Opposite 21

1672 Words
Rio's side ya gaes..  . . . . . . *** "Aku mau pulang". Jantung gue berdenyut sakit rasanya ketika Ify tak menganggapi ucapan gue, dia terkesan berjarak dan itu membuat gue gak kuat. "Fy,  dengerin aku dulu--". "Aku mau pulang,  Bang.  Aku kedinginan". Ujarnya pelan.  Sorot matanya teduh seperti biasa,  tapi seolah tak bernyawa.  Gue pun memeluknya dengan erat,  menyalurkan kehangatan yang gue punya walaupun gue juga sedikit basah. "I love you,  honey.  And i miss you". "Pulang,  Bang". Pinta nya.  Tak memerintah,  tapi cukup buat gue paham untuk tak menulikan permintaannya. Hah,  istri ku. Gue mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,  agar cepat sampai dirumah.  Ify masih bungkam tak membuka pembicaraan begitu juga dengan gue.  Kami kembali seperti di awal-awal pernikahan.  Dingin tak tersentuh. Gue akui gue salah,  harusnya gue yang jemput Ify bukan Navia yang gue tugaskan.  Ini semua karena rasa iba gue terhadap Alista yang merengek minta dibelikan batagor di cafe gue. Dia gak mau kalau bukan gue yang belikan.  Hah,  apa sih dia tu! Tadi gue mikir gini, kalau gue pergi belikan bisa sebentar doang,  tapi nyatanya gue terjebak macet.  Alhasil, gue minta tolong ke Via untuk menjemput Ify.  Dan meminta sahabat istri gue itu untuk gak memberi tahu kan alasannya kenapa.  Ya,  Via sempat bertanya alasannya.  Gue gak bisa bohong menyangkut Ify, sayangnya. Tapi sepertinya Ify sudah tau semuanya.  Gue gak marah sama Via kalau dia membocorkan rahasia tadi.  Biarlah.  Salah gue juga. Harus nya gue bisa menolak Alista,  harusnya dan sekarang semua sudah terlanjur terjadi. ** Kami pun tiba dirumah,  hari semakin sore dan semakin dingin.  Gue membawa Ify masuk untuk bertukar baju.  Rasa bersalah gue semakin menggunung kala Ify tak menyambut uluran tangan gue.  Dia berjalan sendiri ke kamar mendahului gue.  Lagi,  gue menghela nafas panjang.  Kesalahan gue terlalu fatal. Lebih baik gue susul Ify. Gue buka pintu kamar,  Ify sama sekali tak terusik,  dia hanya mengenakan celana dalam dan bra saja.  Sembari mencari baju-baju di lemari,  gue memeluknya dari belakang.  Menekan di sela-sela pangkal pahanya,  berusaha untuk menggoda.  "Lepas,  Bang". Katanya pelan. Gue tetap memeluk erat tubuh seksi itu.  Tubuhnya hangat dan gue membalikkan arahnya menatap gue. "Biar aku yang pakai kan". Gue mengambil daster tidur nya dan memakaikan dengan cepat.  Gue gak mau dia lari lagi,  semua harus selesai hari ini juga. Ify tak terusik dengan apa yang gue lakukan,  dia masih menurut dan tak membantah.  Gue lebih suka dia marah dan melampiaskan semuanya dengan kata-kata sarkasme nya. "Fy--". Gue mengambil nafas terlebih dahulu. "Abang lapar?  Biar aku siapkan makan malam". Gue menggeleng tegas.  Persetan dengan makan malam sebelum semuanya selesai. "Dengarin aku dulu! Aku mau semuanya terbuka--". "Tapi kamu gak terbuka dengan ku,  Bang". Tandasnya.  Gue menggeleng lagi dan menangkup wajahnya. "Aku minta maaf sayang! Biarkan aku cerita dulu,  paham?". Ify mengangguk patuh.  Akhirnya gue bisa sedikit lega. "Saat aku datang ke kampus,  siang itu Alista menyusul ku ke ruangan Pak Bandar.  Dia bilang kalau dia sedang hamil.  Hamil anak Jeno,  teman seangkatan mu--". Ify menutup mulutnya tak percaya.  Gue mengangguk santai. "Dengar aku dulu--". Gue menahan ucapannya sebelum ify menyela duluan. "Aku gak percaya begitu aja,  aku butuh bukti.  Dan Halim pun menceritakan hal yang sama.  Awalnya Alista mau memberitahu ku soal kehamilannya.  Tapi karena aku sedang pulang kampung bersama mu,  dia gak jadi ngasih tau.  Halim yang cerita.  Alista mengurungkan niatnya memberi tau ke aku,  sebagai orang pertama. Jadilah dia memberi tahu kepada Halim untuk pertama kali--".  Gue masih menatap dalam kearah Ify. "Alista bilang janin itu hasil perlakuan Jeno.  Mereka udah berhubungan sejak November kemarin,  tapi puncaknya Desember.  Alista udah kasih tau ke Jeno kalau benihnya tumbuh di rahim Alista.  Tapi Jeno menolak anak itu, Fy.  Alista frustasi dan dia selalu berpikir untuk membunuh hasil perbuatan mereka". "Aku dan Halim berusaha untuk membantu Alista yang sedang hamil muda.  Mencari informasi tentang Jeno dan siapa Jeno itu sebenarnya.  Harusnya aku bisa bertanya ke kamu,  tapi aku terlalu takut dan ragu karena kamu gak suka sama Alista kalau tau dia kembali dekat dengan ku.  Tapi percayalah,  aku dekat hanya untuk membantunya,  Fy! Bukan dekat karena ada rasa seperti dulu lagi--". "Halim juga ikut membantu, tapi sayang Alista gak terlalu merespon bantuan Halim.  Aku rasa Alista tau kalau Halim menyukai nya.  Halim memang suka sama Alista, Fy.  Tapi gak bisa terbalas karena Alista bukan satu keyakinan dengan Halim". Gue membuka semuanya,  alasan kenapa mama gak suka dan gak merestui hubungan gue dengan Alista dulu adalah karena kami beda keyakinan.  Gue selalu menutup mata untuk hal itu,  berpura-pura gak mengetahui dan tetap menjalani hubungan terlarang itu.  Dan sekarang,  Halim tak bisa menyambut perasaannya karena kasusnya sama dengan gue. Gue menghela nafas sejenak lalu mengelus punggung tangan Ify "Fy,  percayalah. Bukan maksud ku untuk gak menjemput kamu.  Awalnya aku berpikir biarlah aku bantu Alista dengan memenuhi keinginan nya,  Halim yang menjaga Alista di lab.  Setelah itu, sepulang aku membeli batagor baru aku bisa jemput kamu.  Tapi sayang,  aku terjebak macet.  Tanpa pikir lama,  aku langsung hubungi Viana untuk menjemput kamu-- maaf Fy--". Air mata gue kembali luruh ketika Ify sama sekali gak merespon apapun dari semua penjelasan gue.  Gue tau, semuanya sudah terjadi dan kesalahan gue sangat fatal baginya. Gue tertunduk dan jatuh di pangkuannya.  Gue meluruh dan menangis sedih.  Bukan karena untuk mengambil simpati hatinya,  tapi karena gue gak siap jika Ify memutuskan untuk pergi dan menyudahi semua cerita yang baru aja kami bangun bersama.  Gue takut Ify meninggalkan gue.  Gue sangat sayang dan mencintai nya.  Hiks Kemudian gue merasakan sentuhan lembut di surai hitam ini.  Gue mendongak dan tepat saat itu,  air mata Ify jatuh menyentuh kelopak mata gue.  Dia ikut menangis.  Demi Tuhan, gue gak suka lihat air mata kesedihan Ify. Gue gak becus jadi suami. Hujat lah gue sepenuh hati kalian,  gaes. "Udah Bang? Boleh aku ngomong lagi kan?". Tanya lirih.  Gue mengangguk patuh lalu menegakkan badan agar bisa menatapnya. "Jujur aku kecewa sama kamu,  Bang.  Semenjak kamu kembali ke Jakarta,  perasaan ku gak pernah tenang.  Twins selalu nendang-nendang seperti memberikan tanda sesuatu.  Namun selalu aku abaikan.  Aku cuma mikir hal biasa dan berpikir positif.  Tapi ternyata, semua dugaan ku salah". Hati gue serasa di remas mendengar penjelasan Ify. Anak-anak gue pun memikirkan hal serupa dengan ibunya.  Ya Tuhan,  gue berdosa banget. "Setelah itu,  aku mencoba melakukan semua kerjaan dengan semampu ku dirumah. Biar aku gak selalu kepikiran kamu terus.  Aku rindu,  tapi aku takut menganggu.  Kamu sibuk, aku cuma bisa menahan sampai mengantuk. Padahal kita saling butuh,  namun bodoh karena di perkeruh semu. Lucu ya,  Bang.  Kita dipermainkan gini---". Ify terkekeh hambar,  gue mengusap pipinya yang tembam.  Membersihkan sisa-sisa airmatanya. "Padahal aku gak sabar untuk balik ke sini lagi.  Aku mau ngasih kejutan untuk kamu.  Kamu ulang tahun hari ini.  Tapi sayang,  kejutan nya gagal.  Maafin aku,  Bang". Subhanallah,  gue bener-bener bego dan bodoh.  Apa yang gue pikirkan ketika menerima permintaan Alista waktu itu?  Sampai-sampai gue melepas suatu hal yang berharga seperti Ify!  Dia dengan perut besarnya sudah menyiapkan kejutan di hari ulang tahun gue.  Tapi dengan bangsatnya gue malah melakukan hal lain. Pantas Ify begini. "Marah Fy! Kamu harusnya marah ke aku!  Keluar kan semua kata-kata sarkas kamu itu!  Biar aku gak merasa kalau kamu gak baik-baik aja! Tolong Fy--". "Aku marah untuk apa? Toh memang dari awal kita menikah memang gak seharusnya kan?  Disini yang jahat bukan Kak Alista,  Bang! Tapi aku!  Aku merebut kamu dari dia. Wajar aja kalau dia meminta kembali apa yang direbut itu--". "No! Kamu gak jahat dan gak ada yang direbutkan!  Aku bukan barang yang kalian perebutkan Fy! Kamu harus tau itu!". Bantah gue.  Ify tersenyum kecil.  Dia melepaskan tangan gue yang ada di pangkuannya. "Jeno memang menyukai Alista,  sejak lama Bang.  Karena Jeno di jodohkan dengan Alista.  Ku rasa wajar Jeno melakukan hal itu ke Alista.  Mungkin,  waktunya yang salah". Ujar Ify yang hendak keluar dari kamar. Sebelum dia beranjak,  gue lebih dulu menariknya hingga membentur d**a bidang gue.  Gue mengurung nya. "Lepas Bang!". " Enggak sebelum kita selesai diskusi". Ify memutar bola matanya kesal.  Hal yang gak gue sukai setelah mulut sarkasme nya. "Apalagi? Toh semua nya udah jelas.  Mau diskusi tentang apa?". "Kamu harusnya marah dan pukul aku aja Fy! Biar aku tenang,  biar aku--". Plakk Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan gue.  Gue terdiam sebelum ucapan gue selesai.  Ify menampar gue dengan wajah sedihnya. "Itu yang kamu mau kan? Udah Terima kan? Aku bukan istri yang ringan tangan sama suaminya Bang! Ibu dan bapak ku gak pernah ngajarin untuk memukuli suami!  Aku gak di didik untuk itu!--". " Ini tamparan pertama dan terakhir ku untuk kamu,  Bang!". Liriknya tertunduk.  Gue menghela nafas panjang,  Ify memang bukan istri yang seperti itu.  Memang gak salah jika Ify adalah sosok istri idaman semua pria.  Dia lembut dengan caranya sendiri. Sedangkan gue,  gue orang yang keras kepala dan selalu menuntut untuk di perlakukan sebagaimana mestinya.  Tapi dia tetap sabar disamping gue selama ini, gue gak pernah bersyukur. "Maafkan aku,  Fy-- aku mau masalah kita terlihat ujung penyelesaiannya. Kita baikkan lagi--". " Abis baikkan ngapain? Ulang lagi gitu? Mending udahan aja.  Aku capek!". Katanya pasrah.  Gue melotot tak senang dengan ucapannya itu. "Kamu pernah bilang,  pernikahan gak seperti ular tangga.  Kalau udah nyampe angka seratus langsung berhenti.  Dan kamu mau melanggar ucapan mu sendiri? Bukan Ify yang aku kenal!". Kata gue dalam. Ify menghela nafas pendek. " Ya aku harus apa Bang? Kamu memilih keinginan Alista juga udah terjadi.  Kamu udah ngejelasin semuanya kan? Apalagi?  Itu kan yang ku tanya!". "Kan udah aku jawab,  aku mau kita baikkan!". Aduh,  bumil dengan segala keras kepalanya.  Kami sama-sama batu,  gak pernah nemu kalau narik urat sana sini dulu. Gak heran. "Oke,  udah kan?--". " Apanya?". Gue mendadak bego. Yassalam. "Gak ada lagi kan?". Gue menggeleng khidmat.  Dia malah melipir keluar kamar. "Ehh tunggu dulu! Jadi kamu maafin aku kan, Fy?". Gue menarik tangannya lagi sembari menatap pilu. Lagi,  Ify menghela nafas dan langsung mengecup pipi gue. "Aku marah dan kecewa itu wajar dan hak aku,  Bang.  Tapi kamu udah berusaha untuk menjelaskan semuanya.  Aku hargai itu.  Dan selamat ulang tahun suami ku!". **** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD