ME.3 : PERTEMUAN PERTAMA

1999 Words
“Kalau gue songong, terus mau apa? Yang penting ganteng” - Andreas Dustin, lelaki jomblo meski peminatnya banyak - Kamar Suite Hotel JW Marriot, Hongkong DUSTIN “Ah sial!!” Gue mengumpat kesal. “Kenapa wanita modusannya selalu aja ngorbanin baju. Nggak kreatif banget.Main nabrak orang sembarangan. Kemeja gue jadi basah dan membekas kopi begini.” Gue mulai melepas kancing kemeja biru yang gue pakai sejak bertolak dari bandara Bali mengabaikan rasa tidak nyaman akibat noda yang ada di sana karena kecerobohan wanita berdandanan menor yang sengaja banget nabrak gue. Selama perjalanan kelas bisnis dari Bali ke Hongkong gue harus melapisinya dengan jaket levis yang tadi gue lempar begitu saja di atas tempat tidur setelah meletakkan koper kesayangan gue yang limited edition itu di dekat pintu kamar mandi. Gue keluar bertelanjang d**a, menggeret koper dan menaikkannya ke atas tempat tidur lalu memasukkan angka kombinasinya. Gue butuh mandi dan mengistirahatkan tubuh gue sebelum menghadiri pertemuan penting di ruangan meeting hotel. Gue ternganga. Hal pertama yang gue lihat saat membuka koper adalah semua warna baju yang ada di dalamnya colourfull. Gue menggaruk tengkuk, memandangi isi koper yang berubah serba feminim, menutupnya lagi dengan kesal dan memperhatikan lebih seksama koper yang gue beli jauh di Paris sana dan edisi terbatas. Semuanya terlihat sama bahkan mereknya. Gue mengeryit heran. Bagaimana bisa gue dengan mudahnya membuka kuncian koper yang bukan milik gue sendiri meskipun serupa. Gue tutup lagi dan menguncinya lalu membukanya lagi. Ah, sial. Gue harus mengirimkan keluhan pelanggan ke tokonya kalau begini kasusnya padahal koper gue ini hanya ada delapan buah di dunia. “Ah b******k!!” Gue mengumpat frustasi. Gue buka lagi koper yang tertutup itu dengan gerakan kasar, mondar-mandir seraya mengacak rambut dan melihat jam tangan. Frustasi.Gue sering berpergian entah untuk urusan pekerjaan atau jalan-jalan ke berbagai belahan dunia dengan koper kesayangan gue ini dan semuanya aman-aman saja tapi kenapa sekarang malah dapat sial begini. Gue mendekat, ragu-ragu untuk mencoba menggeledah isi koper mencari petunjuk yang bisa gue pakai untuk menghubungi pemilik koper. Rasanya seperti mengintip privasi orang lain tapi gue tetap harus melakukannya karena tidak mempunyai pilihan lain kalau mau koper gue kembali. Pertemuan akan diadakan beberapa jam lagi dan nggak lucu kalau gue nggak datang padahal gue ada di dalam kamar. “Ah, bikin repot aja.” Gue bergumam sendiri. Mulai memeriksa semuanya tapi yang gue dapat malah sesuatu yang lain. Gue angkat underwear seksi berenda warna merah dan hitam yang tidak sengaja gue lihat dan terbengong. Reflek gue jatuhkan keduanya lalu mundur selangkah. Menelan saliva dengan susah payah seraya memandangi benda itu. “Ah sial!!!” Gue menggerang frustasi.“Seksi banget dalamannya. s**t!!” Gue akhirnya menarik lagi benda berenda lainnya yang semula berada di dasar koper di bawah tumpukan baju sampai gue mendapatkan satu lingerie hitam yang sumpah – astaga – bikin gue ternganga. “Gue harus tahu siapa pemilik lingerie seksi ini.” Saat itulah gue melihat ada buku persis buku diary di sela koper bagian lainnya. Gue ambil dan duduk di kursi menghadap ke pemandangan kota Hongkong mencari petunjuk. Banyak tulisan tangan yang isinya curhatan ngenes seorang jomblowati. Gue nyaris tertawa melihat banyaknya kalimat lebay di sana sampai gue menemukan selembar foto. Gue letakkan buku itu di pangkuan, mengelus dagu memperhatikan dengan seksama foto yang gue angkat sejajar dengan mata memperlihatkan seorang wanita yang berpelukan erat dengan lelaki di depan klub malam. “Cantik dan seksi. Apa mereka pasangan suami istri ya?” gumam gue dan terbelalak saat menyadari kalau sejak tadi gue masih menggenggam erat lingerie hitam itu. Damn it!!! Gue menggelengkan kepala kesal. Bagaimana kalau pemilik benda yang gue pegang ini ternyata sudah bersuami? Lagian kalau dia masih sendiri ngapain bawa-bawa lingerie? Banyak pertanyaan nggak penting berkelebat dalam otak yang membuat gue langsung meletakkan lingerie itu di atas meja takut menjadikan istri orang sebagai bahan berfantasi liar saat di sudut mata, gue melihat sebaris tulisan nama dan nomor telepon tertera di sana. “Bianca Rinjani Ak—“ Gue mengeryit dan menahan tawa geli ketika melihat nama belakang wanita itu. “Akwaryin.” Gue menaikkan alis. “Unik.” Gue ambil ponsel, menekan sederet nomor yang tertera di sana, duduk diam menunggu saat terdengar bunyi nada panggil seraya memandangi lingerie hitam itu dengan senyuman miring. “Hai pemilik lingerie seksi menggoda, gue harus tahu siapa elo.” Klik. Panggilan gue di angkat. “Halo?” Gue tersenyum smirk. Gotcha!! *** Satu kata untuk wanita yang lagi gue tungguin di Starbucks Coffee sejak lima belas menit yang lalu. Ajaib. Anjir, mulutnya nyablak banget. Seperti nggak ada remnya tuh bibir. Gue tadi sampai bingung mau berkata-kata. Padahal biasanya seorang Dustin tidak pernah kehabisan kata-kata. Meskipun gue memang tidak terlalu banyak omong kalau nggak perlu. Dan juga isi kopernya. Damn it! Apalagi dengan semua model underwear Victoria’s Secret yang dia punya. Gue sampai nggak berkedip melihatnya. Bukannya gue orang iseng yang buka koper ternyata bukan baju-baju gue yang ada di sana dan langsung ingin tahu model underwear-nya. Jelas gue nggak seiseng itu. Tapi gue tidak berdaya saat dihadapkan dengan dalaman yang seksi luar biasa warna-warni menggoda terutama lingerie hitam itu. Otak lelaki gue langsung menyala layaknya bohlam lampu membayangkan bagaimana isinya dan betapa seksinya kalau sudah melekat di pemiliknya. Efeknya terasa bukan hanya di otak tapi di – you know what i mean – dan susah banget buat dilupakan. Sialnya, tadi gue hampir aja bersorak kegirangan saat wanita bernama Bianca ini mengatakan kalau dia masih perawan yang artinya dia belum menikah meskipun agak aneh mengakui hal pribadi seperti itu sama orang asing. Hmm, aroma-aroma perawan memang beda banget. Jadi gue bela-belain keluar kamar hanya memakai jaket levis tanpa dalaman apapun karena satu-satunya baju yang ada terkena noda kopi dan tersenyum sendiri sangat mengingat perkataannya di telepon tadi. Cewek cantik, masih single dan ngecling karena masih perawan. Kalimat absurdnya membuat gue penasaran ingin bertemu langsung dengannya. Wanita yang menarik. "Mas Dus?" What!! Mas?!! Dus?!! Gue menoleh ke samping saat mendengar panggilan itu dan melihat ke bawah, menatap flat shoes Prada warna navy yang membungkus telapak kakinya yang mulus. Gue turunin sedikit kacamata hitam gue dan menarik manik mata gue perlahan ke atas memperhatikan lekat kaki jenjangnya yang terbungkus celana jeans biru ketat yang robek di bagian lututnya lalu ke bajunya yang dia masukkan serampangan ke dalam dan agak longgar tapi terbuka di area pundaknya. Penilaian gue nggak pernah salah, tuh gundukan ternyata memang— "Ehm!!" Lamunan gue buyar. "Gue lagi buru-buru jadi tolong dong kembalikan koper gue sekarang." Dia langsung menyorongkan koper gue yang memang serupa dengan miliknya. Gue akhirnya menatap wajahnya setelah membenarkan lagi kaca mata hitam gue. Astaga!!! Tuh bibir – "Elo nggak bisu kan? Awas matanya loncat keluar!" Cibirnya. Fakta pertama, sepertinya dia terlihat tidak terpesona dengan kagantengan gue dan tidak jaga image seperti wanita kebanyakan. "Hmm, Akwaryin ya?" "Bianca!!" desisnya galak dan bersidekap. "Biasakan dong kalau manggil itu sesuai urutan. Dari nama yang paling depan dulu baru ke belakang." Gue menaikkan alis. "Gue sukanya main belakang, gimana dong?" Sumpah, gue mau ketawa melihat ekspresi wajahnya yang kaget dengan mulut yang terbuka terus mangap-mangap lucu gitu mendengar kalimat ambigu gue yang mencoba untuk tetap stay cool. Gue langsung berdiri berhadapan dengannya. Tinggi badannya hanya sampai sedagu gue. Mungil tapi berisi.“Lo pasti sengaja kan salah ambil koper walaupun milik kita serupa. Lo pasti sudah ngincer gue dari jauh dan mengambil kesempatan.” Gue berdecak. “Gue akan anggap kejadian ini tidak disengaja kalau memang lo mau mengaku.” Wanita itu kaget dan juga tidak terima. “Heh denger ya!! Jangan sok kepedean. Gue sama sekali nggak mau repot-repot kenalan sama lo dengan cara murahan seperti ini. Apa untungnya coba? Bikin susah iya.” “Ya lo bisa kenalan sama gue seperti banyaknya wanita di luaran sana yang nggak kreatif dan ngedeketin gue dengan cara aneh-aneh!!” Wanita itu mendengus dan memperhatikan penampilan gue dari bawah ke atas seakan menilai. “Whatever. Terserah deh lo mau ngomong apa tapi yang pasti gue bukan termasuk dalam salah satu jenis wanita yang mau capek-capek ngelakuin hal itu. Sok kegantengan banget sih jadi orang!! Jangan menyamaratakan semua wanita yang ngelihat elo pasti terpesona.” “Pada kenyataannya gue memang ganteng dan itu sudah bawaan lahir.” Gue menyeriangai penuh kemenangan. “Wajar dong kalau gue pasti mengira elo salah satu dari mereka.” Gue puas melihat ekspresinya yang mencoba untuk menahan amarah. “Kembalikan koper gue!!!” katanya dengan wajah kesal seperti tidak mau meladeni omongan gue lebih lama. "Eits, nggak segampang itu.” Gue mendengus. “Tadi wanita itu nyebutin ciri-cirinya. Cewek cantik?" Gue menatap lekat pahatan wajahnya yang terlihat sangat kesal. "Lo lumayan lah." Dia melotot. "Masih single?" Gue mengedarkan pandangan ke sekitarnya dan tidak menemukan orang lain selain dia. "Hmm, gue yakin kalau elo memang nggak punya pasangan. Lalu yang terakhir, ngecling karena masih perawan?" Gue lihat hidungnya sudah kembang kempis. Gue melepas kaca mata hitam gue, mengaitkannya di kerah jaket dan melipat lengan menatap intens mata coklat bening yang bagi gue seperti antariksa. Penuh bintang, begitu hidup dan memperdaya. s**t!!!! "Gue harus cari tahu dulu supaya gue nggak salah orang." Dia makin melotot, tangannya terkepal dan mulutnya mangap-mangap. "Hei, Mas Dus!!!” jari telunjuknya mengarah ke wajah gue. “Kalau elo mau modusan tolong ya yang elegan sedikit. Lelaki apaan yang baru ketemu sekali sama wanita langsung ngajakin ngamar. Lo mabok ya?!!!" Beberapa pengunjung ada yang mulai melirik-lirik. "Loh Itu ciri-ciri yang dia sebutin sendiri di telepon. Gue hanya mau memastikan. Terus salahnya di mana?" "Tapi nggak gitu juga caranya. Sumpah ya otak lo kacau!!" Gue menaikkan bahu dengan gaya acuh. "Nggak waras!!! Jelas-jelas kita bawa koper yang serupa masih aja nggak percaya. Kalau begitu kita buka aja nih koper untuk memastikan. Sekalian gue mau lihat apa barang-barang gue masih utuh atau sudah lo sabotase. Nggak heran karena lelaki dengan otak m***m model lo begini bisa aja sudah bongkar-bongkar baju gue dan nyelepin underwear gue untuk di guna-guna." Sialan!!!! Nih cewek beneran minta gue kawinin sekarang. Tahu banget apa yang tadi otak gue mau setelah melihat serba serbi dalamannya yang hot menggoda itu meskipun bukan untuk di guna-guna sih sebenarnya.Penghulu mana penghulu. "Oke, nggak masalah. Gue tentu juga harus memastikan milik gue juga." Bianca mengambil kopernya sendiri lalu meletakkannya di atas kursi. Gue menaikkan koper ke atas kursi yang tadi gue dudukin dan mulai membuka kuncinya. Sesaat, gue terdiam melihat isinya lalu kami saling menoleh dan berpandangan dengan wajah penuh selidik. "Lo?!!" Ucap gue dan dia berbarengan dan saling menyimpitkan mata. "Lo bongkar-bongkar underwear gue? Kenapa berantakan begini?" Tunjuknya ke arah kopernya yang memang berantakan meskipun bajunya masih rapi di tempatnya. Hanya aksesories pelanginya aja yang berhamburan. "Dan lo sendiri? Kenapa semua boxer gue bisa keluaran dari tempatnya begini?" Gue nggak mau kalah. Bianca diam dan mengatupkan bibirnya. Sudah tahu salah mau menyangkal. "Gue tadi bongkar karena mau nyari siapa tahu ada identitas lo di dalam sana," kata gue akhirnya. "Gue juga sama," jawabnya. Bianca terlihat menarik napasnya lalu mengeluarkannya. "Oke gini aja. Koper kita tertukar karena nggak di sengaja ya bukan karena aksi modusan seperti yang lo tuduhkan tadi. Gue nggak sefrustasi itu hanya untuk kenalan sama laki modelan lo gini. Jadi anggap saja ini kecerobohan kita berdua dan kebetulan yang apes banget kita berdua bisa buka kuncian kopernya. Jadi, karena gue lihat isinya masih utuh – mudahan aja nggak ada yang lo ambil diam-diam – dan kita akhiri saja drama koper yang tertukar di sini." Gue bersidekap dengan wajah sedikit naik mendengarkan. "Terus?" Kata gue kalem nan songong. "Nggak ada terus. Ya sudah sampai sini aja. Gue mau pulang." "Ya sudah pulang sana!!" usir gue meskipun enggan. Dia mendelik tapi langsung menutup kopernya dan menurunkannya dengan ekspresi jengkel. Pegangan koper dia naikkan dan menggenggamnya. "Kalau begitu. Sayonara!!!" Gue tersenyum miring saat dia berbalik pergi dan menghilang dari pandangan berbelok ke arah hotel JW Marriot. Semoga saja gue bisa ketemu lagi sama dia di hotel karena setelah ini gue pasti tidak akan bisa mengenyahkan bayangan wajahnya terutama matanya. Ah ya juga bibirnya. Ah satu lagi, lingerie hitam menggodanya.Shit!!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD