Sesampainya di rumah, gue menuntun Ify ke kamar. Dia masih sedih lantaran mengingat adanya anak di dalam rahimnya. Gue bukannya gak tau, jelas sangat tau. Dan gue juga merasakan hal yang sama.
"Lo mau makan?". Tanya nya pelan. Gue menukar baju di hadapannya. Hal yang sering gue lakukan di hadapan Ify.
"Enggak. Lo mau makan?". Dia menggeleng pelan. Sorot matanya memandang sendu ke arah jendela. Gue menghampiri dia dan menyentuh pundaknya lembut.
Kayaknya dia mudah terkisap dengan sentuhan tiba-tiba gue. "Apa gue selalu buat lo terkejut?".
Dia menghela nafas panjang.
"Enggak. Sorry. Refleks, i guest!". Kata nya santai. Gue meremas pundaknya menyalurkan setitik dorongan positif agar dia tidak sedih lagi.
"Gue mau bicara". Dia menoleh ke gue meminta penjelasan.
Gue menarik nafas sebentar menyiapkan kata - kata yang pas " Gue minta maaf, Fy".
"Gue minta maaf atas segala sikap gue yang gue lakukan ke elo selama ini, sampai kita menikah lo masih mendapatkan perlakuan yang gak baik dari gue--". Dia masih menatap gue dalam.
"Gue tau kalau maaf ini mungkin gak akan berarti untuk lo. Lo pasti berpikir kalau gue pencitraan. Haha, lucu".
"Gue mau kita baik-baik aja. Baik-baik dalam arti sesungguhnya, gue sama lo layaknya seperti suami istri pada umumnya. Tolong jangan ungkit lagi pernikahan yang hanya di atas kertas itu. Karena gue gak suka mendengar nya". Tatapan Ify tak lepas dari pandangan gue. Dia tersenyum kecil dan menarik ujung kaos yang gue pakai.
"Tapi--".
" Gue sama Alista gak ada hubungan apapun, Fy. Kami selesai!". Kata gue menyuarakan apa yang menjadi buah pikir Ify.
Dia menunduk dan kembali bergetar "Gue takut, Bang. Gue takut kalau Kak Alista marah sama gue. Pasti dia mikir kalau gue ngerebut elo dari dia--". Gue mendengus mendengar keluhannya.
"Alista gak tau kalau gue udah nikah sama lo, gak ada temen-temen gue di kampus yang tau. Kecuali temen gue di cafe. Tempat gue kerja".
" Lo kerja?". Tanya polos. Gue terkekeh lalu mengangguk. Karena terlalu lama bertumpu pada lutut, gue pun duduk di sebelahnya.
"Gue masih takut aja, Bang--".
" Takut apa Ify? Gak ada yang tau soal pernikahan kita. Kecuali, mungkin ketiga temen lo itu--". Praktis Ify mengangguk.
"Haa kecuali mereka. So, apa yang lo takutin? Kita jalanin semua nya berdua. Gak mungkin gue gak ngelindungin elo, gak mungkin gue gak bertanggung jawab atas elo". Kata gue lagi.
" Kenapa tiba-tiba lo mau berubah, Bang? Apa yang membuat lo berubah pikiran?".
"Gue ngerasa ini udah gak bener. Pernikahan seharusnya gak seperti ini. Gue,, dari awal gue ingin mengubah diri. Meskipun menolak, tapi lambat laun semuanya akan terjadi. So ya, kenapa enggak untuk berubah duluan? Toh, untuk lebih baik lagi". Kata gue masih ber usaha membuat Ify paham.
"Maafin gue juga. Maaf atas sikap cuek gue. Sebenernya, gue gak boleh gitu. Ibu pernah bilang, kalau suami bersikap acuh, istri tetap harus bersikap lembut. Tapi gue malah bersikap lain". Katanya menunduk lirih. Gue tersenyum lalu membawanya kepelukan gue. Gue tau dia sedikit kaku, entah karena gugup atau apa.
"Jangan pernah bilang kalau pernikahan kita sebatas kertas, Fy. Jangan pernah pergi dengan lelaki lain selain gue, atau tanpa seizin gue. Kita mulai mencoba kehidupan baru, setidaknya hormati pernikahan ini. Gue mohon". Gue merasakan jika Ify mengangguk dalam dekapan gue. Akhirnya gue dan dia bisa berdamai. Bendera putih itu berkibar setelah sekian lama terabaikan.
"Jadi, kita sekarang gimana?". Gue tertawa menandengar pertanyaan polos itu. Gue mengecup bibir ranum yang gak pernah gue dapatkan selama menikah itu. Dia terkejut, tentu saja. Spontan dia memukul pundak gue. Sakit banget, njir.
" Kok mukul sih?". Gue mendapati rona merah jambu di pipi nya.
"Main nyosor aja!". Kata nya jutek. Lalu beranjak dari ranjang, tapi gue tahan dia. Gue belum buka puasa semenjak kami menikah, gak salah dong kalau gue minta makanan pembuka.
" Ify, denger ya! Kita menikah hampir setengah tahun. Tidur satu ranjang, gue dan elo manusia dewasa, lo kata gue gak punya nafsu untuk nyentuh lo selama ini?". Dia terdiam. Kemudian gue menelusuri jejak wajahnya dan jemari gue berakhir di bibir indahnya
"Gue normal, Fy. Sebagai seorang suami, tentu gue punya hak untuk mendapatkan apa yang gue mau". Bisik gue pelan.
" Bukannya elo yang selama ini gak pernah ngasih nafkah bathin ke gue, Bang?". Katanya tersenyum sinis. Oh, jadi selama ini dia nunggu gue untuk nyentuh duluan? Cewek pinter. Berarti selama ini gue seolah salah banget dong?
"Jadi lo mau gue sentuh duluan, sayang?". Kata gue tersenyum licik. Dia malah bersembunyi di balik selimut. Hey, apa apaan dia! Dengan cepat gue gelitikin dia dan Ify pun keluar dari selimut sembari terbahak.
"Udah Bang udah! Enggak, ampun, udah!!". Dia memohon kepada gue untuk berhenti menggelitiki pinggangnya. Kami bersenda gurau di sore itu. Karena lelah Ify memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Gue tersenyum melihat perubahan drastis kami. Mungkin kah Ify juga menunggu perubahan ini? Tapi gengsi nya juga yang membumbung tinggi makanya dia gak berani memulai. Mungkin ya.
Setelah Ify selesai mandi, giliran gue yang menguasai kamar mandi. Dari dalam kamar mandi gue mendengar Ify bertanya sesuatu
"Lo mau makan apa untuk makan malam, Bang?".
" Apa aja, Fy. Olah aja bahan yang ada di kulkas". Kata gue santai. Gue gak mendengar lagi dia bertanya. Kemudian gue bergegas mandi.
***
Gue lihat Ify sedang menata makanan di meja makan. Gue turut membantu membawakan piring dan gelas serta air minum. Gue tau Ify orang yang ligat dan dia bisa diandalkan. Gak hanya urusan organisasi, urusan dapur dia gak kalah gesit.
"Lo mandi, abis itu kita makan malam sama-sama". Dia mengangguk patuh lalu meninggalkan gue sebentar. Gue merasa hidup gue lebih bernyawa sekarang, kenapa gak dari dulu aja gue kayak gini ya? Kenapa gue baru sadar sekarang?
Tak lama, Ify kembali ke meja makan. Kami pun makan bersama. Sesekali di selingi percakapan ringan untuk mengurangi rasa canggung. Setelah makan, gue membantu membereskan meja makan. Tak butuh waktu lama, kami berangsur ke kamar karena besok gue dan Ify ada kuliah pagi.
