Ini Ify's side ya gaes...
.
.
.
.
.
"Apa lo bilang?". Gue terkejut setelah menceritakan apa yang terjadi antara gue dan Rio kepada ketiga sahabat gesrek gue ini. Mereka heran kenapa kok gue bego, enak aja! Gue gak bego ya!
" Lo biarin Bang Rio nahan gairah karena gak lo kasih jatah? Demi apalah ha? Tega lo jadi istri". Kata Viana. Gue mendengus sebal. Kenapa gue yang kena hardik mereka? Kenapa gue yang di hujat? Padahal kan gue cuma belum siap. Dan gue ngerasa wajar gak ngasih apa pun ke Rio tadi malam, karena dia ngelakuinnya gak pake cinta. Buat apa? Rugi dong gue!
"Astaga Mariana anak Pak Tanjung--". Gue mendelik tak suka ketika Agni menyebutkan nama belakang keluarga gue. Apa apaan dia, huh!
" Kalau udah baikkan itu bagus. Pake banget malah, tapi jangan sampe lo gak kasih jatah juga ke Bang Rio! Apa yang dia bilang soal skinship dan hubungan intim itu bener, Fy! Lo pernah baca artikel tentang pernikahan atau buku - buku pernikahan gak sih?". Katanya gemas melihat kekukuhan gue. Gue berdecak malas.
"Ngapain sih, Ag? Gue gak mau rugi sendiri. Cowok kalau udah ketemu badan bohai apalagi gratis ya gak akan nolak! Dia bakalan ngelakuin pake nafsu, gak ada cinta di dalamnya! Gue cuma mau ada cinta dalam pernikahan kami, Ag. Itu aja kok!". Kata gue tegas. Gue bukan tipe perempuan yang bakalan mau aja ketika suami gue ngajak wik wikan tanpa ada cinta didalamnya. Gimanapun gue perempuan, butuh kepastian gimana perasaan dia ke gue. Titik.
"Trus lo biarin laki lo jajan di luar gitu? Lo mau dia minta jajan sama Alista?". Pertanyaan Shilla membungkam seluruh saraf gue. Gak siap.
" Mingkem kan lo! Mikir tu nyampe kesana dong, sayang! Udah bersyukur ya kalau lo sama dia itu baikkan sekarang, kasih lah hak dia Fy. Gimana pun dia belum buka puasa semenjak kalian merried, kan?". Gue mengangguk polos. Segala macam hujatan dan umpatan yang gue dapatkan dari ketiga cewek ajaib ini. Padahal niat gue berbagi cerita untuk mendapatkan nasehat, apa mungkin nasehat mereka berupa cacian dan makian?
"Kami bertiga gak mau tau! Besok udah harus ada berita baik dari lo dan dia! Dan dalam waktu dekat lo udah harus isi pokoknya--".
"Eh beruk nipah! Lo kata isi secepat kilat kayak beli bensin di pom bensin gitu? Ah, sudahlah ya!". Keluh gue berapi-api. Mereka malah tertawa b***t melihat ekspresi gue.
" As you know, beb! Artinya lo harus usaha dong. Kan pak tani nya udah mau nanem bibit, ladangnya juga udah ada kok! Kenapa lo malah rusuh sih?". Sumpah Demi apapun, gue,, gue,,,
"Anak onta, denger ya! Jangan sampai lo nyesel karena sifat keras kepala lo ini. Ini tu langkah yang baik untuk kalian, jangan disia-sia kan!". Kata Shilla yang diangguki oleh Viana dan Agni. Gue menghela nafas panjang, kalau di pikir-pikir sih bener juga. Gue masih gak rela kalau sampai ucapan Shilla tadi jadi kenyataan.
" Sekali aja, Fy! Turunin ego dan gengsi lo demi rumah tangga kalian. Lo juga pengen punya anak kan?". Lagi, gue mengangguk lambat. Mereka tersenyum lalu memberikan semangat untuk gue.
Panas di sore itu membuat kami dehidrasi, apalagi setelah mereka menghujani gue dengan berbagai ocehan yang bermutu versi mereka.
***
Gue pulang kuliah hari ini agak magrib. Berhubung tadi ada diskusi dulu di HMJ, gue membatalkan pulang lebih awal. HMJ gue ngadain acara futsal khusus anak MIPA se kota jakarta. Eventnya bulan depan, tapi prepare nya mulai dari sekarang dong. Di event kali ini gue gak mengambil bagian karena gue gak bisa bergerak sebagai panitia. Hanya sebatas mengawasi. Gak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika gue gak terikat kepengurusan, gue bisa leluasa masuk ke bagian kepanitiaan yang gue inginkan. But now, gue mengawasi. Ehe.
Setelah diskusi yang cukup panjang, gue pun pulang. Gue bawa mobil, saat di parkiran kampus gue gak lihat mobil Rio. Gue berasumsi tu laki udah dirumah atau pergi entah kemana. Semoga aja gak jajan di tempat lain. Gak terima gue, coeg.
Gue menghela nafas panjang ketika sampai dirumah mobil Rio juga gak ada. Kemana dia? Gue cek ponsel, tapi gue gengsi untuk ngasih tau dia kalau gue udah di rumah. Gue masih gengsi karena masalah tadi malam. Tapi gue juga takut kalau Rio main di belakang gue. Hiks, serba salah deh kan!
Untuk merilekskan pikiran, gue memilih berendam di bath up sebentar. Dengan aroma jeruk segar, gue berharap pikiran gue bisa santai dan gak tegang. Jujur, gue masih kepikiran Rio. Dia kemana? Padahal tadi malam dia minta gue untuk gak pergi dengan laki-laki lain tanpa seizin dia. Sekarang dia malah pergi, gue gak tau dengan siapa. Siapa tau dengan perempuan lain kan? Kenapa dia juga gak bersikap selayaknya dia meminta ke gue?
Setelah dirasa cukup, gue keluar dari bath up. Gue memasak untuk makan malam. Gak ribet, cukup ikan goreng dan sambal aja. Gue makan duluan karena keburu laper, gak peduli lah sama Rio yang entah kemana. Kenapa dia gak kasih kabar ke gue.
Kenapa gue jadi sensitif begini? Kenapa tiba-tiba gue butuh dia? Hikss. Perlahan air mata gue turun. Dengan sisa-sisa ketegaran, gue membersihkan piring kotor lalu masuk ke kamar. Gue duduk di kasur sembari bersandar. Gue menekuk lutu dan menghadap ke jendela. Air mata gue gak berhenti turun, gue terlalu sedih karena takut Rio bener-bener ninggalin gue. Gue takut apa yang Shilla bilang itu kejadian. Kan gak lucu baru baikkan, Rio malah cari jajan di luar!
Gue terkejut ketika pintu kamar terbuka dan menampakkan Rio dengan wajah lelahnya. Cepat-cepat gue menghapus air mata yang masih berlinang di pipi. Dia menghampiri gue dengan senyum teduhnya.
"Tadi pulang jam berapa?". Tanya nya sembari menelisik wajah gue.
" Ehm jam setengah tujuh". Jawab gue berusaha santai. Dia mengangguk paham, lalu mengambil handuk.
"Tadi kemana?". Tanya gue pelan seolah berbisik lirih. Dia berbalik menatap gue bingung.
" Mobil lo gak ada di parkiran pas gue pulang magrib tadi!". Lanjut gue.
"Gue ke cafe. Remember? Gue kerja". Katanya singkat. Gue mengangguk paham tak bertanya lagi. Masih takut kalau dia marah sama gue gara-gara semalam. Berkali-kali gue menarik nafas untuk memenangkan diri, tapi tetap aja gue gak baik-baik aja.
Sampai kemudian gue gak sadar kalau Rio udah duduk anteng di samping gue. "Eh--!". Kaget gue. Dia tersenyum manis.
" Mau makan? Gue siapin ya!". Dia menggeleng lalu menarik gue bersandar di dadanya. Gue mengakui kalau bersandar di d**a bidangnya sangat nyaman sekali. Rasanya gak mau lepas, eh.
"Gue udah makan tadi di cafe. Sorry gak ngabarin, ponsel gue kehabisan batrai dan lupa di cas". Gue cuma bisa ngangguk patuh. Dia mengelus punggung gue dengan lembut, menciptakan sebuah kenyamanan tersendiri untuk gue. Lama kelamaan sentuhan lembutnya berubah menjadi sentuhan sensual. Praktis gue menegakkan punggung dan menatap dia.
Gue tau Rio berkabut gairah, terlihat dari tatapan teduhnya itu. Sendu dan menusuk raga gue. Dia menyentuh gue dan bibir kami bertaut satu sama lain. Lumayan dalam hingga membuat gue pusing akan gairah. Ini gila dan gue gak mau lepas. Demi apa gue udah gila!
Ketika kami sama-sama butuh oksigen, pagutan panas itu terlepas. Rio menatap gue, gaun malam gue berantakan gitu aja dan gue udah duduk di pangkuan Rio. Astaga, gue seperti p*****r yang lagi bekerja sekarang. Tapi gue mendoktrin kalau apa yang gue lakukan ini udah bener. Dia suami gue, Rio suami elo Fy!.
"May I--". Gue mengangguk ketika Rio meminta lebih kepada gue. Dia tersenyum lebar ketika mendapatkan apa yang dia mau. Dengan lihai, tangan besarnya bekerja membuat tubuh gue serasa melayang. Sentuhan Rio membuat gue menggila. Dia tau cara memperlakukan perawan, kayaknya.
Bibir kami tak berhenti memagut satu sama lain. Gue menarik rambut Rio untuk berbagi kenikmatan. Tangan Rio berusaha melepas tali gaun malam gue. Hanya sekali sentakan, bagian depan gaun gue memperlihatkan keindahan duniawi. Lagi, tangan nakal Rio mencumbu d**a gue. Meskipun postur gue kecil dibanding dia, namun apa yang ada didiri gue terlihat pas. Terlebih dua gundukan tebal yang menggantung indah itu.
"Ah shitt!". Gue terpekik lantaran Rio mencubit puncak indah itu. Dia tertawa ketika melepaskan ciuman kami.
" Sakit ih! Jangan dicubit". Kata gue merajuk. Dia mencium puncak yang dicubit tadi, seluruh tubuh gue bergetar seketika menerima respon tersebut. Rio mencium nya berkali. Membuat gue gatal untuk meletakkan tanganya yang lain untuk mencumbu gundukan satunya.
Rio seperti tak sabaran dengan permainan yang kami ciptakan. Gue cuma bisa mengikuti gerakan dia. Gue tau Rio gak mungkin menyakiti istrinya.
Tanpa sadar gue udah polos tanpa sehelai benang pun. Rio melepas seluruh pakaiannya dan melingkupi tubuh gue. Gue memejamkan mata karena sedikit takut tapi Rio meminta gue untuk menatapnya.
"Buka mata lo, Fy! Tatap gue, lo lagi bercinta dengan suami lo". Spontan mata gue terbuka dan tatapannya Rio menghujam gairah yang sedang terbakar itu. Rio menuntun gue untuk bergerak agar kami sama-sama mencapai bagian inti. Sakit rasanya ketika penghalang itu ditembus, gue merasakan ada lahar panas memenuhi dinding rahim gue. Rio bergerak cepat dan gue gak bisa untuk gak teriak. Ya, gue meneriaki namanya. Dia tersenyum dan mencumbu bibir gue.
Tangannya yang lain ikut bekerja, menjelajahi tubuh indah gue. Bibirnya memberikan bekas merah di leher dan pundak gue. Alamat besok ke kampus pake baju yang kerah nya tinggi lah.
Ketika kami sudah mencapai puncak kenikmatan, Rio memeluk gue. Masih dalam posisi dia atas gue. Dia mencium leher gue seolah mencari sesuatu di sana.
"Lo ngapain sih?". Tanya gue. Tangan gue mengelus surai lembutnya. Entah kenapa gue suka banget bermain di rambutnya ini. Ketika pelepasan tadi pun gue menjambak rambutnya.
" Makasih Fy". Bisiknya lembut kemudian mencium kening gue. Masih terasa sakit, gue mencoba tersenyum kecil lalu mengangguk. Apa sebahagia ini menikah? Lo memberikan apa yang patut lo berikan kepada orang udah halal di mata hukum dan agama. Dan gue ada di posisi itu.
Gue masih di bawah kurungan Rio, mencium pundak lebarnya dan terkekeh sejenak. "Kalau hamil, lo siap kan Fy?". Pertanyaan macam apa itu?
" Menurut lo aja gimana deh". Kata gue merenggut. Dia malah tertawa. Ya lo pikir tujuan gue ngasih apa yang dia inginkan apa? otomatis kan gue pengen punya anak. Dasar laki.
"Gue tau lo lagi dalam masa subur, jadi gue berharap beberapa minggu lagi dia udah terbentuk disini". Rio mengusap lembut perut gue dan kami tersenyum bersama.
"Oh ya, tadi pas gue pulang lo kenapa nangis?". Nafas gue tercekat ketika ditanya demikian. Gak tau kenapa gue malah jujur ke dia.
"Gue takut lo pergi, Bang. Setelah semalam gue nolak lo untuk gak nyentuh gue, gue takut lo malah balik lagi ke Kak Alista". Dia mencium pelipis gue berkali-kali.
"Kenapa sampai berpikir seperti itu, hm?". Tanya nya.
" Karena gue nolak lo. Gue bilang, gue gak mau disentuh tanpa cinta--".
"Biarkan cinta tumbuh dalam hubungan ini, Fy. Kita belajar sama-sama untuk saling mencintai, kalau lo udah jatuh cinta duluan ke gue, bantu gue. Bantu gue untuk gak berpaling sampai kapan pun dari lo!". Pinta nya. Gue mengangguk patuh seraya tersenyum menikmati momen malam pertama kami. So ya, this is our first night.
"Gue sayang sama lo, Bang".
"Gue juga sayang sama lo, Fy".
*******