbalik, gue langsung menarik pergelangan tangannya sampai dia jatuh di dalam pelukan gue dengan mata terbelalak. Gue berbisik di telinganya. "Seharusnya mulai sekarang elo hati-hati, my wife. Gue bukan termasuk dalam jajaran lelaki yang selalu sabar tapi untuk kali ini gue akan biarin lo menang. Persetan dengan semua syarat lo itu karena gue akan pastikan kalau elo yang akan datang ke gue dan memohon-mohon untuk tetap tinggal." Gue menghembuskan napas hangat ke leher jenjangnya dan berbisik. "No matter you called me a handsome devil. I'm still ur husband and someday you will say i am falling in love with you, Dustin." Gue menyeringai. Dalam jarak dekat Bianca menatap gue dengan pandangan shock. "HANDSOME DEVIL FROM THE HELL!!" teriaknya tepat di depan muka dan gue langsung berdiri membuat dia terjungkang ke sofa. "Aduh!" pekiknya. Bodo amatlah. Gue dengan cuek melenggang ke arah tempat tidur, masuk ke dalam selimut dan memeluk guling. "Siapa yang suruh lo tidur di situ,HAH!!" Bianca yang ngikutin gue langsung menarik-narik selimut yang gue pakai. "Kalau lo nggak mau tidur di sofa ya udah di lantai aja." "WHAT!!! Wah, elo memang lelaki gila!!" Gue menoleh ke belakang, "Bukannya elo ya yang dari tadi kayak orang stress teriak-teriak. Mungkin nanti dikiranya orang di luar, elo sudah berhasil gue coblos dan ketagihan. Histerisnya kebangetan." Bianca makin gencar menarik selimut gue yang malah semakin gue rapatkan. "Gue nggak keberatan elo tidur di sebelah gue sini kalau lo punya nyali. Kalau lo takut, ya udah mending lo tidur di sofa aja," gumam gue seraya memejamkan mata. "Gue bukannya takut tapi lo penuh akal busuk. Siapa yang tahu apa yang akan lo lakukan tengah malam di saat gue tidur?" "Bagaimana kalau kita coba cari tahu." "NGGAK SUDI!!!" Bianca menjambak rambut gue sesaat sebelum dia ngacir kembali ke sofanya membuat gue duduk tegak dan memegang rambut gue yang kena jambak dan mendengar semua omelannya. "Heran deh, dosa apa dulu di masa lalu sampai punya laki model mesuman kayak lo gini. Perasaan dulu waktu kecil gue nggak nakal-nakal amat. Gue juga nggak pernah tuh di sumpahin dapat karma punya lelaki kayak elo karena ngerebut pacar orang." Bianca mendesah lebay. "Gue ini orang baik kenapa harus dapat cobaan kayak gini. Biasanya ya, orang baik itu selalu dapat berkah kayak sinetron religi yang ada di tipi-tipi itu. Kalau orang penuh akal bulus itu seringnya dapat hidayah. Nah itu buat elo." Gue hanya bisa bengong mendengarkan semua rentetan kekesalannya. Mulutnya benar-benar nggak ada remnya. Bianca terdengar menepuk tangannya sekali. "Apa ini gara-gara Prilly yang mulutnya nyablak seenak jidatnya. Seharusnya gue nggak pernah membiarkan dia ngomong yang nggak-nggak hari itu setelah dia ngubek-ngubek koper lo. Untung aja waktu itu gue nggak nurutin ide gilanya dia buat nyelipin boxer lo." Bianca berdecak. "Ya ampun, nightmare. Atau jangan-jangan—" Bianca seperti syok sendiri setelah monolognya yang panjang kali lebar kali tinggi. Gue mengerutkan alis. "Astaga, jangan-jangan Prilly beneran nyelipin satu tanpa sepengetahuan gue. Wah gawat!!” Gue memijit pelipis mendengar dongeng ala Bianca. Kepala gue semakin berdenyut pusing. Ada ya orang model begini. Ngomel-ngomel sendiri, ngeoceh-ngoceh sendiri. "Tapi Dustin—" Suaranya kali ini terdengar serius setelah tadi bertingkah layaknya wanita paling menderita di dunia. Gue gemas ingin membungkam tuh bibir. "Kali ini elo boleh menang dan gue biarkan tidur di situ tapi elo juga harus tahu kalau gue nggak akan kalah gitu aja sama lo. Sejak awal gue memang nggak tertarik sama lo." Bianca menarik napasnya lalu menghembuskannya. “Bagi gue, lo itu stranger berotak m***m. Udah sih itu aja!!” Entah kenapa, gue kesal banget mendengar kalimatnya yang terakhir ini. Gue singkap selimut yang menutupi kaki, berjalan ke arah Bianca yang terlihat membenarkan letak selimutnya bersiap untuk merebahkan badannya di sofa tapi langsung melotot begitu melihat gue yang mendekat dan menangkup wajahnya lalu menciumnya tanpa ampun dan mendorongnya terlentang di atas sofa. Kali ini gue nggak akan membiarkan dia menutup mulutnya yang dipakainya ngoceh dari tadi dan semakin menciuminya tanpa ampun. “Hmmmpp—” Hanya itu yang sanggup disuarakannya disela ciuman gue yang semakin beringas. Meskipun tangannya sudah memukuli pundak tapi gue masa bodoh. Mungkin ini bisa membungkam ocehannya sampai pagi datang. Lo pikir lo siapa mau menantang seorang Andreas Dustin dan membuatnya marah. Ini akibatnya, Bianca Rinjani Akwaryin. Rasakan!!!!!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD