Opposite 10

1463 Words
Ify side's ya gaes... . . . . . . . . . Sesampainya dirumah, gue memberikan bisukuit asin dan perment mint ke Rio. Dia masih lemah dan terkapar di kasur. Gue menghela nafas panjang, sedikit bingung dengan keadaan nya. Mau tak mau gue harus menghubungi ibu. Gue pun ambil ponsel dan mendial nomor yang udah lama gue hafal. "Hallo assalamu'alaikum, ibu". " Waalaikumsalam, Ify. Kenapa Nak?". "Ibu dimana?". Tanya gue. "Ibu baru aja sampai di Jakarta". Gue mendelik tak percaya, ibu ada disini. Tapi gak ngasih tau gue? Huh jahatnya. " Kok gak bilang kalau Ibu ke Jakarta? Ada acara apa Bu?". Tanya gue kepo. "Ibu mau reunian sama temen-temen waktu kuliah dulu. Deket kok sama kampus kamu--". " Ya kenapa gak bilang kalau mau datang, Bu? Kan bisa aku sama Bang Rio jemput Ibu di bandara". Kata gue memotong ucapan ibu. "Tadinya ibu mau ngabarin, eh kamu udah nelfon ibu duluan". Heula emak gue. " Terus ibu ke sini sama siapa? Sama bapak kan?". "Iya sama bapak--". "Ify tunggu di rumah ya, Bu. Hati-hati, assalamu'alaikum". Kemudian gue meletakkan ponsel. Ada untungnya juga ibu sama bapak ke sini. Gue bisa 'ngasuh' bayi besar ini sama ibu. Gak kuat coeg, badannya segede gaban gitu. " Eugh, hueekk". Rio memuntahkan isi perut nya di lantai kamar. Praktis, gue langsung memijat tengkuknya. Membaluri dengan minyak kayu putih agar Rio sedikit mendingan. "Minum dulu Bang". Gue memberikan segelas air putih untuknya. Dia masih meringis kesakitan, peluh membanjiri kening dan lehernya. Fix dia bener-bener gantiin gue.  Ehe. " Apa nya yang sakit? Bilang coba". Kata gue lembut sembari mengusap punggungnya. Rio memeluk tubuh kecil gue yang tengah berdiri ini. "Perut gak enak. Kepala sakit gitu, Fy". Adu nya dengan suara serak, efek muntah-muntah. Gue mengangguk paham lalu memberikan teh hangat yang sengaja gue letakin di meja kamar. "Tiduran aja dulu, aku buatin makan malam sebentar ya--". " Mau nasi goreng Fy". Pintanya bak anak kecil ditambah lagi raut wajah memelas dan tatapan memohon. Gue tak kuasa untuk tak tertawa. Lucu banget deh suami gue. Jadi makin sayang, ehe. Gue menepuk pelan pipinya "iya, dibuatin. Harus dihabiskan tapi ya!". Dian mengangguk patuh. Setelah membersihkan lantai yang menjadi wadah muntahan Rio, gue pun bertempur di dapur. Mengingat ibu dan bapak akan datang, gue mau masak ikan goreng aja. Untung udah restock keperluan dapur. Tak sampai sejam, gue udah selesai memasak. Membawa sepiring nasi goreng ke kamar agar Rio bisa makan. "Bang, bangun! Ayo makan dulu". Gue lihat Rio masih pucat dan lebih tak bertenaga. Gue meng angsuran satu sendok nasi goreng ke mulutnya. " Enak gak?". "Enak kok--". " Dihabisin ya!". "Iya". Gue rasa Rio laper campur doyan deh. Tapi gak jamin setelah ini dia bakalan muntah lagi. Terbukti disuapan ketiga dia kembali muntah. Untung aja dia gak muntah di kasur. Bisa repot gue. Rio menahan berat tubuhnya di wastafel, membasuh wajah dan mengeluarkan isi perutnya. Seketika gue mengelus perut yang masih rata ini. Niat banget kamu mau nyiksa papa sendiri, Nak. "Minum dulu, jangan dihabisin kalau gak kuat, Bang". Kata gue sembari menuntun nya. " Kok aneh sih, Fy! Yang hamil kamu tapi kok aku yang muntah - muntah". Katanya seolah tak Terima. Gue cuma tersenyum kecil. "Kan aku udah bilang, namanya juga couvade syndrom. Kamu nya jangan sampai stress juga. Kamu sendiri kan yang bilang aku harus happy, biar babynya sehat. Lah, apa kabar kalau papa nya sendiri gak happy tapi malah stress?". Terang gue sambil mengurut kepalanya. "Anggap aja itu bawaan bayi, Terima nasib. Toh kamu yang nanam benih kan, ya udah tuai lah hasil nya". Lanjut gue. Gue dengar Rio berdecak tak suka. Tapi gue gak peduli. Gue masih memijat kepala sampai ke pundaknya. Setelah dirasa Rio sedikit enakan, gue pun membereskan piring tadi. Tapi suara bel malah menyita perhatian kami. "Aku ke depan bentar". ** Ternyata ibu dan bapak yang datang. Gue membawa mereka masuk ke rumah. Bapak meletakkan koper lalu duduk di sofa bersama ibu. Sementara gue ke dapur untuk mengambil kan mereka minum. " Rio mana Fy?". Tanya bapak.. "Dikamar Pak. Dia sakit-". " Loh, sakit apa dia?". Gantian ibu yang cemas mendengar mantunya sakit. "Tadi siang katanya muntah di kampus, pas pulang sore ini muntah lagi". Jelas gue. "Trus udah di kasih obat?". Gue gak tau yang gue kasih tadi apakah masuk kategori obat atau bukan. Hahaha. " Ify gak tau obatnya, Bu. Tadi Ify cuma kasih biskuit asin sama permen Mint. Rio juga minta dibuatin nasi goreng tapi dia muntah lagi". Ibu dan bapak mengangguk paham. Kemudian mereka melihat Rio yang masih mendekam di kamar kami. Rio terbangun saat ibu menyentuh keningnya yang basah oleh keringat "ehmm Ibu--". " Tidur aja! Ibu cuma mau lihat kamu". Rio tersenyum kecil dan beralih kepada bapak. "Kok bisa sakit sih, Nak?". Tanya bapak. " Kata Ify, Rio kena couvade syndrom, Pak". Bapak dan ibu saling menatap satu sama lain. Gue pun menghela nafas pendek. Suami polos amat. "Ify hamil, udah satu bulan". Kata gue santai. Sontak bapak dan ibu bahagia mendengar kabar tersebut. Mereka berdoa agar janin gue kuat dan bisa lahir dengan selamat. " Wajar kalau kamu yang muntah - muntah, Yo. Cuma pas di trimester pertama kok, setelah itu enggak lagi. Kamu rutin makan buah juga biar gak eneg mulutnya". Kata ibu "Iya, Bu". Bapak menyuruh Rio kembali beristirahat karena beliau tau, Rio masih butuh untuk memulihkan tenaga. Gue mengajak mereka makan malam terlebih dahulu sebelum mereka ke hotel tempat acara reunian itu dilaksanakan. Mereka tak jadi menginap di rumah karena dirumah sederhana ini cuma ada satu kamar. Gue menawarkan agar mereka tidur dikamar saja, tapi mereka menolak. Lantaran Rio masih sakit, gak mungkin kalau harus tidur di luar. Dan gak mungkin juga gue nyuruh ibu sama bapak tidur diluar. Dasar aku. "Kapan taunya kamu udah isi, Fy?". Tanya ibu. Gue mencium bau-bau ke kepoan seorang calon nenek. "Kemarin aku sama Rio cek dokter, Bu. Menstruasi aku gak datang sebulan, ya udah cek bareng-bareng pas pulang kuliah ke dokter". Kata gue. Mana tega gue bilang ke ibu kalau kemarin adalah tragedi sialan yang dilakukan oleh senior laknat sekaligus mantan pacar Rio itu. Ibu dan bapak terlihat bahagia mendengarnya. Gue tau, mereka udah lama menginginkan seorang cucu setelah gue menikah dengan Rio. Tapi ketika gue sama Rio masih perang dingin, gue berdalih kalau kami berdua sedang sibuk dan tak sempat memikirkan anak. "Kamu jangan sibuk sama kegiatan di kampus, jadi asdos juga harus dikurangi. Jangan capek-capek ya, Nak". Gue mengangguk patuh mendengar nasehat ibu. Lo tanya bapak gue? Beliau mah anteng wae. Gue tau dia senang, cuma cara nya untuk mengekspresikan rasa senang itu berbeda dengan ibu. Makan malam telah selesai, ibu memilih mandi sebelum pergi. Sedangkan bapak duduk sembari bermenung panjang di teras depan. "Pak--". Panggil gue. Beliau menoleh dan menyuruh gue duduk disebelahnya. " Minum kopinya dulu". Kata gue. Bapak hanya menjawab iya. Gue merasa bapak tidak baik-baik saja. Beban tak kasat mata seolah menjadi alasan kenapa bapak termenung seperti itu. Gue pun menyentuh pundak beliau. "Bapak kenapa, Pak?". Beliau menggeleng pelan. "Enggak ada. Kamu,, harus jaga kesehatan ya Fy! Cucu bapak sudah akan hadir". Gue terkekeh lalu memeluknya dari samping. Merebahkan kepala dipundak yang sudah hampir renta itu. " Bapak juga musti jaga kesehatan. Biar bisa lihat cucu bapak lahir. Nanti bisa bawa dia jalan-jalan juga". Kata gue sembari menerawang panjang. Bapak mengelus rambut gue dengan lembut. Hal yang paling gue sukai sejak kecil. "Kamu sudah dewasa, Fy. Waktu terlalu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kamu masuk SD dan sekarang kamu sudah menikah dan hamil". Kata bapak lagi. Gue gak mau membuat moment haru ini ternodai, sebisa mungkin gue menorehkan senyum terbaik. Gue mau nangis, coeg. Asli uuh. " Allah udah ngatur hidup Ify sebaik mungkin, Pak. Dengan jalan Ify harus menikah dengan seseorang yang Bapak pilihkan, Ify ikhlas. Karena itu adalah Qadarullah. Ify pun sebagai anak harus nurut apa yang bapak sama ibu bilang". Bapak tersenyum kecil. Wajah nya mulai berkeriput, sedikit lusuh dan berkaca-kaca. Gue makin gak kuat. "Apa yang bapak inginkan ini, apakah membuat kamu tertekan Fy?". Dulu iya Pak. " Insya Allah enggak, Pak. Bapak gak usah pikirkan apa pun. Bapak harus sehat dan jangan kerja terlalu capek. Disini ify bahagia kok. Tenang aja ya!". Kata gue sembari mengulas senyum teduh. Gue masih betah untuk berlama-lama bersandar di pundak bapak. Lelaki pertama yang menjadi sandaran hidup gue, cinta pertama gue dan lelaki yang sepenuhnya gak pernah membenci gue. Gue percaya seorang perempuan memang akan lebih dekat kepada ayahnya. Dan itu berlaku gak hanya untuk orang-orang diluar sana. Tapi untuk gue juga. Seseorang yang gak pernah meninggalkan elo meskipun beribu kesalahan yang lo perbuat, dialah yang selalu berdiri di barisan paling depan untuk membela diri yang berdosa itu. Dia, lelaki yang lo sebut bapak, ayah, papa atau apalah selaku panggilan tercinta. Gue sayang bapak. ***** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD