Opposite 15

1706 Words
Ify's side ya gaes... . . . . . . . . . . . . . . *** Setelah kejadian tadi malam yang membuat gue adu bacot sama Dena,  temen esdeh gue.  Akhirnya ibu dan bapak tau masalah tersebut. Mereka tak menyalahkan gue,  tentu aja.  Enak aja gue yang disalahin. Dena itu emang naruh rasa iri ke gue sejak dulu sampai sekarang. Kan heran aku tuh. Hm. Hari ini gue mau kepasar bareng ibu dan Rio, kami mau belanja untuk keperluan kenduri besok. Kenduri itu merupakan acara tradisi adat tak hanya dari kami orang Melayu,  dari daerah lain pun ada.  Kenduri seperti syukuran makan bersama. Ibu dan bapak sepakat untuk membuat kenduri syukuran kehamilan kehamilan gue.  Mereka sangat antusias sekali. Gue dan Rio hanya bisa mengikuti permintaan mereka.  Toh,  kami juga masa berlibur.  Apa salah nya mengiyakan demi melihat senyum keduanya.  Kami pergi ke pasar pagi yang biasanya setiap weekend selalu datang dengan rombongan pompong,  kalau kata orang sini. Dengan segala kearifan lokal dan keunikannya,  gue sangat mencintai daerah perantauan ini. "Ibu mau beli apa sih?". Tanya gue heran melihat ibu yang sedari tadi sibuk memilih milih. "Kamu mau dibuatin sempolet gak? Atau nasi kuning?". Ya Allah,  dari tadi sibuk milih tapi ujung-ujungnya malah itu.  Gue terkekeh pelan lalu mengangguk saja. "Ify makan semua nya kok,  Bu. Lagian kan kita mau ngundang tetangga. Kayak biasa aja di rumah nenek gitu,  Bu". Kata gue. Kalau di rumah nenek dari pihak Ibu gue,  jika mengadakan kenduri makan hidangan yang disajikan sangat banyak.  Mulai dari Asam pedas ikan tenggiri,  rajungan rebus,  tumis cumi baik pedas atau pun manis,  gulai ayam,  sempolet, gulai sagu,  dan masih banyak lagi. Rio hanya melihat dan membantu gue membawa kan belanjaan. Seperti biasa,  sesuai prediksi gue banyak yang menatap heran dan bertanya kepada ibu, kok  gue udah berbadan dua aja.  Dengan penuh ketenangan ibu menjelaskan kalau gue udah menikah dengan Rio akhir tahun lalu,  dan sekarang tengah mengandung. "Sabar ya Bang". Celutuk gue padanya. Rio mengedikkan bahu tak acuh.  Gue rasa dia mulai kesel. Gue mencoba untuk membujuknya dengan menggandeng lengan kirinya yang masih terbebas dari belanjaan. " Namanya juga ibu-ibu rumpi.  Gak usah di pikirin, Bang". Rio cuma mengangguk sekilas.  Tak lama kemudian,  Ibu pun selesai berbelanja.  Ibu sangat letih,  Rio mengusulkan agar kami duduk dulu sebentar untuk minum atau ngemil di warung. Kami singgah di warung yang tak jauh dari lokasi pasar.  Gue memesakan es teh untuk ibu dan kopi dingin untuk Rio sementara untuk gue,  cukup air putih biasa.  Selama hamil,  gue gak mengkonsumsi air dingin atau pun kopi dan teh. Lidah gue gak nerima untuk mengecap minuman seperti itu. "Capek Yo?". Tanya ibu ke mantu kesayangan. Rio tersenyum kecil dan menggeleng pelan. " Enggak lah Bu. Justru ibu pasti yang capek. Kita pulang setelah ini ya!  Biar Rio pijitin Ibu". Tuh kan,  mantu idaman banget. Ibu pasti kesenangan di manjain gitu.  Hm deh. Akhirnya setelah melepas penat,  kami pulang kerumah dan memulai untuk memilah bahan-bahan yang akan di masak. *** Keesokan harinya.. Acara kenduri yang akan di laksanakan malam hari,  namun kesibukan sudah terlihat sejak pagi tadi.  Ibu turut mengundang beberapa tetangga untuk membantu persiapan nanti malam. Meskipun gue bisa bantu,  tapi ibu gak mau ambil resiko kalau nanti gue kecapean. Dari tadi pagi juga,  Rio sudah turun tangan membantu di dapur, suami gue itu gesit juga.  Gak nyangka. "Bu Fina,  itu menantu nya orang mana?". Tanya salah satu ibu tetangga,  sebut saja kepala suku rumpi disini.  Gia. "Orang Batam,  Bu Gia.  Dia senior nya Ify di kampus juga". Mereka mengangguk paham mendengar penjelasan ibu. Rio dimintai untuk mengupas kelapa beberapa buah. Setelah itu ia berpamitan karena ada panggilan berbunyi dari ponsel nya. " Oalah jadi kenalnya udah lama gitu ya?". Gue hanya diam malas untuk menjawab ke kepoan mereka. Ibu pun tak menjawab,  tepatnya karena ada yang bertamu ke rumah.  Gue disuruh tetap di dapur bareng ibu-ibu sementara ibu ke depan. "Eh iya Nak Ify udah semester berapa?". " Alhamdulillah sudah masuk semester enam,  Bu". "Kuliah nya jurusan apa sih?". " Kimia,  Bu". "Wah mantap itu! Bakalan kerja di industri pabrik dong ya!". Gue tersenyum tipis. "Enggak sepenuhya,  Bu.  Saya ngambil prodi pendidikan soalnya". Mereka mengangguk lagi. " Trus kok nikahnya cepat sekali? Apa--". Mulai deh mulai.  Heran. "Privasi keluarga saya,  Bu.  Kalau ibu mikir saya jebol duluan mending jauh - jauh deh mikir kayak gitu.  Buang-buang pahala Ibu-ibu aja". Kata gue tenang. Mereka tampak terkejut dengan perkataan gue.  Sebodo lah.  Dikasih hati minta jantung. " Ehmm jadi bukan karena itu?". "Ya bukan lah Ibu!  Meskipun saya sekolah di ibu kota dan jauh dari orang tua,  saya gak akan melakukan tindakan gak terpuji seperti itu.  Tugas saya di kampus aja udah seabrek,  gimana mau mikir gituan". Gue lihat teman-teman ibu Gia tertawa mendengar penjelasan gue,  sedangkan Ibu Gia sendiri menahan malu. Suruh siapa kepo. Sepanjang acara memasak,  gue berusaha sabar dengan segala macam pertanyaan mereka.  Untunglah ibu segera datang ke dapur untuk membantu gue menjawab pertanyaan absurd mereka. "Udah di USG belum Fy?". Gue mengangguk santai. " Wahh jenis kelamin nya apa?". "Cewek cowok". Mereka takjub mendengar jawaban gue. Gue pun demikian. Siapa yang gak beruntung mempunyai calon anak kembar.  Sampai sekarang gue masih belum percaya,  gen siapa yang turun sehingga janin yang berkembang bisa kembar. *** Gue pamit duluan kekamar karena perut gue rada-rada mules. Rio sigap membantu gue untuk rebahan di ranjang.  Dia mengambil minyak zaitun untuk memijat telapak kaki gue. "Udah dibilangin jangan terlalu capek,  Ma!  Masih juga ngelawan". Rio mulai mengoceh dan itu gak baik untuk gue.  Gue mengelus perut gue yang sedikit sakit.  Gue meremas lengan meriam Rio untuk meredam rasa sakit. " Iya tapi kan aku mau bantu ibu,  Pa! Aw--ahh sakit banget!". Rio memeluk gue karena gak tega melihat gue kesakitan.  Dia rela menjadi pelampiasan cengkaram gue. "Udah ada yang bantu! Kalau kecapean gini kamu juga yang kesakitan. Udah tau hamil--". " Siapa suruh buat aku hamil?!". Gue malah balik bentak dia.  Seketika gue sadar dan kembali menangis dalam pelukannya.  Rio membelai punggung gue lembut. "Maaf Pa! Aku gak bermaksud bentak kamu,  hikss sakit". Rio mengangguk sembari mencium gue. " Iya gapapa.  Aku ngerti kok.  Udah jangan nangis! Sini sini perut nya lihat dulu". Rio menyibakkan daster gue dan mengusap perut buncit yang menonjol sebelah. Rupanya twins sedang bergerak aktif. Mereka seperti berebut tempat. Dalam satu keadaan sakit dan bahagia. "Sayang,  Anak-anak Papa jangan keras-keras geraknya ya! Kasihan mama kesakitan.  Nanti mama gak bisa ngapa-ngapain loh". Rio mendekatkan wajahnya dan berbicara dengan perut gue. Seolah mereka mendengar,  twins pun langsung berhenti bergerak. Pergerakan mereka tak sekuat tadi. Kami sama-sama tersenyum haru. Rio mengelus perut gue "Udah,  gimana?". Tanya nya. " Better! Makasih Pa". Kata gue pelan.  "Its my job,  actually.  Menyenangkan berbicara dengan mereka". Kata Rio terdengar bahagia.  Gue terkekeh renyah,  sebagai hadiah dia sudah membuat anak-anak nya gak rewel lagi,  gue mengecup singkat bibirnya. Rio tersenyum licik setelah gue melepaskan kecupan itu.  Dia malah menarik tengkuk gue dan melumat kembali bibir ini.  Tanpa sadar gue mendesah pelan.  Rio berhasil membuat gue luluh. Dia semakin gencar memporak porandakan raga gue.  Sentuhannya terlalu liar bermain di area sensitif gue.  Walaupun terhalang perut besar,  tak menyulitkan Rio untuk menuntaskan hasratnya. Entah sejak kapan,  kami sudah sama-sama half naked. Rio menggigit  d**a gue yang sejak hamil sudah berubah ukuran. Gue meringis kesakitan karena dia terlalu brutal. "Sakit ih! Jangan kuat - kuat dong!". Omel gue.  Rio tertawa tapi tak peduli.  Puncak p******a yang tegang dan sangat menggoda itu menjadi kegemaran Rio.  Gue gak bisa berkata lagi,  karena setiap jengkal tubuh gue dikuasai olehnya. **** Rio's side ya gaes... . . . . . . . . . . ** Ify mencium bibir gue sekilas. Dia begitu menggemaskan dengan segala tingkahnya selama hamil. Gak akan gue sia-sia kan kesempatan ini,  gue menggagahi nya dengan bangga. Seperti biasa,  istri mungil gue ini luluh dan tunduk dengan sentuhan gue. Bagian sensitif nya sangat perkembang pesat terutama dadanya.  Semakin besar dan membuat gue kalap untuk menyentuh nya. "Sakit ih! Jangan kuat - kuat dong!". Rajuknya sembari memukul punggung gue.  Gue tertawa karena tak sadar begitu menikmati menggigit d**a nya. "Maaf maaf!". Kata gue santai.  Jemari gue tak tinggal diam,  gue mengusik lembah basahnya dengan gerakan sensual.  Ify melenguh karena sentuhan gue.  Dia memejamkan matanya selama bercinta dengan gue.  Gue meniup mata yang terpejam itu. " Sshh". "Buka mata kamu sayang!". Bagaikan sebuah mantra,  kelopak indah itu menatap gue dengan tatapan sendu.  Pancarannya begitu mendamba dan gue siap untuk itu. " Jangan pernah menutup mata selama bercinta dengan ku,  Fy! Lihat aku". Dia menganggu patuh. Ketika gue dan dia siap,  gue mulai memasuki area sempit miliknya.  Untunglah kami sudah berkonsultasi dengan Dokter Daniar  tentang hubungan suami istri selama Ify mengandung. "Twins, papa will come!". Bisik gue ketika pusaka kekar gue memasuki milik Ify.  Ia tersenyum kecil dan menancapkan kukunya di punggung gue. Gerakan demi gerakan kami lakukan,  gue mencium rakus bibir Ify seakan bibir ranum itu tak tersisa untuk esok. Anggaplah kalau gue bejad dan tinggi akan nafsu, tapi ini Ify istri gue dan gue sah-sah aja untuk menggempur nya. "Jangan di gigit dong! Sakit tau gak!". Lagi-lagi Ify mengomeli gue karena puncak d**a nya yang menegang itu gue gigiti dengan rakus.  Ada setetes cairan bewarna putih keluar dari puncak d**a nya. "Fy kok ini ada yang keluar?". Masih dalam posisi dimana pusaka gue menancap sempurna dalam diri Ify,  gue di kejutkan dengan cairan itu. " Kayaknya asi aku keluar deh,  Pa". Katanya sedikit bingung.  Gue ingat,  gue pernah baca di artikel tentang kehamilan kalau sebelum bayi lahir asi pun bisa keluar terlebih dahulu. Tiba-tiba sebuah ide gila melintas di otak gue. "Aku habisin ya Fy!". Kata gue antusias. "Enak aja!  Ini tu jatah anak kamu, masa di embat juga sih!". Gue mendengus sebal karena dilarang begitu.  Karena kesal gue kembali mencumbu nya dengan brutal.  Hingga Ify mengaduh kesakitan. " Stop deh Pa! Kalau gak bisa main lembut mending udahan". Rusuknya.  Gue malah terbahak mengelus pelipisnya yang berkeringat. How damn!  She's so sexy! "Kamu terlalu menggairahkan sayang". Bisik gue serak.  Dan yah,  pipi nya merona tanpa di minta.  Ify tersenyum malu sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela. Gue tersenyum dan menarik dagu lancip nya dan berkata "I love you my wife!". "I love you too my hubby!". *** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD