Rio's side ya gaes...
.
.
.
.
.
.
..
***
"Apa kata lo?!". Gue masih belum menyadari orientasi yang alista berikan.
"Gue hamil, udah dua bulan". Ulangnya. Alista semakin terisak dan isakannya membuat gue terpukul. Perempuan ini, perempuan yang dulunya gue jaga setengah mati. Yang gue lindungi dan gak pernah gue sentuh sedemikian dalam hingga merebut mahkotanya. Dan sekarang, dia telah rusak oleh manusia tak bermoral.
"Siapa?".
"Lo kenal dia". Jantung gue berdegup cepat seketika.
"Siapa Lis?!". Bentak gue. Meskipun dia bukan lagi pacar gue dan hanya mantan, tapi Alista masih temen gue. Apalagi dia satu pembimbing akademik dengan gue.
"Jeno. Anak 2016". Kurang ajar! Jeno adalah orang yang mengirimkan video Alista mencium gue waktu itu ke Ify. Gue tau ketika itu Denis dan Halim yang ngasih tau. Sedikit bersyukur karena dia membuat semua orang tau kelakuan Alista seperti apa. Tapi gue gak nyangka dia bakalan merusak Alista sebegitu bejatnya.
Mata gue terpejam, tangan gue mengepal erat. "Sejak kapan lo berhubungan dengan dia?".
" Hikss,, udah dari November lalu. Tapi puncaknya Desember kemarin--". Alista tergugu menceritakan kisahnya. Gue pun gak sampai hati.
"Kalau lo tau itu anak Jeno. Kenapa gak minta pertanggungjawaban ke dia? Atau itu anak dari laki-laki lain?--".
"Gak! Gue gak pernah main dengan laki-laki mana pun--"
"Who's know? Lo sering keluar masuk bar dan berakhir menyedihkan, Lis! Apa kepergian gue dihidup lo membuat lo luluh lantak gitu aja? Dimana Alista yang gue kenal? Alista yang gue kenal itu, dia pantang untuk lemah. Selalu semangat! Kenapa sekarang hanya karena gue, lo jadi bego gini?". Katakan lah gue menghakiminya terlalu dalam. Tapi gue mau dia sadar.
"Demi Tuhan gue gak pernah main dengan laki-laki mana pun! Cuma Jeno yang pernah nyentuh gue-- dia, dia maksa gue--". Lanjut Alista. Kenapa gue gak yakin dengan ucapan Alista? Gue yakin Jeno gak seperti itu.
"Jeno, dia gak mau tanggung jawab Yo". Gue menggeram kesal. Sedikit bingung dengan masalah yang dialami Alista. Lagi, kenapa dia malah ngadu ke gue? Kenapa gak langsung mencak-mencak atau nangis guling ke Jeno aja? Heran deh.
"Mending lo pulang! Tenangin diri lo sekarang. Gue tau lo lelah". Gue juga lelah, baru nyampe jakarta udah gini aja. Hm.
"Tapi Yo--".
"Pulang Alista!". Suara gue naik satu oktaf hingga membuat perempuan itu terperanjat kaget. Maaf, tapi gue harus tegas.
Tanpa membantah lagi, Alista pun meninggalkan gue. Gue terduduk lemas, harus bertindak apa untuk membantu nya. Meskipun dia hanya mantan tapi dia tetep temen gue. Sesama teman kan saling membantu.
Pintu ruangan di ketuk oleh Halim. Dia menatap gue seolah bertanya ada apa.
"Hai Lim! Kenapa?".
"Alista nangis keluar dari sini. Lo apain?". Wait, kok gue sih? Kampret emang.
"Gue suruh dia pulang. Gak salah dong!". Kata gue santai. Halim duduk didepan gue dan menepuk pundak gue.
"Gue tau di lagi hamil muda--". Praktis pundak gue yang tadinya menekuk menjadi tegak. Halim tau.
"Dia cerita dua hari yang lalu. Jeno pelaku nya. Temen istri lo". Gue mengangguk paham.
" Kenapa dia cerita ke elo? Bukannya malah minta tanggung jawab ke Jeno". Halim mengedikkan bahunya asal.
"Alista takut kalau Jeno menolak untuk kedua kalinya. Dia pernah bilang ke Jeno setelah telat satu minggu, tapi Jeno menolak. Ya lo tau lah, pasti tu bocah kalut. Dia marah ke Alista dan minta gugurin kandungan itu. Kan kasian Alista--".
" Kalau kasihan kenapa malah nyebar benih? Gak ngotak banget sih mereka!". Hardik gue. Halim terkekeh pelan dan ikut menyetujui ucapan gue.
"Dia ngadu ke gue. Alasannya karena, ya kita satu pembimbing akademik. Awalnya dia mau ngasih tau elo duluan, tapi karena gue bilang lo lagi mudik ke rumah istri, dia urung untuk ngasih tau". Penjelasan Halim membuat gue mendesah lega.
"Tapi kok gue gak yakin kalau Jeno gak mau tanggung jawab ya? Gue sedikit tau tentang dia. Dia baik, Lim".
"Dan kebaikan dia membuat Alista jadi korban kebejatan nya, Yo!". Gue melihat sorot tajam dari seorang Halim selama ini. Asumsi gue masih menguap entah kemana terkait mereka bertiga. Halim-Alista-Jeno.
"Kita harus cari tau, Lim. Kita bantu Alista". Dan Halim pun menyetujui ajakan gue.
***
Dua minggu sudah gue di jakarta tanpa Ify disamping gue. Biasanya sarapan pagi udah tersedia di meja makan, sekarang udah enggak lagi. Terpaksa mandiri dulu deh.
Kemarin malam Ify kontraksi, ibu mertua gue ngabarin saat gue masih di labor penelitian. Demi apa kerjaan langsung gue sudahi. Panik tak terkendali, coeg!
Kata ibu, Ify sengaja gak ngasih tau ke gue. Dia bilang dia gak mau ngebuat gue kepikiran saat penelitian. Ya ampun, istri ku sayang. Gak gitu juga kali. Pantasan aja gue sedikit gamang kepikiran Ify. Ternyata...
Untunglah dia gak sampai masuk rumah sakit. Ify hanya kelelahan, bumil gue itu terlalu hectic dengan liburannya. Lo bayangin aja, dia maksa belanja baju-baju bayi kami bersama ibu mertua gue. Gila aja, gimana gak nendang tu kecambah idup. Dasar!
Saat ibu mertua menelfon, gue langsung mengomeli Ify tanpa pikir panjang. Lo tau respon nya apa?
"Udah untung aku gak brojol duluan ya saat kamu gak disini! Bersyukur dikit dong!".
Gue hanya bisa ngurut d**a mendengar nada juteknya saat gue mengomeli. Nasib banget deh!
Namun begitu, gue tetap bersyukur Ify gak Kenapa-kenapa. Calon anak-anak kami pun kuat. Ah, anak. Mengingat itu d**a gue menghangat seketika. Di usia gue yang mau menginjak duapuluh dua tahun, gue akan segera menggendong mereka. Gak sabar.
Tapi, gue kembali teringat perihal Alista tadi. Gue mencoba menghubungi Jeno, gak diangkat sama dia. Ketiga kalinya gue hubungi, nomornya gak aktif. Sepertinya gue harus bersabar menunggu perkuliahan dimulai. Jeno sedang liburan.
Saling lelahnya, gue menghempaskan diri diranjang. Mencoba menggeluti dunia mimpi, berharap Ify akan hadir dan memberikan senyuman yang meneduhkan.
***
Ify's side ya gaes...
.
.
.
.
.
.
**
Libur semester akan segera berakhir. Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai. Satu minggu lagi tepatnya. Gak sabar pengen masuk kuliah. Sebenarnya, ibu melarang gue untuk kembali ke Jakarta. Ibu meminta gue untuk cuti saja. Tapi semua rencana gue akan gagal jika gue ambil cuti di semester enam ini. Perkiraan gue akan melahirkan di bulan April, dan itu gak akan lama lagi.
Untungnya ibu mau memahami keinginan gue dan dalam waktu dekat pula sebelum melahirkan, Ibu akan stay di jakarta untuk membantu gue persalinan nanti.
"Fy--". Ibu datang membawa s**u ibu hamil yang rutin gue minum.
"Rio gak jemput kamu ke sini?". Gue mendelik sejenak.
"Gak perlu lah Bu! Nanti aja pas di jakarta dia jemput ke bandara". Kasihan juga si suami bolak balik kan.
"Kamu lagi hamil besar gini loh, Nak. Masa gak di temenin sih?". Gue menggeleng heran.
"Gak papa, Bu! Nanti di Batam kan ada Mama Anggun, beliau pasti jemput di pelabuhan Sekupang kok". Kata gue. Gue gak mau merepotkan banyak orang sebener nya. Tapi Ibu khawatir dengan keadaan gue yang berbadan besar ini. Maklum lah.
"Ya sudah kalau kamu masih mau keras kepala. Nanti biar ibu kasih tau Ibu Anggun biar jemput kamu di pelabuhan". Gue hanya mengangguk patuh dan ibu pun keluar dari kamar gue.
Gue mengelus perut ini mencoba berinteraksi dengan mereka. Rasanya menyenangkan ketika lo tau, dalam diri lo ada nyawa lain. Nyawa di dalam nyawa. Mereka hidup dan berbagi nutrisi dengan elo. Masha Allah, Allah Maha Besar dengan segala kekuasaan Nya.
Gue ingat dulu gimana harus mendapatkan kedua jabang ini. Menikah di awal tahun lalu, dan gak pernah di sentuh sedikit pun oleh Rio. Hampir setengah tahun dan barulah kemudian kami berbaikan. Setelah itu semuanya berjalan sebagaimana mestinya, walaupun dihadang berbagai masalah. Gue tetap kuat demi mereka tetap hidup di rahim gue. Gak heran, gue dan Rio bahagia banget dapat mereka. Terimakasih ya Allah. Engkau Maha Baik kepada hamba mu yang masih bersimbah dosa ini. Hiks.
Mama sayang kalian nak, tetap kuat hingga kalian lahir ya!
Gue merasakan pergerakan kecil - kecilan dari mereka didalam sana. Senyum gue terkembang begitu saja. Dengan gerakan cepat gue menyambar ponsel dan melakukan video call dengan Rio.
Panggilan nya berdering, tak lama Rio pun menjawabnya.
"Hallo, assalamu'alaikum sayang!". Gue tersenyum kecil.
"Waalaikumsalam salam, sayang!".
" Kok belum tidur? Udah hampir jam sepuluh loh".
"Baru aja selesai minum s**u. Ini lagi ngobrol sama twins. Mereka gerak-gerak loh, Bang!". Kata gue semangat. Rio tertawa bahagia di jakarta sana.
" Mana coba lihat! Biar aku ajak ngobrol juga". Dengan sigap gue menyingkap daster bumil kemudian mengarah kesamping biar pergerakan diperut ini terlihat oleh Rio.
"Anak papa, sayang keduanya lagi apa? Gak nakal kan?". Suara Rio memantul, gue rasa didalam sana mendengar nya.
Gue merasakan mereka bergerak aktif. Gerakan yang gak membuat gue sakit tapi justru bahagia.
" Keliatan gak nonjol sebelah perut aku?".
"Iya keliatan, Fy! Mereka denger aku Fy!". Rio berujar antusias. Gue pun sama, Sama-sama antusias dengannya.
Setelah puas berbicara dengan twins, gue menurunkan daster karena takut masuk angin kalau lama-lama. Kemudian percakapan kami masih berlanjut.
" Aku jemput ke Pelangiran ya Fy?".
"Gak usah Bang! Capek bolak balik, biar di Jakarta aja jemput nanti. Pas aku di bandara ya!". Kata gue. Sebelum dia membantah, gue lebih dahulu memotong ucapannya
"Di batam biar Mama yang jemput aku ke pelabuhan". Lanjut gue. Mau tak mau Rio mengangguk patuh.
"Ingat ya! Rumah harus bersih dan rapi. Aku gak mau banyak debu dan kotoran sama sampah-sampah makanan cepat saji kamu itu".
Gue lihat Rio mendengus sebal "iya - iya bumil!". Katanya. Bagus, suami kan emang harus nurut.
Karena faktor mengantuk, Rio menyudahi aktifitas kami dimalam itu. Dia mengecup gue dari jauh sebagai rasa rindu yang terpendam. Ah, bisa receh juga ternyata.
Semoga seminggu akan segera berlalu. Meninggalkan kenangan lama untuk dipetik yang baru. Rindu ku, bersabarlah. Dirimu akan segera bertemu, bertemu dia yang engkau tunggu.
***
#SalamAnakRantau