Bukan kesempatan kedua

1007 Words
Tania sudah mulai sehat, tubuhnya kini mulai membaik, namun wajahnya masih agak pucat, rambut panjangnya kusut tak beraturan, mungkin karena tak tersentuh sisir sama sekali, jika stress melanda Tania terlalu malas mengurus dirinya sendiri, baginya tempat tidur ini terasa begitu posesif seperti Rega. Tania berniat untuk menambah cuti sakitnya sehari lagi, Sungguh dia masih belum siap bertemu Rega. Bahkan pesan dari Rega pun tak dihiraukannya, seakan dia ingin menghilang saja dari pria itu. Tiba-tiba pintu terdengar diketuk, Tania segera menoleh dan menatap pintu itu. "Siapa?" tanyanya pelan. "Ada tamu, Tan," ucap Mia. "Kalau itu mas Rega, bilang aja aku belum siap ketemu dia." Rinda menoleh ke samping dan menatap Rega. Memang dia yang mengajak Rega untuk ke sini menjenguk Tania. Namun, dia tidak tahu kalau Tania tidak menginginkan kedatangan Rega. "Tan, ini aku," ucap Rinda sembari tetap menatap Rega yang tampak salah tingkah. Semua orang tidak tahu kalau Rega merasa sakit hati ketika Tania tak menginginkan kehadirannya di sini. Apa yang dilakukan tempo hari memang keterlaluan, tapi dia tetap saja membenarkan apa yang dilakakukannya terhadap Tania. Kalau dia tidak tegas, mana mungkin Tania tahu betapa dia cemburu setiap melihat Tania dekat dengan laki-laki lain, meski itu temannya. "Oh, masuk, Rin!" pinta Tania dari dalam. "Hai ...." Senyum ceria Rinda membawa aura positif untuk wanita yang kini sedang duduk bersandar di atas ranjang sembari membaca buku. "Hai." Tania tersenyum kikuk, dia kemudian menutup bukunya dan meletakkannya di meja. "Kamu sudah baikan?" tanya Rinda sembari membetulkan poni Tania yang berantakan, lalu dia duduk. Alih-alih menjawab, Tania malah mengajukkan pertanyaan. "Kamu datang sendirian, 'kan?" tanya Tania sembari melongok ke arah pintu, dia hanya takut kalau tiba-tiba Rinda membawa kejutan yang tidak dia harapkan. Bibir Rinda tersungging sembari ikut menoleh ke pintu. Dia malah mengambil sisir di atas meja. "Astaga ini rambut, atau sarang tawon," cibirnya. "Jelek banget tahu enggak sih, ngadep sana! Aku mau rapiin rambut kamu." Rinda cerewet, dia paling bisa mengalihkan perhatian Tania. Tania menuruti perintah sahabatnya itu, ia berbalik membelakangi pintu. Padahal perasaannya tetap saja takut kalau sahabatnya itu membawa apa yang tidak dia inginkan. "Rin, kamu beneran datang sendiri, 'kan?" Rinda tak menjawab dan perasaan Tania semakin tidak enak. Dia takut kalau tiba-tiba Rega datang dan berada di sebelahnya. Kecurigaan Tania terbukti, Rega tengah mengintipnya di dekat pintu. Meski sedikit ragu, dia tetap masuk dan berjalan mengendap. Rinda memang selalu bisa membuat momen yang pas. Saat sisir itu mengenai ujung kepala Tania, Rega langsung mengambil alih sisir tersebut dari tangan Rinda. Rinda mendengkus kesal. Dasar posesif! gerutu Rinda dalam hati. Menurut Rinda segala yang dilakukan Rega untuk Tania itu terkesan berlebihan, padahal Rinda berharap untuk saat ini saja apa salahnya jika Rega hanya menjadi pendengar, sesuai rencananya, bukan malah ikut masuk seperti sekarang. Rega mulai menyisir rambut wanita yang dia cintai itu dengan lembut, sudah lama dia ingin melakukannya. Dan sekarang dia bahagia karena bisa melakukannya. Kerinduan yang dia rasakan membuatnya ingin memeluk wanita itu, hanya saja dia harus bersabar karena bisa saja Tania dua kali lebih marah dari sebelumnya. "Tan, kamu kuat nggak sih sama sikap posesif nya Mas Rega?" Rinda memulai bagian dari rencananya, dia menunjukan arah pandangnya pada Rega. Rega hanya bisa mendelik pada Rinda, kenapa dia harus mendengar tentang keburukan dirinya sendiri, harusnya dia tak mengikuti Rencana buruk Rinda itu. Tania menarik napas panjang, "Nggak!" Rega menautkan kedua alisnya. "Mungkin kalau aku ada di posisimu, aku akan pergi, putusin dia." Rinda membalas delikan Rega, dia akan menjelekkan Rega sepuas hatinya karena disaat seperti ini Rega tidak akan bisa melawannya. "Aku juga, entah itu putus, menghilang, atau bahkan mati sekalian." Bukannya prihatin Rinda malah tertawa, sepertinya dia benar-benar puas membuat Rega mati kutu tanpa perlawanan. Rega terbelalak, antara marah, kesal pada Rinda, tapi sedih mendengar ucapan Tania. Kening Tania mengernyit. "Lucu?" Rinda menggelengkan kepala seraya tertunduk. "Maaf." "Aku masih bingung, kenapa Mas Rega berubah, atau emang begini sifat aslinya?" Tania mengedikkan bahu. "Kalau aku tahu dia dari dulu memang begini, aku nggak mau nerima dia." Tania menghela napas. "Pernikahan udah ditetapkan, aku nggak mungkin batalin gitu aja, aku nggak mau keputusanku membuat orang-orang di sekitarku sedih dan bahkan kecewa." Rinda tersenyum. "Kamu jangan putus asa ya, Tan, aku akan selalu doakan yang terbaik untuk hubungan kalian." "Makasih Rin," ucap Tania sembari menatap lurus ke depan ke luar jendela. "Tan, mas Rega itu punya trauma dengan hubungan sebelumnya, dia di khianati oleh calon istrinya sehari sebelum pernikahannya dilangsungkan. Aku dapat merasakan betapa hancurnya dia waktu itu, padahal pernikahan mewah sudah di persiapkan, mau tak mau pernikahan itu harus dibatalkan karena mas Rega tidak mungkin menikah dengan gadis murahan seperti wanita itu." Sudah lama Rinda ingin membuka masa lalu Rega, untuk itu dia menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Rega masih tetap dengan posisinya, dia mulai tidak nyaman saat seseorang mengingatkannya tentang masa lalu terburuknya. Tania terenyuh, hingga air mata berhasil jatuh mengairi pipinya, entah kenapa dia merasa bergetar mendengar penjelasan sahabatnya. Dia memang tidak begitu tahu tentang masa lalu Rega karena Rega selalu menutupinya. Tania terkesiap saat tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya, Rega mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu, Tania tersadar saat tangan yang melingkar itu bukan tangan Rinda. "I love you," lirih Rega. Tania langsung menjauh dan melepas pelukan itu lalu ia berbalik, "Kamu?" Dia mundur perlahan, hingga punggungnya mengenai dinding dekat jendela. "Sejak kapan mas Rega di sini?" Rga mendekat dan memegang sepasang tangan Tania, "Aku mohon, maafkan aku!" "Iya, Tan, mas Rega ke sini ingin memperbaiki hubungan kalian." Rinda memang hadir sebagai penengah diantara mereka. Tania menghela napas, dia tidak tega menahan maaf di hatinya. Akhirnya dia pun memaafkan Rega, meski berat, tapi dia merasa Rega memang harus diberi kesempatan, bahkan bagi Tania setiap hubungan yang dijalaninya tak ubahnya hanya sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Jika dia bisa dia akan terus memberi Rega kesempatan untuk berubah. Tania tahu, berat untuk Rega ke luar dari masa lalu terburuknya. Dia mengerti Rega pasti sulit menjalani hubungan dengan bayang-bayang masa lalunya. Namun, disisi lain Tania ingin Rega fokus pada dirinya saja tanpa mencampur baurkan sesuatu yang sudah berbeda zaman, bahkan berbeda orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD