Rio's side ya gaes...
.
.
.
.
.
.
.
.
**
Gue pergi ke ATM yang ada di pabrik. Ify gak ikut lantaran teman - temannya berkunjung ke rumah. sementara kedua mertua gue sedang berada di kantor.
Gue menghela nafas pendek melihat nominal yang harus gue transfer ke salah satu bank Mitra kampus. Sepuluh juta uang kuliah yang harus gue bayarkan semester ini. Empat juta punya gue, sedangkan enam juta untuk Ify. Sesuai jalur masuk dan golongan pekerjaan orang tua tentunya.
Setelah berhasil mentransfer uang kuliah, gue kembali ke rumah. Tapi arah gue malah bukan kerumah, tapi ke sebuah warung dekat pabrik. Gue ingin duduk - duduk sebentar sebelum pulang.
Gue mengedarkan pandangan ke arah sekitar, tak banyak pengunjung warung mungkin karena masih jam kerja. Gue memesan nasi goreng dan es teh untuk mengganjal perut. Padahal dirumah ibu mertua udah buatin sarapan, tapi belum gue sentuh.
"Rio?!". Gue menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang tadi malam bergabung dengan Ify.
" Gue Rean. Yang tadi malam ke acara lo dan Ify". Ah iya, gue baru ingat dia cowok yang mengatai gue protektif.
"Ehm iya. Sorry gue gak tau nama lo". Kata gue sedikit gak enak. Rean tertawa santai dan mengibaskan tangan kosongnya.
"Gak papa. Lo darimana?". Dia bertanya, gue rasa Rean orang yang humble kepada orang baru.
" Dari ATM. Lo sendiri?".
"Gue dari pabrik. Laper, belum sarapan". Gue mengangguk paham. Pesanan gue dan Rean datang bersamaan. Dia memesan secangkir kopi dan semangkok mie instan.
"Kata Ify lo senior dia--". Gue mengangguk santai.
" Berapa tahun diatas Ify?".
"Setahun. Gue angkatan 15".
"Lo di Batam di dimananya?".
"Daerah Taman Raya. Lo orang Batam?". Rean menggeleng.
"Gue orang Lampung. Tapi pernah tinggal di Batam. Sekitar Bengkong".
"Lo sama Ify temenan dari SD?".
"Iya. Dari kelas satu kami sekelas terus sampai SMA. Bosen sih, cuma gimana ya, anak daerah kayak kami terlalu malu untuk bilang bosen". Gue termenung sejenak karena sedikit tersentil dengan kalimat Rean.
" Lo gak kuliah?". Tanya gue.
"Kuliah sempet. Abis itu gue keluar, males sama dosen nya". Katanya tertawa renyah.
" Dimana?".
"Gue di Pekanbaru sih. Ambil pertanian".
"Then sekarang lo milih kerja?".
"Yeps. Gue di ajak sama abang sepupu untuk masuk ke pabrik. Awalnya nolak, tapi mau gimana lagi. Hidup keras bro!". Gue terkekeh dan mengangguk paham. Memang hidup itu keras dan kalau kita gak pandai-pandai berjuang untuk bertahan, Siap-siap aja tereliminasi. Terlebih jika lo hidup di ibu kota atau kota besar lainnya.
"Lo sama Ify nikah udah lama?". Lagi-lagi pertanyaan serupa yang gue dengar setiap bertemu dengan orang baru.
" Sudah satu tahun. Januari lalu gue menikah dengan Ify". Jawab gue seadanya. Kami banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing. Rean ternyata orang Lampung merantau sejak kecil mengikuti kedua orang tuanya. Dan sejak dirinya bekerja di pabrik perusahaan kedua orang tuanya telah kembali ke kampung halaman, menikmati masa tua mereka.
Hidup memang keras. Gue akui. Gue juga bercerita tentang kehidupan gue di Jakarta bersama Ify. Gue yang bekerja sebagai bartender disalah satu kafe milik sahabat gue, Erick Alfian sejak tahun ketiga kuliah.
"Jadi lo sama Ify sempet nunda punya momongan?". Telak, pertanyaan membunuh dari Rean terucap.
" Enggak menunda. Cuma gimana, kalau Tuhan belum ngasih kepercayaan ke kami berdua. Kami bisa apa? Lagipula, gue sama Ify juga sibuk. Dia di semester empat waktu itu dan gue di semester enam. Semester yang rawan banget". Jelas gue mencoba untuk memberikan sedikit logika.
Gue lihat Rean tersenyum samar. Karena sudah terlalu lama cabut, Rean pun kembali ke pabrik. Sementara gue memilih pulang kerumah.
***
Sesampainya dirumah, gue melihat masih ada teman-teman ify yang berkunjung. Gue memaklumi lantaran mereka memang jarang bertemu.
"Assalamu'alaikum".
"Waalaikumsalam". Jawab mereka bersama. Ify menyambut gue dengan senyum teduhnya. Dia menghampiri gue dan gue memberikan kecupan di pelipisnya.
" Damn it! Malah ngumbar kemesraan disini". Kata salah satu dari mereka. Gue gak tau namanya siapa.
"Yee bodo amat. Kan rumah gue, jomblo sirik aja". Gue dan yang lainnya terbahak sementara temannya itu menggerutu sebal.
"Aku ke dalam dulu, ya!". Kata gue. Tanpa menunggu jawaban Ify, gue masuk ke dalam dan mencari air putih. Haus banget rasanya.
Tak lama Ify menyusul gue ke dapur.
"Kok udah masuk aja? Yang lain kamu tinggal?".
"Udah pada pulang. Lagian udah dari tadi pagi dirumah". Katanya. Ify mendudukkan diri di kursi, dengan perut besar berisi dua kecambah hidup, gue sedikit meringis melihatnya.
"Uang kuliah udah aku bayar. Kamu bisa ngambil KRS". Kata gue. Ify menarik ujung baju gue dan memeluk gue dari samping. Ibu hamil gue ini sangat sensitif sekali. Demi Tuhan, gue gak mau lihat dia sedih sampai stress karena akan berdampak untuk kehamilannya.
" Kenapa lagi Fy?". Dia menggeleng pelan.
"Pasti banyak banget. Maaf aku gak bisa bantuin apa-apa--". Gue menahan laju kalimat yang keluar dari mulutnya.
" Ssttt! Udah Fy. Gak perlu ungkit lagi ya! Karena semua nya udah di atur. Rejeki udah ada porsinya masing-masing".
"Kenapa dari kemarin kamu mewek terus sih? Semakin sensitif banget". Dia malah merenggut tak suka dan melepaskan pelukan yang sedari tadi menempel.
"Heyy bumil mau kemana?". Dia tak menyahut, membuat gue mendengus sebal.
Ify memasuki kamar dan gue lekas mengikuti nya. "Fy--"
"Hm".
" Kenapa sih?".
"Kan aku sensitif kata kamu. Apalagi?". Mulai deh kelakuan nya. Bikin gue gedeg, harus ekstra sabar ngadepin dia. Dengan penuh hati-hati gue mencoba memeluknya dari belakang, membelai perut besar itu dan menghujani kepalanya dengan ciuman.
" Ihhh geli!!". Katanya kesal. Gue semakin liar menyentuhnya tanpa ampun. Ify tertawa nyaring saking gelinya dengan sentuhan gue.
"Ihh udah deh! Aduh, aduh... Ah Rio kampret!". Umpat nya. Gue menatapnya tajam karena berani - beraninya dia mengumpati suaminya sendiri. Siapa yang mengajari nya seperti itu, huh?!
"Kamu ngomong apa?". Dia mencibir lalu mencium bibir gue sekilas. Seolah menyogok gue agar tidak marah. Percuma.
"Gak ngomong apa-apa. Aku kan--". Gue mencium bibirnya penuh nafsu. Menyentuhnya dengan kasar dan membuat Ify menjerit, meneriaki nama gue.
" No. No! Ampun Bang Rio!!".
"Aku gak suka ya kamu ngomong kasar gitu ke aku! Dulu sebelum kita kayak gini, sah-sah aja kamu mau ngumpatin aku. Tapi sekarang gak boleh , Fy!". Kata gue. Dia tertawa kecil dan mengangguk patuh. Posisi kami sangat intim. Ify duduk di pangkuan gue dengan kedua kakinya membelit pinggang gue. Sementara perut besarnya sedikit menghalangi aksi gue. Ah, disaat seperti ini gue ingin twins segera keluar. Agar gue lebih bebas melakukan apa aja bersama ify. Termasuk urusan ranjang.
"Maaf--".
" Jangan ulangi lagi!".
"Iya, enggak lagi kok!". Gue tersenyum dan mencium pipi nya yang tembam. Ify berpindah duduk di samping gue, berat badannya memang naik puluhan kilo, tapi dimata gue Ify semakin seksi selama kehamilan nya.
Tiba-tiba ponsel gue berdering panjang, membuat gue malas untuk mengangkatnya.
" Angkat, Pa. Siapa tau penting". Kata Ify. Dia merapikan daster pendek itu lalu duduk di meja rias. Mau tak mau gue mengambil gawai itu.
Tertera nomor Denis yang melakukan video call via w******p.
"Woii Rio!!!". Panggilnya di ujung sana. Gue mendengus malas.
"Ape lo?". Tanya gue gak nyantai. Dia malah tertawa setan dan menoleh ke arah kanan, seolah memanggil seseorang. Dan benar, ada beberapa teman-teman gue yang memenuhi layar.
" Kapan lo balik ke Jakarta?". Si kunyuk malah nanya sesuatu yang belum pasti terwujud kan untuk dia.
"Ngapain lo nanya-nanya?". Kata gue jutek. Gue malah melirik ify yang tengah menatap gue dalam. Senyum kecil gue torehkan untuknya.
" Wess santai dong Pak! Ngegas aja lo! Kenapa? Dirumah mertua gak bisa ngejos ngeliatin anak-anak lo ya?". Pertanyaan Denis membuat teman-teman yang lain terbahak. Sedangkan gue mencibir gak guna.
"Lambe lo Denis! Gue saranin lo harus cari jalang malam ini, biar lo bisa diem untuk seminggu kedepan". Kata gue gamblang. Praktis Denis menaikkan jari tengahnya untuk gue. Gantian, gue yang terbahak melihat ekspresi tak sukanya itu.
" Eh Yo! Alista makin gila tu gak ada elo disini". Mendengar nama Alista yang disebut oleh salah satu temen gue, Halim namanya. Ify langsung keluar dari kamar. Entahlah, gue gak bisa berasumsi positif ketika menyangkut pelakor itu. Ify pasti akan berspekulasi lain setelahnya.
"Bodo amat lah. Bukan urusan gue lagi". Kata gue tenang.
" Iya sih bukan urusan lo. Cuma apa lo gak kasian liat dia yang hancur gitu. Gak nyangka aja, pengaruh kepergian lo di hidupnya malah ngebuat dia jadi kayak gak guna gitu".
"Maksud lo, Lim?".
"Tadi malam, gue sama yang lain ke bar. Kita ngeliat Alista lagi minum, sendirian awalnya. Tapi pas kita tungguin dari jauh, dia dibawa pergi sama laki-laki gak dikenal--".
"Kalian ikutin?". Halim mengangguk.
"Iyalah, gitu juga masih temen kita. Kata Jeno dia sering pergi sama cowok beda-beda". Perkataan Halim sukses membuat gue mencelos sedih. Apakah keputusan gue untuk pergi dari hidup Alista memang sudah benar? Tapi melihat dia gak baik-baik aja, membuat gue dilema lagi. Ya Tuhan, jangan lagi!
"Lo gak ada kepikiran untuk ninggalin Ify karena cerita gue ini kan, Yo?". Pertanyaan Halim menarik lamunan gue.
"Ha?".
"Lo gak akan ninggalin Ify karena keadaan Alista yang sekarang kan?". Halim memperjelas. Gue menghela nafas panjang.
"Enggak, Lim. Enggak. Gue mencintai Ify, gue sayang sama dia--".
"Baguslah! Biarkan Alista memilih jalannya sendiri. Sebagai teman kalian, gue cuma mau yang terbaik untuk lo dan Alista. Terlebih lo udah berkeluarga, tanggung jawab lo udah berubah ke Ify bukan ke Alista lagi". Terangnya. Gue tersenyum samar.
"Thanks Lim. Lo terbaik. Insha Allah, gue sama Ify till Jannah Nya".
"Aamiin. By the way, buruan balik! Bahan dan alat penelitian lo udah nyampe kemarin". Gue melotot tak percaya. Secepat itu kah?
"Demi apa Lim?".
"Demi Allah! Makanya buruan balik, biar bisa kelar penelitian lo".
"Iya, iya! Kalau gitu gue tutup dulu ya! Nanti gue bicarain dengan Ify soal kepulangan".
"Sip". Video call pun selesai. Gue bersyukur banget keperluan gue untuk penelitian sudah ada. Secepatnya nya, gue bakalan kembali ke Jakarta untuk melakukan kerja yang tertunda.
Tapi, liburan masih lama. Apa Ify akan setuju kalau kami kembali ke Jakarta secepat ini? Atau gue aja yang pulang duluan ke Jakarta?.
*****
Jangan lupa feedback nya, ya
#SalamAnakRantau