ME.2 : MENJELANG BERAKHIRNYA STATUS SINGLE

3060 Words
“Belahan jiwaku, di manakah kamu berada? Aku di sini menunggumu” - Bianca, jomblowati keceh sejak lama - Satu Bulan sebelum di paksa kawin. Akhir Desember 2017, Bandara Ngurah Rai, Bali BIANCA Di penghujung tahun 2017, Bandara Internasional Bali jauh lebih padat dari pada hari biasanya. Para wisatawan asing dan juga penduduk lokal dari Sabang sampai Marauke sepertinya memilih Bali sebagai destinasi favorit untuk menghabiskan pergantian tahun bersama orang-orang tercinta tapi aku lebih memilih untuk menikmatinya di Negara lain, tepatnya Hongkong. Kebetulan gratisan. “Bandara—“ Aku mengalihkan tatapan dari game angry bird yang sejak tadi aku mainkan ke Prilly yang duduk di sampingku juga sama autisnya sibuk melototin ponsel scrolling salah satu akun IG yang mengabarkan gosip terpanas yang dilengkapi caption sindiran di salah satu sudut kedai kopi mahalan menunggu panggilan pesawat tujuan Hongkong yang delay. “Tempat sakral terjadinya perpisahan dan juga pertemuan manis yang kadang sanggup menguras air mata.” Aku mengeryit mendengarnya. “Sama seperti stasiun dan juga terminal dong.” “Bandara kesannya lebih elite Akwaryin,”desisnya seraya melotot. “Ck.” Mataku reflek mengedarkan pandangan ke area sekitar. Berharap ada lelaki yang bisa dikedipin manjah. Nihil. Kebanyakan bersama dengan pasangannya meski ada lelaki berkemeja biru yang duduk sendirian tepat di depan kami dengan posisi membelakangi terlihat tampan walau hanya dari rambut hitamnya. “Seperti Cinta yang menyusul Rangga ke bandara saat harus pergi jauh.” “Yailah, lama banget itu film.” Aku nyengir. “Tapi tetap terkenang sepanjang masa. Bikin baper.” “Jangan kebanyakan nonton film yang bikin baper sendiri. Kasihan aja sih sama elonya yang nggak punya teman untuk dipeluk-peluk.” “Ih resek.” Prilly mengganti topik seraya menggerutu. “Kenapa gosip artis sekarang banyak membicarakan tentang pelakor?” Aku menjawab kalem. “Sekarang gaya hidup mahal demi gengsi yang besar supaya tetap bisa eksis.” “Lo sepertinya ada tanda-tanda jadi pelakor,Bi.” “Sialan!!!” umpatku kesal. “Kalau masih banyak lelaki lajang yang bisa dipilih kenapa harus merebut laki orang?” “Jawabannya kalau lo sudah kepepet nggak bisa menggaet lelaki lajang.” “Kok gue kesannya ngenes banget ya tapi nggak harus gitu juga kali. Mendingan jadi jomblo elegan aja.” Aku berdecak. “Jadi perawan tua dong lo!!” Prilly tertawa membahana, aku merengut. “Untuk mencegahnya, Service ke suami harus kudu kenceng Bi jangan kasih kendor,” saran Prilly. Aku memutar bola mata, “Ya terserah lo lah. Gue masih belum ngerti begituan tapi—” aku menoleh, “Kalau sampai ada yang menjadi pelakor di hubungan gue dengan suami masa depan gue nanti bakalan tak mutilasi menjadi sepuluh bagian.” Prilly menatapku prihatin seraya menepuk paha, “Elo mikirnya kejauhan. Nyari calon suami aja nggak becus malah sudah berkoar tentang pelakor dengan suami yang masih belum jelas sosoknya.” “Sialan!!!” desisku keki karena diingatkan. Prilly tersenyum menang. Aku mematikan game tepat saat Aryan, Marketing officer, datang setelah menjawab panggilan telepon entah di mana lalu duduk di depanku menghalangi pandangan ke lelaki berkemeja biru itu membuat aku reflek mengusirnya dengan gerakan tangan supaya dia minggir. Aryan menyedot greenteanya seraya bergeser mengikuti arahanku dan lirik-lirik ke lelaki itu dengan tatapan apa-sih-lo? Aku mengacungkan jempol. Aryan mendengus. “Gue tadi melihat adegan telenovela,” katanya seraya menatap kami berdua. Aku nyimak. “Wow, pasti seru.” “Ada adegan tamparannya. Wanitanya mengeluarkan tenaga dalam sampai tuh laki hanya bisa bengong memegangi wajahnya yang memerah disertai u*****n kasarnya.” “Lo nggak tanya apa masalahnya?” “Gila aja, bisa-bisa gue yang digampar!! Lo kadang kalau ngomong nggak dipikir dulu ya,” dengus Aryan seraya meluruskan kaki dan sesaat melihat ke arah jam tangannya lalu menggerutu. “Lama banget sih delaynya.” “Ya lo kan orangnya kepo pakai banget. Lagian adegan begitu sudah biasa sekarang. Sejak lelaki zaman now pada nggak bisa dipercaya.” “Siapa?” tanya Aryan. “Gue termasuk dalam spesies lelaki yang bisa dipercaya loh ya.Enak aja menyamaratakan semuanya.” “Tapi gue nggak doyan sama lo!!!” “Ssttt mulutmu hariamaumu. Kualat mampus lo!!!” tegur Prilly tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. “Idih gue juga ogah sama spesies wanita modelan lo begini.” Aryan mencibir tidak mau kalah. Sebenarnya wajahnya lumayan nggak bikin malu kalau digandeng ke acara kondangan hanya saja kadang mulutnya lebih heboh dari mulut perempuan. “Gue memang jomblo tapi bukan berarti nggak laku. Siapa yang tahu sepulangnya gue dari Hongkong malah dapat jodoh. Iya nggak Pril?” “Gue iyain aja deh supaya lo senang.” Aku toyor jidatnya. Prilly cemberut seraya merapikan rambutnya. “Biasanya bandara kalau hari liburan gini banyak yang cakep-cakep,” katanya seraya mengedarkan pandangan. Aku menyikut lengannya, “Lelaki bule dengan jambang tipis mengggoda di dekat pintu masuk kelihatannya hot tuh.” Prilly menoleh, “Lo buta?” Aku menatapnya heran. “Lihat dong lelaki yang disebelahnya ngelus-ngelus paha tuh lelaki berjambang dari tadi.” “Kenapa? Memangnya aneh ya lelaki mengelus paha lelaki lain?” “Elo ini pura-pura polos atau memang terlalu polos sih Bi? Atau b**o? Polos sama b**o kalau buat lo nggak ada bedanya kayanya,” cibir Aryan. Aku melayangkan bogeman tanganku ke arah Aryan yang langsung tertawa membuatku keki lalu memandangi lagi lelaki berjambang tipis itu lekat-lekat. “Kok kelihatannya mereka lelaki tulen ya?” “Penampilan bisa menipu,” jawab Prilly. “Susah dong kalau mau nyari yang 100% laki,” aku mendesah. “Minta dijodohin aja sana,” usul Aryan. “Ogah banget!! Lo jangan ikut-ikutan seperti emak gue deh.” Aku memajukan duduk menatap Aryan dan Prilly bergantian, “Gue itu tipe wanita yang harus mendalami karakter pasangan gue dulu sebelum memutuskan untuk menikah. Kalau dijodohkan, mau nggak mau harus nerima dia apa adanya dong.” “Intinya menikah itu kan begitu. Mencintai kekurangan dan kelebihan pasangan.” Prilly berdecak. “Coba lo lihat dua wanita bergaya America di deretan sebelah kita.” Aku dan Aryan reflek menoleh dan menemukan dua wanita yang sibuk berdandan yang keseluruhan barang-barangnya itu bermerek. “Kalau modelan seperti mereka ini hanya mencari satu kriteria. Lelaki kaya yang banyak duitnya biar nggak hidup susah. Mau cinta kek atau nggak kek yang penting bisa beli sepatu Louboutin setiap hari.” “Bisa jebol dompet gue kalau punya istri seperti mereka walaupun fisiknya sempurna banget,” desah Aryan yang tidak bisa mengalihkan tatapannya seraya menyerumput minumannya sampai habis. “Males aja kalau tiba-tiba punya pasangan yang songong dan gengsinya selangit.” “Ya cocoklah sama lo yang nggak punya malu,“ejek Prilly. “Kalau lo begini terus siap-siap aja dijodohkan. Mama lo sanggup melakukan itu kalau sudah kepepet.” Aku mengetukkan kepalan tanganku di meja dan kepala, “Amit-amit jangan sampai gue harus dijodoh-jodohkan begitu.” “Wujud lo aja yang kelihatannya anggun dan dewasa tapi kelakuan hancur banget.” “Resek lo!!!” Aku berdiri sedikit menepuk kepala Aryan dengan selebaran brosur perjalanan yang langsung dia rebut. “Gue nggak sehancur itu!!” “Nyatanya mana? Emak lo sudah macam kebakaran buntut dan elo masih tenang-tenang aja disebut perawan tua. Sudah lah Bi, ikutin aja itu kemauan Mama lo supaya hidup lo tenang.” Aryan semakin menjadi-jadi. Aku berniat berdiri dan mencakar mukanya saat lelaki berbaju biru itu juga berdiri sambil menelepon membawa serta tas kecil berpergiannya. Aku terduduk sambil berusaha melihat wajah lelaki yang berjalan keluar itu tapi dia sama sekali tidak menoleh ke belakang. Aku melotot ke Aryan yang ditanggapi masa bodoh. “ADUH!!” Kami reflek menoleh ke depan saat mendengar pekikan lebay kemayu yang didesah-desahkan itu. Pada sosok wanita cantik berbaju seksi yang tidak sengaja – atau sengaja banget – menumpahkan minumannya di kemeja biru lelaki yang tadi bikin aku penasaran. “Alah modusan,” cibir Aryan. “Sengaja aja palingan tuh supaya bisa kenalan.” “Memangnya tampan?” tanyaku ingin tahu. “Iya. Elo nggak lihat tadi?” Aku menggeleng. Prilly terkekeh. “Padahal dari tadi lelaki itu duduknya di depan kita.” “Ya belum rezeki lo Bi.” Aku manyun dan melihat wanita cantik yang seksi itu panik dan mengambil tisu. “Aduh maaf ya nggak sengaja. Sini dibersihkan.” Suaranya penuh rayuan akal bulus. Aku penasaran dengan respon lelaki itu yang sejak tadi diam dan terlihat mengibaskan kemajanya. Sayang banget aku hanya bisa melihat punggungnya. Tanpa terduga, tangannya terulur menjauhkan tangan wanita yang memegang tisu itu. “Nggak perlu. Makanya lain kali kalau jalan lihat ke depan. Jangan sengaja lihatnya ke belakang terus nabrakin orang.” Wanita itu ternganga. Tanpa basa-basi lelaki itu melanjutkan langkah kakinya dan menempelkan lagi ponselnya ke telinga keluar dari area kedai kopi dan pergi menjauh tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Aku, Prilly dan Aryan berusaha keras menahan tawa yang sudah diujung lidah melihat ekspresi kesal wanita yang ditolak mentah-mentah itu. “Mampus!!” cibir Aryan. “Sok kecantikan sih,” tambahku. “Ternyata masih ada lelaki yang waras,” kata Prilly. Aku berdecak, “Tapi tuh lelaki songong juga.” Lalu panggilan penumpang pesawat tujuan Bali – Hongkong menggema. “Wajar sih. Lelaki tampan biasanya kebanyakan memang songong,” jawab Prilly. “Kecuali suami gue.” “Idih pastinya jual mahal juga. Ogah banget.” “Nggak usah mikirin orang, urus aja tuh diri lo sendiri.” Mulutnya Aryan memang minta di lakban. Kami bergegas berdiri dan berjalan bersisian menuju ke gate keberangkatan untuk masuk ke dalam pesawat dan tersenyum penuh semangat saat sudah duduk di dalamnya. Hongkong, aku dataaaaang. *** "YA