“Sebelum ini aku tidak percaya yang namanya kebetulan. Tapi melihat wajahnya lagi membuatku harus banyak-banyak bersabar. Mungkin aku sedang sial “
- Bianca, Karyawan Hotel yang meratapi nasib -
Ballroom Hotel JW Marriot, Hongkong
BIANCA
Kondisi emosiku sudah berantakan sejak hari pertama – hmm, ralat – sejak satu jam pertama menginjakkan kaki di Hongkong. Semua gara-gara lelaki bernama Andreas Dustin yang tampan tapi berotak m***m dan juga songong itu. Bagaimana nggak keki, kalau ternyata aku ketemu sama lelaki yang – okelah, aku akui dia tampan – oke-oke kurang kalimatnya – tampan banget – tapi nggak setampan otaknya yang berpasir juga kelakuannya yang sok.
Gila aja ya baru aja ketemu sudah ngajakin ngamar. Tipe-tipe begini nih yang harus banget dijauhi setampan apapun dia. Tuh orang memang enaknya di santet. Coba kemarin aku selipin aja satu boxernya terus nanti sepulang dari Hongkong bisa langsung aku bawa ke Mbah Pejo di Gunung Kidul. Sekalian aja deh untuk syarat bikin persugihan seperti saran Prilly tapi jangan sampai boxer itu dilihat sama ibu Nara Anjelina karena pastinya selain shock, beliau akan langsung sujud syukur karena ternyata anak gadis perawannya menyimpan boxer lelaki dan akan langsung mencari oknum pemiliknya lalu terselenggaralah pernikahan dadakan. Huek. Aku geli bayanginnya. Amit-amit jangan sampai.
Kalau aku kawin sama lelaki modelan Dustin yang ada kita malah berantem mulu. Duh, pusing!!!
Mungkin benar kalau kalimat absurdku penyebabnya tapi nggak gitu juga dong langsung ngajakin ena-ena, aku kan belum ada persiapan. Astaga!!!
"Lo kenapa sih, gue perhatikan sejak kemarin seperti orang stres?"
Aku mendelik mendengar suara cempreng itu. Sungguh keberadaan Prilly sama sekali tidak membantu. "Gue masih kesal dengan lelaki berotak m***m dan songong itu!!"
Aku mengambil sepiring udang goreng tepung dengan tambahan sambal. Prilly hanya menggelengkan kepala melihatnya. "Kebiasan buruk lo kalau lagi emosi. Napsu ngomel dan makan jadi bertambah berkali-kali lipat. Lo sudah lima kali bolak-balik ambil makanan kan?"
“Ah bodo amat!! Marah itu jauh lebih membutuhkan tenaga Prill makanya harus banyak makan supaya marahnya bisa totalitas nggak setengah-setengah. Nggak seru kan saat lagi emosi tiba-tiba perut keruyukan minta diisi. Apalagi kalau harus berurusan dengan lelaki songong dan m***m akut itu.Ck.”
“Ya itu memang dasar elo nya aja yang rakus apalagi yang gratisan.” Prilly menggeser tubuhnya membuat aku jadi ikut bergeser dan mencomot kue sus. “Wajarlah kalau lelaki tampan itu songong. Mereka sudah pasti sering berhadapan dengan wanita yang siap melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya.”
“Tapi gue bukan salah satu dari wanita itu!!”
“Ya sekarang elo bisa bilang begitu. Coba kalau seandainya koper kalian nggak tertukar dan elo dikasih kesempatan berinteraksi sama dia. Gue bisa bayangkan wajah kecentilan lo yang berusaha menarik perhatiannya. Apesnya aja lo kena sial emosi gara-gara koper lo—” Prilly terkekeh. “Dan ketahuan sama-sama m***m bongkar-bongkar dalaman.”
Aku mendengus sebal, “Ya itu kan lo yang bongkar sampai berhamburan bukan gue!!”
Prilly menggidikkan bahunya, “Tetap aja kan elo yang jadi tersangka utamanya.”
“Sialan!!!”
Prilly mengambil beberapa kue lagi padahal sejak tadi sudah banyak yang dikunyahnya sementara gue di sampingnya mengunyah udang goreng seraya berpikir. Apa memang akan begitu kenyataannya?
Yah sebagai wanita pemuja cogan apalagi yang memiliki roti sobek, kemungkinan itu pasti ada. Aku menggelengkan kepala. “Ah pokoknya, gue nggak suka sama lelaki bernama Andreas Dustin itu. Titik.” Prilly mencibirkan bibirnya.
Langsung aja aku tinggalin Prilly dan kembali ke meja di samping GM idolaku, Pak Roro. Jangan terkecoh namanya karena sesungguhnya seorang Roro Anjasmara adalah lelaki matang yang menggiurkan bagi aku pribadi. Biar bagaimanapun lelaki matang dan mapan dan baik hati dan lembut dan seksi seperti penampakan Pak Roro yang menjadi landasan utamaku mencari calon suami. Sayangnya Pak Roro nggak doyan wanita sepertiku. Dia suka wanita bule. Argh!!!
"Selama di Hongkong, Bianca jadi banyak makan ya."
Pak Roro terkekeh melihat isi dari piringku juga beberapa teman kerja di meja bundar yang berisi lima orang itu termasuk Aryan yang sibuk menjawab telepon dari seseorang sambil makan. Lagaknya ngalahin sibuknya operator seluler bagian service center.
"Maklum Pak , hari terakhir seminar jadinya cepat lapar," kataku asal.
Pak Roro manggut-manggut, "Nggak apa-apa. Makan yang banyak ya Bianca biar makin subur."
See, dialah idolaku. Sayangnya aku nggak bisa minta dikawinin sama doi. Nanti istri cantik nan bulenya ngamuk dan aku langsung di cap pelakor.
"Iya Pak. Ini sudah nambah beberapa kali.”
Pak Roro sih sudah sering lihat tingkahku yang memang kadang suka bikin dia ketawa geli. Dialah lelaki idaman yang bisa nerima aku apa adanya. Umurnya 38 tahun tapi whatever. Cinta itu intinya terjadi antara dua orang yang bisa saling memahami. Kalau urusan umur nggak usah dipusingin. Yang penting lebih matang di atasku. Meskipun yah, lagi-lagi hayalanku hanya tinggal hayalan.
“Nanti malam Bianca dandan yang cantik ya untuk menyambut GM baru kita ya."
Napsu makanku tiba-tiba menguap. Aku menghela napas dan menjatuhkan sendok garpu membuat Pak Roro menaikkan alisnya melihat perubahan moodku.
"Jangan sedih, saya akan tetap ingat kamu kok." Pak Roro menepuk-nepuk lembut lenganku yang hanya bisa diam memandanginya. Aku nggak mau di tepuk-tepuk tapi maunya di peluk erat, Roro sayang.
"Bapak kok cepat banget sih mutusin untuk keluar dari Bali? Terus kalau pengganti Bapak pribadinya nggak asik gimana?"
"Istri saya maunya begitu Bianca." Okelah, potek hatiku. Ternyata Mas Roro lebih mementingkan istrinya. Ya iyalah memangnya aku siapanya? Bawahannya doang.
"Iya deh Pak."
“Jangan takut. GM yang menggantikan nggak akan mengecewakan kok.”
“Ya semoga aja Pak,” jawabku seraya meminum air mineral.
Pak Roro mesem-mesem. Tidak lama Prilly datang dan duduk cantik di samping kursiku menikmati pudingnya sementara aku duduk menyandar mengunyah udang goreng memandangi seluruh staff Legion yang sedang makan siang.
Seminar ini memang dihadiri oleh seluruh perwakilan staff hotel Legion Grup yang tersebar di beberapa negara. Legion sendiri merupakan jaringan hotel bintang empat yang diperhitungkan di dunia perhotelan. Di Indonesia saja cabangnya ada di lebih 20 kota yang tersebar di seluruh kota besar, belum lagi di negara Asia.
Hotel Legion merupakan anak dari Hotel bintang lima JW Marriot jadi nggak heran kalau semua yang ikut seminar diinapkan di hotel ini dan mendapat kesempatan untuk menyaksikan langsung kembang api tahun baru.
Beruntung banget kan aku selaku Public Relation Manager yang biasa menangani urusan marketing untuk di luar Hotel bisa mendapatkan hadiah ulang tahun gratis.
Tepukan pelan terasa di bahu membuatku langsung menoleh dan menemukan senyuman meneduhkan Pak Roro yang sudah berdiri dari duduknya. Aku jelas langsung duduk tegak dan membalas senyumannya secerah matahari.
“Sampai bertemu lagi nanti di firewall party ya. Pokoknya kamu harus undang saya kalau menikah. Wajib.”
Meskipun bete ditanya tentang undangan pernikahan tapi aku tetap membalasnya dengan riang, “Siap Pak. Sukses selalu ya.”
“Amin. Kamu memang karyawati saya yang paling rajin dan perhatian.”
Perasaanku langsung berbunga-bunga bahkan setelah Pak Roro pamit sama Prilly, menepuk lenganku beberapa kali dan berjalan menjauh ke ruangan khusus GM di area hotel lainnya.
Ah, bahagianya. Nafsu makanku bertambah dan udang tepung di atas piring langsung habis tak bersisa. Lupa dengan gerutuanku sebelumnya.
Prilly menggelengkan kepala dan berbisik. “Kasian banget cinta tak sampai.”
“Sialan!!!”
***
Acara seminar selesai menjelang sore hari. Setelah itu, kami harus kembali ke kamar hotel untuk bersiap-siap menghadiri acara makan malam mewah menyaksikan beberapa General Manager yang akan di pindah posisikan. Masih di hotel yang sama hanya tempatnya saja yang berbeda. Gue dengar sih ada sekitar sepuluh GM yang akan di Rolling.
"Gue mohon, siapapun GM yang akan gue bawa pulang nanti adalah sosok kharismatik dan seksi seperti kesayangan gue, Roro Anjasmara. Amin." Itu adalah doaku di depan kaca setelah memastikan penampilanku yang memakai gaun malam elegan warna peach nampak spektakuler.
Yang di jawab dengan kekehan Prilly dan cibirannya. "Semoga bukan bapak-bapak tua genit yang hobinya colek-colek atau yang cerewetnya minta ampun." Aku mendelik.
Kami lalu turun ke Ballroom megah dan saling berbincang akrab dengan seluruh perwakilan staff Legion. Aku bertemu dengan beberapa teman lama yang dulu sempat bekerja di cabang Bali. Selama sepuluh tahun bekerja, Aku baru di Rolling dua kali, yang pertama dari Legion Jakarta kemudian berpindah ke Legion Dewata Bali.
Aku suka Bali. I loved it. Apalagi bule-bule seksi dengan roti sobeknya. Aduhai, mamamia lah.
Kami semua sudah duduk di tempat yang sudah disediakan mendengarkan MC di depan sana yang mengucapkan kata sambutan. Aku sudah siap dengan hadiah untuk GM baru yang akan aku bawa pulang. Seharusnya sih Ibu marketingku, Katrine, yang memberikan bingkisannya tapi beliau sedang sibuk dengan suami bulenya. Maklum pengantin baru.
Ah sial, kenapa aku nggak pernah berhasil berhubungan dengan lelaki bule seperti dia sampai dinikahi padahal aku juga nggak kalah cantik.
Aku bertepuk tangan saat MC mempersilahkan semua GM yang akan di Rolling naik ke atas panggung untuk peresmian dan mendapat sambutan dari masing-masing perwakilan hotel yang akan menjadi tempat mereka bekerja selanjutnya. Aku memperhatikan satu persatu bapak-bapak yang masuk dan menghapal namanya masih sambil berharap bahwa salah satu dari mereka masuk dalam doaku tadi.
"The Last General Manager from Legion Singapura, Andreas Dustin,” kata MC yang langsung membuatku batuk-batuk karena keselek ludah sendiri di antara riuhnya tepuk tangan yang membahana. Apa aku sedang bermimpi?
Prilly yang duduk di samping nyikut lenganku dan berbisik."Itu nama kok nggak asing ya Bi."
"Nggak tahulah!!" jawabku ketus.
Aku berdoa dalam hati. Semoga bukan dia GM yang akan aku bawa pulang kalau memang nama itu milik lelaki songong yang kopernya tertukar sama milikku. Semoga aja ini Andreas Dustin versi yang lain. Mungkin versi tuanya. Jangan dia Ya Tuhan.
Lalu seorang lelaki tampan dengan jas malam slimfitnya berjalan dengan gaya angkuh dan dagu terangkat terlihat sombong tanpa banyak senyum. Jelas membuat semua para wanita memekik. Diantara sembilan GM yang sudah berdiri di atas panggung, dialah yang paling HOT, paling TAMPAN, paling SEKSI , paling MUDA dan paling MENGGETARKAN banget. Hancur sudah harapanku.
"Bi, lelaki itu pemilik boxer kece badai itu bukan sih?" Prilly makin bikin pusing. "Kalau iya, astaga aku beruntung banget kemarin sempat ngintipin boxer kecenya."
“Dasar gila lo!!” Kataku dengan kesal.
Satu-satu perwakilan dari Hotel yang mendapat pergantian GM maju membawa bingkisan sebagai simbol ucapan selamat datang.
"Andreas Dustin, umur 27 tahun yang sebelumnya menjadi GM di cabang Legion Singapura akan menggantikan Roro Anjasmara dari Cabang Legion Bali. Kami persilahkan perwakilan dari Legion Bali untuk memberikan souvenir."
MAMPUS!!! Aku langsung merinding di tempat sedangkan teman-temanku yang lain terutama yang wanita langsung menatap iri. Rasanya asmaku mau kambuh lagi.
"Bi, cepetan naik. Sudah ditungguin tuh." Prilly nyikut lenganku.
Aryan yang duduk di sebelahku juga ikut nyikut lenganku yang satunya membuatku kesal.
“Astaga, kalian berdua apaan sih ah!!” gerutuku dan menghempas lengan mereka berdua.
“Ini kebetulan atau bagaimana ya?” tanyanya dengan berbisik. Aku dan Prilly saling berpandangan karena tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Aryan.
“GM kita yang ganteng itu—” katanya seraya menunjuk Dustin di panggung. “Dia kan lelaki yang bareng kita di Starbucks yang kemejanya ketumpahan minuman itu,” bisiknya.
Aku melongo dan mencoba mengklarifikasi. Nggak mungkin-kan dunia ini tiba-tiba menyempit karena Andreas Dustin. “Maksud lo, lelaki yang duduk di depan gue yang pakai kemeja biru?” Aryan mengangguk. “Yang gue bilangin songong itu?” Aryan mengangguk lagi.
“Seriusan?!” aku dan Prilly serempak berkoar. Aryan menganggukkan kepalanya lebih cepat. Oh Astaga!!!
“Perwakilan dari cabang Legion Bali silahkan berdiri,” panggil si MC lagi entah untuk yang keberapa kalinya karena aku belum juga berdiri.
“Wah, sepertinya ini rezeki lo deh Bi. Sana deh jemput. Lo masih doyan cogan kan?” sindir Aryan. Rasanya aku pengen sembunyi aja di bawah meja.
“Lo doyan? Ambil gih sana!!” balasku kesal.
Aryan melotot. “Wah keajaiban. Sejak kapan seorang Akwaryin tidak tertarik disodorin lelaki model begituan, apalagi dia jelas lebih segala-galanya dari Pak Roro Mendut.”
Aku mencubit punggung tangannya. “Pak Roro Anjasmara tetap yang terbaik.”
Aryan memutar bola matanya dan melipat lengannya di d**a. Mau nggak mau aku harus berdiri dan berjalan dengan senyum dipaksakan juga kaku menggenggam erat tas souvenir dan buket bunga cantic berusaha keras mengabaikan tatapannya yang sejak aku berdiri tadi sudah memandangiku lekat tidak teralihkan. Aku mencoba untuk tidak menatap wajah malaikat dengan otak m***m itu tapi ya nggak bisa begitu terus karena aku harus berhadapan sama dia. Dan, astaga!!! Tampilannya luar biasa mempesona. Itu lelaki m***m songong yang waktu itu kan? Tarik napas, keluarkan. Tarik napas, keluarkan.
"Se-la-mat Pa-k An-dre-as." Aku tergagap saat berdiri berhadapan dengannya.
“Terimakasih,” balasnya dengan ekspresi sombong.
Di luar perkiraan dia tidak nampak terkejut. Aku menyerahkan bingkisan dan bunga itu dengan cepat yang langsung dia terima dan kemudian kami berjabat tangan. Tatapan matanya sangat intens seperti menelanjangin. Saat aku akan melepaskan jabat tangannya yang teramat erat itu dia malah menarikku maju dan melakukan cipika cipiki membuatku hanya bisa menerima dengan wajah melongo lebih karena kaget.
"Gue nggak nyangka kalau setelah ini kita akan terus bertemu, Bianca si perawan. Kira-kira hari ini elo pakai underwear Victoria’s Secret lo yang warna apa? Black or Red?"
RASANYA GUE MAU CAKAR MUKANYA ANDREAS DUSTIN SEKARANG!!!!
***
DUSTIN
“Wanita yang menarik.”
Gue menarik senyuman di satu sudut bibir ketika mengingat ekspresi kagetnya Bianca tadi saat tahu gue lah yang akan menjadi General Manager Hotel Legion Cabang Bali berikutnya.
Gue berdiri di balik kaca memandangi keindahan malam kota Hongkong yang terhampar dari kamar Suite gue seraya menggerakkan gelas kaca berisi anggur merah di tangan kanan dan tangan yang lainnya masuk ke dalam saku celana lalu menyesapnya perlahan dan mencoba menahan agar senyuman gue tidak semakin lebar saar teringat dengan kalimat balasannya.
“Gue nggak pakai apa-apa. PUAS!! Dasar m***m, ke laut aja lo sono!!:
Gue asumsikan kalau dia kesal dengan keberadaan gue yang menjadi titik fokus teman-temannya dari Bali saat kami mengobrol setelah acara perkenalan. Di saat semua wanita menatap penuh binar dan mengeluarkan semua pesona yang mereka miliki untuk menarik perhatian, Bianca malah duduk diam dengan wajah cemberut.
Bagi gue, Bianca menarik dengan caranya sendiri tanpa perlu mempertontonkan belahan dadanya. Walaupun menurut gue akan lebih bagus lagi kalau belahannya sedikit dia turunkan ke bawah tadi. s**t!!!
Gue letakkan gelas kosong di atas meja, melepas dasi kupu-kupu gue dan membuka kancing kemeja paling atas saat ponsel di atas meja berbunyi. Gue mendekat dan mengambilnya lalu menghela napas saat melihat nama yang tertera di layar.
“Halo.”
“Baby.”
Gue hanya bisa pasrah mendengar panggilan itu. “Belum tidur?”
“Belum lah. Dari tadi nugguin teleponnya kamu tapi karena nggak sabaran jadi Mama aja yang nelpon duluan.” Umur gue sudah 27 tahun tapi masih aja tetep di panggil baby. Mungkin karena gue anak bungsu. Kalau membantah bisa-bisa gue dimasukin lagi ke dalam perut dan di cap anak durhaka.
Gue melepas jas dengan satu tangan dan melemparnya ke atas tempat tidur lalu duduk di sofa seraya meluruskan kaki menghadap ke kaca. “Kalau gitu matikan aja biar Dustin yang telepon balik.”
“Ah nggak usahlah Baby. Nanti Mama minta mentahnya aja ya.” Gue memijit pelipis. “Sekalian dobel deh buat beli lipstick. Papamu ngomel terus kalau Mama beli itu.”
“Ya Mama juga yang aneh-aneh. Ngapain ngoleksi lipstick aneka warna. Beli banyak-banyak tapi yang dipakai hanya satu.”
Mama gue terkekeh di sebrang sana. “Biar antimainstream Beb. Sudah ah jangan ikut-ikutan ngomel seperti Papamu itu. Ngomong-ngomong gimana acaranya? Kamu beneran jadi pindah permanen ke Bali?”
“Jadi dong. Lagian Dustin kan sudah punya rumah juga di sana.”
“Akhirnya ya keinginannya baby tercapai juga untuk tinggal dan kerja di Bali tapi di Jakarta Mama makin kesepian. Haiden sudah jadi lelaki Arabian kali di Dubai betah banget nggak dipulangkan sama perusahaannya. Mama kan kangen mainan sama Alif.”
“Kontraknya masih panjang Ma. Kenapa nggak Mama aja yang ke Dubai nengokin cucunya? Kalau perlu bawa aja sekalian Alif-nya ke Jakarta supaya Abang Haiden kalang kabut,” kekeh gue.
“Bagus juga idemu Beb. Nanti kalau Haiden ngamuk, kamu yang tanggung jawab ya.” Gue memutar bola mata. “Kakakmu Jelita juga aduh bikin pusing Mama aja. Melajang nggak kelar-kelar dan Mama suruh insyaf jadi DJ aja banyak banget alasannya. Kapan coba dia itu pulang terus diam di rumah?”
“Dinikahkan aja sudah biar dia kapok sekalian.”
“Ah Mama belum punya calon buat dia. Mama sensus dulu teman-teman Mama yang punya anak lelaki lajang ya siapa tahu ada yang bisa disodorin,” kekehnya.
“Terserah Mama sih.”
“Nah buat kamu Baby—” Gue terdiam. Wah perasaan gue nggak enak nih. “Kamu sekarang lagi sendiri kan?” Tuh kan pertanyaannya.
“Kalau iya kenapa Mam?”
“GOOD!!!” teriak emak gue tiba-tiba bikin kaget. “Kamu Mama jodohin aja sama anak temannya Mama ya?” WHAT!!!
Gue reflek mendelik. “Loh, kok jadi Dustin yang dijodohkan sih?!”
“Sebagai anak kesayangan, Mama itu khawatir sama kamu Baby di sana sendirian nggak ada yang ngurusin. Jadi Mama jodohkan aja ya supaya Mama tenang. Pokoknya kamu tunggu aja kabar selanjutnya dari Mama tapi ingat usahakan jangan cari kekasih dulu atau TTMM – Teman Tanding Malam-malam.”
“Mama, Dustin ini masih muda dan nggak mau dijodohin seperti ini—“
“Pokoknya Mama nggak mau tahu. Ingat pesan Mama tadi ya dan tunggu informasi selanjutnya. Oke, Baby. Muah.”
“Mam—" Klik. EH?
“Ya Tuhan!!!” Gue menggerang dengan frustasi.
***