Ify's side ya gaes..
.
.
.
.
.
.
.
***
Malamnya acara kenduri di laksanakan. Semua tetangga datang ke rumah. Gue bersyukur mereka semua menyukai masakan khas melayu ini. Ada banyak kudapan dan makanan berat khas daerah Riau. Ibu membuat sempolet sagu, gulai sagu, asam pedas ikan sembilang, dan kue-kue kering lainnya.
Semua makanannya membuat gue meneguk nikmat lantaran sangat menggiurkan terlebih asam pedas ikan sembilang.
Sejak sholat magrib tadi juga temen-temen sekolah gue berdatangan. Mereka gak nyangka kalau gue udah menikah. Ya siapa pun gak bakalan nyangka kalau gue jarang pulang dan tiba-tiba pulang dalam keadaan berbadan dua. Gak heran sih.
Rio sudah bergabung di barisan bapak-bapak yang sedang membaca yasin sedangkan gue memilih duduk di ruang tengah bersama ibu dan teman-teman gue.
"Fy, laki lo orang mana?". Tanya Yesi, dia temen sebangku gue dulu.
"Orang Batam. Senior gue juga".
" Pasti kalian jatuh cinta nya pas pengenalan kampus ya? Dia yang jadi panitia waktu itu, iya kan?". Tebaknya. Gue malah terkekeh pelan dan mengedikkan bahu.
"Cukup gue yang tau lah! Do'a kan aja gue sama dia langgeng terus".
" Aamiin. Semoga keluarga lo rukun - rukun dan harmonis selalu. Doa kan gue juga biar cepet nyusul kalian". Kikik nya malu-malu. Gue menaikkan alis tinggi-tinggi.
"Serius lo? Kapan nih jadinya?".
" InsyaAllah akhir tahun ini. Satu kantor sama gue di pabrik. Tante sama om kenal kok". Kata Yesi.
"Orang mana?".
" Orang Palembang. Doa kan ya Fy". Gue tersenyum kecil sembari meng aamiinkan harapan Yesi. Dia perempuan baik, dan semoga calonnya orang baik juga.
"Beberapa bulan lalu gue ketemu Alvin, masih ingat gak?".
" Wahh iya? Ngapain dia ke Jakarta?".
"Ada lomba gitu di kampus. Dua hari doang, abis itu dia balik ke Medan lagi". Yesi mengangguk paham.
Tak ingin membuat kegaduhan karena gue dan Yesi asyik ngerumpi, kami pun memutuskan untuk diam saja sampai acara yasinan selesai.
***
Gue masuk ke kamar di bantu Rio, Lagi-lagi twins bergerak aktif karena gue tadi bantuin ibu di dapur. Emang sih udah ada yang ngebantuin, tapi kurang sopan rasanya kalau gue gak ikut ngebantu juga. Gak sreg aja di gue nya gitu.
" Aku kan udah bilang, jangan ikut turun ke dapur. Duduk aja! Twins pasti marah kalau mama nya kerja terus kecapean". Rio mengomeli gue.
"Gak enak rasanya kalau gak ikut ngebantu, Pa!--".
" Kamu yang jadi pusat acara nya, sayang! Gak usah ngebantah. Ikutin kata aku, istirahat aja di kamar!". Perintahnya. Gue cuma bisa mengangguk pasrah.
Rio melepaskan peci nya dan duduk di tepi ranjang sembari memijat kaki gue.
"Kamu keluar aja. Gak enak sama yang lain, pasang topeng ramahnya dulu ya!". Ledek gue. Dia malah mendengus sebal dan itu terlihat lucu menurut gue.
"Kamu sendirian gapapa?". Gue mengangguk santai. Rio menghela nafas pendek dan keluar dari kamar meninggalkan gue.
**
Pukul sebelas malam acara kenduri telah usai. Di tengah-tengah acara gue malah keluar kamar karena bosen. Jadilah pas selesai makan gue ngumpul bareng temen-temen SD yang masih mendiami daerah disini. Kami bercerita banyak seputar pengalaman dan kehidupan masing-masing. Terlebih gue yang jadi queen malam ini menjadi sasaran empuk mereka.
"Jadi lo ketemu sama Alvin waktu itu, dan gak bilang kalau lo udah nikah?". Tanya Weni tak percaya.
" Yes i'm. Tapi mungkin kalau dia berkabar lagi bakalan gue kasih tau. Atau kalian yang bakalan ember di grup". Kata gue santai. Mereka malah tertawa mendengar kesini dan bicara gue.
"Kandungan lo udah berapa bulan, Fy?". Kali ini Rean yang bertanya.
" Alhamdulillah udah masuk bulan ke enam. Do'akan ya semoga persalinan gue lancar".
"Aamiin". Kata mereka kompak. Gue tersenyum kecil. Seneng juga bisa ngobrol sama mereka rame-rame gini. Jadi inget dulu sering nongki bareng mereka juga tapi di sekolah. Ada sebuah tempat kecil di samping kelas enam yang menjadi markas kami kalau ingin berkumpul. Maklum bocah-bocah dulu belum tau apa-apa. Megang HP aja males banget, lebih suka panas-panasan main di lapangan sekolah timbang megang gawai yang belum secanggih sekarang.
"Kok bisa ketemu sama Rio, gimana ceritanya Fy?". Rean mulai kepo ditambah tampang-tampang manusia lain itu menunggu jawaban gue.
" Dia kan senior gue, Re. Ya tau lah gimana kelanjutannya!". Kata gue seadanya. Mereka mendesah kecewa lantaran gue gak menjelaskan secara detail. Biarlah, biar kisah cinta gue dengan Rio hanya kami berdua dan Tuhan yang tau.
Tiba-tiba Rio datang sembari membawa s**u ibu hamil untuk gue. Sebelum tidur gue minum s**u dulu.
"Udah tengah malam. Bumil harus istirahat". Secara gak langsung suami gue ngusir mereka. Bah, kasian juga sih. Tapi mau gimana lagi kan.
" Yaelah Rio! Protektif banget sih. Baru juga jam sebelas malam".
"Ck! Ify gak sendiri ya! Ada dua nyawa yang harus di lindungi nya! Besok ketemu lagi. Kami disini lama kok". Kata Rio. Mau tak mau gue di tuntun ke kamar oleh Rio.
" Gaes! Besok kerumah aja. Gue tidur dulu ya!". Pamit gue. Mereka mengangguk setuju dan pulang ke rumah masing-masing.
***
Rio's side ya gaes..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**
Keesokan harinya, gue bangun terlebih dahulu. Gue melirik jam ternyata sudah jam lima dan gue bersiap - siap untuk sholat subuh. Gue membangunkan Ify agar bisa sholat berjamaah. Tapi sepertinya bumil gue ini kecapean, jadi susah di bangunkan.
"Lima menit, duluan aja!". Katanya lirih. Gue menggeleng heran melihat tingkahnya. Padahal niat gue mau ngajakin dia Jalan-jalan pagi. Kata dokter Daniar, Jalan-jalan pagi bagus untuk ibu hamil biar jalan lahirnya lancar. Begitulah kira-kira.
" Bangun Fy! Setelah itu kita jogging sebentar!". Kata gue tegas. Dia mendengus tapi tetap melaksanakan perintah gue. Selama kehamilannya yang terus berkembang, tingkah Ify terkadang ngebuat gue harus ekstra sabar dan turun tangan untuk membujuk nya.
Setelah Ify berwudhu kami pun sholat berjamaah. Dia memasang mukena dan memakaikan peci di kepala gue. Dia tersenyum kecil. Walaupun begitu, Ify tetap perhatian melakukan hal-hal kecil kepada gue.
***
Sesuai rencana, setelah sholat subuh kami keluar rumah sekedar jogging. Ternyata banyak yang berolahraga pagi di sekitaran komplek perumahan disini.
"Kamu gak lari juga?". Tanya Ify. Gue mendelik
" Kalau aku lari, kamu tinggal sendirian. Mau?". Dia malah terkekeh ringan dan menarik ujung baju gue. Kebiasaan Ify pasti gitu.
"Kalau kamu lari, aku bakalan stay di belakang kamu. Asal kamu gak lari dari kehidupan aku aja". Katanya. Gue terbahak mendengar kalimat yang bermakna lucu itu. Selain bisa bermulut pedas, Ify juga bisa bermulut manis ketika berucap.
"Kamu udah ngambil kartu studi, Fy?". Dia menggeleng pelan.
" Kan biasanya bayar UKT dulu baru bisa ngambil KRS". Gue terdiam sejenak. Oh iya, kami berdua belum bayar uang semester ini. Gue menghela nafas pelan dan menepuk puncak kepalanya.
"Besok kan bayar nya?".
" Kalau di jadwal sih besok. Kamu bayar UKT juga?". Gue mengangguk santai. Karena gue masih masa penelitian, dan terhitung kuliah. Gue masih membayar UKT dong.
"Berat banget ya?--". Tanya Ify lirih. Gue menoleh dan tersenyum samar.
" Berat apanya?".
"UKT kita? Kamu musti bayar double kan? Sejak kita nikah. Jangan kamu pikir aku gak tau kalau selama tahun lalu kamu yang bayarin UKT aku". Jelasnya. Gue hanya tersenyum tulus ke Ify. Memang sejak menikah, Ify adalah tanggung jawab gue. Uang kuliah dia gue yang bayarin. Gue pikir Ify gak bakalan tau, tapi ternyata dia terlalu pintar untuk tau apa yang gue sembunyikan.
"Apa salahnya Fy? Kamu istri ku. Gak mungkin uang kuliah kamu masih bapak yang biayain. Dimana harga diri ku sebagai kepala keluarga nantinya?". Tanya gue yang membuat dia terdiam. Air mata wanita hamil itu meluruh seketika.
Gue gak tahan dan langsung memeluknya erat.
" Gak usah nangis, Fy! Apa yang kamu tangisi? Enggak perlu nangis - nangis begini lah". Kata gue.
"Berat banget kayak nya jadi kamu. Ditambah lagi aku akan melahirkan. Pengeluaran bakalan semakin banyak". Kata nya terisak
" Do'akan saja semoga rejeki ku terus bertambah. Aku megang kafe cabang milik Alfian itu juga termasuk rejeki. Rejeki kedua anak kita. Apapun akan aku usahakan demi kalian, Fy". Ify tak kuasa menahan haru dia mencium pipi gue sebagai bentuk rasa sayang nya.
"Makasih untuk tetap bertahan, Bang Rio".
***
See you on top
#SalamAnakRantau