TUHAN!!! KENAPA ENGKAU MENCANDAIKU SEPERTI INI!!" Mulutku yang cempreng memberontak murka sesaat setelah masuk ke dalam salah satu kamar hotel bintang lima yang mewah dan berpemandangan indah kota Hongkong di lantai –Err, ah whatever –aku lupa lantai berapa karena si Prilly yang menekan tombol lift. Seharusnya ya, aku ini happy karena bisa merayakan Tahun Baru sekaligus ulang tahunku yang semuanya dibiayai oleh hotel tempat aku bekerja mencari duit untuk beli kosmetiknya Kylie Jenner. Hanya dua hari mengikuti seminar dan selebihnya bisa menikmati indahnya langit kota Hongkong yang dihiasi kembang api spektakuler. Tapi apa coba yang aku dapatkan? Kecerobohanku sendiri dan unknown man yang boxernya lagi aku angkat tinggi-tinggi di depan wajah Prilly yang nggak berkedip sama sekali melihatnya. "Astaga Bi, boxernya seksi banget.” Prilly memekik melihatnya dan berusaha menggapainya. Aku melotot dan menarik mundur boxer itu. "Seksi pala lo peyang!! Ini bagaimana ceritanya koper gue yang limitid edition belinya di Paris sana bisa ketukar dan gue baru menyadarinya sekarang." Jelas dong aku mencak-mencak. Semua pakaianku raib dan tergantikan dengan berlapis-lapis pakaian lelaki yang sepertinya seorang eksekutif muda dilihat dari ukuran dan jenisnya. Waktu aku obrak-abrik malah mendapatkan boxer dengan tulisan Calvin Klein yang maskulin abis. Jelas yang punya nih koper pasti sexy man. "Apa mungkin dia ini modelnya Calvin Klein ya?" Prilly seperti menerawang sendiri mungkin membayangkan wajah pemiliknya. “Pasti wujudnya seperti model-model luar negeri itu.” “Lo memang s***p. Bagaimana bisa membayangkan wajah seseorang hanya dari boxernya. Gila lo ya!!!” umpatku. “Siapa tahu aja ya kan,” kekehnya seraya menarik keluar beberapa boxer lagi sambil menahan napas. Asmaku rasanya mau kambuh melihat betapa cerobohnya aku hari ini. Memang sih tadi saat di pengambilan bagasi, aku terlalu terburu-buru karena sudah di tungguin sama pihak hotel yang menjemput. Maklum aja, pesawat delay hampir setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Aku yang hapal mati bagaimana bentuk dan warna koper yang memang tidak murah dan edisi terbatas itu langsung aja ngeloyor pergi tanpa mengecek terlebih dahulu. Mana aku tahu kalau ternyata di antara penumpang pesawat jurusan Bali - Hongkong yang aku naikin, ada yang punya koper sama seperti punyaku. “Bagaimana bisa lo buka kuncian kopernya?” Tanya Prilly heran. “Gue aja kaget. Kopernya serupa jadi mana tahu kalau ternyata milik orang lain.” Aku menutup koper itu dan menguncinya lagi. Memastikan. Aku memang hobinya Travelling jadi sengaja beli koper mahalan dengan merk terkenal bahkan yang edisi terbatas hanya tersedia delapan buah dengan warna serupa sampai harus menguras tabungan yang nggak sedikit. Demi kenyamanan dan tetap bisa tampil elegan ya aku beli berapapun harganya saat berkunjung ke Paris dua tahun yang lalu. “Gue tadi pakai nomor kombinasi yang memang diberikan langsung dari tokonya sana. Mana gue tahu kalau nomor itu bisa juga untuk membuka koper lain hasil pabrikannya dia.” “Kok bisa begitu ya?” Prilly menelengkan kepalanya. “Aneh.” “Ingatkan gue untuk mengirimkan mereka keluhan pelanggan,” desisku keki. Prilly mengangguk dan kembali sibuk dengan koper lelaki itu setelah aku membukanya lagi. Mungkin karena belinya di toko yang sama dengan stok terbatas yang pembelinya berasal dari seluruh dunia jadi pihak toko tidak memprediksi akan ada kejadian seperti ini. Berarti kombinasi koper merek ini bisa dibuka dengan kombinasi yang dimiliki masing-masing orang atau memang semua nomor kombinasinya juga sama. Yaelah. Bodoh kan!!! Aku terduduk mengenaskan di lantai bersandar di sisi tempat tidur meluruskan kaki menatap pemandangan spektakuler kota Hongkong yang terasa hambar di mata. Moodku langsung terjun bebas. "Parfumnya maskulin banget Bi." Di belakang, Prilly masih saja sibuk mengobrak-abrik koper tidak peduli kalau sahabatnya ini nyawanya seperti menghilang setengah. "Gimana caranya koper gue yang asli bisa balik lagi kalau begini Prill?" desahku. Frustasi. Jadwal pertemuan akan dilaksanakan lima jam lagi setelah makan malam di Ballroom hotel. "Sama sekali nggak ada barang-barang penting di dalamnya." Akhirnya, Prilly sadar kalau temannya ini butuh bantuan. "Gue jadi penasaran nih lelaki sudah punya istri atau masih sendiri ya? Nggak ada buku-buku apa gitu yang keselip di sini. Buku nikah misalnya.” "Itu nggak penting!!" desisku kesal. Aku bangkit. Mengambil boxer yang di tebar Prilly di atas tempat tidur dan juga parfum mahalan itu lalu memasukkannya lagi secara serampangan ke dalam koper. "Minggir lo!! Bukannya bantuin malah asyik sendiri sama boxernya orang." Prilly memutar bola matanya seraya menggeser untuk memberiku tempat mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Aku memeriksa semua sela-sela koper siapa tahu ada uang kaget. Lalu menemukan selembar kartu nama membuat mataku langsung berbinar senang seperti menemukan harta karun. Apapunlah yang penting bisa mengembalikan koper beserta semua isinya yang aku sayangin. "Omo..omoooo," terdengar teriakan lebay Prilly di belakang yang ikut melihat siapakah nama gerangan lelaki pemilik boxer seksi ini. "Andreas Dustin." Aku dan Prilly saling berpandangan. "Yang punya bule ya?" tanyaku akhirnya. "Oh, Pantes aja," kata Prilly seraya mengangguk. Aku mengeryit bingung. "Pantes apa?" "Ukuran dalamannya mengisyaratkan kalau dia bule." Aku keki. Langsung aja aku piting itu leher Prilly sampai dia susah bernapas. Mentang-mentang sudah punya suami seenak jidatnya ngomong yang sensitive begitu di depan wanita single yang bahkan masih bersegel. "Ampunnnn maaaakkk!!" teriaknya. Aku berniat membantingnya ke ranjang kalau saja aku tidak mendengar dering ponsel di tas berpergianku berbunyi nyaring. "Awas aja lo!!" desisku dan melihat Prilly yang memeletkan lidahnya seraya merapikan rambut. Aku mengambil tas di atas meja dan mengeluarkan ponsel. Nomor tidak di kenal. "Halo?" Aku angkat juga akhirnya. "Bianca Rinjani Akwar—" ada jeda sesaat. Aku tahu lelaki di seberang sana pasti mengeryit saat menyebutkan nama belakangku yang— ah sudahlah. "Bianca aja. Ini siapa?" balasku seraya duduk di kursi memunggungi kota Hongkong di bawah tatapan Prilly. "Gue Andreas Dustin. Koper gue ada sama lo ya” Gue langsung sumringah. “Ah iya, kebetulan—“ ”Pasti ini akal-akalan lo aja kan supaya bisa kenalan sama gue?" Aku mendelik karena perkataanku disela. Awalannya tadi sih suara baritonnya menenangkan hati tapi makin ke belakang jadi cempreng. Ketus. Dan apa yang dia bilang tadi? Akal-akalan supaya bisa kenalan sama dia? Wah, songong. Awas aja kalau jelek. "Eh enak banget nuduh orang sembarangan. Nggak kebalik ya. Mana koper gue?!" Aku nggak mau kalah. "Nggak mau ngaku lagi. Kita harus ketemu sekarang karena gue punya rapat penting yang harus dihadiri." "Ih, kayak elo aja yang punya kepentingan. Di dalam sana ada underwear yang belum gue cobain. Kita ketemu di mana?" Ada hening sesaat sebelum lelaki itu menjawab, “Posisi lo di mana?” “Di Hotel JW Marriot.” "Oh. Gue tunggu di Starbucks dekat hotel." "Oke. Kalau lo lihat ada cewek cantik, masih single dan ngecling karena masih perawan. Itu gue. Nggak pake lama!!!" Aku menutup telepon tanpa menunggu jawabannya. Prilly langsung loncat dari tempat tidur mendekat dengan wajah sumringah. "Bukan orang bule ya?" Hal itu yang ternyata sejak tadi membuatnya penasaran. Aku mendengus dan berdiri menghadap ke cermin memperhatikan penampilanku yang masih good looking lalu berbalik melihat Prilly yang menatap penuh harap sambil memasukkan semua barang-barang lelaki itu dengan asal ke dalam kopernya. "Bi, boxernya nggak mau di simpan satu," kekeh Prilly. Astaga neh orang otaknya makin kebalik. "Lo pikir gue ini tukang cari persugihan nyimpen-nyimpen dalaman. Ogah banget!!! Nanti yang ada gue malah sial." "Duh, coba deh lo ubah mindset lo itu. Nyimpen boxer bukan berarti kita mau cari persugihan, siapa tahu aja nantinya yang punya boxer ini bakalan jadi suami lo. Bau-baunya masih lajang nih." Aku langung noyor jidatnya yang lempeng itu. Otaknya kebanyakan ena-ena jadinya begini neh. Otakku jadi ikutan tercemar. "Nggak usah aneh-aneh." "Jadi dia orang Indonesia?" tanyanya lagi. Aku menurunkan koper itu ke bawah dan menarik pegangan kopernya ke atas. "Bahasa Indonesianya sih lancar sepertinya orang Indonesia. Lo jangan pernah terkecoh sama nama yang kebule-bulean apalagi sama dalaman." Aku mendengus. "Dan juga sama koper." Aku menendang koper itu yang langsung terjungkang kebelakang. “Menipu!!” "Tapi ya Bi, gue perkirakan punya dia gede lo dari ukuran dalamannya. Jadi gue pikir dia bule." Aku ternganga dan langsung memegangi kepala yang mulai pening. “Memangnya elo pernah survey?” Prilly nyengir, “Ya nggak harus survey dulu Bianca. Gue pernah baca di salah satu majalah dewasa yang membahas tentang perbedaan ukuran dari berbagai belahan dunia secara umum dan ilmiah.” Aku tepok jidat melihat Prilly yang cengengesan. Meladeni dia bikin aku ingin menyumpahkan apapun. Dari pada buang-buang waktu, mending kita sudahi saja drama koper yang tertukar ini dan kembali hidup damai. "Ah peduli amat!!!” Aku mengambil pegangan koper dan menariknya naik. “Mau punyanya gede kah atau mini kah, pokoknya koper gue harus kembali. Diem aja lo di situ sampai gue balik!!!" “Nggak mungkin kalau mini Bi—” Gue mendelik dan mengepalkan tangan. Masih aja mau dibahas. Prilly mengatupkan bibirnya dan melambaikan tangan. "Siap Bos. Jangan lupa kalau bisa di foto dulu ya Andreas Dustinnya buat kenang-kenangan dan juga sampaikan salam, bilang kalau semua dalamannya kece badai." Mengabaikan omongan Prilly, Aku keluar dengan wajah kesal dan membanting pintu kamar hotel bintang lima di Hongkong dengan keras. Stress, Njir!!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD