"Kenapa ekspresi wajahnya begitu?" Gue mengelus pipi Bianca yang bertopang dagu nampak bersedih. Gue sudah berganti baju dan siap melakukan prosedur operasi. Deg-degan sih tapi nggak berlebihan juga karena memang ini hanya operasi kecil yang tidak terlalu fatal. Setelah kehebohan tadi, Mama dan Jelita lagi pergi ke kantin rumah sakit untuk mencari cemilan yang katanya bekal buat nungguin gue selama operasi. Mereka nungguin sudah berasa seperti mau nonton bioskop aja bawa-bawa cemilan. "Ya supaya kita nggak terlalu deg-degan aja Baby nungguin kamu di dalam di bedah sama dokter preman yang ganteng itu tapi sayang banget sudah sold out." Mereka berdua ternyata baru datang dari Jakarta tadi siang, menyewa kamar di Legion dan mendapatkan informasi tentang keberadaan gue di rumah sakit dari

