Opposite 9

2305 Words
Rio's side ya gaes... . . . . . . . . . . "Selamat istri anda hamil!". Kalimat bahagia yang gue nanti selama ini terdengar juga.  Alhamdulillah,  ya Allah. Akhirnya gue bakalan punya anak.  Dokter Daniar tersenyum melihat reaksi gue. "Tolong kandungan istri nya di jaga,  ya! Usia janinnya sudah berjalan empat minggu, masih terlalu rentan". Jelas nya lagi.  Gue mengangguk paham. "Ada yang harus menjadi larangan untuk Ify,  Dok?  Misalnya kegiatan atau apa?  Mengingat kami berdua masih kuliah dan kemungkinan jadwal padat". Kata gue meminta saran.  "Ada!  Kegiatannya jangan terlalu berat,  jika kegiatannya outdoor,  usahakan bumil jangan ngangkat berat-berat dan jangan kecapekan,  nanti saya kasih vitamin dan rekomendasi s**u ibu hamil untuk istri anda". Sepertinya kerja gue akan ekstra mengingat Ify tengah berbadan dua sekarang. Setelah mengucapkan terimakasih karena Ify tak kenapa-kenapa,  gue pun melihatnya di ruangan.  Dia tengah menutup mata dan menatap ke arah luar. Gue menghampiri dan menyentuh keningnya. "Sayang!". Dia tersenyum manis lalu mengambil tangan gue yang ada di keningnya. "We'll be a parents!". Kata gue bahagia,  dia terkekeh dan mengangguk riang.  Dia menyentuh perut rata yang berisi janin itu. " Alhamdulillah! Aku seneng banget akhirnya dapat amanah ini,  Bang". Katanya terharu.  Gue mengangguk setuju.  Kami di percaya menjaga titipan sang Maha Kuasa. Tiba-tiba gue teringat kejadian yang menimpa Ify tadi. Pandangan gue berubah menjadi selidik tajam "Kenapa kamu dengan Alista,  Fy? Kenapa dia bisa dorong kamu?". Gue lihat dia menghela nafas panjang. "Dia nanya soal hubungan kita.  Dan ngancam--". "Ngancam gimana?". Tanya gue gak nyantai,  Ify mendengus sebal karena gue motong ucapannya. "Dia ngancam kalau gue ngerebut elo,  dia bakalan buat perhitungan sama gue! Dah puas?!". Panggilan Ify berubah menjadi gue-elo.  Gue gak suka sih,  tapi gue tau dia lagi kesel ya sudah lah.  Besok kalau dia masih nyebut elo-gue lagi,  bakalan gue lakban pake bibir gue.  Lihat aja! "Ck!  Udahlah,  gak usah dengerin dia!". " Aku ngaku ke dia kalau kita udah menikah". Kata Ify pelan.  Gue mengelus pipinya pelan. "Aku juga! Bahkan di depan anak-anak kimia yang ada disana tadi". " Sumpahlah???". Dia bertanya namun seperti berteriak,  kesel juga gue kadang.  Untung bini gue.  Ck dasar cinta! Sebenernya gue yang akan buat perhitungan ke Alista karena dia udah berani - beraninya nge dorong Ify sampe pingsan. Demi apa,  istri gue lagi hamil. Untung aja calon bayi kami gak kenapa-kenapa.  Kalau sempat terjadi sesuatu,  Alista habis di tangan gue. "Kita pulang ya!  Kamu harus istirahat kata dokter.  Jangan banyak kegiatan,  masalah asdos kamu gak boleh ambil banyak - banyak kelas,  Fy!". Dia mengangguk patuh, dan gue seneng ngeliatnya.  Memang istri penurut harusnya gitu. *** Kami pulang kerumah setelah sebelumnya mengambil vitamin dan obat-obat yang harus Ify minum untuk penguat janin.  Gue gak ngerti sih,  gue Terima aja.  Toh,  Ify kayaknya paham.  Ehe. Sebelum pulang tadi pun kami sempat berbelanja stok bahan makanan di dapur,  sekalian membeli s**u ibu hamil yang di rekomendasi kan oleh Dokter Daniar. "Bang--". Ify memanggil gue. "Kenapa Fy?". Dia menyerahkan secangkir teh hangat ke gue.  " Masalah yang tadi,  gimana jadinya? Aku takut nanti Kak Alista makin nekat,  Bang". Katanya takut.  Ify sedang hamil dan dia gak boleh sampai stress,  akan berbahaya untuk anak kami nanti. "Jangan dipikirkan Fy! Itu urusan aku,  kalau dia ngapa-ngapain kamu bilang ke aku". "Tapi kalau dia berani gimana? Kita dikampus gak setiap saat bisa deket,  Bang.  Aku kuliah--". Ini nih yang malasnya dari bumil,  kebanyakan ekspektasi. "Kamu juga gak setiap hari sekelas sama dia kan,  Fy? Lagian kalau kamu takut atau ngerasa gak aman,  kamu bisa nunggu di sekre HMJ,  atau ke labor". "Kak Alista di labor,  yakali aku kesana". Nah itu dia tau.  Kan heran. " Terserah kamu,  Fy! Pokoknya kamu gak boleh banyak pikiran,  gak boleh capek-capek,  harus happy biar baby nya juga bisa tumbuh sehat". Kata gue nyinyir.  Dia malah terkekeh lalu memeluk gue dengan erat.  "Iya iya,  bawel deh!  Tapi makasih udah perhatian ke aku". Katanya manja.  Gue makin mempererat pelukan kami. "Sudah seharusnya aku seperti itu,  Fy".  Kata gue sepenuh hati. **** Keesokan hari nya,  gue dan Ify ke kampus bareng.  Perihal Alista,  sepertinya gue harus ngomong berdua dan menegaskan hubungan gue dan Ify secara langsung.  Biar dia gak jadi pelakor beneran.  Hari ini Ify ada kelas,  gue juga. Kami kuliah matakuliah biokimia,  bedanya Ify dapat biokimia 1 sedangkan gue biokimia lanjut.  Semesta memang sudah merencakan,  menurut gue.  Lo pikir aja lah,  kelas gue sebelahan sama kelas dia.  Dan lagi,  gue satu partner sama dia di praktikum kimia analitik. Istri gue malah daftar jadi asisten dosen di matakuliah wajib itu.  Kan gue yang greget sendiri dengan kesibukan dia. "Bang,  aku masuk dulu ya!". Kata nya,  gue mengangguk lalu memasuki kelas juga.  Dikelas udah rame banget sama mahasiswa lainnya. Gue duduk di kursi deret ketiga.  Golongan orang-orang biasa aja.  Alvin datang dan duduk di sebelah gue. Dia menepuk pundak gue seolah berkata lewat bahasa tubuh.  Sayang gue gak paham. " Lo kenapa Vin?". Tanya gue.  "Gak nyangka gue,  kalau lo udah nikah!". Katanya.  Gue tersenyum tipis lalu tanpa sadar mengelus cincin pernikahan yang melingkar di jari manis gue.  Praktis,  pandangan Alvin teralihkan ke sana. "Ck!  Gue pikir lo bakal nikah sama Alista,  taunya sama Ify". " Emang kenapa kalau sama Ify? Ada yang salah?". Tuding gue tak suka,  dia malah terkekeh renyah dan menggeleng cepat. "Enggak,  bukan gitu maksudnya!  Ya lo lihat lah sendiri, kalian pacaran udah lama eh taunya lo malah nikah sama orang lain". Perkataan Alvin sungguh lucu. " Belum tentu yang pacarannya lama kayak yang lo lihat itu bisa sampai ke puncak pelaminan.  Bisa sih sama-sama ketemu,  cuma salah satunya sebagai tamu". Kata gue menanggapi.  Dia tertawa lagi.  "Bener sih! Ya sudahlah,  semoga lo dan Ify bahagia selamanya.  Jagain dia,  jangan jutek mulu ke dia.  Gak dapet jatah baru tau rasa lo!". Gue hanya mengangguk patuh. "Btw,  kalian nikah kapan sih? Kok sampai gak ketahuan gini?". " Akhir Januari kemarin". Alvin mendelik tak percaya. Gue cuma berdehem singkat. "Serius lo? Hampir setengah tahun dan gak ada yang tau kalian udah nikah?". Tanya nya tak percaya,  gue cuma mengangguk santai.  " Selama itu kalian nikah,  Ify udah isi belum?". Alvin memang manusia terkepo di kimia.  Bisa dibilang dia lambe turah nya kimia,  gue pernah saranin dia buat akun lamtur khusus kimia.  Kalau tu anak ngikutin saran gue,  emang fix dia udah bego sejak dari biji 'kecambah'. "Menurut lo aja deh". Kata gue malas,  dia memutar bola mata saking kesal nya dengan jawaban gue.  Ehe. "Tinggal jawab aja susah banget sih,  Yo!". Gue mendelik melihat caranya menuntut. " Udah! Dia hamil satu bulan". Alvin tersenyum mendengar jawaban gue.  Gue rasa dia mulai mencari sensasi dan membuat berita dari mulut ke mulut. "Kok baru sekarang sih? Kalian kan udah nikah dari Januari". Alvin dan ke kepoan nya.  Malas nanggepin manusia macam dia. *** Setelah kuliah biokimia lanjut selesai,  gue meminta Alista untuk berbicara berdua sebentar.  Dia hanya diam ketika kami saling berhadapan.  Gue melihat tatapan rindu Alista yang memuja.  Sedikit ada sesak ketika dia menatap seperti itu.  "Yo kamu--". "Apa?". Alista terperanjat ketika gue membentak nya dengan intonasi tinggi. " Beneran kamu udah menikah dengan Ify?". Gue berdehem lalu menatap Alista tajam. "Ya. Gue udah menikah dengan Ify.  Sejak Januari lalu". Alista terkejut tak menyangka.  Gue memalingkan wajah agar tak melihat wajah sedih itu.  Nyesek Man! " Jadi karena itu kamu mutusin aku,  Yo?  Karena kamu milih menikah dengan Ify dibanding aku?". Gue diam masih belum ingin menanggapi. "Aku sama kamu udah lama,  Yo!--". " Lama pun gak menjamin kita berjodoh,  Lista! Gue sama lo itu emang takdirnya udah gak bisa sama-sama lagi. So,  jangan ngedrama soal perasaan.  Kita cukup sampai disini!". Alista menangis mendengar ucapan gue. Gue menghela nafas panjang lantaran sikap Alista yang baper banget.  Jujur,  gue emang laki-laki dengan perasaan yang sukar untuk di sentuh,  tapi melihat perempuan dihadapan gue menangis gue jadi gak tega juga.  "Maaf untuk semuanya dan terimakasih udah bersedia berjalan di samping gue.  Gue pamit!". Gue pun berlalu dari Alista,  tapi tiba-tiba dia menarik gue dan mencium bibir gue tanpa permisi. Gue syock,  Alista benar-benar keterlaluan.  "Alista!". Dia menatap tajam gue. "Please,  kamu balikan lagi sama aku, Yo! Aku rela jadi yang kedua asal kamu bisa sama aku lagi!". Katanya nekat.  Gue gak nyangka seorang Alista bisa berbuat demikian. " Alista,  denger! Kita udah selesai dan gak ada cerita di hubungan ini!  Lo bisa cari pengganti gue,  lo cantik dan masih banyak yang suka sama lo! Jangan ganggu gue apalagi Ify!". "Secepat itu kamu berpaling dari aku,  Yo? Hanya karena Ify? Yang jelas - jelas sering kamu sudutkan ketika dia baru masuk sampai sekarang?! Hebat,  pakai pelet apa dia?". Gue berdecak sebal mendengar nada sinis Alista yang tak suka terhadap keputusan gue.  Dibalik paras cantiknya,  Alista adalah perempuan yang tak suka di saingi, apalagi dalam hal cinta. "Tolong lupain gue! We've done,  no more!". Gue sudahi pembicaraan laknat itu,  meninggalkan Alista yang meneriaki nama gue. Maaf Alista,  tanggung jawab gue nyata sekarang.  Bukan lagi sekedar pelepas rasa bosan seperti dulu. Ify dan calon anak gue butuh gue untuk melindungi mereka. *** Ify's side ya gaes.. . . . . . . . . . Mata kuliah gue udah selesai.  Gue laper banget pengen makan bubur ayam,  tetep aja makanan lembek itu jadi favorit gue dalam keadaan apapun.  Gue duduk di sekre HMJ sambil pesen delivery bubur.  Udah sore sih,  tapi gapapalah untuk sekalian makan malam.  Muehehe,  gue lagi mager masak.  Entah kenapa. "Buk bend!!  Bayar uang kas". Gue tersenyum mendengar kata-kata tersebut.  Staf ahli yang sadar akan kewajiban harusnya gini.  Dengan cepat gue mengeluarkan buku tabungan a.k.a buku kas HMJ. "Kak Ify gak kenapa - kenapa kan,  Kak?". Tanya Yola dengan raut wajah serius,  gue mendelik lalu menggeleng pelan. " Enggak! Emang kenapa,  Yol?". "Soal kemarin itu loh,  Kak!  Kan kakak pingsan gara-gara di dorong sama Kak Alista". Ah, shitt! Ternyata perkara kemarin menjadi trending topic di warga kimia.  Gue menghela nafas pendek. " It's ok,  Dek!  Kakak baik-baik aja kok! Thanks udah bertanya". Kata gue mengulas senyum kecil.  Yola dan Ibram mengangguk santai. Setelah mencatat pemasukan,  gue mengecek ponsel  melihat sudah sampai dimanakah abang-abang ojol mengantar pesanan gue. "Kak--". Ibram menatap gue.  Ibram ini junior satu tingkat di bawah gue,  dia staf ahli departemen penalaran akademik di HMJ. Cogan angkatan,  plus ketua angkatan juga. Kurang apalagi coba? "Kenapa, Dek?". Tanya gue. "Kakak beneran udah nikah sama Bang Rio?". Sontak pertanyaan Ibram membuat beberapa manusia yang mendiami sekre jadi menoleh ke arah kami. Bener kan! Kejadian kemarin menjadi pusat perhatian orang-orang.  Mereka menaruh minat terhadap hubungan gue dan Rio.  Great lah ya! Perlahan gue menghela nafas lalu mengangkat telefon dari abang ojol. Gue permisi sebentar untuk mengambil pesanan tadi. Setelah melakukan transaksi,  gue pun balik ke sekre. Yaiyalah, tujuan gue kan mau makan. "Eh,  Kak Ify pesen makanan kok gak bilang-bilang sih!". Gue terkekeh lalu mengedikkan bahu tak acuh. "Kalau mau,  ambil aja tapi jangan banyak-banyak". Kata gue santai.  Kompak mereka menggeleng tidak. " Jadi,  jawaban nya apa Kak?". Ibram masih kukuh bertanya.  "Yes,  i'm getting merried with him.  Ada lagi?". Mereka melongo mendengar jawaban gue.  Lah,  kan iya!  Trus gue salah gitu? Dasar netijen. " Sejak kapan Kak? Kok gak ada undangannya sih?". Ini lah yang membuat gue malas,  mereka semakin kepo dengan kehidupan gue. "Kakak bakal kasih tau singkat,  padat dan jelas.  So,  setelah itu jangan banyak tanya lagi!". Mereka mengangguk patuh. " Kakak nikah akhir Januari lalu,  udah hampir setengah tahun. Nikahnya di Batam, cuma keluarga yang tau. It's our privacy,  please be appreciated,  ya!". Dah,  gue pun memakan bubur yang masih hangat itu dengan lahap. Mereka cuma melihat gue dan tak bertanya lagi. Gue rasa cukup untuk klarifikasi nya. "Kakak udah isi belum?". Pertanyaan Yola menghentikan laju kunyahan gue.  " Alhamdulillah udah.  Do'akan baby nya baik-baik aja ya!". Mereka terpekik mendengar pernyataan gue.  Dasar anak-anak labil.  Tapi gue seneng,  mereka mengucapkan selamat dan berdoa semoga gue dan calon anak gue selamat hingga proses persalinan kelak. Setelah itu tak ada lagi pertanyaan seputar menikah dan kejadian kemarin. Mereka memahami porsi masing-masing dan tak ingin mengusik yang sudah - sudah. Alhamdulillah. Pukul empat sore,  Rio datang ke sekre. Kayaknya dia dari labor deh. Laki gue itu duduk di sebelah gue dan meminum air mineral yang gue bawa. "Udah makan?". Gue mengangguk. " Mual gak?". Gue menggeleng. "Pengen sesuatu?". Gue menggeleng lagi. Dia menghela nafas pendek. Gue cuma tersenyum kecil. " Pulang yuk!  Capek banget kayaknya". "Tadi aku muntah di toilet labor". Adunya. Gue kaget dong,  sejak kapan Rio bisa muntah. Badan segede gaban gitu bisa muntah juga? Baru tau. Hm. " Kok bisa? Emang makan apa tadi?". Tanya gue sembari mengecek suhu tubuhnya. Rio menurunkan tangan gue dan menggenggamnya. "Tadi gak sengaja tercium bau parfum Denis. Ya udah,  Wassalam deh!". Gue terkekeh lalu menarik tangan yang digenggam itu.  Gak enak lah,  kan masih di kampus. " Trus sekarang gimana?". Gue memijat pelan pundaknya. "Lemes dikit. Mau makan tapi mulut pahit gitu rasanya". Gue mengangguk paham. " Jangan-jangan kamu kena Couvade syndrome". Rio menatap bingung. "Maksudnya?". Gue berdehem sejenak lalu menjelaskan apa itu Couvade syndrome.  Couvade syndrome itu ketika suami yang merasakan ngidam atau mual-mual saat istri sedang hamil.  Penyebabnya karena rasa empati dan stress secara bersamaan. Jadi,  ketika istri hamil yang ngerasain mual,  sakit-sakit dan ngidam itu adalah suami.  Gitu sih kira-kira.  Gue tau ketika baca salah satu artikel tentang kehamilan yang dikirimkan oleh sepupu gue yang udah menikah tahun lalu. Meskipun gak semua ngidam yang ngerasain suami,  bumil pun kadang-kadang menginginkan sesuatu. Rio tampak mengangguk setelah mendengar penjelasan gue. Sejak beberapa hari lalu gue juga ngerasain ada yang beda dari Rio,  dia selalu pucat di pagi sampai disiang hari.  Menolak untuk memakai parfum dan mengganti parfumnya menjadi parfum bayi.  Kan aneh. "Kita pulang ya! Biar kamu istirahat, nanti aku kasih perment mint sama biskuit asin". Rio menuruti ajakan gue untuk pulang. Untunglah dia masih kuat menyetir mobil. Ah,  suami ku yang malang. ***** #SalamAnakRantau
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD