Go Anyway

1784 Words
Berlembar-lembar tisu, berserakan di lantai, Tania terus saja membuang ingusnya, dia menangis frustasi, baginya ini lebih dari sekedar dikhianati. "Sayang ..." Mia berdiri di depan pintu kamar Tania, tangannya memutar kenop pintu secara terus menerus. "Buka pintunya! Cerita dong sama tante kamu kenapa?" Mia khawatir, pasalnya Tania pulang dengan dandanan yang berantakan, raut wajahnya terlihat sedih. Tania berdiri di depan Mia, Mia tercenung menatap Tania yang terlihat begitu kacau. Tania langsung memeluk Mia. Mia mengelus-elus punggung keponakannya itu. Dia lalu mengajak Tania untuk duduk dan berbicara. "Ada apa?"  Tania terus saja menangis. "Aku ...."  "Kamu ada masalah sama Rega?"  Tania melipat bibirnya, dia kemudian mengangguk. Sudah seperti pada ibunya, Tania tidur dipangkuan Mia. Dia mulai menceritakan setiap detail kejadian yang menimpanya sejak satu bulan terakhir ini. Hingga Tania merasa terbebani dengan hubungan ini, dia merasa kalut, di sisi lain dia tidak ingin membuat malu keluarganya, sementara itu dia juga ingin memperjuangkan haknya. "Aku bingung, Tante." Air mata terus membanjirinya. "Kamu sayang sama Rega?" Mia mengusap-usap rambut Tania dengan lembut. Tania menarik napas. "Aku bisa lupain rasa sayang aku untuknya." "Suuutt ... enggak boleh gitu." "Jadi, aku harus gimana, Tante? Sementara mas Rega, makin hari dia makin kasar." Mia tampak berpikir, "Mending kamu menghilang beberapa waktu darinya, tenangin pikiran kamu." "Aku harus pergi kemana?" Tania memang ingin menghilang, tapi dia bingung sendiri dengan ide tantenya. "Heeemmmmhhh, kemana aja deh, ke Bogor kek, Bandung kek. Kemanapun. Pokoknya kamu menghilang." "Tante, yakin?" Tania mendongak, karena posisi dia masih tidur di pangkuan Mia. Mia mengangguk. "Untuk sementara kamu ganti nomor, jangan sampai Rega menghubungi kamu." "Tapi pasti dia akan nyariin aku sampai ketemu." "Iya, tante tahu itu." "Terus aku harus gimana?" Otak Tania benar-benar buntu. "Pokoknya sementara waktu, kamu biarin aja Rega kalut, biarkan dia menyesali perbuatannya, masalah dia nemuin kamu atau enggak, itu mah serahkan semuanya pada Allah." Tania masih berpikir, ucapan Mia memang ada benarnya. "Sayang, kalau kamu serius sayang sama dia, harusnya kamu berusaha buat dia berubah, bantu dia keluar dari traumanya." Tania mengangguk, dia mengerti apa yang dimaksud tantenya itu. "Tante yakin sekali, Rega itu orang yang baik, lembut, penyayang, tante bisa lihat dia ngemong kamu, kita hanya perlu memotong akar masalahnya saja." Lagi-lagi Tania mengangguk kecil. Dia duduk lalu memeluk Mia, "Makasih Tante, aku akan ikutin saran Tante." Mia tersenyum, lalu membalas pelukan Tania, "Sama-sama ... mending sekarang kamu istirahat, okay! Jangan banyak pikiran, nanti sakit lagi." Mia mengusap puncak kepala keponakannya itu. Tania beruntung bisa sedekat ini dengan tantenya, selain dia sudah menganggapnya sebagai ibu, baginya Mia juga berperan ganda sebagai sahabatnya. *** Pagi ini Rega terlihat sangat rapi, pria itu masih memainkan jarinya di layar ponsel. [Pagi sayang ... maaf ya hari ini aku nggak bisa jemput kamu, mendadak ada Jadwal, i love u ...] Rega bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Kini pria itu tengah berada di ruangannya, dia mengecek kembali ponselnya. Kemudian dia kembali mengirimkan pesan pada Tania. [Sayang aku baru nyampe, kamu jangan lupa sarapan, terus kalau mau naik taksi online, pesan drivernya yang perempuan ya.] Namun status pesan masih sama. Terlihat gurat kecewa di wajah Rega, saat ini hatinya sedang kalut merindukan Tania, setelah kejadian malam itu, tak ada komunikasi diantara mereka, kebiasaan Rega memang, dia akan mendiamkan Tania untuk beberapa saat jika Tania dalam keadaan marah, lalu menghubunginya kembali setelah menurutnya baik-baik saja. [Sayang kamu di mana?]  Rega masih berusaha keras menghubungi Tania. Berkali-kali dia menelepon, namun nomor Tania masih di luar jangkauan. Rega merasa Tania benar-benar masih marah. Rega memang belum mengantongi maaf dari Tania sejak malam itu, tapi dia akan tetap berusaha agar Tania mau memaafkannya. Rega meletakkan ponsel di atas meja, jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk meja kaca, sehingga menghasilkan irama yang unik. Pikiran Rega sedang kacau, dia tak sanggup jika sehari saja tak melihat Tania. Pria itu melihat kearah pintu yang sedang di ketuk. Tatapan matanya tajam dan bengis, mulutnya bergerak mengatakan sesuatu, dia menyuruh seseorang yang ada di depan pintu untuk masuk. Pintu kemudian sedikit terbuka, seorang perempuan menyembulkan kepalanya. Dia kemudian masuk dan berdiri di depan Rega. "Dokter hari ini ada jadwal pemeriksaan anak yang bernama Nino di ruang mawar, apa anda sudah memeriksa berkas yang saya berikan tadi?" Asisten Rega yang bernama Ayu, selalu bersikap ramah. "Saya lupa." Rega bersikap sangat dingin, tangannya membuka lembaran demi lembaran berkas yang Ayu maksud. "Yu ..." Rega memanggil Ayu dengan nada yang tak biasa. "Iya Dok." Ayu masih berdiri di depan Rega. "Kamu lihat Tania?" Dia tak menatap lawan bicaranya, matanya masih fokus dengan berkas yang ada di tangannya. "Tidak, Dok." Ayu memelankan suaranya. Rega memukul meja dengan berkas yang ada di tangannya, sehingga membuat Ayu terkesiap, seolah Rega sedang memarahi Ayu. "Maaf," lirih Rega, dia sadar telah membuat Ayu takut. "Yu, sampai jam berapa jadwal saya hari ini?" Rega merendahkan suaranya. "Sampai jam dua siang, Dok." Rega mengangguk. "Kalau begitu saya permisi Dok." Ayu  merasa tak nyaman berlama-lama di ruangan Rega. *** Sudah hampir setengah hari, Rega belum menemukan tanda-tanda keberadaan Tania. Dia memang menyadap ponsel Tania, namun jika Tania mematikan ponselnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Berulangkali dia membaca chat yang ia kirimkan pada Tania. Kemudian Rega mengingat Rinda dan segera melakukan panggilan pada adik sepupunya itu. Namun, Rinda tidak mengetahuinya. Rega mengerang frustasi. Tinjunya mendarat di dinding ruangannya, tak peduli tangannya sakit, dia terus saja mengumpat. Rega kemudian ke luar dari ruangannya, dia berjalan di koridor rumah sakit. Tanpa dia sadar seorang perawat berlari ke arahnya. "Dok, ada anak kecil kecelakan masuk UGD." ucap perawat yang diketahui bernama Dara. Rega terus saja melangkah, dia masih asyik dengan pikirannya. "Dokter?" Dara kembali memanggil. "Iya, Sus?" Rega menoleh. Dara mendengus kesal. "Dokter, ada anak kecil masuk UGD." "Kenapa?" "Kecelakaan, dokter." "Dokter Anwar kemana, bukannya bagian di UGD itu beliau?" "Mendadak Dokter Anwar ke ruang bersalin, istrinya mau melahirkan." Jelas Dara. "Terus Dokter yang lain?" "Saya nggak tahu Dokter, mungkin karena ini jam makan siang, saya hanya di suruh Dokter Anwar untuk meminta Dokter Rega menggantikan beliau." Rega mengangguk. Padahal dia berniat untuk mencari Tania, tapi niatnya harus ia tunda terlebih dahulu, demi tugas dan tanggung jawab seorang Dokter. Rega melangkahkan kakinya menuju ruang UGD. "Dokter, di sini," ucap Dara, dia merasa aneh dengan tingkah Rega hari ini. Rega menoleh, kemudian dengan ekspresi tanpa rasa malu sedikitpun, dia memutar balikan langkahnya. Seorang anak tengah terkulai lemah di atas ranjang, beberapa luka baret di tangan dan wajahnya, serta darah yang cukup banyak keluar dari kepalanya. "Anak ini namanya Radit, usianya Lima tahun, Dok, dia tertabrak mobil." Dara menjelaskan. Rega mulai memeriksanya hingga tak ada yang terlewat. Sementara Suster sibuk membersihkan beberapa luka, serta luka di kepala yang terus mencucurkan darah. "Luka dikepalanya cukup besar, siapkan alat untuk menjahit lukanya." "Baik Dok." "Anak ini banyak kekurangan darah, Dok." "Golongan darahnya apa?" "A negatif Dok, tapi stok rumah sakit habis, Dok." "Kalau begitu segera kabarkan pada keluarganya." "Baik Dok." ___ Hampir 45 menit Rega berada di ruang UGD. Rega segera ke luar dari ruangan itu. Dia menyeka peluh yang membasahi keningnya dengan punggung tangannya. "Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Seorang perempuan berwajah sendu mengejar Rega. "Ya, baik-baik saja, Bu."  Rega membalikkan tubuhnya, dia terhenyak melihat itu. "Mas Rega?" Rega tak menanggapi, tatapannya terlihat sangat dingin. Sungguh lima tahun berlalu, dia tidak pernah berharap akan dipertemukan lagi dengan wanita itu. Rega kemudian berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Entah ke mana dia akan pergi. "Dokter." Dara mengejarnya, namun Rega tak mendengar panggilan Dara. "Dokter Rega." Rega segera menoleh. "Kamu lagi?" "Iya Dok, anak yang bernama Radit kritis." Dara berbicara dengan napas yang terengah-engah. "Anak yang mana?" Dara memukul keningnya sendiri. "Ah Dokter ... anak yang di UGD yang dokter periksa barusan." Gadis yang usianya lebih muda dari Tania itu terlihat kesal. "Berani kamu kesal sama saya?" gumam Reza sembari berjalan melewatinya.  Dara segera menarik tangan Rega. "Bisa-bisanya dokter itu mengajak berdebat di situasi seperti ini," gumam Dara. Rega tahu ini masalah nyawa, bentuk dari rasa kemanusiaan, kali ini dia akan mengesampingkan egonya. Rega menatap anak malang yang sedang kesulitan itu. Dia segera melakukan tindakan. Anak itu sedang mengejang, tubuhnya kaku, nafasnya tersengal-sengal. Detak jantungnya pun melemah dan tiiiiiit... suara itu memekik di telinga. "Suster siapkan defribrilator ...!" "Siap Dok." "Bertahanlah, kamu anak yang kuat," ucap Rega menyemangati. Beberapa kali Rega menyentuh d**a anak itu dengan alat pacu jantung,  untuk membantu mengembalikan  detak jantungnya. Tut tut tut. "Alhamdulillah." Semua orang yang ada di ruangan itu bersahutan memuji Allah. "Anak yang kuat." Rega mengusap puncak kepala anak itu. Dia tak sadar jika ibu dari anak itu menyaksikan setiap tindakan yang dilakukan Rega. Sungguh jiwa kemanusiaan Rega lebih besar dibandingkan rasa dendamnya. Rega ke luar dari tempat itu, perempuan yang bernama Seila itu mengikutinya. "Terima kasih." Dia membungkukkan tubuhnya, dihadapan Rega. Rega mengangguk. Kemudian dia berlalu. "Tunggu mas, aku ingin bicara." Seila mengejarnya, semenjak kejadian itu, Rega selalu memusuhinya. Rega menghentikan langkahnya. "Mas, aku minta maaf dari hati aku yang paling dalam, selama lima tahun terakhir ini, aku tidak pernah bisa hidup tenang, aku mengalami trauma akibat kejadian tersebut, pernikahanku hancur, pria itu tidak mau bertanggung jawab, orang tuaku mengusirku, apalagi saat mereka tahu aku hamil." Rega melanjutkan langkahnya, "Ikut ke ruanganku sekarang!" Rega tidak ingin orang lain mengetahui masa lalunya. Seila mengangguk. Dia mengekori Rega menuju ruangannya. Kini dia telah duduk di ruangan Rega. Rega menelan salivanya, dia tampak gelisah. Sebaliknya Seila terlihat lebih tenang. "Mas, tolong maafkan aku? Agar aku bisa hidup tenang," mohon Seila. Rega bergeming. Amarah dan benci bersarang di hatinya, harusnya dia bisa melupakan pengkhianatan yang dilakukan Seila, harusnya Rega bisa melangkah tanpa bayang-bayang masa lalunya itu. "Aku nggak tahu sebenarnya apa motif kamu mengkhianati aku, selama lima tahun, aku kesulitan melangkah, bahkan dengan hubunganku saat ini pun, aku sering merasa takut pengkhianatan itu akan terulang kembali." Rega menarik napasnya. Seila menyeka air matanya. "Aku memang bodoh karena telah menghancurkan hidupku sendiri, aku minta maaf untuk semua dosa yang aku lakukan." Suaranya bergetar. Rega merasa dia harus bisa berlapang d**a dan berdamai dengan masa lalunya, siapa tahu hidupnya akan lebih baik setelah dia memaafkan Seila. "Sungguh, Mas, aku hanya ingin kamu memaafkan aku." Seila memelas. Rega menarik napas panjang. Memang terasa sulit baginya menerima semua itu, namun dia ingin bahagia bersama Tania. "Mas, pasti calon istri kamu sangat beruntung sekali, dia pasti bahagia karena dimiliki kamu." Harusnya seperti itu, Rega tampak meringis menahan sakit di dadanya, dia mengingat kejadian yang membuat Tania menghindarinya. "Dimana ada cinta seperti ini?" dia mengingat kalimat yang di katakan Tania padanya. "Mas." Panggilan Seila membuyarkan ingatannya tentang Tania. "Mungkin memang sudah saatnya aku memaafkanmu," lirih Rega. "Mas serius?" "Ya, aku juga ingin tenang menjalani hari-hariku bersama Tania orang yang kucintai." Seila mengangguk lesu, dia mengerti, tak seharusnya dirinya mengharapkan Rega kembali, setelah apa yang telah di perbuatnya pada Rega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD