Tania tampak lesu dan tak b*******h, dia menarik koper dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk mengotak-atik ponsel. Dia memperhatikan deretan nama yang ada di kontaknya, dia harus menghubungi siapa, sementara dia sendiri bingung dan tak tahu arah, menghubungi Rinda bukanlah solusi, karena dia orang yang paling dekat dengan Rega, sementara saat ini Tania ingin menghilang dari Rega.
Tania menghentikan langkahnya saat seorang pria berhenti di hadapannya, pandangannya tak beralih dari sepatu pria itu, dia hanya berharap semoga itu bukan Rega. Perlahan Tania mendongak dengan sedikit ragu, senyum merekah tergambar di wajah pria itu. Namun, Tania cemberut menatapnya.
"Kamu mau ke mana?" Pria itu berdiri tegap dengan kedua tangan dilipat di depan.
"Bukan urusan kamu." Tania bersikap dingin.
"Aku bisa bantu kamu, jika kamu mau."
"Nggak, makasih!" Tania hendak berjalan ke kiri, namun tubuh pria itu menghalanginya, Tania ke kanan, lagi-lagi dia menghalanginya.
"Aww." Pria itu meringis karena baru saja Tania menginjak kakinya dengan keras.
"Tan, tunggu!" Saat hendak pergi, Pria kekar itu menarik tangan Tania.
Tania menatap tangan pria itu. "Lepasin! Kamu mau apa lagi sih, Don?" Tania mendelik.
"Please, izinin aku bantu kamu, kamu butuh tempat tinggal? Kamu bisa tinggal di apartemenku."
Tania mendecih. "Najis!"
"Aku tahu kamu benci sama aku, tapi aku beneran nyesel banget, Tan."
"Aku nggak peduli." Tania melangkahkan kakinya, tapi lagi-lagi Doni menarik paksa tangannya.
"Aku serius, aku mau bantu kamu."
"Terima kasih, bapak Doni Anggara, saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri." Tania pergi meninggalkannya dengan langkah penuh percaya diri. Namun, Doni memeluk tubuhnya dari belakang. Tania merasa terkejut, dia marah dengan sikap kurang ajar Doni. "Dasar b******k!" Tania menyikut perut Doni dengan keras hingga pria itu mengaduh, Doni kemudian melepaskan pelukannya dan memegangi perutnya.
Lalu Tania berbalik dan satu tamparan mendarat di pipi Doni. "Kamu udah keterlaluan, Don!"
Doni meringis memegang pipinya. Lalu seorang pria menarik tangan Tania dan menuntunnya menuju mobil Fortuner miliknya. Tania hanya diam saat pria itu menariknya, dia tahu itu bukan Rega.
"Tania ...!" Doni memanggilnya sambil meringis.
Tania hanya meliriknya sekilas.
"Masuk?" Pria berkepala plontos itu membukakan pintu untuk Tania, dia berkata dengan sangat lembut.
Tania mengangguk, dia akan sangat berterima kasih, karena telah menyelamatkannya dari Doni.
"Kamu mau ke mana?" Pria itu kini telah duduk di sebelahnya dan siap mengemudikan mobilnya.
"Aku nggak tahu, Bay." Tania menyandarkan kepalanya di sandaran jok, tangannya membetulkan seat belt.
"Aku tahu kamu sedang ada masalah, aku ikut merasakan penderitaanmu," ucap Bayu.
Tania mengernyit, dia kemudian menoleh dan menatap pria itu. "Kamu ...?"
"Iya, malam itu aku melihat semuanya."
Tania menitikkan air mata, dia malu pada Bayu karena pilihannya.
"Kamu nggak usah nangis untuk pria seperti dia." Bayu mengusap lembut pipi Tania. Tania tak dapat berkata apa-apa, dia benar-benar malu dan dia tak tahu harus berbuat apa. Bayu menghidupkan mesin mobilnya. Sekali lagi dia melirik ke arah Tania yang tertunduk lesu.
"Kenapa kamu nggak batalin aja? Mumpung masih ada waktu." Tangan Bayu mengoper gigi, lalu melajukan mobilnya. Tania masih bergeming.
"Sebenarnya hati kamu untuk siapa? Coba kamu tanyakan itu pada diri kamu sendiri, aku pikir kamu bahagia dengan pilihan kamu."
Tania menyeka air matanya.
"Aku bisa memberikan cinta yang kamu mau, kamu tahu itu kan?"
Tania masih tertunduk, dia tahu perasaan Bayu padanya masih sama, apalagi Bayu adalah cinta pertamanya. "Tan, kita kenal udah lama, kamu udah ada dihati aku dari dulu, hingga saat ini pun masih sama." Bayu kembali meyakinkan Tania. Bayu kemudian menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi. Dia berbalik dan menggenggam tangan Tania.
"Pernikahan itu untuk seumur hidup, nggak mungkin kamu ingin mengulang setiap pernikahan dengan pria berbeda, iya kan? Tan, coba tanyakan lagi sama hati kamu, apa kamu yakin dengan pilihan kamu sekarang?"
Tania memeluk Bayu, dia menangis dan menggelengkan kepalanya di bahu pria itu. Bayu membalas pelukannya. Dia mengusap acak puncak kepala Tania yang terbenam di dadanya. "Bilang, Tan, bilang kalau pilihan kamu saat ini adalah salah." Bayu terus saja menyelami isi hati Tania.
Tania terus saja menangis, sulit baginya untuk mengungkapkan apa yang tengah menyelimuti hatinya. "Tan, aku nggak akan minta kamu atau maksa kamu buat balik sama aku. Aku cuma mau kamu bahagia dan mempunyai pendamping hidup yang tepat." Bayu menelungkupkan tangannya di kedua pipi Tania, dia menyeka air mata Tania dengan ibu jarinya.
Tania menatap mata Bayu, sorot matanya memancarkan ketenangan dan dia merasakan ketulusan dari setiap perkataannya. Jarak mereka semakin dekat, tiba-tiba seseorang mengetuk jendela mobil dengan keras. Tania terkesiap dan segera memalingkan wajahnya.
Bayu membuka jendela mobilnya, terlihat perempuan cantik berkulit eksotis sedang berdiri di depan pintu mobil. "Keluar kalian!" Wanita itu melipat kedua tangannya di depan.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang keluar," bisik Bayu pada Tania.
Tania mengangguk. Bayu keluar dan mengimbangi tubuhnya dengan Vanessa. "Kenapa Ness?"
"Sedang apa kamu?"
"Sedang apa aku, itu bukan urusan kamu." Bayu mendecih. "Pacar juga bukan, kenapa tiba-tiba sok perhatian?"
"Heh ..." Vanessa membungkukkan badannya, dia melihat ke dalam mobil. Tania yang sedang di dalam mobil merasa tidak nyaman, dia segera keluar dan menghampiri mereka.
"Kamu selingkuh dari mas Rega?" tuduh Vanessa.
Tania hanya menggelengkan kepala.
Vanessa tertawa licik. "Ternyata ... kamu lebih murahan dari aku, Tan."
"Ini nggak seperti yang kamu lihat, Ness," ucap Tania.
Vanessa semakin mengeraskan tawanya. "Tania ... Tania ... aku lihat loh setiap apa yang kalian lakukan. Berpelukan ... dan kalian hampir saja berciuman, kalau saja aku nggak mengetuk jendela, ck, udah deh."
Bayu mendecih. "Pikiran kamu terlalu m***m, Ness."
"Aah ... kamu terlalu naif untuk mengakuinya, Bay," cibir Vanessa. Vanessa berjalan memutari Tania, "Gimana ya, reaksi mas Rega kalau dia tahu ini?" Vanessa kemudian tertawa puas, "Aku akan katakan semua yang aku lihat padanya."
"Silakan saja! Aku nggak takut karena memang aku sama Bayu nggak ada hubungan apa-apa." Nada suara Tania terdengar menantang.
Seperti hantu, bahkan Rega sudah berada di belakang Tania. Pria itu berdehem
"Mas ... ini loh kelakuan calon istri kamu." Nada suara Vanessa sedikit menggoda.
Tania menoleh, dia terperangah saat mendapati Rega dengan wajah murkanya. "Jadi ini? Seharian kamu menghilang dan pergi bersama dia?" Telunjuk Rega mengarah pada Bayu.
Tania menggelengkan kepalanya.
"Jadi ini?!" bentak Rega seraya mencengkram kedua bahu Tania. Tania terdiam, dia hanya tidak ingin Rega melukainya lagi. Bulir air mata terjatuh di pipinya.
"Aku kecewa." Satu tamparan berhasil dihalang Bayu. Rega menatap Bayu penuh murka.
"Tania, masuk mobil aku sekarang," bisik Bayu. Namun, Tania tetap berdiri di tempatnya, dia tidak bergeser sedikitpun.
"Nggak! Tania harus pulang denganku," pekik Rega.
"Dokter, ini tidak seperti yang Dokter pikirkan." Bayu mencoba menengahi.
Sementara Vanessa mencibir, "Mas, tadi aku melihat Tania bersama Doni, sesaat kemudian Bayu datang dan membawa Tania pergi, mana mungkin aku nggak membuntuti mereka, secara aku sudah curiga kalau mereka ada main dari dulu." Vanessa terus mengompori Rega.
Tania menggelengkan kepalanya, "Aku nggak ada apa-apa sama Bayu, Mas, dia cuma nolongin aku lepas dari Doni," ucap Tania.
"Bohong, Mas, aku lihat mereka berpelukan di dalam mobil, mereka hampir berciuman, kalau saja aku nggak mengetuk jendela."
"Vanessa, cukup! Aku cuma membantu Tania untuk tenang. Dia sedang sedih. Ini nggak seperti yang kamu ucapkan tadi." Bayu muak pada Vanessa yang terus memperkeruh suasana.
Rega hanya menatapnya penuh amarah. "Mas Rega harus percaya sama aku, aku nggak akan khianati kamu, Mas." Tania tidak dapat menahan air matanya, raut wajahnya terlihat begitu sedih. "Mas." Dia meraih tangan Rega. Namun, Rega segera menepisnya. "Mas." Kemudian tubuh Tania ambruk, dia tertunduk lesu, bulir-bulir air mata berjatuhan. Hatinya terluka untuk kesekian kalinya.
Bayu membantu Tania untuk berdiri, dia menuntun Tania untuk masuk ke dalam mobilnya. Rega hanya mematung. Sementara Vanessa merasa puas atas kehancuran mereka.
"Jika cinta dokter tulus pada Tania, percayalah, bukan demi Tania tapi demi cinta kalian, lihatlah ketulusan Tania dengan hati bukan hanya dengan mata, apalagi mata perempuan seperti dia." Bayu menunjuk Vanessa dengan wajahnya. Lalu Bayu masuk kedalam mobil. Dia langsung menyalakan mesin mobilnya.
Sementara Rega hanya terdiam, dia hanya sedang berpikir, kenapa hatinya merelakan Tania pergi.