"Fy". Panggil gue. Perempuan itu sedang mencari sesuatu di lemari. Gue berusaha tahan dengan apa yang dipakainya. Gaun tidur berbahan satin dan sedikit transparan. Padahal gue udah sering ngeliat dia dengan baju seperti itu. Tapi kenapa malam ini rasanya beda.
"Kenapa?". Gue menatap dalam padanya. Motorik gue menggapai cepat tubuh langsing itu. Meskipun Ify kecil tapi tubuhnya proposional. Dia terkejut karena gue mengurungnya dari belakang. Lalu mencium pundaknya.
" Lo kenapa Bang?". Dia menggeliat tak nyaman. Gue rasa gue butuh sesuatu.
"May i take--". Pinta gue sembari menatap teduh dirinya. Ify mengigit bibir bawahnya, oh damn! She's so sexy dengan gerakan bak slow motion itu. Gue gak tahan, dengan cepat gue mengangkatnya ke ranjang.
"Bang, gue belum--". Ucapannya terputus ketika gue mencumbu leher putihnya.
" Apa Fy?". Tanya gue gak sabaran. Dia malah terkekeh lalu menyentuh rahang tegas gue. Jemari lentiknya bermain di wajah gue. Dan itu ngebuat gue on seketika. Demi apa, gue suami nya dan gue normal!
"Lo yakin?". Gue mengangguk pasti.
" Lo,, lo belum siap?". Tanya gue ragu. Dia membuang pandangan ke arah jendela. Seperti ada jeda di permainan kami, gue menarik wajahnya agar menatap gue.
"Jawab Fy!". Dia menghela nafas pendek.
"Apa lo yakin Bang? Apa karena kita udah baikan, makanya lo minta hak lo malam ini? Bahkan kita melakukannya bukan atas dasar suka sama suka, apalagi,, cinta". Katanya. Jadi ini karena sebuah perasaan makanya dia terlihat ragu?
Gue membuang nafas jengah, masalah suka dan cinta gue rasa akan mengalir kemudian. Semuanya akan mengikut sesuai alur.
"Lo mau kita melakukannya karena ada perasaan suka dulu?". Dia mengangguk.
" Oke, gue suka!".
"Tapi gak cinta, kan? Buat apa? Gue gak mau tubuh gue di jamah dan mahkota gue lepas bukan karena sebuah perasaan ya, asal lo tau!". Katanya murka. Dia menjauh dari gue dan duduk di sudut ranjang. Gue mendekat dan menyentuh pundaknya namun ditepis kasar.
" Jangan sentuh gue, Bang!". Gue berdecak kesal. Gairah gue hampir terbakar namun Ify tak kunjung memberikan hak gue.
"Fy, denger gue! Suka dan cinta itu akan datang dengan sendiri nya! Kita kan baru mulai untuk membangun sesuatu yang bagus dalam rumah tangga. Jadi skinship dan hubungan suami istri itu bisa mendekatkan kita berdua--".
" Gue berasa jalang di sentuh tanpa sebuah perasaan!". Gue menganga tak percaya.
"Fy, gue suami lo! Gimana mungkin lo berpikir kalau gue seperti penjahat kelamin di luar sana? Gak habis pikir gue sama otak lo!".
" Yaudah! Gak usah sentuh gue. Gue gak suka, pergi sana!". Dia mengusir gue sepihak. Gue mencoba sabar dan berpikir kalau Ify memang belum siap untuk malam ini.
Perlahan gue menyunggingkan senyum teduh untuknya "Mungkin lo belum siap, its ok! Tidurlah, besok lo masuk pagi". Kata gue sabar. Dia belum bergerak dari keterdiaman nya. Tak ingin ambil pusing, gue memilih tidur dan mengambil tempat seperti biasa. Meninggalkan Ify yang masih menikmati pikirannya sendiri.
***
#SalamAnakRantau