Ify's side ya gaes...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***
Gue memilih keluar kamar ketika Rio dan temannya membahas soal Alista. Gue takut cemburu, makanya gue gak stay di kamar. Biarlah, biarkan mereka mau bahas sesuka hati tentang Alista asalkan jangan didepan gue. Gue gak akan kuat. Disaat suami lo membahas perempuan lain didepan lo, terlebih perempuan itu pernah menjadi masa lalu nya.
Gue menghela nafas panjang, gue baru inget belum makan. Sekarang sudah pukul setengah dua belas. Sebentar lagi bapak dan ibu pasti pulang kerja untuk makan siang. Lebih baik gue siapin dulu sayur untuk mereka. Bapak suka sekali makan sayur, kalau gak ada sayur beliau sedikit malas untuk menyentuh nasi. Tipe-tipe Pribumi sekali. Ehe.
Gue membuat sayur bayam, hanya di tumis seadanya. Tak sampai setengah jam sayur gue pun jadi.
Ketika akan mengambil piring, gue melihat Rio yang keluar dari kamar dengan wajah kusut. Pasti dia sedang memikirkan sesuatu.
"Mau makan?". Tawar gue. Dia mengangguk patuh. Semua lauk pauk beserta nasi memang sudah terhidang di meja makan, gue tinggal mengambilkan saja untuk Rio.
" Makasih sayang".
"Hm". Kami makan dalam diam, sebenernya gue kepo sih Rio kenapa sampai kusut gitu. Tapi gue tunggu dia bercerita sendiri.
Rio selesai terlebih dahulu, sedangkan gue masih menikmati makan siang.
"Tarok aja di situ, biar aku yang cuci--".
" Udah makan aja!". Katanya acuh, gue mengedikkan bahu. Ya udah masa bodo. Rio memilih mencuci piring nya sendiri, kemudian beralih ke depan rumah.
**
Gue membawa secangkir teh hangat untuk Rio. Biar dia sedikit rileks. Gue masih menunggu dia untuk bercerita.
"Fy--".
" Ya?".
"Peralatan penelitian ku sudah datang kemarin". Katanya. Gue mencoba menarik suatu kesimpulan.
"Terus?". Pancing gue. Dia menghela nafas panjang.
"Itu berarti pekerjaan ku lebih cepat di mulai nya. Tapi sisa liburan kita masih lama--".
"Pulanglah duluan, Bang". Kata gue pelan. Rio gak pernah membalas panggilan gue lagi. Gue sering manggil dia 'Papa' tapi dia gak membalas untuk memanggil 'Mama'. Apa dia belum siap ya? Gue jadi males sendiri deh. Hm.
Rio menoleh kearah gue "kamu disini?". Gue mengangguk santai. Ya trus gue dimana dong?
"Gak mau ikut ke Jakarta sekalian?". Gue menggeleng malas.
"Enggak. Aku masih mau disini. Kita masuk kuliah masih awal bulan depan. Ngapain aku di Jakarta?".
"Shopping, maybe". Gue melirik sinis.
"Gak inget aku bawa dua kecambah hidup kamu? Sendirian, sementara kamu penelitian di kampus? Miris nya jadi aku". Dia malah terbahak lalu mengelus pelipis gue dengan lembut.
"Iya kan kita perginya pas aku senggang, Fy--".
"Enggak mau. Kamu aja yang pulang duluan. Aku mau disini!". Kata gue final. Rio menghela nafas pendek kemudian mengangguk pasrah.
"Bener nih ya, gak nangis kan kalau aku pulang duluan?". Gue mendengus malas mendengar nada jahilnya itu.
"Enggak akan. Udah biasa kok".
"Biasa ditinggal? Emang kapan?". Telak. Gue menelan saliva karena bingung mau jawab apa.
"Bodo amat lah. Mau berangkat kapan? Biar aku packingin baju kamu". Kata gue jutek. Rio semakin terbahak melihat ekspresi gue. Tanpa menunggu jawabannya, gue memilih untuk masuk ke kamar. Tapi tangan gue malah di tarik sama dia, walhasil gue nyamber ke d**a lebar suami.
"Apaan sih tarik-tarik?!".
"I want you dear". Bisiknya sensual. Gue tersenyum sinis dan membuat pola abstrak di d**a bidangnya. Titik sensitif Rio yang bisa membuat dia turn on seketika.
"Kamu nakal sayang!". Dengusnya.
"Aku.gak.mau!". Kata gue dengan aksen patah-patah lalu melepaskan kurungan nya.
"Nolak suami dosa loh!--".
"Nolak sekali-sekali gak masalah dong!". Rio semakin menggerutu sebal mendengar alasan gue. Sebenarnya gue juga ingin bermain diranjang bersama nya. Tapi entahlah, gue merasakan suatu ke ganjalan untuk menuntaskan hasrat pria dengan libido tinggi itu.
"Kamu mau ke Jakarta kapan?". Tanya gue lagi.
"Besok". Dia menunjukkan hasil booking tiket lewat gawai canggihnya. Gue tersenyum kecil dan mengangguk paham. Gue memintanya untuk mengambil koper agar gue bisa mengisi baju - bajunya.
Sembari mengisi baju-bajunya, gue memikirkan sesuatu yang udah gue kubur sejak lama. Apa nanti selama gue gak ada di Jakarta, Rio bisa menjaga hatinya? Apa dia akan menghiraukan sosok Alista? Masih banyak lagi yang gue pikirkan.
Tiba-tiba sebuah tendangan mengusik lamunan gue. Perut sebelah kiri gue dihantam kuat oleh twins. Gue meringis kecil dan tersenyum sembari mengelus bekas tendangan mereka.
Mama tau kalian pasti juga khawatir kan, Nak? Papa kalian pulang duluan ke Jakarta karena harus mengurus penelitiannya. Sekali lagi, tendangan kuat gue rasakan di perut sebelah kanan. Rinngisan gue terdengar oleh Rio, dia menghampiri gue dengan wajah khawatir.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit? Bilang ke aku?!". Gue menggeleng pelan masih setia mengelus perut gue.
"Twins cuma nendang aja kok. Lagi main kayaknya didalam sana". Kata gue. Rio menghembuskan nafas panjangnya. Kentara sekali karena gue dapat merasakan.
"Ini yang buat aku berat ninggalin kamu, Fy. Kalau kamu kontraksi tiba-tiba nanti gimana? Aku gak ada di samping kamu". Dia membelai lembut pipi gue.
"Ada ibu dan bapak. Kamu gak perlu cemas--".
"Tapi aku butuh kamu di samping aku, Fy--".
"Sebelumnya kamu gak butuh aku, seperti kita belum menikah. Jadi cobalah untuk terbiasa tanpa aku. Hanya sebulan saja, Bang". Kata gue, serasa kelu untuk mengatakan, tapi gimana lagi.
Sentuhan lembutnya berhenti. Senyumnya tak lagi terkembang. Rio terdiam setelah mendengar ucapan gue. "Kamu marah?".
Dia tak menjawab lalu memalingkan wajah. Berdiri di depan jendela menatap pemandangan diluar sana. "Jangan egois, Fy. Aku juga tau kamu butuh aku--".
"Memang butuh! Tapi aku gak bisa egois. Kamu pun harus menyelesaikan urusan mu disana. Istri macam apa aku melarang suaminya untuk menuntut ilmu? Orang tua ku gak mengajarkan hal demikian, Bang". Lagi, perkataan gue membuat dia bungkam.
Gue menarik ujung bajunya dan bersandar di punggung kokohnya. "Hanya sebulan, itupun gak sebulan full. Aku bakalan nyusulin kamu ke Jakarta kok". Kata gue pelan. Rio membalikkan tubuhnya, mendekap erat diri ini seolah tak ingin lepas.
"Jangan berpaling Bang. Hanya itu yang aku minta".
***
Rio's side ya gaes..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**
Setelah mendapatkan izin dari Ify dan kedua mertua gue untuk kembali ke Jakarta, akhirnya gue terbang juga ke kota metropolitan itu hari ini. Gue udah tiba di bandara soetta pukul empat sore. Perjalanan yang melelahkan, belum apa-apa gue udah rindu dengan Ify. Ah, si bumil gue itu lagi apa ya sekarang?
Gue menunggu jemputan Denis, dia juga udah kembali ke Jakarta. Katanya sih tu anak udah deket, tapi belum muncul juga.
"Oi Rio!". Denis memanggil gue, gue tersenyum samar dan bersalaman dengannya.
"Ify mana?".
"Dia gak mau ikut, biasa masih masa liburan". Denis mengangguk paham. Denis bercerita kalau dia akan melangsungkan seminar proposal lusa. Belum selesai Denis bercerita, gue sudah paham dia pasti butuh bantuan gue untuk menyiapkan semuanya.
"Penguji udah acc semua? Gak ada yang cancel kan?". Tanya gue.
"Puji Tuhan sih udah semua. Tapi semoga aja mereka gak cancel mendadak. Bisa stress gue". Kami tertawa mengingat waktu gue seminar bulan November kemarin, salah satu penguji gue ada yang mengcancel karena suatu hal mendadak. Jadilah gue harus mencari penguji seminar yang bersedia. Untungnya diperlancar, penguji yang mengundurkan diri itu merekomendasikan salah seorang dosen yang kebetulan lagi free.
"Baguslah kalau gitu. Lo tinggal mendalami materi aja".
"Iya. Do'ain gue ya Yo".
"Pasti!".
***
Akhirnya gue sampai dirumah. Gue langsung menghubungi Ify via video call w******p. Berdering dan tak lama di angkat olehnya.
"Hai, assalamu'alaikum!". Sapa nya. Gue tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam, sayang! Kamu lagi dimana?". Background nya tidak seperti dirumah.
"Lagi di rumah guru aku nih. Lagi ngumpul sama mereka". Ify mengubah kamera depan menjadi kamera belakang.
"Kamu udah sampai dirumah ya?".
"Udah. Baru aja".
" Istirahat kalau gitu. Nanti beli makan di luar aja ya! Aku masih ada nyetok telur kok. Baru seminggu sebelum kita ke Pelangiran beli nya. Kalau malas makan di luar, ceplok telur aja". Dia bawel banget, tapi ke bawelannya itu membuat gue gak bisa lepas dari dia.
"Iya iya sayang! Kamu cerewet banget sih!". Bukannya marah, tapi Ify malah tertawa dan tawa renyahnya membuat gue ingin mengurung nya di kamar kami.
" Ya udah kalau gitu, aku masih mau lanjut ngumpul dulu nih--".
"Pulang dengan siapa nanti?".
"Banyak kok disini, ada Yesi juga. Aku pulang sama dia aja". Gue mengangguk paham.
"Tolong bilang ke bapak dan ibu kalau aku udah sampai".
"Iya, nanti dibilangin". Sambungan pun terputus. Gue menghempaskan diri di ranjang, mengusap sisi sebelah kiri dimana Ify biasa tidur. Gue menghirup aroma khasnya sangat dalam. Mengaburkan rasa sesak dengan sisa-sisa kehangatan yang ditinggalkan olehnya. Tanpa sadar air mata gue mengalir tanpa permisi. Sama seperti cinta, selalu hadir tanpa permisi untuk menyapa pemilik hatinya.
***
Keesokan harinya, gue kekampus. Sebelumnya gue bertemu dahulu dengan dosen pembimbing gue. Setelah berurusan dengan beliau, gue langsung ke laboratorium untuk melakukan penelitian. Selama libur jangan harap labor sepi, rumah kedua bagi anak kimia itu terisi oleh para mahasiswa tingkat akhir seperti gue.
"Wahh calon bapak udah balik aja nih!". Seloroh Halim yang disambut gelak tawa dari teman-teman gue. b*****t emang.
"Pulang sendiri Yo?". Tanya Jessi.
"Iya Jes". Jawab gue seadanya. Gue memilih melipir ke ruangan khusus anak bimbingan Pak Bandar. Ruangan yang digunakan untuk kami meletakkan alat-alat atau pun bahan penelitian.
"Rio". Gue menoleh dan mendapati Alista diambang pintu. Dia tersenyum sendu. Senyum yang dulu manis hilang entah kemana.
"Lo kemana aja?".
"Gue pulang kampung. Ada apa?". Tanya gue tanpa basa basi. Alista menatap nanar dan meluruhkan airmata nya dihadapan gue.
"Apa gue bener-bener udah gak ada lagi di hidup lo Yo?". Tanya nya lirih. Serius lah! Ini udah tahun baru tapi Alista belum juga move on?
"Harus berapa kali gue bilang, Lis! Gue bukan siapa-siapa lagi di hidup lo! Gue udah menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Lo bisa bedain mana lajang mana udah nikah kan?". Dia semakin terisak. Bukan hak gue lagi untuk memeluk nya disaat rapuh seperti ini.
"Gue sekarang cuma temen lo, Lis. Temen seangkatan lo, temen satu prodi lo, termasuk teman satu pembimbing lo. Hanya itu! Gak lebih--".
"Semua yang udah lo dapatkan, apa gak ngebuat lo malu untuk mengemis ke gue? Gue bukan orang yang pantas untuk tempat lo meminta - minta cinta. Masih banyak laki-laki lain yang bisa ngegantiin gue di samping lo--".
"Mana ada yang mau nerima gue Yo". Lirihnya dengan sorot mata pedih.
"Maksud Lo apa?".
"Gue hamil, udah dua bulan Yo".
****
#SalamAnakRantau