Rega mengarahkan pandangannya pada Tania, pria itu menatap Tania dengan intens, bagi Rega sikap Tania terlihat tak berbeda dari biasanya."Kamu kenapa?" Tanya Rega yang memang kurang paham dengan situasi sekitar.
"Aku mau pergi ke acara reuni malam ini," ucap Tania pada akhirnya. Ini terkesan seperti seorang anak minta izin pada ayahnya untuk pergi ke club betapa tatapan Rega telah mengintimidasinya. "Boleh ya?" Tania membiasakan diri dengan ketidak nyamanannya.
"Nggak!" tegas Rega, walaupun sebenarnya dia tidak tega.
Tania membuang napasnya kasar, dia kecewa. Sebenarnya Tania sudah menduga ini, pria posesif seperti Rega tidak akan mengizinkannya pergi begitu saja. "Ya udah." Tania kemudian bangkit.
Melihat kekecewaan yang berpendar di wajah Tania, Rega menjadi tidak tega. "Ya udah kamu boleh pergi."
Tania menyunggingkan senyum. "Makasih," bisiknya seraya sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rega.
"Tapi, perginya bareng aku," imbuh Rega.
Seketika senyum indah itu berubah kekikukan. Tania mundur dan kembali duduk.
"Kamu keberatan kalau pergi denganku, hm? Biar kamu bisa ketemu mantan, iya?" tuduh Rega.
"Nggak."
***
Kafe telah di booking oleh panitia Reuni. Malam ini Tania hadir tentu dengan Rega di sampingnya, gaun renda berwana peach membalut tubuh indahnya, begitupun dengan Rega yang mengenakan kemeja berwarna senada dan jas berwarna abu, tampak serasi dengan penampilan Tania malam ini.
"Test ... Test ...." Suara penging tiba-tiba memekik. Para tamu undangan langsung menatap seorang pria yang tengah berdiri di atas panggung setinggi satu kaki itu. "Terima kasih, karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk hadir di sini," sambut Bayu, salah satu panitia Reuni, dia tampak ceria dan bahagia, betapa tidak acara yang di urusnya bersama team, rampung dengan baik dan dihadiri oleh seluruh teman-temannya.
Sambutannya pun di sambut hangat oleh teman-teman lainnya. "Selamat melepas Rindu ya ... Oh iya, di tangan kalian itu adalah susunan acara malam ini, nanti akan ada game's, yang pasti akan sangat menambah keseruan kita malam ini. So ... Selamat menikmati malam kalian." Riuh tepuk tangan memeriahkan suasana.
Bayu kemudian berdehem. "For your info nih guys, saya membawa kabar bahagia untuk kalian, tapi juga ini adalah kabar duka bagi para jomblowan termasuk saya," Bayu merendahkan suara di kalimat terakhirnya, "Kalian tahu apa?" Semangatnya kembali menggebu, membuat semua orang penasaran. "Ini adalah hari istimewa bagi Titania Saputri." Dia merendahkan suaranya lagi.
Semua orang menoleh pada gadis yang disebut namanya, "Kalian lihat pria yang bersama Tania? Itu adalah Dokter Rega, calon suami Tania, sebulan lagi kita di undang untuk menghadiri acara pernikahannya di Semarang kota kelahiran Tania." Dia tersenyum menyampaikan hot news itu, walaupun sebagian orang merasa senyumnya terlihat getir.
Sekeras apapun Bayu mencoba menyembunyikan lukanya, namun tetap saja sebagian orang dapat melihat itu, semua teman satu kampus tahu hubungannya dengan Tania. Tania dan Bayu merupakan couple terbaik di kampus pada zamannya.
Tepuk tangan terdengar membahana, acara yang di hadiri sekitar 40 orang itu terdengar riuh oleh ucapan selamat pada Tania dan Rega.
Seorang gadis seksi menghampiri mereka berdua. "Selamat ya, Tan, atas pertunangan dan untuk pernikahan kalian."
"Makasih, Ness." Tania mencoba membasahi tenggorokannya.
"Hebat ya kamu, bisa dapetin Dokter." Tania merasa ini adalah sebuah cibiran. Namun, dia menepis rasa itu dan kemudian tersenyum lembut sembari memeluk lengan Rega.
Vanessa ikut tersenyum. Tiba-tiba seorang pria menyapa Vanessa, pria itu berjalan ke arah mereka.
Tania mengernyit. "Ness, kamu nggak sama Doni lagi?" tanya Tania penasaran, sebenarnya dia tak heran karena Vanessa, perempuan yang mudah berpaling.
"Enggak," ucap wanita berkulit eksotis itu singkat. Vanessa memang bangga karena bisa mencuri perhatian pria dalam waktu singkat. Namun, mungkin pria yang di gandeng Tania sekarang agak sulit untuk dia curi perhatiannya.
"Oh iya, kenalin ini Bima." Vanessa menggandeng pria yang ia kenalkan.
Pria itu mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan, tapi Tania enggan meraihnya, dia tahu apa yang akan di lakukan Rega jika dia melakukan itu, tapi Rega pun enggan menyambutnya. Rega hanya menyunggingkan senyum, lalu berlalu meninggalkan Vanessa dan kekasih barunya, Rega terus menarik Tania, tapi sial pria itu menabrak Bayu dan minuman yang Bayu pegang mengenai dadanya "Ah ... maaf, Dok," ucap Bayu panik.
"Tidak apa-apa ini salah saya."
Minuman itu terasa lengket di d**a Rega, dia pun berniat untuk membersihkannya di toilet yang langsung dibalas anggukan oleh Tania, tanpa memperhatikan siapa yang barusan bertabrakan dengannya.
"Aku tunggu di sini, mas." Tania ingin bergabung dengan teman perempuan lain. Namun, Bayu membuatnya untuk tetap berada di situ.
Bayu dan Tania merasa gugup satu sama lain, mengingat hubungan yang pernah mereka jalin cukup lama hampir selama 2 tahun di masa kuliahnya dulu, terlalu banyak kenangan indah yang mereka lalui bersama.
"Kamu apa kabar?" tanya Bayu membuka percakapan, sialnya kegugupan enggan pergi dari dalam dirinya.
"Baik, aku baik, kamu sendiri?" Tania bersikap tenang.
"Seperti yang kamu lihat. Aku tidak terlalu baik, apalagi saat kamu memutuskan untuk menikah dengannya, tapi selamat ya, untuk hubungan kalian, walaupun sebenarnya ada luka yang tak berdarah disini." Dia meletakkan telapak tangannya di d**a.
Tania tersenyum, meski dia merasa kalau Bayu tidak sedang bercanda. Dia juga tahu Bayu masih menyimpan rasa padanya, hal itu membuatnya kembali teringat saat Bayu mengajaknya bertemu sekitar enam bulan yang lalu dan memberi kenyataan pahit bahwa dia belum move on darinya dan berujar kalau rasa yang dia miliki untuknya masih sama seperti dulu. Namun, terlambat sekarang Tania sudah bersama Rega.
"Senyum kamu masih sama, membuat aku susah tid..." ucapan pria Romantis itu terpotong, saat Rega menarik paksa tangan Tania. Pandangan Bayu mengikuti kepergian Tania yang dibawa paksa oleh Rega, membuat dia bertanya-tanya, apa sekarang Tania benar-benar bahagia?
"Pulang!" ucap Rega kasar, pria itu seketika lupa dengan semua permintaan maaf yang dia ucapkan kemarin.
"Mas, Acaranya belum selesai." Tania kecewa, raut wajahnya berubah sendu.
"Jadi kamu betah karena ada mantan pacar kamu di sini? Dan kamu asyik-asyikan mengobrol tanpa menghiraukan aku?" Rega Marah, lagi-lagi dia cemburu.
"Enggak gitu mas, tapi aku belum ketemu teman-teman yang lain." Tania memohon, namun percuma saja, Rega terus menariknya.
"Ayo pulang." Rega tetap menarik paksa tangan Tania.
"Mas aku takut, tolong kamu jangan bersikap seperti ini," ucap Tania lirih dan dia yakin, teman-teman reuninya akan membicarakannya, walaupun dia tak peduli, tapi ini memalukan.
"Aku nggak akan marah kalau kamu nggak seperti tadi, tersenyum saat pria itu menggoda kamu." Rega tetap menuduhnya.
menggoda? ucap Tania dalam hati, dia tahu Rega cemburu. Tapi dia tak terima jika dirinya terus di tuduh dan di pojokan seperti itu.
"Biarin aku pamit dulu, Mas." Tania kembali memohon.
"Nggak usah!" Rega mencengkeram pergelangan tangan kekasihnya, hingga Tania merasakan ujung gelang yang dipakai menusuk pergelangan tangannya.
"Mas, tangan aku sakit." Tania meringis, tangan satunya mencoba melepaskan cengkraman tangan Rega.
"Kalau begitu kamu pulang." Rega menarik kembali tangan Tania.
"Iya, aku pulang mas, tapi gak gini!" teriak Tania. "Aw ... sakit! Aku bisa jalan sendiri, Mas." Tania mencoba kembali melepaskan cengkraman tangan Rega, walaupun dia tahu itu pasti sulit.
Rega tak hiraukannya, dia tetap menariknya, lalu membuka pintu mobil dengan kasar dan mendorongnya untuk masuk. Tania meringis, menahan sakit di tangan juga di hatinya. Rega tak akan pernah tahu, rasa sakit yang dialaminya.
Tania meneteskan air mata, dia memegang pergelangan tangannya yang sakit. "Ya Allah ... Astaghfirullah ... aku enggak pernah nyangka, kamu jadi kasar kayak gini," ucapannya terdengar jelas di telinga Rega, tapi pria itu lagi-lagi tak menghiraukannya, dia tetap fokus pada kemudi mobilnya. Seolah tidak terjadi apapun, Rega seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Ya Allah ... aku nyesel mengabaikan Bayu enam bulan yang lalu, kalau tahu akan begini, kenapa nggak aku terima saja dia waktu itu? Mungkin sebagai cadangan? Selingkuhan? Atau pelarian?" ucap Tania sengaja memanas-manasi Rega, Tania ingin tahu saja, seperti apa kemarahan Rega selanjutnya, walaupun ini terdengar seperti Tania menantang calon suaminya itu.
"Apa?" Rega terbelalak, emosinya meluap, dia mencengkeram setir mobil. Sepertinya Tania benar-benar sudah memancing kemarahan pria itu.
"Kamu sudah gila, Mas, kamu benar-benar keterlaluan!" teriak Tania, sebenarnya dalam hatinya dia ingin melawan pria itu. Tapi Tania benar-benar takut, apalagi saat rahang Rega terlihat semakin mengeras.
Pria itu tak memperdulikan racauan Tania, dia melajukan mobilnya dengan kencang.
"Mas, kita bisa celaka, kalau Mas seperti ini." Tania ketakutan, napasnya naik turun. Tangannya mencengkram handle mobil.
"Kalau kamu nggak mau hidup bersamaku, ya sudah kita mati saja." Rega menatap nyalang mata Tania, Rega benar-benar sudah hilang akal.
"Mas jangan, Mas, keluarga kita akan sangat sedih, kalau kita mati." Tania mencoba setenang mungkin. Padahal jantungnya berpacu dengan waktu.
"Aku nggak peduli." Rega tetap menjalankan mobilnya dengan kencang. Sepertinya penyakit Rega sudah sangat parah.
"Mas, aku nggak mau mati sia-sia ...," pekik Tania. Dia masih berpegangan pada handle mobil, matanya terpejam, Tania mencoba berpikir dalam segala tekanan, dia mencari kata-kata yang tepat agar langsung mengenai otak Rega.
"Sia-sia? Jadi, hidup bersamaku, pun, menurut kamu itu sia-sia?" teriak Rega.
"Astagfirullah ..." Tania geram, dia ingin menampar pria itu. Menyadarkannya dari kegilaan ini. "Oke Mas, kalau itu mau kamu, tapi kalau ternyata cuma kamu yang mati, aku benar-benar akan kembali pada Bayu, dan ...," ucapannnya terhenti, Tania menarik napas, air matanya berderai, dia tak sanggup untuk melanjutkan perkataanya lagi. Namun, Rega masih tampak emosi, dia masih melajukan mobilnya seperti orang gila.
"... Dan kalau ternyata hanya aku yang mati, Mas akan menanggung semua rasa bersalah, seumur hidup Mas." Sepertinya Tania menemukan kalimat yang tepat karena otak Rega mengirim sinyal untuk segera menghentikan kegilaannya, sudah pasti alasannya dia tidak ingin kehilangan Tania untuk selamanya.
Pria itu menepi, dia menghentikan mobilnya.
Hening .... kini hanya ada keheningan. Tania mengatur napasnya, dia melirik ke arah pria itu, Rega tampak frustasi, kepalanya bersandar di kursi mobil, wajahnya mendongak ke atas, sehingga Tania dapat melihat leher dan cara pria itu menelan salivanya.
"Kenapa berhenti? Bukannya kamu mau aku mati, hah?" Tak pernah Tania berkata sekasar itu pada Rega. Dia ingin Rega bukan hanya tersadar tapi juga menyesali perbuatannya.
Rega bergeming, terlihat kalau kini dia yang takut jika Tania benar-benar mati, Tania melanjutkan aksinya untuk menakut-nakuti pria yang sudah dianggapnya gila ini. "Kalau kamu tidak bisa mengakhiri hidup aku sekarang, aku juga bisa mengakhiri hidup aku sendiri, detik ini juga," ucap Tania penuh penekanan. Tak peduli apa jadinya Rega, yang Tania pikirkan saat ini, dia hanya ingin Rega menyesali perbuatannya.
Rega kini menatapnya tajam lalu memeluknya erat, "Jangan lakukan, kumohon maafkan aku!"
Dengan sekuat tenaga Tania melepaskan pelukannya itu. "Terlalu sering aku mendengar kata maafmu Mas ... Mas, capek aku! Seolah Kamu benar-benar menyesali perbuatanmu itu, tapi kemudian, kamu mengulanginya. Aku lebih baik mati dari pada harus hidup tertekan sama kamu."
Rega menangis dia mengacak rambutnya frustasi, ini pemandangan langka bagi Tania, ia mendapati pria yang ia sayangi frustasi dengan semua ancamannya, dia berharap semoga kali ini dia bisa mengatasi kegilaan Rega.
Tania kemudian ke luar dari mobil.
"Kamu mau kemana?" tanya Rega panik. "Sayang, jangan tinggalin aku ..." teriak Rega sembari ke luar dari mobil.
"Aku mau loncat." Tania berdiri di depan jurang.
"Sayang aku mohon maafkan aku." Untuk pertama kalinya Rega menjatuhkan harga dirinya, untuk seorang perempuan, ya, Tania tahu itu. Rega berlutut di depannya dengan kedua telapak tangan yang menempel di Tanah, wajahnya tertunduk lesu.
Tania melipat kedua tangannya di depan, pandangannya lurus, sama sekali dia tak menghiraukan Rega yang tengah berlutut. Lantas Tania pergi meninggalkannya, dia masuk ke dalam mobil. Rega mencoba berdiri dan mengikuti wanita itu, Tania duduk di belakang kemudi, sementara Rega hanya mematung di depan pintu mobil.
Tania sedikit membuka kaca mobil. Memberi isyarat pada Rega. "Masuk! Atau aku akan tinggalin kamu di sini!" Dia mengambil alih kendali mobil, Rega berjalan gontai memutari mobil lalu masuk dan duduk di sebelah Tania, di kursi depan. Mereka saling mendiamkan. Hanya terdengar suara mesin mobil yang sedang Tania nyalakan.
Mobil itu pun kemudian melaju, memecah kebisingan ibukota. Berkali-kali Rega melirik Tania, tepat di pergelangan tangannya. "Sayang ... tangan kamu kenapa?" Suara Rega memecah kesunyian. Rega segera mendekat dan meraih tangan Tania yang sedang menyetir. Namun, Tania segera menepis Rega, dia tetap pada pendiriannya untuk memberi pelajaran pada pria itu.
"Maaf ...." Hanya itu yang bisa Rega ucapkan. Berulangkali, tapi belum mendapatkan ampun dari Tania.
"Untuk kali ini, aku nggak mau maafin kamu, percuma saja, mas, hari ini minta maaf, lalu, besok atau lusa kamu pasti akan mengulanginya. Aku bosan!" Tania kesal, dia sudah bosan mendengar kata maaf dari Rega.
"Enggak Sayang, kali ini aku janji."
Entah ini janji yang keberapa yang pernah Tania dengar. "Bohong ...!" Tania berteriak sekeras-kerasnya, meluapkan amarah yang membuat jantungnya berdebar.
"Aku cuma mau kamu jauhi Bayu. Titik!" Teriak Rega tak kalah keras, membuat Tania terkesiap.
Tania kemudian mengatur napasnya, lalu menggelengkan kepala dan menyipitkan matanya. "Aku pastikan besok dan seterusnya kamu nggak akan lihat aku lagi." Tania menekan ucapannya, dia mengatakan itu dari hatinya, jelas ini bukan sebuah ancaman.
"Coba saja, kamu tidak akan bisa melakukan itu," cibir Rega, dia terlalu yakin jika ini hanya ancaman Tania saja.
"Kenapa Mas? Kenapa aku merasa cinta kamu berubah jadi obsesi?"
Rega terdiam, menatap Tania lama.
"Jawab, mas!" bentak Tania, dia ingin mendengar apa yang akan Rega katakan.
"Aku- aku hanya cinta kamu." Rega terlihat gugup. "Ya, aku cinta kamu," Rega melanjutkan perkataannya, "nggak ada lagi hanya kamu." Rega terus meyakinkan Tania.
Tania mencibir, "Hemh, dimana mas? Dimana ada cinta seperti ini?" Dia menghentikan mobil, di depan pintu rumahnya. Tania menarik napas. "Aku benci kamu." Suara Tania bergetar, mengeluarkan tangis yang ia tahan sedari tadi. Kemudian dia keluar, tanpa pamit ataupun sekedar melirik pria itu lagi.
Rega hanya terdiam membisu, memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Tania.